Share

Bab 6

Author: Addarayuli
last update publish date: 2026-05-03 22:03:14

“Seret wanita ini keluar dari sini!!” seru Adrian pada petugas keamanan.

Celine membelakan matanya, dia menggelengkan kepalanya tanda menolak. Dia pun menatap Adrian dengan tajam.

“Aku nggak mau keluar dari sini sebelum kamu batalin rencana pernikahan kamu sama pengasuh ini!” seru Celine tak mau kalah.

“Dengar Celine, keputusanku sudah final. Aku nggak akan membatalkan rencana pernikahan ini hanya karena hasutan murahan dari kamu.”

Satu petugas keamanan itu lekas mencekal lengan Celine membuat Celine memberontak.

“Lepas, jangan sentuh-sentuh saya sembarangan,” ucap Celine sambil berusaha melepaskan cekalan tangan petugas keamanan dari lengannya.

“Evan, bawa Wanita ini keluar dari sini. Pastikan dia tidak datang atau masuk sembarangan lagi ke ruanganku,” seru Adrian.

Evan menangguk, dia lekas memberi intruksi pada petugas keamanan untuk membawa Celine pergi. Namun bukan Celine Namanya kalau tidak menyerah begitu saja, Wanita itu mengangkat kakinya kemudian menginjak sepatu petugas keamanan itu dengan kuat. Ujung high heels runcing yang digunakan Celine berhasil mengenai sepatu petugas keamanan itu hingga petugas keamanan mengaduh kesakitan.

Celine memanfaatkan kesempatan itu unutk melepaskan diri kemudian mendorong petugas keamanan itu hingga jatuh, dia lekas mendekati Adrian yang berdiri tak jauh darinya.

“Batalkan pernikahan ini Adrian, aku nggak main-main dengan ucapan aku tadi,” tekan Celine.

“Kamu ngancam aku Celine?” desis Adrian.

“Kamu tahu aku seperti apa Adrian, jadi jangan sampai menyesal.”

“Kurang ajar, dasar Wanita licik.”

Greb!

Adrian mencekal lengan Celine dengan keras membuat Celine mengaduh kesakitan, dia segera menarik Celine keluar dari ruang kerjanya.

“Akh, sakit Adrian.”

Tanpa belas kasihan, Adrian menyeret Celine keluar.

Meysa dan Evan terkejut melihat perlakuan kasar Adrian pada Celine, mereka pun mengikuti Adrian yang membawa Celine pergi.

“Sakit Adrian.”

Celine terus mengaduh kesakitan membuat Nora yang hendak menemui Adrian mengurungkan niatnya saat melihat Adrian menyeret Celine menuju pintu utama. Buru-buru Nora mengikuti Adrian karena penasaran dengan apa yang dilakukan Adrian.

Adrian menghempaskan Celine hingga tubuhnya limbung dan hampir saja terjatuh, beruntung Nora dengan cepat membantu Celine kalau tidak sahabatnya sudah terjatuh ke lantai.

“Adrian, apa yang kamu lakukan ke Celine, hah?” bentak Nora.

“Kamu nggak papa?” tanya Nora pada Celine.

Celine menganggukkan kepalanya tanda dia baik-baik saja.

“Apa maksud kamu berbuat sekasar itu sama Celine, bukankah kalian masih saling mencintai?”

Tatapan Nora tertuju pada Meysa yang berdiri Bersama Evan, asisten pribadi Adrian.

“Oh, atau gara-gara Wanita itu kamu berbuat sekasar ini pada Celine? Benar Adrian?”

Adrian menghela nafas panjang. “Sahabat kakak itu sudah keterlaluan, tidak sepantasnya dia menghina calon istri Adrian.”

Nora tersenyum sinis. “Calon istri? Itu tidak akan pernah terjadi karena sampai kapan pun aku nggak setuju kamu menikahi dia,” tunjuk Nora.

“Ini sudah menjadi keputusan Adrian, tidak ada satu pun dari kalian yang bisa menghentikan Adrian,” tegas Adrian.

Drrtt…ddrrttt..

Ponsel milik Nora bergetar, wanita cantik itu mengambil ponselnya dan seketika itu juga dia tersenyum melihat siapa yang menghubunginya.

“Halo mah.”

Adrian dan Meysa sedikit terkejut mendengar siapa yang menghubungi Nora disaat seperti ini.

