Compartir

Bab 5

Autor: Addarayuli
last update Fecha de publicación: 2026-05-03 22:01:53

Meysa perlahan mengangkat pandanganya, dia menatap sebuah map di atas meja dengan ragu. Haruskan dia melakukan semua ini? Begitu pikirnya.

“Saya tidak punya banyak waktu. Masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan.”

Dengan tangan yang gemetar, Meysa mengambil berkas itu kemudian membukanya. Dia membelakan matanya saat melihat poin-poin yang ada dalam kontrak itu, yang menjadi pusat perhatiannya adalah pelunasan biaya rumah sakit ibunya serta biaya kuliah adiknya yang sudah menunggak satu semester.

Tawaran itu tentu saja membuat Meysa tergiur, bagaimanapun dia sangat membutuhkan uang itu agar ibunya bisa segera dioperasi. Tanpa pikir panjang Meysa mengambil pulpen kemudian membubuhkan tanda tanganya ke berkas itu.

“S-Sudah tuan,” ucapnya.

Adrian melihat berkas itu, dia pun segera menandatangani bagiannya kemudian menyimpan berkas itu ke laci meja kerjanya. Dia tersenyum dalam hati, selain merasa lega karena bisa mewujudkan keinginan Omanya, dia juga lega karena bisa melindungi Meysa dari kakaknya.

Brak.

Pintu ruangan kerja Adrian terbuka dengan kasar, dua orang yang ada di dalam terkejut saat seseorang masuk begitu saja tanpa permisi.

“Apa maksud semua ini Adrian?” seru Celine yang baru saja masuk.

Adrian menatap tajam seseorang yang baru saja masuk ke ruang kerjanya, dia terkejut karena kedatangan mantan kekasihnya yang tiba-tiba.

“Jangan menambah masalah Celine,” ucap Adrian.

Dengan wajah merah padam, Celine mendekati Adrian dan Meysa yang duduk saling berhadapan. Dia menatap tajam pengasuh dari nenek mantan kekasihnya, Celine sangat terkejut Ketika mendapat kabar bahwa Adrian ingin menikahi Meysa.

Celine masih mencintai Adrian dan berharap bisa Kembali bersama Adrian, susah payah dia mengambil hati orang tua Adrian dan kini Adrian justru akan menikah dengan Wanita lain. Celine tak terima, dia harus bisa menghentikan kegilaan Adrian.

“Masalah apa? Justru kamu yang sedang menggali masalah kamu sendiri Adrian.”

“Dan kamu,” tunjuk Celine pada Meysa.

“Kamu pasti sengaja kan godain Adrian?”

Meysa mengangkat kepalanya menatap Celine yang menatapnya dengan berapi-api, dia menggelengkan kepalanya tak setuju.

“Tidak nona, saya tidak pernah melakukan itu.”

“Halah, banyak alasan.”

“Asal kamu tahu ya Meysa, aku dan Adrian itu masih saling mencintai dan kami sudah berjanji untuk kembali bersama. Tapi kamu, dengan nggak tahu diri justru menghancurkan semuanya. Kamu pasti jebak Adrian kan?”

“Cukup Celine, keputusan aku nggak ada hubungannya dengan Meysa,” seru Adrian.

“Jadi kamu membela Wanita ini Adrian? Kamu lebih membela dia dari pada aku?”

Adrian muak dengan sikap Celine yang semena-mena.

“Apa kamu tidak ingat kejadian di hotel waktu itu Adrian?”

Adrian membelakan matanya Ketika Celine mulai mengungkit kejadian di masa lalu.

“Setelah apa yang kamu lakukan kamu tinggalin aku gitu aja, dimana hati Nurani kamu Adrian? Dan disaat kamu udah janji mau perbaiki semuanya kamu justru ingin menikahi Wanita lain,” seru Celine.

Meysa menatap Adrian yang raut wajahnya mulai berubah.

“Apa, hotel? Jadi mereka pernah melakukan hubungan terlarang sebelum menikah?” batin Meysa.

“Kalau aku jadi kamu, aku akan mempertimbangkan untuk menikah dengan Adrian. Dia tidak sebaik yang kamu kira Meysa, dia hanya senang memanfaatkan perempuan demi keuntungan dia sendiri,” ucap Celine sambil menatap Meysa.

“Hentikan Celine, ucapan kamu sudah ngelantur kemana-mana,” tegas Adrian.

“Kenapa Adrian? Kamu takut kalo keburukan kamu di masa lalu itu terbongkar dan calon istri kamu ini membatalkan rencana pernikahan kalian? Kamu tega ninggalin aku setelah kamu mendapatkan apa yang kamu mau. Kamu jahat Adrian, jahat.”

