LOGINMeysa perlahan mengangkat pandanganya, dia menatap sebuah map di atas meja dengan ragu. Haruskan dia melakukan semua ini? Begitu pikirnya.
“Saya tidak punya banyak waktu. Masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan.” Dengan tangan yang gemetar, Meysa mengambil berkas itu kemudian membukanya. Dia membelakan matanya saat melihat poin-poin yang ada dalam kontrak itu, yang menjadi pusat perhatiannya adalah pelunasan biaya rumah sakit ibunya serta biaya kuliah adiknya yang sudah menunggak satu semester. Tawaran itu tentu saja membuat Meysa tergiur, bagaimanapun dia sangat membutuhkan uang itu agar ibunya bisa segera dioperasi. Tanpa pikir panjang Meysa mengambil pulpen kemudian membubuhkan tanda tanganya ke berkas itu. “S-Sudah tuan,” ucapnya. Adrian melihat berkas itu, dia pun segera menandatangani bagiannya kemudian menyimpan berkas itu ke laci meja kerjanya. Dia tersenyum dalam hati, selain merasa lega karena bisa mewujudkan keinginan Omanya, dia juga lega karena bisa melindungi Meysa dari kakaknya. Brak. Pintu ruangan kerja Adrian terbuka dengan kasar, dua orang yang ada di dalam terkejut saat seseorang masuk begitu saja tanpa permisi. “Apa maksud semua ini Adrian?” seru Celine yang baru saja masuk. Adrian menatap tajam seseorang yang baru saja masuk ke ruang kerjanya, dia terkejut karena kedatangan mantan kekasihnya yang tiba-tiba. “Jangan menambah masalah Celine,” ucap Adrian. Dengan wajah merah padam, Celine mendekati Adrian dan Meysa yang duduk saling berhadapan. Dia menatap tajam pengasuh dari nenek mantan kekasihnya, Celine sangat terkejut Ketika mendapat kabar bahwa Adrian ingin menikahi Meysa. Celine masih mencintai Adrian dan berharap bisa Kembali bersama Adrian, susah payah dia mengambil hati orang tua Adrian dan kini Adrian justru akan menikah dengan Wanita lain. Celine tak terima, dia harus bisa menghentikan kegilaan Adrian. “Masalah apa? Justru kamu yang sedang menggali masalah kamu sendiri Adrian.” “Dan kamu,” tunjuk Celine pada Meysa. “Kamu pasti sengaja kan godain Adrian?” Meysa mengangkat kepalanya menatap Celine yang menatapnya dengan berapi-api, dia menggelengkan kepalanya tak setuju. “Tidak nona, saya tidak pernah melakukan itu.” “Halah, banyak alasan.” “Asal kamu tahu ya Meysa, aku dan Adrian itu masih saling mencintai dan kami sudah berjanji untuk kembali bersama. Tapi kamu, dengan nggak tahu diri justru menghancurkan semuanya. Kamu pasti jebak Adrian kan?” “Cukup Celine, keputusan aku nggak ada hubungannya dengan Meysa,” seru Adrian. “Jadi kamu membela Wanita ini Adrian? Kamu lebih membela dia dari pada aku?” Adrian muak dengan sikap Celine yang semena-mena. “Apa kamu tidak ingat kejadian di hotel waktu itu Adrian?” Adrian membelakan matanya Ketika Celine mulai mengungkit kejadian di masa lalu. “Setelah apa yang kamu lakukan kamu tinggalin aku gitu aja, dimana hati Nurani kamu Adrian? Dan disaat kamu udah janji mau perbaiki semuanya kamu justru ingin menikahi Wanita lain,” seru Celine. Meysa menatap Adrian yang raut wajahnya mulai berubah. “Apa, hotel? Jadi mereka pernah melakukan hubungan terlarang sebelum menikah?” batin Meysa. “Kalau aku jadi kamu, aku akan mempertimbangkan untuk menikah dengan Adrian. Dia tidak sebaik yang kamu kira Meysa, dia hanya senang memanfaatkan perempuan demi keuntungan dia sendiri,” ucap Celine sambil menatap Meysa. “Hentikan Celine, ucapan kamu sudah ngelantur kemana-mana,” tegas Adrian. “Kenapa Adrian? Kamu takut kalo keburukan kamu di masa lalu itu terbongkar dan calon istri kamu ini membatalkan rencana pernikahan kalian? Kamu tega ninggalin aku setelah kamu mendapatkan apa yang kamu mau. Kamu jahat Adrian, jahat.” Meysa tak bisa berkata-kata lagi, dia tak menyangka jika Adrian tega melakukan itu pada Celine. Adrian yang dia kenal sebagai sosok yang baik dan tegas kini