LOGINterima kasih untuk pembaca setia "Istri Polos untuk CEO Dingin" berkat dukungan dari kalian semua, author bisa menyelesaikan novel ini. Author juga minta maaf jika dalam membuat cerita ini tidak sesuai dengan harapan dan ekspektasi readers. sekali lagi terima kasih, see you all dicerita selanjutnya.....
Suara tangis bayi melengking dari dalam ruang operasi, Adrian beserta keluarga yang menunggu kelahiran cucu pertama keluarga Lysander itu mengela napas lega setelah mendengar suara bayi yang sudah mereka nantikan sejak satu jam yang lalu. "Adrian, anak kamu sudah lahir, Nak," ucap Bu Ningsih sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes. Tak sanggup menahan rasa bahagia bercampur haru, tanpa diduga, air mata Adrian menetes melewati pipinya namun segera dia usap lembut. Ceklek. Ketiga orang yang duduk di depan ruang operasi seketika berdiri dari duduknya ketika pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter wanita keluar bersama perawat yang menggendong bayi yang kini sudah tenang. "Keluarga Nyonya Meysa?" "Saya, saya suaminya dok," jawab Adrian cepat sambil matanya terus menatap bayi kecil berwarna merah yang sedang memejamkan matanya. "Selamat Tuan, bayi anda laki-laki dan dalam keadaan sehat dan tak kurang apapun." Bak dihantam bongkahan es besar yang menyejukkan dan mendin
Sore itu terasa begitu dingin, namun peluh dingin justru bercucuran di pelipis Clarissa. Gaun berwarna hitam legam yang dipakainya tampak berkibar tertiup angin seiring langkah kakinya yang tergesa-gesa. Ia berlari dari area parkiran mobil menuju sebuah villa mewah yang lampu-lampunya telah disulap dengan begitu indah, memancarkan kemegahan yang justru terasa mencekik baginya.Matanya menyiratkan tatapan dalam, sebuah tatapan yang menyimpan badai rasa bersalah, rindu, dan ketakutan yang hanya dia sendiri yang tahu maknanya. Jantungnya berdegup kencang, berpacu dengan suara ketukan high heelsnya yang menghantam aspal. Clarissa sedikit kesusahan berlari, gaun panjang dan sepatu hak tingginya seolah bersekongkol untuk memperlambat gerakannya. Matanya terus bergerak liar, panik mencari jalan masuk utama ke dalam villa tersebut."Maaf Nona, tunjukkan undangan anda," ucap salah satu penjaga berbadan tegap di depan pintu masuk villa, menghentikan langkah Clarissa secara mendadak.Clarissa se
Meysa berdiri terpaku di depan cermin besar yang mendominasi ruang walk-in closet. Di sekelilingnya, beberapa potong baju bertema pastel tampak tergantung berantakan di luar rak. Ia mengambil satu per satu gaun itu, menempelkannya ke tubuh, lalu mendesah pelan. Tak ada satu pun dari baju-baju itu yang terlihat cocok di matanya hari ini. Dengan sisa-sisa kekesalan, ia mulai mengembalikan baju-baju tersebut ke dalam lemari. "Hah.... kenapa semua baju ini terlihat jelek di tubuhku?" Meysa kembali mengambil satu dress dan menempelkan ke tubuhnya. "Lihat, bukankah tubuhku terlihat sangat besar?" gumam Meysa. Pada saat yang sama, Adrian melangkah masuk ke dalam ruangan sambil sibuk mengancingkan lengan kemejanya. Langkahnya terhenti dan keningnya seketika mengernyit saat melihat sang istri yang belum juga berganti pakaian. "Sayang, kenapa belum siap? Nanti kita bisa terlambat ke acara pernikahan Nozela dan William," ujar Adrian lembut namun terselip nada heran. Meysa menoleh ke ara
