تسجيل الدخول“Seret wanita ini keluar dari sini!!” seru Adrian pada petugas keamanan.
Celine membelakan matanya, dia menggelengkan kepalanya tanda menolak. Dia pun menatap Adrian dengan tajam. “Aku nggak mau keluar dari sini sebelum kamu batalin rencana pernikahan kamu sama pengasuh ini!” seru Celine tak mau kalah. “Dengar Celine, keputusanku sudah final. Aku nggak akan membatalkan rencana pernikahan ini hanya karena hasutan murahan dari kamu.” Satu petugas keamanan itu lekas mencekal lengan Celine membuat Celine memberontak. “Lepas, jangan sentuh-sentuh saya sembarangan,” ucap Celine sambil berusaha melepaskan cekalan tangan petugas keamanan dari lengannya. “Evan, bawa Wanita ini keluar dari sini. Pastikan dia tidak datang atau masuk sembarangan lagi ke ruanganku,” seru Adrian. Evan menangguk, dia lekas memberi intruksi pada petugas keamanan untuk membawa Celine pergi. Namun bukan Celine Namanya kalau tidak menyerah begitu saja, Wanita itu mengangkat kakinya kemudian menginjak sepatu petugas keamanan itu dengan kuat. Ujung high heels runcing yang digunakan Celine berhasil mengenai sepatu petugas keamanan itu hingga petugas keamanan mengaduh kesakitan. Celine memanfaatkan kesempatan itu unutk melepaskan diri kemudian mendorong petugas keamanan itu hingga jatuh, dia lekas mendekati Adrian yang berdiri tak jauh darinya. “Batalkan pernikahan ini Adrian, aku nggak main-main dengan ucapan aku tadi,” tekan Celine. “Kamu ngancam aku Celine?” desis Adrian. “Kamu tahu aku seperti apa Adrian, jadi jangan sampai menyesal.” “Kurang ajar, dasar Wanita licik.” Greb! Adrian mencekal lengan Celine dengan keras membuat Celine mengaduh kesakitan, dia segera menarik Celine keluar dari ruang kerjanya. “Akh, sakit Adrian.” Tanpa belas kasihan, Adrian menyeret Celine keluar. Meysa dan Evan terkejut melihat perlakuan kasar Adrian pada Celine, mereka pun mengikuti Adrian yang membawa Celine pergi. “Sakit Adrian.” Celine terus mengaduh kesakitan membuat Nora yang hendak menemui Adrian mengurungkan niatnya saat melihat Adrian menyeret Celine menuju pintu utama. Buru-buru Nora mengikuti Adrian karena penasaran dengan apa yang dilakukan Adrian. Adrian menghempaskan Celine hingga tubuhnya limbung dan hampir saja terjatuh, beruntung Nora dengan cepat membantu Celine kalau tidak sahabatnya sudah terjatuh ke lantai. “Adrian, apa yang kamu lakukan ke Celine, hah?” bentak Nora. “Kamu nggak papa?” tanya Nora pada Celine. Celine menganggukkan kepalanya tanda dia baik-baik saja. “Apa maksud kamu berbuat sekasar itu sama Celine, bukankah kalian masih saling mencintai?” Tatapan Nora tertuju pada Meysa yang berdiri Bersama Evan, asisten pribadi Adrian. “Oh, atau gara-gara Wanita itu kamu berbuat sekasar ini pada Celine? Benar Adrian?” Adrian menghela nafas panjang. “Sahabat kakak itu sudah keterlaluan, tidak sepantasnya dia menghina calon istri Adrian.” Nora tersenyum sinis. “Calon istri? Itu tidak akan pernah terjadi karena sampai kapan pun aku nggak setuju kamu menikahi dia,” tunjuk Nora. “Ini sudah menjadi keputusan Adrian, tidak ada satu pun dari kalian yang bisa menghentikan Adrian,” tegas Adrian. Drrtt…ddrrttt.. Ponsel milik Nora bergetar, wanita cantik itu mengambil ponselnya dan seketika itu juga dia tersenyum melihat siapa yang menghubunginya. “Halo mah.” Adrian dan Meysa sedikit terkejut mendengar siapa yang menghubungi Nora disaat seperti ini. “Adrian ingin menikahi pengasuh Oma, mah,” adu Nora. “Apa? Itu tidak mungkin terjadi. Adrian sudah hendak mama jodohkan dengan