“Adrian ingin menikahi pengasuh Oma, mah,” adu Nora.

“Apa? Itu tidak mungkin terjadi. Adrian sudah hendak mama jodohkan dengan Celine. Bagaimana bisa dia hendak menikahi pengasuh itu?”

“Kamu dengar sendiri kan Adrian apa yang mama bilang,” ucap Nora.

“Asal mama tahu, Meysa yang sengaja menjebak Adrian untuk menikahnya agar bisa jadi ATM berjalannya dan melunasi semua hutangnya.”

“Mama tidak pernah setuju dengan keputusan Adrian, bagaimanapun hanya Celine yang bisa menjadi menantu keluarga Lysander, bukan Wanita dari kelas rendahan.”

“CUKUP, SEMUANYA CUKUP!!”

“Evan, segera lunasi tagihan rumah sakit ibu Meysa. Siapkan juga acara untuk nanti, aku akan menikahi Meysa hari ini juga!!” sambung Adrian tegas.

Semua orang yang mendengar ucapan Adrian tentu saja terkejut, terlebih Nora dan mamanya yang saat ini ada di luar negeri. Meysa hanya bisa menatap punggung tagap itu dari belakang, meski hanya menikah kontrak namun dia bersyukur Adrian mau membelanya di depan keluarganya.

“Dan untuk kamu,” tunjuk Adrian pada kakaknya.

“Berhenti mengurusi yang bukan urusan kakak. Adrian sudah menuruti semua ucapan kakak dan Oma untuk segera menikah. Maka saat ini juga Adrian akan menikahi Meysa.”

“TAPI BUKAN DENGAN WANITA ITU ADRIAN, PENGASUH MISKIN ITU TIDAK PANTAS MENJADI MENANTU DI RUMAH INI!!”

“LANTAS WANITA SEPERTI APA YANG PANTAS KAK, WANITA LICIK ITU?” tunjuk Adrian pada Celine.

Evan segera mendekati bosnya yang sudah kehilangan kendali, dia menepuk pundak Adrian berharap Adrian tak lagi berteriak pada kakaknya.

“Sampai kapan pun aku nggak sudi merestui pernikahan kamu dengan Wanita itu.”

“Sudah tuan, lebih baik kita masuk ke dalam,” bisik Evan.

Adrian menatap tajam kakanya, tak ingin masalah ini semakin panjang dia pun lekas berbalik kemudian menatap Meysa yang berdiri sambil menatapnya sendu. Adrian berjalan menuju Meysa kemudian meraih pergelangan tangan pengasuh kesayangan Omanya itu.

“Ikut aku.”

Meysa pasrah Ketika Adrian menarik tangannya dan membawanya masuk ke dalam, dia menatap tangan besar Adrian yang menggengam tangannya. Dalam hati Meysa dia merasa senang sekaligus sedih,ada sedikit rasa takut juga yang terus menghantuinya perihal perkataan Celine tadi.

“Aarrrgghh, sialan,” seru Nora penuh emosi.

Nora segera meninggalkan teras rumah menuju kamarnya diikuti oleh Celine dari belakang. Kedua wanita itu lekas masuk ke dalam kamar dimana suaminya sudah menunggunya disana.

“Dasar Wanita miskin sialan.”

“Arrgghhh.”

Pyarr!!

Nora melampiaskan emosinya dengan mengambil vas bunga kemudian melemparkannya ke lantai hingga pecah dan pecahan kacanya berserakan di lantai. Wajahnya memerah dengan nafas naik turun tak beraturan, dia emosi lantaran pendapatnya sama sekali tak didengarkan oleh Adrian.

“Ra, apa yang harus kita lakukan? Aku nggak terima kalo Adrian beneran nikah sama Wanita miskin itu,” desak Celine.

Nora memejamkan matanya sambil menjambak rambutnya frustasi.

“Cel, bisa nggak sih kamu bantu mikir jangan Cuma tanya terus. Aku pusing nih.”

Celine sama pusingnya dengan Noram, dia bahkan sudah tak bisa lagi berfikir jernih.

“Aku ada ide.”

Celine dan Nora kompak menatap suami Nora.

“Apa mas?” tanya Nora.

“Aku kenal dengan seorang dokter kandungan yang bisa merekayasa hasil pemeriksaan. Kita bisa gunakan dia agar harta warisan keluarga Lysander tidak jatuh ke tangan Wanita miskin itu!”

