تسجيل الدخول
Jasad Felix berbaring di ruang perawatan dengan pakaian formal yang terlalu rapi.
Aeri Roseanne berdiri di ambang pintu, tidak bergerak, tidak menangis. Matanya—mata yang indah dengan irisan mata yang tajam—tetap terbuka mengamati wajah kakaknya yang sudah berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi hidup. "Aeri..." bisik ibunya dari sudut ruangan, tapi suaranya terasa sangat jauh. Aeri tidak menjawab. Dia tidak bisa berbicara. Kalau dia berbicara, dia akan teriak. Kalau dia teriak, dia akan membunuh sesuatu. Dokter mengatakan Felix jatuh dari balkon. Kecelakaan. Orang-orang berbisik hal yang sama—kecelakaan, kecelakaan, kecelakaan. Tapi Aeri tahu cara kakaknya berjalan. Felix tidak pernah jatuh. Felix terlalu hati-hati, terlalu penuh perhitungan. Bahkan saat dia mabuk, Felix adalah tipe orang yang menghitung setiap langkah sebelum mengambilnya. Lagipula, Felix bukan peminum. Selama berada di tempat dia bekerja, dia akan berpikir seribu kali sebelum mabuk. "Pihak kepolisian sedang menyelidiki," kata ayahnya kemudian, suaranya datar, dingin, seperti air es yang sudah berhenti mengalir. Ayah Aeri adalah tipe orang yang tidak menunjukkan emosi. Tapi Aeri melihat cara tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Aeri juga tidak bisa menerima kematian kakaknya. Aeri tidak bisa hanya... berdiri di sini. Malam itu, Aeri duduk sendirian di kamarnya. Dia membuka laptop dan mulai menggali. Informasi tentang Felix bocor di sana-sini—percakapan, forum, media sosial kalangan atas. Felix Roseanne, anak dari keluarga Roseanne yang bekerja dibawah keluarga Leander, ditemukan meninggal dibawah balkon penthouse milik seseorang bernama Eryx Leander. Eryx Leander. Aeri mengetik nama itu, dan internet merespons dengan seratus artikel, foto, gosip. CEO muda Leander Corporation. Terlalu muda untuk posisinya. Terlalu kaya. Terlalu terkenal meskipun keluarganya berusaha tetap rendah profil. Dia melihat foto Eryx. Pria itu tampak... mudah. Wajahnya lembut, mata yang ceria, senyuman yang terlihat seperti milik seseorang yang tidak pernah mengalami kesulitan dalam hidupnya. Jauh berbeda dengan ciri khas keluarga Leander yang terkenal dengan reputasi dingin dan kekejaman hidup mereka konon mengubah ekspresi mereka. Aeri merasa ingin membunuhnya. Dia membaca lebih jauh. Eryx Leander memiliki banyak musuh—kompetitor yang kalah, investor yang tertarik, orang-orang di belakang layar yang ingin dia jatuh. Nama-nama mulai bermunculan di berbagai forum. Konspirasi, teori, kemungkinan. Felix tidak memiliki musuh. Felix adalah jenis orang yang membuat orang lain merasa nyaman. Dia bekerja sebagai konsultan keuangan, kadang-kadang bertugas mengawal bosnya, seseorang yang dipercaya oleh banyak orang untuk mengurus uang mereka dan permasalahan lain. Jadi kenapa dia jatuh dari balkon Eryx Leander? Aeri menggali lebih dalam. Jari-jarinya bergerak cepat di keyboard, membuka tab demi tab. Berita lokal. Laporan kepolisian yang belum dirilis. Gosip dari teman-teman Felix di media sosial. Seseorang menulis: "Felix sangat profesional, dia tidak akan pernah..." Seseorang lain menulis: "Berurusan dengan keluarga Leander tidak pernah menguntungkan. Jika kamu berhasil keluar dari sana hidup-hidup, syukuri itu. Mengenai Eryx Leander, dia yang paling baik di keluarga itu. Tetapi bagaimanapun, dia orang jahat..." Tapi tidak ada bukti. Hanya spekulasi. Hanya desas-desus. Polisi menutup kasus setelah seminggu. Kecelakaan. Tidak ada tanda-tanda tindakan kekerasan. Tidak ada jejak. Selesai. "Kita tidak punya apa-apa untuk melawan mereka." "Bahkan sampai detik ini, tidak ada yang membantu kita. Jangan marah seperti