presepsinya mulai memudar setelah mendengar pengakuan Celine. “Jika Celine saja bisa diperlakukan seperti ini? Bagaimana dengan aku yang hanya orang biasa?” “Apa aku batalkan saja rencana pernikahan ini?” Meysa mulai ragu dengan keputusanya yang tergesa-gesa menandatangani surat perjanjian pernikahan, dia takut Adrian akan berbuat buruk padanya atau menyakitinya setelah sah menjadi istrinya nanti. “CELINE!!!” sentak Adrian. Celine mengangkat tangannya. “Aku belum selesai, masih ada sesuatu yang ingin aku tunjukan ke kamu.” Celine mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Pluk. “Sebelum kamu menikahi Wanita miskin ini, sebaiknya kamu lihat dulu apa yang aku bawa.” Adrian mengambil map merah yang baru saja dilemparkan oleh Celine, dia menatap deretan angka yang memiliki nominal yang cukup besar kemudian tatapannya menatap Meysa yang terlihat tegang. Dia Kembali meletakkan map itu ke meja karena baginya hutang Meysa tak seberapa untuknya. “Dia mau menipu kamu Adrian,” ucap Celine sambil menatap remeh Meysa. “Wanita ini memiliki banyak hutang yang…ya nominalnya cukup besar.” “B-Bagaimana dia bisa tahu?” batin Meysa. “Tuan, s-saya.” “Cukup!” Meysa tediam ketika suara bentakan Celine memekakan telinganya, dia kembali menundukkan kepalanya sambil memilin jari-jari tangannya. Celine mendekat sambil menatap Meysa dengan senyuman miring, dia menarik lengan Meysa hingga Meysa berdiri dari duduknya, tatapan matanya memindai penampilan Meysa dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tak ada satupun barang mewah yang melekat pada tubuh pengasuh nenek dari Adrian itu, hanya saja wajah Meysa yang cantik membuat gadis itu terlihat sedikit menarik. “Kamu pikir dengan cara murahan seperti ini bisa mendapatkan Adrian semudah itu, gadis miskin?” Kepala Meysa semakin tertunduk, lagi-lagi dia direndahkan. “Jangan kira aku akan diam saja melihat kamu berusaha menguras harta Adrian. Ingat Meysa, jangan pernah bermimpi kamu akan jadi nyonya di rumah ini.” “Karena posisi itu hanya pantas untukku,” sambung Celine lirih. “Hentikan Celine,” tegur Adrian. Celine menoleh. “Tidak Adrian, aku harus menjelaskan semuanya agar Wanita ini sadar akan posisinya. Kamu nggak merasa dia hanya sedang memanfaatkan Oma agar mau menerima dia menjadi menantu di rumah ini?” “Tuduhan kamu itu tidak berdasar Celine.” Greb! Celine mencengkram erat lengan Meysa membuat Meysa meringis saat kuku panjang Celine menekan kulitnya. “Apa yang kamu bilang sama Oma, hah? Kamu pasti sengaja mempengaruhi Oma, kan? Ngaku kamu!” seru Celine. Meysa menggelengkan kepalanya. “Saya tidak melakukan apapun, Nona.” Celine menyeret tubuh Meysa ke dekat meja, dia mengmbil map yang tadi dia bawa lalu memperlihatkan isinya pada Meysa. “Kamu lihat baik-baik ini wanita kampung, hutang keluargamu sudah sebanyak ini. Bahkan dengan rentenir pun hampir dua ratus juta.” Celine menepuk-nepuk kertas putih yang terdapat rincinan total hutang yang keluarga Meysa miliki. Keluarga Meysa memang miskin, sejak ibunya sakit dan ayahnya meninggal dia harus menajdi tulang punggung keluarga. Meysa memiliki adik perempuan yang kini sedang berkuliah dan ibunya saat ini sangat membutuhkan biaya besar untuk operasi. Demi mencukupi kebutuhan sehari-hari, Meysa sampai harus berhutang pada rentenir yang kini sudah menjadi ratusan juta karena dia tak memiliki banyak uang untuk mencicil bunganya. Meysa beruntung bisa diterima bekerja di keluarga Lysander, namun sepertinya keberuntungan itu tak berpihak padanya saat ini. “Dasar wanita miskin nggak tahu diri, cara murahan kamu itu nggak mempan buat keluarga Lysander!” Di tempatnya, Adrian mengepalkan kedua tangannya di atas meja. Lontaran demi lontaran ucapan kasar mantan kekasihnya pada Meysa membuatnya marah, dia tak terima calon istrinya direndahkan seperti ini. Adrian mengambil