“Aku setuju, secepatnya kita harus bertindak Nora atau semua kekayaan Lysander akan jatuh ke pengasuh itu,” ucap Celine penuh keyakinan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Extra Chapter

    Suara tangis bayi melengking dari dalam ruang operasi, Adrian beserta keluarga yang menunggu kelahiran cucu pertama keluarga Lysander itu mengela napas lega setelah mendengar suara bayi yang sudah mereka nantikan sejak satu jam yang lalu. "Adrian, anak kamu sudah lahir, Nak," ucap Bu Ningsih sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes. Tak sanggup menahan rasa bahagia bercampur haru, tanpa diduga, air mata Adrian menetes melewati pipinya namun segera dia usap lembut. Ceklek. Ketiga orang yang duduk di depan ruang operasi seketika berdiri dari duduknya ketika pintu ruang operasi terbuka. Seorang dokter wanita keluar bersama perawat yang menggendong bayi yang kini sudah tenang. "Keluarga Nyonya Meysa?" "Saya, saya suaminya dok," jawab Adrian cepat sambil matanya terus menatap bayi kecil berwarna merah yang sedang memejamkan matanya. "Selamat Tuan, bayi anda laki-laki dan dalam keadaan sehat dan tak kurang apapun." Bak dihantam bongkahan es besar yang menyejukkan dan mendin

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 162

    Sore itu terasa begitu dingin, namun peluh dingin justru bercucuran di pelipis Clarissa. Gaun berwarna hitam legam yang dipakainya tampak berkibar tertiup angin seiring langkah kakinya yang tergesa-gesa. Ia berlari dari area parkiran mobil menuju sebuah villa mewah yang lampu-lampunya telah disulap dengan begitu indah, memancarkan kemegahan yang justru terasa mencekik baginya.Matanya menyiratkan tatapan dalam, sebuah tatapan yang menyimpan badai rasa bersalah, rindu, dan ketakutan yang hanya dia sendiri yang tahu maknanya. Jantungnya berdegup kencang, berpacu dengan suara ketukan high heelsnya yang menghantam aspal. Clarissa sedikit kesusahan berlari, gaun panjang dan sepatu hak tingginya seolah bersekongkol untuk memperlambat gerakannya. Matanya terus bergerak liar, panik mencari jalan masuk utama ke dalam villa tersebut."Maaf Nona, tunjukkan undangan anda," ucap salah satu penjaga berbadan tegap di depan pintu masuk villa, menghentikan langkah Clarissa secara mendadak.Clarissa se

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 161

    Meysa berdiri terpaku di depan cermin besar yang mendominasi ruang walk-in closet. Di sekelilingnya, beberapa potong baju bertema pastel tampak tergantung berantakan di luar rak. Ia mengambil satu per satu gaun itu, menempelkannya ke tubuh, lalu mendesah pelan. Tak ada satu pun dari baju-baju itu yang terlihat cocok di matanya hari ini. Dengan sisa-sisa kekesalan, ia mulai mengembalikan baju-baju tersebut ke dalam lemari. "Hah.... kenapa semua baju ini terlihat jelek di tubuhku?" Meysa kembali mengambil satu dress dan menempelkan ke tubuhnya. "Lihat, bukankah tubuhku terlihat sangat besar?" gumam Meysa. Pada saat yang sama, Adrian melangkah masuk ke dalam ruangan sambil sibuk mengancingkan lengan kemejanya. Langkahnya terhenti dan keningnya seketika mengernyit saat melihat sang istri yang belum juga berganti pakaian. "Sayang, kenapa belum siap? Nanti kita bisa terlambat ke acara pernikahan Nozela dan William," ujar Adrian lembut namun terselip nada heran. Meysa menoleh ke ara

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 160

    Hembusan napas panjang Nozela terdengar di tengah keriuhan persiapan pernikahan di halaman vila mewah itu. Ia menyeka keringat yang membasahi dahinya dengan punggung tangan. "Huft," desahnya, lalu duduk di salah satu kursi kayu yang sudah dihias dengan pita kain berwarna dusty pink. Matanya mengamati sekeliling, menatap para pekerja yang sedang sibuk memasang tenda dekorasi dan menata centerpiece di atas meja-meja. Di sebelahnya, seorang staf Wedding Organizer yang tampaknya merupakan koordinator lapangan, sedang sibuk mencatat detail persiapan di papan penjepitnya. Nozela menengok ke arah staf tersebut, "Kak, itu bunganya... saya mau yang putih lebih banyak lagi. Bisa ditambahin di lengkungan di atas panggung itu?" Si staf menatap papan penjepitnya, lalu mengangguk, "Bisa, Mbak. Nanti saya koordinasikan lagi sama tim florist." Nozela mengangguk puas. "Oke, makasih ya. Terus... foto kami," Nozela menunjuk ke arah panggung di mana sebuah bingkai foto besar dengan foto Nozela d