Celine. Bagaimana bisa dia hendak menikahi pengasuh itu?” “Kamu dengar sendiri kan Adrian apa yang mama bilang,” ucap Nora. “Asal mama tahu, Meysa yang sengaja menjebak Adrian untuk menikahnya agar bisa jadi ATM berjalannya dan melunasi semua hutangnya.” “Mama tidak pernah setuju dengan keputusan Adrian, bagaimanapun hanya Celine yang bisa menjadi menantu keluarga Lysander, bukan Wanita dari kelas rendahan.” “CUKUP, SEMUANYA CUKUP!!” “Evan, segera lunasi tagihan rumah sakit ibu Meysa. Siapkan juga acara untuk nanti, aku akan menikahi Meysa hari ini juga!!” sambung Adrian tegas. Semua orang yang mendengar ucapan Adrian tentu saja terkejut, terlebih Nora dan mamanya yang saat ini ada di luar negeri. Meysa hanya bisa menatap punggung tagap itu dari belakang, meski hanya menikah kontrak namun dia bersyukur Adrian mau membelanya di depan keluarganya. “Dan untuk kamu,” tunjuk Adrian pada kakaknya. “Berhenti mengurusi yang bukan urusan kakak. Adrian sudah menuruti semua ucapan kakak dan Oma untuk segera menikah. Maka saat ini juga Adrian akan menikahi Meysa.” “TAPI BUKAN DENGAN WANITA ITU ADRIAN, PENGASUH MISKIN ITU TIDAK PANTAS MENJADI MENANTU DI RUMAH INI!!” “LANTAS WANITA SEPERTI APA YANG PANTAS KAK, WANITA LICIK ITU?” tunjuk Adrian pada Celine. Evan segera mendekati bosnya yang sudah kehilangan kendali, dia menepuk pundak Adrian berharap Adrian tak lagi berteriak pada kakaknya. “Sampai kapan pun aku nggak sudi merestui pernikahan kamu dengan Wanita itu.” “Sudah tuan, lebih baik kita masuk ke dalam,” bisik Evan. Adrian menatap tajam kakanya, tak ingin masalah ini semakin panjang dia pun lekas berbalik kemudian menatap Meysa yang berdiri sambil menatapnya sendu. Adrian berjalan menuju Meysa kemudian meraih pergelangan tangan pengasuh kesayangan Omanya itu. “Ikut aku.” Meysa pasrah Ketika Adrian menarik tangannya dan membawanya masuk ke dalam, dia menatap tangan besar Adrian yang menggengam tangannya. Dalam hati Meysa dia merasa senang sekaligus sedih,ada sedikit rasa takut juga yang terus menghantuinya perihal perkataan Celine tadi. “Aarrrgghh, sialan,” seru Nora penuh emosi. Nora segera meninggalkan teras rumah menuju kamarnya diikuti oleh Celine dari belakang. Kedua wanita itu lekas masuk ke dalam kamar dimana suaminya sudah menunggunya disana. “Dasar Wanita miskin sialan.” “Arrgghhh.” Pyarr!! Nora melampiaskan emosinya dengan mengambil vas bunga kemudian melemparkannya ke lantai hingga pecah dan pecahan kacanya berserakan di lantai. Wajahnya memerah dengan nafas naik turun tak beraturan, dia emosi lantaran pendapatnya sama sekali tak didengarkan oleh Adrian. “Ra, apa yang harus kita lakukan? Aku nggak terima kalo Adrian beneran nikah sama Wanita miskin itu,” desak Celine. Nora memejamkan matanya sambil menjambak rambutnya frustasi. “Cel, bisa nggak sih kamu bantu mikir jangan Cuma tanya terus. Aku pusing nih.” Celine sama pusingnya dengan Noram, dia bahkan sudah tak bisa lagi berfikir jernih. “Aku ada ide.” Celine dan Nora kompak menatap suami Nora. “Apa mas?” tanya Nora. “Aku kenal dengan seorang dokter kandungan yang bisa merekayasa hasil pemeriksaan. Kita bisa gunakan dia agar harta warisan keluarga Lysander tidak jatuh ke tangan Wanita miskin itu!” “Aku setuju, secepatnya kita harus bertindak Nora atau semua kekayaan Lysander akan jatuh ke pengasuh itu,” ucap Celine penuh keyakinan.Tok! Tok! Tok!Sebuah ketukan pintu terdengar nyaring, memecah keheningan di dalam ruangan kerja yang rapi itu.Nozela yang sedang sibuk berkutat dengan