ponselnya kemudian mengirim pesan pada seseorang. “Saya tidak pernah melakukan apapun, Nona, saya juga-“ “Masih berani jawab, kamu? Sudah ketahuan niat busuknya tapi masih banyak alasan,” potong Celine. Celine menatap Adrian yang hanya diam saja. “Kalo kamu nekat mau nikahin Wanita miskin ini, aku bakal bilang ke media kalo Wanita ini hanya mengincar harta kamu. Aku mau lihat bagaimana respon kedua orang tua kamu saat mendengar berita ini.” Kriet. Adrian berdiri dari duduknya dengan kasar lalu menatap Celine dengan tajam. Dia merebut map dari tangan Celine lalu merobeknya hingga menjadi potongan kecil-kecil lalu membuangnya dengan kasar ke lantai. Meysa berdiri dengan tubuh kaku, dia tak tahu harus bagaimana lagi. Semua hal yang dia rahasiakan justru dibongkar habis-habisan oleh Celine, yang bahkan keluarganya sendiri pun tak tahu. “Tutup mulutmu Celine!”Langkah kaki Adrian dan Evan terdengar beriringan saat mereka berjalan menuju teras mansion yang megah. Sebagai asisten pribadi yang sudah bertahun-tahun mendampinginya, Evan berjalan setengah langkah di belakang Adrian, siap menerima instruksi kapan saja.Adrian menghentikan langkahnya sejenak di dekat pilar teras, menatap lurus ke depan dengan raut wajah serius."Evan, urus semua yang dibutuhkan untuk acara peresmian pernikahan saya. Mulai dari vendor dan juga WO. Pastikan semuanya beres tanpa ada celah."Evan mengangguk patuh, mengeluarkan tablet digitalnya untuk mencatat. "Baik, Tuan. Lalu bagaimana dengan urusan busana?""Untuk masalah baju, aku yang akan mengurusnya sendiri bersama Meysa," jawab Adrian. Ia menghela napas pendek, ada kilat kecemasan yang samar di matanya."Aku ingin acara in
Hembusan angin sore menerbangkan rambut panjang Nozela, helai demi helainya menari lembut mengikuti arah angin. Sambil memegangi lengan William, mereka berjalan santai menyusuri pinggiran tepi pantai yang indah di sore hari. Langkah kaki mereka meninggalkan jejak-jejak samar di atas pasir yang basah oleh sisa ombak.Di atas sana, langit masih tampak cerah dengan semburat cahaya keemasan matahari yang mulai menyingsing ke ufuk barat, menciptakan pantulan berkilau di atas permukaan air laut.Nozela mendongak, menatap samping wajah William yang diterpa cahaya senja."Liam, kenapa kamu ajak aku ke pantai? Bukannya kita mau pulang?" tanya Nozela.William menoleh, lalu tersenyum hangat. "Ya...hanya sekedar jalan-jalan saja Jel, sekalian melepas penat setelah serarian kerja. Kamu tidak suka?"Noze
Tok! Tok! Tok!Sebuah ketukan pintu terdengar nyaring, memecah keheningan di dalam ruangan kerja yang rapi itu.Nozela yang sedang sibuk berkutat dengan laptop di depannya sama sekali tidak mengalihkan pandangan. Jemarinya masih menari lincah di atas keyboard. Tanpa menoleh, ia setengah berteriak memberikan izin."Masuk!" serunya singkat.Tak lama kemudian, terdengar suara gagang pintu diputar dan daun pintu yang terbuka perlahan. Nozela masih bergeming. Ia sama sekali belum menoleh ke arah pintu karena merasa pekerjaannya saat ini jauh lebih penting dan harus segera diselesaikan. Ia menduga yang datang adalah asistennya yang ingin mengantarkan beberapa berkas.Sampai akhirnya, sebuah suara yang amat ia kenali memecah keheningan."Selamat sore, Sayang."Nozela langsung mendongak. Matanya membelalak terkejut. Dugaan bahwa sang asisten yang datang langsung sirna begitu melihat sosok tinggi yang kini berjalan mendekat."William?!" pekik Nozela tertahan.Melihat respons terkejut sang keka