Meysa tak bisa berkata-kata lagi, dia tak menyangka jika Adrian tega melakukan itu pada Celine. Adrian yang dia kenal sebagai sosok yang baik dan tegas kini presepsinya mulai memudar setelah mendengar pengakuan Celine.

“Jika Celine saja bisa diperlakukan seperti ini? Bagaimana dengan aku yang hanya orang biasa?”

“Apa aku batalkan saja rencana pernikahan ini?”

Meysa mulai ragu dengan keputusanya yang tergesa-gesa menandatangani surat perjanjian pernikahan, dia takut Adrian akan berbuat buruk padanya atau menyakitinya setelah sah menjadi istrinya nanti.

“CELINE!!!” sentak Adrian.

Celine mengangkat tangannya. “Aku belum selesai, masih ada sesuatu yang ingin aku tunjukan ke kamu.”

Celine mengambil sesuatu dari dalam tasnya.

Pluk.

“Sebelum kamu menikahi Wanita miskin ini, sebaiknya kamu lihat dulu apa yang aku bawa.”

Adrian mengambil map merah yang baru saja dilemparkan oleh Celine, dia menatap deretan angka yang memiliki nominal yang cukup besar kemudian tatapannya menatap Meysa yang terlihat tegang. Dia Kembali meletakkan map itu ke meja karena baginya hutang Meysa tak seberapa untuknya.

“Dia mau menipu kamu Adrian,” ucap Celine sambil menatap remeh Meysa.

“Wanita ini memiliki banyak hutang yang…ya nominalnya cukup besar.”

“B-Bagaimana dia bisa tahu?” batin Meysa.

“Tuan, s-saya.”

“Cukup!”

Meysa tediam ketika suara bentakan Celine memekakan telinganya, dia kembali menundukkan kepalanya sambil memilin jari-jari tangannya. Celine mendekat sambil menatap Meysa dengan senyuman miring, dia menarik lengan Meysa hingga Meysa berdiri dari duduknya, tatapan matanya memindai penampilan Meysa dari ujung kepala sampai ujung kaki. Tak ada satupun barang mewah yang melekat pada tubuh pengasuh nenek dari Adrian itu, hanya saja wajah Meysa yang cantik membuat gadis itu terlihat sedikit menarik.

“Kamu pikir dengan cara murahan seperti ini bisa mendapatkan Adrian semudah itu, gadis miskin?”

Kepala Meysa semakin tertunduk, lagi-lagi dia direndahkan.

“Jangan kira aku akan diam saja melihat kamu berusaha menguras harta Adrian. Ingat Meysa, jangan pernah bermimpi kamu akan jadi nyonya di rumah ini.”

“Karena posisi itu hanya pantas untukku,” sambung Celine lirih.

“Hentikan Celine,” tegur Adrian.

Celine menoleh. “Tidak Adrian, aku harus menjelaskan semuanya agar Wanita ini sadar akan posisinya. Kamu nggak merasa dia hanya sedang memanfaatkan Oma agar mau menerima dia menjadi menantu di rumah ini?”

“Tuduhan kamu itu tidak berdasar Celine.”

Greb!

Celine mencengkram erat lengan Meysa membuat Meysa meringis saat kuku panjang Celine menekan kulitnya.

“Apa yang kamu bilang sama Oma, hah? Kamu pasti sengaja mempengaruhi Oma, kan? Ngaku kamu!” seru Celine.

Meysa menggelengkan kepalanya. “Saya tidak melakukan apapun, Nona.”

Celine menyeret tubuh Meysa ke dekat meja, dia mengmbil map yang tadi dia bawa lalu memperlihatkan isinya pada Meysa.

“Kamu lihat baik-baik ini wanita kampung, hutang keluargamu sudah sebanyak ini. Bahkan dengan rentenir pun hampir dua ratus juta.”

Celine menepuk-nepuk kertas putih yang terdapat rincinan total hutang yang keluarga Meysa miliki. 

Keluarga Meysa memang miskin, sejak ibunya sakit dan ayahnya meninggal dia harus menajdi tulang punggung keluarga. Meysa memiliki adik perempuan yang kini sedang berkuliah dan ibunya saat ini sangat membutuhkan biaya besar untuk operasi.

Demi mencukupi kebutuhan sehari-hari, Meysa sampai harus berhutang pada rentenir yang kini sudah menjadi ratusan juta karena dia tak memiliki banyak uang untuk mencicil bunganya. 

Meysa beruntung bisa diterima bekerja di keluarga Lysander, namun sepertinya keberuntungan itu tak berpihak padanya saat ini.

“Dasar wanita miskin nggak tahu diri, cara murahan kamu itu nggak mempan buat keluarga Lysander!”

Di tempatnya, Adrian mengepalkan kedua tangannya di atas meja. Lontaran demi lontaran ucapan kasar mantan kekasihnya pada Meysa membuatnya marah, dia tak terima calon istrinya direndahkan seperti ini. Adrian mengambil ponselnya kemudian mengirim pesan pada seseorang.