laptop di depannya sama sekali tidak mengalihkan pandangan. Jemarinya masih menari lincah di atas keyboard. Tanpa menoleh, ia setengah berteriak memberikan izin."Masuk!" serunya singkat.Tak lama kemudian, terdengar suara gagang pintu diputar dan daun pintu yang terbuka perlahan. Nozela masih bergeming. Ia sama sekali belum menoleh ke arah pintu karena merasa pekerjaannya saat ini jauh lebih penting dan harus segera diselesaikan. Ia menduga yang datang adalah asistennya yang ingin mengantarkan beberapa berkas.Sampai akhirnya, sebuah suara yang amat ia kenali memecah keheningan."Selamat sore, Sayang."Nozela langsung mendongak. Matanya membelalak terkejut. Dugaan bahwa sang asisten yang datang langsung sirna begitu melihat sosok tinggi yang kini berjalan mendekat."William?!" pekik Nozela tertahan.Melihat respons terkejut sang keka
Maya menatap ibunya yang nampak terkejut. Di tangan wanita paruh baya itu, terdapat ponsel miliknya. "Siapa yang telepon, Bu?" tanya Maya."Kenapa ekspresi Ibu seperti itu?" sambung Maya.Maya melangkah mendekat ke arah ibunya. Sambil mengerutkan dahi, ia bertanya apa yang sebenarnya terjadi sampai sang ibu terlihat begitu panik.Bu Ningsih dengan cepat menggelengkan kepalanya, mencoba menguasai diri."Tidak... tidak ada apa-apa," jawab Bu Ningsih agak gugup. "Itu... Meysa katanya nanti mau ke sini."Bu Ningsih sengaja mengalihkan pembicaraan agar Maya tidak bertanya lebih jauh. Usahanya berhasil, Maya hanya menganggukkan kepalanya, menerima alasan tersebut tanpa curiga."Oh,Kak Meysa mau ke sini? Yah, Maya padahal mau pamit ke kampus, Bu. Ada jadwal siang ini, jadi kayaknya nggak bisa ketemu Kak Meysa dulu," kata Maya sambil meraih tas kuliahnya.Bu Ningsih hanya mengangguk pelan, memaksakan sebuah senyuman. "Iya, tidak apa-apa. Berangkatlah, hati-hati di jalan."Setelah berpamitan,
"Sus Defi," panggil Oma Rosa."Kamu tahu Meysa ke mana? Sejak selesai sarapan tadi, dia sama sekali belum menemui Oma di kamar."Sus Defi, yang kebetulan baru saja kembali dari area belakang rumah, langsung tersenyum menenangkan. "Oh, itu, Oma... Nyonya Meysa sedang ada di dapur. Tadi saya lihat beliau lagi bikin kue dibantu sama para ART."Mendengar hal itu, sepasang mata Oma Rosa langsung berbinar cerah. Rasa bosannya seketika menguap. "Oh ya? Wah, kalau begitu ayo antar Oma ke dapur. Oma mau lihat Meysa bikin kue. Suntuk rasanya kalau terus-terusan diam di kamar seperti ini.""Baik, Oma," jawab Sus Defi patuh.Dengan telaten, Sus Defi membantu Oma Rosa berpindah dari tempat tidur ke kursi rodanya. Setelah memastikan posisi Oma Rosa nyaman, Sus Defi mulai mendorong kursi roda itu keluar dari kamar, menyusuri koridor rumah yang megah.Namun, saat mereka berdua sampai di lorong dekat ruang tamu, langkah Sus Defi melambat. Sayup-sayup terdengar suara orang yang sedang mengobrol dengan
Aroma mentega dan vanila yang harum memenuhi seluruh penjuru dapur. Di sana, Meysa berdiri dengan apron merah muda yang melekat pas di tubuhnya. Tangannya dengan lincah mencetak adonan kue kering di atas loyang besar, dibantu oleh Bi Surti, asisten rumah tangganya. Kue-kue ini sengaja ia buat sendiri dengan penuh cinta untuk dibawa ke rumah ibunya nanti sore.Setelah satu loyang penuh, Meysa memasukkannya ke dalam oven yang sudah dipanaskan. Ia menyeka sedikit keringat di dahinya dengan punggung tangan, meninggalkan jejak tipis tepung di pipinya."Nyonya Meysa, istirahat saja di depan. Biar Bibi yang selesaikan sisa adonan dan jagain ovennya," ucap ART merasa tak enak melihat majikannya kelelahan.Meysa tersenyum manis sambil menggeleng kuat-kuat. "Tidak usah, Bi. Saya mau selesaikan ini sendiri sampai selesai."Baru saja ART hendak membalas, tiba-tiba terdengar suara bel rumah berbunyi nyaring.Ting tong!"Nah, Bi, tolong buka pintunya ya. Biar Meysa lanjut nyetak kue yang ini," cetu