Hembusan napas panjang Nozela terdengar di tengah keriuhan persiapan pernikahan di halaman vila mewah itu. Ia menyeka keringat yang membasahi dahinya dengan punggung tangan. "Huft," desahnya, lalu duduk di salah satu kursi kayu yang sudah dihias dengan pita kain berwarna dusty pink. Matanya mengamati sekeliling, menatap para pekerja yang sedang sibuk memasang tenda dekorasi dan menata centerpiece di atas meja-meja. Di sebelahnya, seorang staf Wedding Organizer yang tampaknya merupakan koordinator lapangan, sedang sibuk mencatat detail persiapan di papan penjepitnya. Nozela menengok ke arah staf tersebut, "Kak, itu bunganya... saya mau yang putih lebih banyak lagi. Bisa ditambahin di lengkungan di atas panggung itu?" Si staf menatap papan penjepitnya, lalu mengangguk, "Bisa, Mbak. Nanti saya koordinasikan lagi sama tim florist." Nozela mengangguk puas. "Oke, makasih ya. Terus... foto kami," Nozela menunjuk ke arah panggung di mana sebuah bingkai foto besar dengan foto Nozela d
Detik berganti menit, jam berganti hari, dan hari berganti bulan. Tak terasa waktu cepat berlalu hingga kini kandungan Meysa sudah memasuki usia lima bulan. Perutnya yang mulai membuncit menjadi simbol kebahagiaan kecil yang selalu ia dan suaminya nantikan setiap harinya.Hari ini, suasana hati Meysa dipenuhi letup-letup kegembiraan. Ditemani sang suami yang tak pernah lepas menggenggam tangannya, mereka melangkah masuk ke rumah sakit untuk melakukan check-up rutin.Meysa kini berbaring di atas ranjang periksa yang dilapisi kain putih bersih. Jantungnya berdegup agak kencang campuran antara rindu dan sedikit cemas yang biasa dirasakan seorang ibu. Di sampingnya, Adrian berdiri siaga, memberikan senyum penenang yang paling hangat.Dokter kandungan, seorang wanita paruh baya dengan senyum keibuan, mulai mengoleskan gel dingin di permukaan perut Meysa. Detik berikutnya, alat transducer mulai digerakkan perlahan. Di layar monitor hitam-putih, samar-samar mulai
Krieeek… Derit pintu sel besi yang terbuka tiba-tiba memecah keheningan ruangan yang pengap itu. Clarissa tersentak kaget. Ia segera mendongak, menatap sesosok pria berseragam yang berdiri di ambang pintu, lalu bergegas bangkit dari duduknya. "Mari, ada keluarga yang ingin bertemu dengan Anda," ucap seorang polisi dengan nada datar namun tegas.Dengan kedua tangan yang terikat borgol besi, Clarissa melangkah keluar. Polisi itu menggiringnya menyusuri lorong dingin penjara menuju ruang kunjungan. Setiap langkahnya dipenuhi rasa penasaran sekaligus harap-harap cemas.Begitu pintu ruang kunjungan dibuka, pandangan Clarissa langsung tertuju pada sesosok pria paruh baya yang sangat ia kenali."Papa..." ucap Clarissa lirih. Sepasang matanya yang semula redup, seketika berbinar cerah. Fahmi, yang datang bersama kuasa hukumnya, tidak bisa menyembunyikan rasa rindunya. Ia segera melangkah maju dan memeluk tubuh putri sambungnya itu de
Meysa perlahan mengangkat pandanganya, dia menatap sebuah map di atas meja dengan ragu. Haruskan dia melakukan semua ini? Begitu pikirnya.“Saya tidak punya banyak waktu. Masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan.”Dengan tangan yang gemetar, Meysa mengambil berkas itu kemudian membukanya. Di
“Apa yang kamu katakan, Adrian?” seru Nora tak terima.Adrian tersenyum smirk, genggaman tangan besar itu tak pernah lepas dari pergelangan tangan Meysa dan justru semakin mengerat membuat Meysa bisa merasakan emosi putra kedua keluarga Lysander itu.“Bukankah ini yang kalian inginkan, aku harus se
“Dicari, lowonga pekerjaan mengasuh lansia degan bayaran tinggi, jika berminat segera hubungi nomor ini.”Meysa menegakkan kepalanya setelah tak sengaja menemukan sebuah poster lowongan pekerjaan yang dia temukan di dekat rumah sakit. Di tangannya terapat sebuah kantong plastic berisi makanan.“Bay
Tiga hari bekerja, tidak ada masalah. Oma hanya sulit untuk makan, tapi beberapa kali Meysa kerepotan karena Oma terus-terusan membahas tentang Adrian yang harus menikah secepat mungkin.Sesekali, Oma mogok makan dan memarahi Meysa, tapi Meysa masih bisa menghandle.Masuk dua minggu, Meysa sudah mu