“Saya tidak pernah melakukan apapun, Nona, saya juga-“

“Masih berani jawab, kamu? Sudah ketahuan niat busuknya tapi masih banyak alasan,” potong Celine.

Celine menatap Adrian yang hanya diam saja.

“Kalo kamu nekat mau nikahin Wanita miskin ini, aku bakal bilang ke media kalo Wanita ini hanya mengincar harta kamu. Aku mau lihat bagaimana respon kedua orang tua kamu saat mendengar berita ini.”

Kriet.

Adrian berdiri dari duduknya dengan kasar lalu menatap Celine dengan tajam. Dia merebut map dari tangan Celine lalu merobeknya hingga menjadi potongan kecil-kecil lalu membuangnya dengan kasar ke lantai.

Meysa berdiri dengan tubuh kaku, dia tak tahu harus bagaimana lagi. Semua hal yang dia rahasiakan justru dibongkar habis-habisan oleh Celine, yang bahkan keluarganya sendiri pun tak tahu.

“Tutup mulutmu Celine!”

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Extra Chapter

    Suara tangis bayi melengking dari dalam ruang operasi, Adrian beserta keluarga yang menunggu kelahiran cucu pertama keluarga Lysander itu mengela napas lega setelah mendengar suara bayi yang sudah mereka nantikan sejak satu jam yang lalu. "Adrian, anak kamu sudah lahir, Nak," ucap Bu Ningsih sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes. Tak sanggup menahan rasa bahagia bercampur haru, tanpa diduga, air mata Adrian menetes melewati pipinya namun segera dia usap lembut. Ceklek. Ketiga orang yang duduk di depan ruang operasi seketika berdiri dari duduknya ketika pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter wanita keluar bersama perawat yang menggendong bayi yang kini sudah tenang. "Keluarga Nyonya Meysa?" "Saya, saya suaminya dok," jawab Adrian cepat sambil matanya terus menatap bayi kecil berwarna merah yang sedang memejamkan matanya. "Selamat Tuan, bayi anda laki-laki dan dalam keadaan sehat dan tak kurang apapun." Bak dihantam bongkahan es besar yang menyejukkan dan mendin

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 162

    Sore itu terasa begitu dingin, namun peluh dingin justru bercucuran di pelipis Clarissa. Gaun berwarna hitam legam yang dipakainya tampak berkibar tertiup angin seiring langkah kakinya yang tergesa-gesa. Ia berlari dari area parkiran mobil menuju sebuah villa mewah yang lampu-lampunya telah disulap dengan begitu indah, memancarkan kemegahan yang justru terasa mencekik baginya.Matanya menyiratkan tatapan dalam, sebuah tatapan yang menyimpan badai rasa bersalah, rindu, dan ketakutan yang hanya dia sendiri yang tahu maknanya. Jantungnya berdegup kencang, berpacu dengan suara ketukan high heelsnya yang menghantam aspal. Clarissa sedikit kesusahan berlari, gaun panjang dan sepatu hak tingginya seolah bersekongkol untuk memperlambat gerakannya. Matanya terus bergerak liar, panik mencari jalan masuk utama ke dalam villa tersebut."Maaf Nona, tunjukkan undangan anda," ucap salah satu penjaga berbadan tegap di depan pintu masuk villa, menghentikan langkah Clarissa secara mendadak.Clarissa se

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 161

    Meysa berdiri terpaku di depan cermin besar yang mendominasi ruang walk-in closet. Di sekelilingnya, beberapa potong baju bertema pastel tampak tergantung berantakan di luar rak. Ia mengambil satu per satu gaun itu, menempelkannya ke tubuh, lalu mendesah pelan. Tak ada satu pun dari baju-baju itu yang terlihat cocok di matanya hari ini. Dengan sisa-sisa kekesalan, ia mulai mengembalikan baju-baju tersebut ke dalam lemari. "Hah.... kenapa semua baju ini terlihat jelek di tubuhku?" Meysa kembali mengambil satu dress dan menempelkan ke tubuhnya. "Lihat, bukankah tubuhku terlihat sangat besar?" gumam Meysa. Pada saat yang sama, Adrian melangkah masuk ke dalam ruangan sambil sibuk mengancingkan lengan kemejanya. Langkahnya terhenti dan keningnya seketika mengernyit saat melihat sang istri yang belum juga berganti pakaian. "Sayang, kenapa belum siap? Nanti kita bisa terlambat ke acara pernikahan Nozela dan William," ujar Adrian lembut namun terselip nada heran. Meysa menoleh ke ara