Maya menatap ibunya yang nampak terkejut. Di tangan wanita paruh baya itu, terdapat ponsel miliknya. "Siapa yang telepon, Bu?" tanya Maya."Kenapa ekspresi Ibu seperti itu?" sambung Maya.Maya melangkah mendekat ke arah ibunya. Sambil mengerutkan dahi, ia bertanya apa yang sebenarnya terjadi sampai sang ibu terlihat begitu panik.Bu Ningsih dengan cepat menggelengkan kepalanya, mencoba menguasai diri."Tidak... tidak ada apa-apa," jawab Bu Ningsih agak gugup. "Itu... Meysa katanya nanti mau ke sini."Bu Ningsih sengaja mengalihkan pembicaraan agar Maya tidak bertanya lebih jauh. Usahanya berhasil, Maya hanya menganggukkan kepalanya, menerima alasan tersebut tanpa curiga."Oh,Kak Meysa mau ke sini? Yah, Maya padahal mau pamit ke kampus, Bu. Ada jadwal siang ini, jadi kayaknya nggak bisa ketemu Kak Meysa dulu," kata Maya sambil meraih tas kuliahnya.Bu Ningsih hanya mengangguk pelan, memaksakan sebuah senyuman. "Iya, tidak apa-apa. Berangkatlah, hati-hati di jalan."Setelah berpamitan,
"Sus Defi," panggil Oma Rosa."Kamu tahu Meysa ke mana? Sejak selesai sarapan tadi, dia sama sekali belum menemui Oma di kamar."Sus Defi, yang kebetulan baru saja kembali dari area belakang rumah, langsung tersenyum menenangkan. "Oh, itu, Oma... Nyonya Meysa sedang ada di dapur. Tadi saya lihat beliau lagi bikin kue dibantu sama para ART."Mendengar hal itu, sepasang mata Oma Rosa langsung berbinar cerah. Rasa bosannya seketika menguap. "Oh ya? Wah, kalau begitu ayo antar Oma ke dapur. Oma mau lihat Meysa bikin kue. Suntuk rasanya kalau terus-terusan diam di kamar seperti ini.""Baik, Oma," jawab Sus Defi patuh.Dengan telaten, Sus Defi membantu Oma Rosa berpindah dari tempat tidur ke kursi rodanya. Setelah memastikan posisi Oma Rosa nyaman, Sus Defi mulai mendorong kursi roda itu keluar dari kamar, menyusuri koridor rumah yang megah.Namun, saat mereka berdua sampai di lorong dekat ruang tamu, langkah Sus Defi melambat. Sayup-sayup terdengar suara orang yang sedang mengobrol dengan
Aroma mentega dan vanila yang harum memenuhi seluruh penjuru dapur. Di sana, Meysa berdiri dengan apron merah muda yang melekat pas di tubuhnya. Tangannya dengan lincah mencetak adonan kue kering di atas loyang besar, dibantu oleh Bi Surti, asisten rumah tangganya. Kue-kue ini sengaja ia buat sendiri dengan penuh cinta untuk dibawa ke rumah ibunya nanti sore.Setelah satu loyang penuh, Meysa memasukkannya ke dalam oven yang sudah dipanaskan. Ia menyeka sedikit keringat di dahinya dengan punggung tangan, meninggalkan jejak tipis tepung di pipinya."Nyonya Meysa, istirahat saja di depan. Biar Bibi yang selesaikan sisa adonan dan jagain ovennya," ucap ART merasa tak enak melihat majikannya kelelahan.Meysa tersenyum manis sambil menggeleng kuat-kuat. "Tidak usah, Bi. Saya mau selesaikan ini sendiri sampai selesai."Baru saja ART hendak membalas, tiba-tiba terdengar suara bel rumah berbunyi nyaring.Ting tong!"Nah, Bi, tolong buka pintunya ya. Biar Meysa lanjut nyetak kue yang ini," cetu
"Lebih cepat lagi, Evan," seru Nora. Evan mengangguk. "Baik nona." Pijakan kaki Evan pada pedal gas mobilnya semakin dalam, dia juga sama khawatirnya dengan kondisi Adrian yang tiba-tiba pingsan, entah apa yang terjadi pada Adrian hingga bernasib seperti ini. Beberapa menit kemudian, mereka sampa
"Wah, baunya harum sekali. Kamu buat apa Mey?" Oma Rosa datang bersama kepala pelayan menuju ruang makan menghampiri Meysa yang sedang memotong kue buatannya. Meysa tersenyum melihat Oma. "Oma, tadi Mey bikin kue. Oma mau mencicipinya?" Oma Rosa tesenyum tipis. "Oma sebenarnya ingin, tapi Oma tak
"Ruangan kak Ojel yang mana ya?" Maya menginjakkan kakinya di koridor ruang VIP, matanya mengedar mencari ruangan sahabatnya. Maya terkejut ketika mendapat pesan dari Nozela bahwa gadis itu tengah berada di rumah sakit yang sama dengan rumah sakit tempat ibunya di rawat. Maya kembali berjalan, kal
Tok.. Tok.. "Masuk." William meraih ganggang pintu lalu memutarnya, dia pun lekas masuk ke sebuah ruangan serba putih. "Tuan William, silakan duduk," ucap seorang dokter. "Selamat sore dok." "Selamat sore tuan, lama tidak bertemu. Bagaimana kondisi nona Nozela?" tanya dokter. William berdehem







