Share

Bab 7

Author: Addarayuli
last update Petsa ng paglalathala: 2026-05-12 17:19:26

Sesuai janji Adrian pada neneknya, tepat pukul empat sore acara ijab kabul itu dilaksanakan secara kecil-kecilan di kediaman Lysander tepatnya di kamar sang nenek. Acara itu hanya disaksikan oleh beberapa orang saja termasuk asisten pribadi Adrian.

Adrian mulai menyematkan cincin berlian ke jari manis Meysa begitupun sebaliknya. Namun saat Meysa hendak menyematkan cincin ke jari Adrian, tiba-tiba terdengar suara hingga membuat Meysa mengurungkan niatnya.

"Tunggu."

Nora berdiri diambang pintu bersama Celine seorang wanita yang mengenakan jas berwarna putih. Mereka tentu saja tahu siapa yang berdiri disana, ya…seorang dokter Wanita.

“Apa lagi yang diinginkan kak Nora?" batin Adrian.

“Ada apa, Nora?” tanya Oma Rosa.

Semua orang tampak tegang Ketika melihat Nora berjalan masuk ke kamar sang nenek tak terkecuali sang mempelai Wanita. Meysa tentu saja takut jika Nora Kembali melakukan sesuatu padanya apalagi sampai mempermalukannya lagi.

Adrian menoleh pada asisten pribadinya dan memberikan kode pada Evan, Evan yang saat itu sudah siap siaga segera berdiri dari duduknya menghalangi Nora.

“Minggir, kamu hanya pesuruh disini,” ucap Nora dingin.

“Anda dilarang masuk jika hanya ingin mengacaukan acara ini, nona,” ucap Evan tak kalah tegas.

Nora menatap neneknya yang juga sedang menatapnya.

“Nora sengaja membawa dokter ke sini untuk memeriksa wanita itu.”

Oma Rosa menatap Meysa. “Ada apa dengan Meysa? Dia baik-baik saja.”

“Oma, Oma jangan terlalu percaya dengan wajah polos Wanita kampung ini. Bisa saja kan dia saat ini mandul dan nggak bisa kasih keturunan untuk keluarga Lysander.”

“Bagaimanapun caranya, aku harus membatalkan pernikahan ini,” sambung Nora dalam hati.

“Dok, segera periksa wanita itu,” ucap Nora.

“Tunggu, anda tidak bisa melakukan pemeriksaan sembarangan tanpa persetujuan dari pihak terkait,” ucap Evan.

“Kamu tidak usah ikut campur, Evan, ini urusan keluarga Lysander,” seru Celine.

“Jika anda lupa, anda jua hanya orang asing disini, nona Celine,” jawab Evan tegas.

Celine mendengus marah dia tak terima dikatai sebagai orang luar oleh asisten dari mantan kekasihnya itu.

“Mari, Dok, anda harus memeriksa Wanita ini. Saya tidak mau jika calon istri adik saya ketahuan mandul setelah pernikahan. Biarkan saja semua orang yang ada disini menjadi saksi,” ucap Nora sambil menekan kata calon istri.

Adrian sudah muak dengan tingkah kakaknya, dia yang terus mendesak untuk menuruti keinginan nenek mereka untuk segera menikah namun justru dia juga yang mempersulit acara pernikahannya.

“Baik,” jawab dokter itu kemudian mendekati Meysa.

“Berhenti disana.”

Suara datar dan dalam yang baru saja keluar dari mulut Adrian berhasil menghentikan pergerakan sang dokter. Adrian seketika langsung pasang badan untuk melindungi istrinya, dia berdiri tepat di depan Meysa dengan tatapan datar.

“Saya tidak pernah menyetujui anda memeriksa istri saya,” ucap Adrian penuh penekanan.

“Apa maksud kamu, Adrian? Kakak hanya mencoba menyelamatkan kamu dan keluarga kita dari penipu ini.”

“Siapa yang kamu panggil penipu?”

“Sudah, Dokter, jangan dengarkan Adrian. Sekarang lebih baik anda periksa kondisi rahim dia.”

“Tunggu!”

“Saya tidak akan mengizinkan siapapun menyentuh istri saya. Termasuk anda.”

Adrian menatap tajam dokter di hadapannya dan kakaknya secara bergantian.

“Dengar, kakak nggak bisa seenaknya menyuruh dokter memeriksa kondisi Meysa, apalagi banyak orang seperti ini. Dimana simpati kakak sebagai sesama perempuan?” tanya Adrian tak habis pikir.