"Calrissa,"Gadis berwajah pucat itu mulai muai mendongakan kepalanya ketika panggilan lembut yang sangat dia rindukan itu berdengung di indera pendengarannya. Mata dalam dan sayu itu mulai menganak sungai, kedua tangannya terkepal kuat hingga buku-buku tangannya memutih."Kalian hanya memiliki waktu dua puluh menit," ucap seorang polwan kemudian meninggalkan mereka.Calrissa duduk di kursi tepat di hadapan seorang pria. "Daddy," lirihnya sambil meneteskan air mata.Cleo, pria yang baru saja di panggil daddy itu berdiri dari duduknya menghampiri Clarissa yang masih menggunakan pakaian tahanan, Cleo merengkuh pundak rapuh dan bergetar putrinya dengan erat. Tangannya terangkat mengelus rambut Clarissa dengan lembut kemudian berlaih mengelus pundak putrinya."Calrissa apa kabar? Maafkan daddy yang jarang menjenguk kamu," bisik Cleo lembut.Clarissa menangis tersedu-sedu di pelukan Cleo, dia merasa sudah tak sanggup lagi berada di sel tahanan. Pelukan Clarissa sangat erat, membuktikan bah
Adrian berdiri tegak, menatap dingin ke arah seluruh anggota keluarganya yang terpaku. Dengan suara lantang dan penuh penekanan, dia memecah keheningan."Aku akan segera meresmikan pernikahanku dengan Meysa. Kami akan menggelar resepsi dalam waktu dekat," tegas Adrian, matanya menyapu ruangan dengan sorot yang tak terbantahkan."Aku tidak peduli apakah kalian setuju atau tidak. Yang jelas, saat ini hanya Meysa yang mampu dan pantas bersanding di sisiku."Mendengar ucapan itu, suasana ruangan langsung memanas. Sarah tidak bisa lagi menahan amarahnya. Dia berdiri dari duduknya dengan kasar, wajahnya memerah padam karena murka. Dia sama sekali tidak terima mendengar putra kebanggaannya menyatakan cinta pada wanita yang dianggapnya tidak selevel, apalagi berniat meresmikan pernikahan yang menurutnya sangat timpang dengan status sosial keluarga Lysander."Cukup, Adrian!" bentak Sarah, suaranya bergetar karena emosi. "Bagaimana bisa kamu bicara seperti itu? Pernikahan ini benar-benar jompla
"Apa? Ra, kamu sudah gila ya? Apa kamu sudah benar-benar kehilangan akal sehat kamu?" desis Celine, suaranya bergetar menahan amarah yang meledak-ledak. Tangannya mencengkeram lengan Nora, meminta penjelasan.Nora mencoba melepaskan cengkeraman Celine, wajahnya pucat tapi matanya masih menyiratkan
"Palan-pelan ya?""Mah, Ojel sudah tidak papa."Tiara membantu Nozela turun dari ranjang rumah sakit, pagi ini Nozela sudah diperbolehkan pulang oleh dokter."William, kamu ke kantor saja. Biar Nozela sama Om dan Tante.""Tidak masalah Om, aku bisa mengantarkan Ojel pulang lebih dulu sebelum ke kan
"Mau apa kamu?"Meysa mengehntikan gerakan tangannya ketika mendapat teguran dari seseorang, kepalanya menoleh ke samping mendapati Nora sedang bersedekap dada sambil menatapnya dengan tajam."Kak Nora,""Aku tidak pernah mengizinkamu memanggilku dengan sebutan Kak. Jadi jangan pernah lagi menyebut
Suara bel mansion terdengar nyaring ketika seluruh penghuni rumah belum bangun, Evan berdiri di depan pintu sambil menatap jam di pergelangan tangannya.Tak lama setelah dia menekan bel, pintu terbuka lebar."Selamat pagi tuan Evan," sapa asisten rumah tangga."Pagi.""Mari tuan, silakan masuk."Eva