orang gila, Aeri!" Aeri merasa kesal dengan orang tuanya yang pasrah kematian kakaknya dianggap sebagai kecelakaan. Aeri memandang layar laptop, merasakan sesuatu yang gelap tumbuh di dalam dadanya. Sesuatu yang berat. Dia tidak percaya ini kecelakaan. Dia tidak akan pernah percaya. Seminggu setelah pemakaman Felix, Aeri duduk di kamar hotel murah di tepi kota, memandangi dirinya sendiri di cermin. Rambutnya panjang, hitam, indah dengan cara yang sangat feminin. Kulitnya halus. Mata yang tajam tapi masih mempertahankan keindahan yang tidak bisa dia sembunyikan. Keluarga Leander selalu mengambil bodyguard dari sebuah lembaga dunia keamanan elite. Hanya saja, dia tidak bisa memasuki dunia keamanan elite sebagai perempuan. Dunia itu tidak mengizinkan. Itu adalah dunia yang hanya menerima pria—pria dengan otot, pria dengan suara yang berat, pria yang tidak pernah bertanya-tanya apakah mereka cukup keras atau cukup tangguh. Persetan dengan itu. Aeri mengambil gunting. Rambutnya jatuh di lantai dalam potongan-potongan panjang yang terlihat seperti bagian dari seseorang lain. Dia memotong pendek, sangat pendek, dengan cara yang maskulin. Dia berbicara dengan suara yang lebih dalam, mengubah cara dia berjalan—bahu lebih lebar, langkah lebih panjang. Dia berlatih di depan cermin selama berjam-jam. Aeri Roseanne menghilang. Seorang pria baru muncul.Aeri berdiri diam dibalik tembok. Tak jauh darinya, orang-orang dari perusahaan Leander tengah membicarakan bos mereka, Eryx Leander. "Bukankah badan Eryx semakin bagus?" "Benar. Wajahnya juga rasanya semakin hari semakin tampan. Namun sifatnya sangat disayangkan. Kupikir wanita yang paling mencintainya dengan tulus sekalipun lama kelamaan akan kerepotan dengan sifatnya. Kemungkinan besar dia akan dijodohkan. Tetapi sejauh ini, kita belum mendengar kabar soal pasangannya." "Karena dia seorang pewaris tentu saja harus memiliki keturunan untuk mewarisi kepala keluarga. Saat ini kepala keluarga adalah orang yang tidak akan membiarkan takhta itu jatuh ke tangan siapapun. Meskipun keluarga Leander begitu tenang di luar, tetapi aku yakin di dalam mereka penuh persaingan yang sangat busuk." "Dan bos kita malah semakin bermain-main seperti itu." "Kabarnya pengawalnya sekarang adalah orang yang sangat ahli bela diri. Semoga ke depannya dia tidak diserang lagi. Entah dia sudah terlu
"Aku tidak suka makan malam keluarga," kata Eryx dengan tone yang terdengar putus asa sekaligus punya ketegasan di dalamnya yang mengartikan keinginan kuatnya. "Karena mereka selalu komplain. Tentang keputusan bisnisnya, tentang skandal, tentang apa yang aku lakukan salah. Setiap kali ada masalah, aku yang disalahkan. Setiap kali ada pertanyaan sulit, aku yang ditanya." Eryx terdengar sangat mengeluh. Berdasarkan pengakuannya, Aeri sekarang jadi bisa merasakan tekanan keluarga Leander. Keluarga ini juga dianggap misterius. Kenyataannya memang benar. "Aku terus meminta pada ayahku untuk tidak selalu mengikuti makan malam keluarga dan akhirnya dia mengizinkanku untuk tidak hadir," lanjut Eryx. "Aku biasanya menulis surat permintaan maaf dengan berbagai macam alasan. Ayahku menyetujui itu tanpa pertanyaan." Aeri merasa kecewa, tapi juga... penasaran. "Jadi kamu tidak akan hadir?" tanya Aeri. Eryx tersenyum dengan cara yang jahil—senyum yang sudah dikenali Aeri sebagai tanda