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 159

    Detik berganti menit, jam berganti hari, dan hari berganti bulan. Tak terasa waktu cepat berlalu hingga kini kandungan Meysa sudah memasuki usia lima bulan. Perutnya yang mulai membuncit menjadi simbol kebahagiaan kecil yang selalu ia dan suaminya nantikan setiap harinya.Hari ini, suasana hati Meysa dipenuhi letup-letup kegembiraan. Ditemani sang suami yang tak pernah lepas menggenggam tangannya, mereka melangkah masuk ke rumah sakit untuk melakukan check-up rutin.Meysa kini berbaring di atas ranjang periksa yang dilapisi kain putih bersih. Jantungnya berdegup agak kencang campuran antara rindu dan sedikit cemas yang biasa dirasakan seorang ibu. Di sampingnya, Adrian berdiri siaga, memberikan senyum penenang yang paling hangat.Dokter kandungan, seorang wanita paruh baya dengan senyum keibuan, mulai mengoleskan gel dingin di permukaan perut Meysa. Detik berikutnya, alat transducer mulai digerakkan perlahan. Di layar monitor hitam-putih, samar-samar mulai

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 158

    Krieeek… Derit pintu sel besi yang terbuka tiba-tiba memecah keheningan ruangan yang pengap itu. Clarissa tersentak kaget. Ia segera mendongak, menatap sesosok pria berseragam yang berdiri di ambang pintu, lalu bergegas bangkit dari duduknya. "Mari, ada keluarga yang ingin bertemu dengan Anda," ucap seorang polisi dengan nada datar namun tegas.Dengan kedua tangan yang terikat borgol besi, Clarissa melangkah keluar. Polisi itu menggiringnya menyusuri lorong dingin penjara menuju ruang kunjungan. Setiap langkahnya dipenuhi rasa penasaran sekaligus harap-harap cemas.Begitu pintu ruang kunjungan dibuka, pandangan Clarissa langsung tertuju pada sesosok pria paruh baya yang sangat ia kenali."Papa..." ucap Clarissa lirih. Sepasang matanya yang semula redup, seketika berbinar cerah. Fahmi, yang datang bersama kuasa hukumnya, tidak bisa menyembunyikan rasa rindunya. Ia segera melangkah maju dan memeluk tubuh putri sambungnya itu de

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 7

    Sesuai janji Adrian pada neneknya, tepat pukul empat sore acara ijab kabul itu dilaksanakan secara kecil-kecilan di kediaman Lysander tepatnya di kamar sang nenek. Acara itu hanya disaksikan oleh beberapa orang saja termasuk asisten pribadi Adrian.Adrian mulai menyematkan cincin berlian ke jari ma

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 5

    Meysa perlahan mengangkat pandanganya, dia menatap sebuah map di atas meja dengan ragu. Haruskan dia melakukan semua ini? Begitu pikirnya.“Saya tidak punya banyak waktu. Masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan.”Dengan tangan yang gemetar, Meysa mengambil berkas itu kemudian membukanya. Di

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 2

    “Dicari, lowonga pekerjaan mengasuh lansia degan bayaran tinggi, jika berminat segera hubungi nomor ini.”Meysa menegakkan kepalanya setelah tak sengaja menemukan sebuah poster lowongan pekerjaan yang dia temukan di dekat rumah sakit. Di tangannya terapat sebuah kantong plastic berisi makanan.“Bay

  • Pengasuh Polos untuk CEO Dingin   Bab 1

    “Mulai hari ini kamu saya pecat!”Meysa membelakan matanya Ketika kalimat itu keluar dari mulut manager restoran tempatnya bekerja, perlahan dia mengangkat kepalanya menatap seorang pria dewasa yang tengah menatapnya dengan datar.“P-Pak, tapi saya tidak melakukan apapun,” ucap Meysa lirih.Manager

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status