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 160

    Hembusan napas panjang Nozela terdengar di tengah keriuhan persiapan pernikahan di halaman vila mewah itu. Ia menyeka keringat yang membasahi dahinya dengan punggung tangan. "Huft," desahnya, lalu duduk di salah satu kursi kayu yang sudah dihias dengan pita kain berwarna dusty pink. Matanya mengamati sekeliling, menatap para pekerja yang sedang sibuk memasang tenda dekorasi dan menata centerpiece di atas meja-meja. Di sebelahnya, seorang staf Wedding Organizer yang tampaknya merupakan koordinator lapangan, sedang sibuk mencatat detail persiapan di papan penjepitnya. Nozela menengok ke arah staf tersebut, "Kak, itu bunganya... saya mau yang putih lebih banyak lagi. Bisa ditambahin di lengkungan di atas panggung itu?" Si staf menatap papan penjepitnya, lalu mengangguk, "Bisa, Mbak. Nanti saya koordinasikan lagi sama tim florist." Nozela mengangguk puas. "Oke, makasih ya. Terus... foto kami," Nozela menunjuk ke arah panggung di mana sebuah bingkai foto besar dengan foto Nozela d

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 159

    Detik berganti menit, jam berganti hari, dan hari berganti bulan. Tak terasa waktu cepat berlalu hingga kini kandungan Meysa sudah memasuki usia lima bulan. Perutnya yang mulai membuncit menjadi simbol kebahagiaan kecil yang selalu ia dan suaminya nantikan setiap harinya.Hari ini, suasana hati Meysa dipenuhi letup-letup kegembiraan. Ditemani sang suami yang tak pernah lepas menggenggam tangannya, mereka melangkah masuk ke rumah sakit untuk melakukan check-up rutin.Meysa kini berbaring di atas ranjang periksa yang dilapisi kain putih bersih. Jantungnya berdegup agak kencang campuran antara rindu dan sedikit cemas yang biasa dirasakan seorang ibu. Di sampingnya, Adrian berdiri siaga, memberikan senyum penenang yang paling hangat.Dokter kandungan, seorang wanita paruh baya dengan senyum keibuan, mulai mengoleskan gel dingin di permukaan perut Meysa. Detik berikutnya, alat transducer mulai digerakkan perlahan. Di layar monitor hitam-putih, samar-samar mulai

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 158

    Krieeek… Derit pintu sel besi yang terbuka tiba-tiba memecah keheningan ruangan yang pengap itu. Clarissa tersentak kaget. Ia segera mendongak, menatap sesosok pria berseragam yang berdiri di ambang pintu, lalu bergegas bangkit dari duduknya. "Mari, ada keluarga yang ingin bertemu dengan Anda," ucap seorang polisi dengan nada datar namun tegas.Dengan kedua tangan yang terikat borgol besi, Clarissa melangkah keluar. Polisi itu menggiringnya menyusuri lorong dingin penjara menuju ruang kunjungan. Setiap langkahnya dipenuhi rasa penasaran sekaligus harap-harap cemas.Begitu pintu ruang kunjungan dibuka, pandangan Clarissa langsung tertuju pada sesosok pria paruh baya yang sangat ia kenali."Papa..." ucap Clarissa lirih. Sepasang matanya yang semula redup, seketika berbinar cerah. Fahmi, yang datang bersama kuasa hukumnya, tidak bisa menyembunyikan rasa rindunya. Ia segera melangkah maju dan memeluk tubuh putri sambungnya itu de

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 6

    “Seret wanita ini keluar dari sini!!” seru Adrian pada petugas keamanan.Celine membelakan matanya, dia menggelengkan kepalanya tanda menolak. Dia pun menatap Adrian dengan tajam.“Aku nggak mau keluar dari sini sebelum kamu batalin rencana pernikahan kamu sama pengasuh ini!” seru Celine tak mau ka

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 4

    “Apa yang kamu katakan, Adrian?” seru Nora tak terima.Adrian tersenyum smirk, genggaman tangan besar itu tak pernah lepas dari pergelangan tangan Meysa dan justru semakin mengerat membuat Meysa bisa merasakan emosi putra kedua keluarga Lysander itu.“Bukankah ini yang kalian inginkan, aku harus se

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 3

    Tiga hari bekerja, tidak ada masalah. Oma hanya sulit untuk makan, tapi beberapa kali Meysa kerepotan karena Oma terus-terusan membahas tentang Adrian yang harus menikah secepat mungkin.Sesekali, Oma mogok makan dan memarahi Meysa, tapi Meysa masih bisa menghandle.Masuk dua minggu, Meysa sudah mu

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 2

    “Dicari, lowonga pekerjaan mengasuh lansia degan bayaran tinggi, jika berminat segera hubungi nomor ini.”Meysa menegakkan kepalanya setelah tak sengaja menemukan sebuah poster lowongan pekerjaan yang dia temukan di dekat rumah sakit. Di tangannya terapat sebuah kantong plastic berisi makanan.“Bay

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status