“Loh, justru kakak sedang membantu kamu, Adrian. Jika Meysa terbukti mandul, maka kamu bisa membatalkan pernikahan ini. Kakak hanya tak ingin kamu menyesal di kemudian hari.”

Adrian mendengus sinis. “Biarkan ini jadi urusan pribadi Adrian dan Meysa. Dan perlu kakak ingat, mandul atau tidak, bisa memiliki keturunan atau tidak, itu bukan urusan kakak sama sekali.”

“Evan, bawa dokter itu pergi dari sini.”

“Baik, tuan.”

“Adrian, tapi...”

“Pergi atau aku akan berbuat kasar.”

Nora mengepalkan kedua tangannya, dia menyempatkan menatap Meysa dengan tajam sebelum pergi. Dia menghentak-hentakkan kakinya lalu meninggalkan kamar neneknya Bersama dengan Celine.

Meysa menunduk lalu tersenyum tipis, lagi-lagi Adrian menyelamatkan dirinya dari Nora. Dia bersyukur karena setidaknya ada Adrian yang menjadi garda terdepan untuk melindunginya dari kakak iparnya.

Rosa tersenyum akhirnya cucu laki-lakinya menikah, meski bukan menikahi gadis dari kalangan terpandang namun dia bisa melihat ketulusan dari Meysa, dan hal itulah yang membuatnya menyukai Meysa. Dia juga bangga pada Adrian karena membela Meysa dan menyelamatkan harga diri istri barunya.

Setelah pernikahan itu selesai dilaksanakan, Meysa tentu saja masih bekerja sebagai pengasuh dan juga merangkap sebagai istri. Dan disini lah dia berada sekarang, Meysa berdiri didepan sebuah pintu berwarna putih yang dia ketahui adalah kamar Adrian, suaminya.

“Kenapa tidak masuk?”

Meysa terpenjat terkejut saat mendengar suara dari belakang tubuhnya, dia segera menunduk sopan sambil sedikit menyingkir dari pintu.

“M-Maaf, tuan.”

“Masukkan barang-barangnya ke kamar!” ucap Adrian pada kepala pelayan.

“Baik, tuan.”

Adrian menatap istrinya yang masih menunduk, dia menghela nafas pelan kemudian menatap jam di pergelangan tangannya.

“Bereskan barang-barang kamu, aku akan kembali sebelum makan malam.”

Tanpa menunggu jawaban dari Meysa, Adrian pergi begitu saja. Meysa menegakkan kepalanya saat sepasang kaki itu mulai menjauh. Dia menatap kepergian Adrian yang entah akan kemana, setelahnya dia memutuskan masuk ke dalam kamar untuk membantu kepala pelayan membereskan bajunya.

“Bik, biar May bantu.”

“Tidak perlu, nyonya, anda sebaiknya bersih-bersih saja.”

Meysa tentu saja terkejut saat kepala pelayan itu memanggilnya dengan sebutan nyonya, matanya terbelalak dengan mulut yang sedikit terbuka.

“Bik, jangan panggil May seperti itu. Bibik bisa panggil saya seperti biasanya.”

Kepala pelayan itu tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.

“Tidak, nyonya, anda sekarang adalah istri dari tuan muda Lysander. Saya harus menghormati anda seperti bagaimana saya menghormati tuan dan nona muda.”

Meysa merasa sungkan dan tak enak, tak pernah terpikirkan olehnya untuk dipanggil nyonya di kediaman Lysander ini.

Malam setelah makan malam, Meysa membantu Oma Rosa untuk tidur. Setelah memastikan Oma Rosa tertidur pulas dia pun lekas mengambil piring kotor lalu meninggalkan kamar dan menutup pintu secara perlahan. Meysa turun ke dapur yang sudah sangat sepi, dia meletakkan bekas makanan ke wastafel kemudian hendak mencucinya.

“Disana ternyata Wanita itu.”

Seseorang berpakaian hitam mengendap-endap dan perlahan membuka pintu belakang dapur. Dia tersenyum miring saat tak ada seorang pun yang ada disana, ditangannya sudah ada sebuah ember berisi air kotor.

Adrian melepaskan kacamatanya, dia menatap gelasnya yang sudah kosong. Dia berdiri dari duduknya kemudian keluar dari ruang kerjanya. Adrian berjalan menuju dapur guna mengambil air minun, namun dia justru melihat sesuatu yang mengejutkan.

Byur!!