"Tidak apa-apa kak. Aku dikenal sebagai yang paling baik di keluarga ini jadi jika ada masalah dalam keluarga ini yang diketahui publik, biasanya aku yang disalahkan. Itu seperti...memang kinerjanya seperti itu. Jika aku berbalik menyerang, itu malah bisa menimbulkan masalah yang lebih serius, jadi lebih baik diam saja. Lagipula aku benci pertarungan dalam bentuk apapun," kata Eryx seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam."Tcih, apakah keputusan menjadi pengawal Eryx salah? Mungkin seharusnya aku menjadi pengawal anggota keluarga Leander yang lain yang bisa memberiku lebih banyak informasi. JIka perlu, atasan Kak Felix langsung," keluh Aeri di dalam hati. "Meskipun di sisi lain aku bisa memanfaatkan Eryx tetapi tampaknya butuh waktu lama," batin Aeri. "Sayang sekali Eryx. Saya harap bisa berguna untuk membelamu," kata Aeri. "Haha kakak kamu sepertinya tertarik dengan berita itu. Padahal itu kan sudah lama. Tetapi memang dibandingkan berita soal keluarga Leander yang lain, berita t
Untuk sesaat, Eryx tidak bergerak. Lalu ia tertawa—tawa yang ringan dan santai, seolah Aeri baru saja mengatakan sesuatu yang lucu. “Membunuh?” ulang Eryx, menatap Aeri dengan ekspresi polos. “Ya jelas lah aku tidak membunuh. Memegang senjata saja aku tidak berani." Aeri mengamati matanya. Mencari tanda. Ada sesuatu yang sempat berkilat—sangat cepat—lalu menghilang. “Tapi bagaimana dengan tuduhan itu,” kata Aeri hati-hati. “Iya, dituduh,” jawab Eryx sambil mengangkat bahu dengan santai. “Tapi ada perbedaan antara dituduh dan benar-benar melakukannya, kan? Ayahku hanya ingin aku punya pengawal karena dia terlalu protektif. Kamu tahu sendiri bagaimana orang tua—dengar gosip sedikit langsung panik.” Eryx berdiri dan berjalan ke arah jendela, menatap kota di bawah. “Lagi pula, ini topik yang membosankan,” katanya. “Bisa kita bicara hal lain? Kamu punya orang yang kamu suka atau semacamnya?” Perubahan topik yang tiba-tiba itu adalah ciri khas Eryx. Mengalihkan dengan pertanya
Aeri semakin kesal dengan segala omong kosong ini. Tetapi demi mencapai tujuannya, mau tidak mau dia harus melayani hal-hal tidak penting ini. "Benar tuan. Saya lebih tua dari tuan. Saya berusia hampir 27 tahun sementara tuan 25 tahun," kata Aeri. Aeri pernah melihat informasi di internet bahwa usia sebenarnya anggota keluarga Leander bisa jadi tidak sama dengan yang ditampilkan ke publik. Saat pertama kali bekerja pada Eryx, dia diberikan informasi oleh salah satu pengawal bahwa Eryx berusia hampir 25 tahun. "Jadi tidak masalah jika aku memanggilmu kakak," kata Eryx lagi dengan senyum puas seperti anak kecil. Mendengar itu, Aeri menjadi merasa punya masalah. Masalah pertama adalah setiap hari di sini membuat tujuan awal Aeri semakin kabur. Masalah kedua—yang paling mengganggu—adalah kemungkinan bahwa Eryx tidak bersalah sama sekali. "Aku harus pancing dia," batin Aeri. Saat Aeri akan menggali informasi lebih jauh soal keluarga Leander terutama soal Eryx, Eryx bicara la
Rapat berlanjut.Eryx menyetujui beberapa hal. Menolak yang lain. Membuat keputusan besar berdasarkan kriteria yang Aeri tidak sepenuhnya pahami—apakah ia tertarik, apakah ia bosan, apakah ia sedang merasa beruntung.Di tengah rapat, seorang asisten membawa makanan ringan. Eryx langsung mengambil pastry dan mulai makan dengan santai, sementara CFO sedang menjelaskan arus kas.Aeri ingin menarik rambutnya sendiri.Ketika rapat akhirnya selesai pukul sepuluh tiga puluh—tiga puluh menit lebih cepat dari jadwal karena Eryx jelas sudah bosan—Aeri merasa seperti baru menyelesaikan maraton.“Itu brutal,” kata Eryx sambil berjalan keluar dari ruang rapat, seolah itu hanya komentar santai. “Serius, kenapa mereka harus presentasi sampai membosankan begitu? Kenapa tidak langsung ke inti saja?”“Mereka berusaha menyampaikan secara menyeluruh, Tuan,” jawab Aeri kaku. “Itu bagian dari pekerjaan mereka.”“Ya, tapi ada perbedaan antara menyeluruh dan terlalu bertele-tele,” kata Eryx sambil masuk ke l