“Akh…”

Seseorang tersenyum miring dibalik masker yang digunakan setelah berhasil menyiramkan satu ember penuh air kotor ke tubuh Meysa.

Tubuh Meysa basah kuyup dan sedikit berbau busuk, dia menatap seseorang yang berdiri tak jauh darinya.

“Siapa kamu? Kenapa kamu nyiram saya?”

“Meysa.”

Kedua orang yang sedang berdiri berhadapan itu seketika menoleh ke sumber suara.

“A-Adrian.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Extra Chapter

    Suara tangis bayi melengking dari dalam ruang operasi, Adrian beserta keluarga yang menunggu kelahiran cucu pertama keluarga Lysander itu mengela napas lega setelah mendengar suara bayi yang sudah mereka nantikan sejak satu jam yang lalu. "Adrian, anak kamu sudah lahir, Nak," ucap Bu Ningsih sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes. Tak sanggup menahan rasa bahagia bercampur haru, tanpa diduga, air mata Adrian menetes melewati pipinya namun segera dia usap lembut. Ceklek. Ketiga orang yang duduk di depan ruang operasi seketika berdiri dari duduknya ketika pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter wanita keluar bersama perawat yang menggendong bayi yang kini sudah tenang. "Keluarga Nyonya Meysa?" "Saya, saya suaminya dok," jawab Adrian cepat sambil matanya terus menatap bayi kecil berwarna merah yang sedang memejamkan matanya. "Selamat Tuan, bayi anda laki-laki dan dalam keadaan sehat dan tak kurang apapun." Bak dihantam bongkahan es besar yang menyejukkan dan mendin

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 162

    Sore itu terasa begitu dingin, namun peluh dingin justru bercucuran di pelipis Clarissa. Gaun berwarna hitam legam yang dipakainya tampak berkibar tertiup angin seiring langkah kakinya yang tergesa-gesa. Ia berlari dari area parkiran mobil menuju sebuah villa mewah yang lampu-lampunya telah disulap dengan begitu indah, memancarkan kemegahan yang justru terasa mencekik baginya.Matanya menyiratkan tatapan dalam, sebuah tatapan yang menyimpan badai rasa bersalah, rindu, dan ketakutan yang hanya dia sendiri yang tahu maknanya. Jantungnya berdegup kencang, berpacu dengan suara ketukan high heelsnya yang menghantam aspal. Clarissa sedikit kesusahan berlari, gaun panjang dan sepatu hak tingginya seolah bersekongkol untuk memperlambat gerakannya. Matanya terus bergerak liar, panik mencari jalan masuk utama ke dalam villa tersebut."Maaf Nona, tunjukkan undangan anda," ucap salah satu penjaga berbadan tegap di depan pintu masuk villa, menghentikan langkah Clarissa secara mendadak.Clarissa se

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 161

    Meysa berdiri terpaku di depan cermin besar yang mendominasi ruang walk-in closet. Di sekelilingnya, beberapa potong baju bertema pastel tampak tergantung berantakan di luar rak. Ia mengambil satu per satu gaun itu, menempelkannya ke tubuh, lalu mendesah pelan. Tak ada satu pun dari baju-baju itu yang terlihat cocok di matanya hari ini. Dengan sisa-sisa kekesalan, ia mulai mengembalikan baju-baju tersebut ke dalam lemari. "Hah.... kenapa semua baju ini terlihat jelek di tubuhku?" Meysa kembali mengambil satu dress dan menempelkan ke tubuhnya. "Lihat, bukankah tubuhku terlihat sangat besar?" gumam Meysa. Pada saat yang sama, Adrian melangkah masuk ke dalam ruangan sambil sibuk mengancingkan lengan kemejanya. Langkahnya terhenti dan keningnya seketika mengernyit saat melihat sang istri yang belum juga berganti pakaian. "Sayang, kenapa belum siap? Nanti kita bisa terlambat ke acara pernikahan Nozela dan William," ujar Adrian lembut namun terselip nada heran. Meysa menoleh ke ara

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 160

    Hembusan napas panjang Nozela terdengar di tengah keriuhan persiapan pernikahan di halaman vila mewah itu. Ia menyeka keringat yang membasahi dahinya dengan punggung tangan. "Huft," desahnya, lalu duduk di salah satu kursi kayu yang sudah dihias dengan pita kain berwarna dusty pink. Matanya mengamati sekeliling, menatap para pekerja yang sedang sibuk memasang tenda dekorasi dan menata centerpiece di atas meja-meja. Di sebelahnya, seorang staf Wedding Organizer yang tampaknya merupakan koordinator lapangan, sedang sibuk mencatat detail persiapan di papan penjepitnya. Nozela menengok ke arah staf tersebut, "Kak, itu bunganya... saya mau yang putih lebih banyak lagi. Bisa ditambahin di lengkungan di atas panggung itu?" Si staf menatap papan penjepitnya, lalu mengangguk, "Bisa, Mbak. Nanti saya koordinasikan lagi sama tim florist." Nozela mengangguk puas. "Oke, makasih ya. Terus... foto kami," Nozela menunjuk ke arah panggung di mana sebuah bingkai foto besar dengan foto Nozela d

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 159

    Detik berganti menit, jam berganti hari, dan hari berganti bulan. Tak terasa waktu cepat berlalu hingga kini kandungan Meysa sudah memasuki usia lima bulan. Perutnya yang mulai membuncit menjadi simbol kebahagiaan kecil yang selalu ia dan suaminya nantikan setiap harinya.Hari ini, suasana hati Meysa dipenuhi letup-letup kegembiraan. Ditemani sang suami yang tak pernah lepas menggenggam tangannya, mereka melangkah masuk ke rumah sakit untuk melakukan check-up rutin.Meysa kini berbaring di atas ranjang periksa yang dilapisi kain putih bersih. Jantungnya berdegup agak kencang campuran antara rindu dan sedikit cemas yang biasa dirasakan seorang ibu. Di sampingnya, Adrian berdiri siaga, memberikan senyum penenang yang paling hangat.Dokter kandungan, seorang wanita paruh baya dengan senyum keibuan, mulai mengoleskan gel dingin di permukaan perut Meysa. Detik berikutnya, alat transducer mulai digerakkan perlahan. Di layar monitor hitam-putih, samar-samar mulai

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 158

    Krieeek… Derit pintu sel besi yang terbuka tiba-tiba memecah keheningan ruangan yang pengap itu. Clarissa tersentak kaget. Ia segera mendongak, menatap sesosok pria berseragam yang berdiri di ambang pintu, lalu bergegas bangkit dari duduknya. "Mari, ada keluarga yang ingin bertemu dengan Anda," ucap seorang polisi dengan nada datar namun tegas.Dengan kedua tangan yang terikat borgol besi, Clarissa melangkah keluar. Polisi itu menggiringnya menyusuri lorong dingin penjara menuju ruang kunjungan. Setiap langkahnya dipenuhi rasa penasaran sekaligus harap-harap cemas.Begitu pintu ruang kunjungan dibuka, pandangan Clarissa langsung tertuju pada sesosok pria paruh baya yang sangat ia kenali."Papa..." ucap Clarissa lirih. Sepasang matanya yang semula redup, seketika berbinar cerah. Fahmi, yang datang bersama kuasa hukumnya, tidak bisa menyembunyikan rasa rindunya. Ia segera melangkah maju dan memeluk tubuh putri sambungnya itu de

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 5

    Meysa perlahan mengangkat pandanganya, dia menatap sebuah map di atas meja dengan ragu. Haruskan dia melakukan semua ini? Begitu pikirnya.“Saya tidak punya banyak waktu. Masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan.”Dengan tangan yang gemetar, Meysa mengambil berkas itu kemudian membukanya. Di

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 114

    Meysa melangkah pelan dari kamar mandi, tubuhnya dibungkus jubah mandi berbahan katun lembut yang nyaman. Di atas kepalanya, rambutnya yang basah tergulung rapi oleh sehelai handuk putih.Sambil bersenandung kecil untuk mengusir rasa kesalnya, Meysa berjalan mendekati meja rias lalu duduk di kursi.

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 112

    Ceklek."Apa tanganmu tidak bisa digunakan lagi untuk..." Ucap Nora sambil mendongak. "...Celine?' Nora mengubah eksspresi wajahnya ketika melihat sahabatnya yang datang ke ruangannya, dia menutup berkas di depannya ketika sang sahabat duduk di kursi tepat di depannya. Nora memprhatikan wajah Celi

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 6

    “Seret wanita ini keluar dari sini!!” seru Adrian pada petugas keamanan.Celine membelakan matanya, dia menggelengkan kepalanya tanda menolak. Dia pun menatap Adrian dengan tajam.“Aku nggak mau keluar dari sini sebelum kamu batalin rencana pernikahan kamu sama pengasuh ini!” seru Celine tak mau ka

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status