LOGINSCREECH! Ignis mengepakkan sayapnya penuh semangat bertarung, lalu meluncur cepat menyambar Kiki dengan cakar apinya. Duel sengit antara kera petir dan Phoenix api seketika pecah membakar langit sore. Di atas tanah pelataran gerbang desa, tinju batu raksasa milik Estias tinggal berjarak setengah meter dari kepala Rian, sementara sabetan kaki perunggu Brakas hampir menyapu pinggang Lina. Namun, Rian dan Lina yang telah melewati penggemblengan brutal di Lembah Jurang Kabut Purba tidak sedikit pun menunjukkan kepanikan di mata mereka. "Lina, gunakan perisai!" teriak Rian. "Siap, Kak Rian!" Lina kecil memutar Tongkat Sihir Kecil Bintang Murni dengan satu jemari anggunnya. Tanpa membuang waktu sekejap pun, kubah Cahaya Perak Murni (Yang) meletup mekar melingkupi raga mereka berdua dalam satu kejapan mata. BRUAKKKKKKKKKK! Sabetan kaki perunggu Brakas menghantam kubah perisai Lina secara telak. Namun, bukannya meremukkan perisai seperti latihan bulan lalu, kaki perunggu Brakas
Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian penggemblengan fisik, batin, dan fusi Tri-Elemen di Lembah Jurang Kabut Purba, keluarga Pahlawan Api bersiap untuk kembali. Dengan bantuan ruang penyimpanan dimensi tak terbatas milik sistem Martis, seluruh perlengkapan perkemahan, kemah sutra purba, alat memasak, serta sisa pasokan logistik dikemas masuk hanya dalam waktu beberapa detik tanpa menyisakan sebutir debu pun. Kiki melompat anggun ke atas pundak Rian seraya membenarkan ikatan kain merah di dahinya. Belati Naga Perak Yin di pinggang Rian berpendar perak-hitam yang halus, sementara Tongkat Sihir Kecil Bintang Murni di genggaman Lina kecil memancarkan kehangatan suci. "Semua sudah rapi, Martis," ujar Mia hangat seraya menggandeng tangan Lina. Martis mengangguk mantap. Ia mengibaskan tangan kanannya, memicu pendaran Api Suci Abadi Tingkat Dewa yang membungkus raga dirinya, Mia, Rian, Lina, Kiki, serta Duo Naga Lele Purba dalam kubah cahaya keemasan yang teramat megah. BOOOOOOOO
Naga energi gabungan tiga warna—Hitam Onyx, Perak Murni, dan Emas Murni—melesat bagaikan meteor jatuh, membelah angkasa Lembah Jurang Kabut Purba dengan raungan dahsyat yang menggetarkan seluruh bukit batu. Udara di sekeliling lapangan terdistorsi hebat oleh gesekan energi Tri-Elemen yang teramat padat. Di titik tengah ledakan, Martis berdiri terkunci oleh kubah cahaya milik Lina. Melihat ketepatan waktu dan sinergi tanpa cela dari ketiga muridnya, senyuman bangga yang teragung terukir manis di wajah Penguasa Api tersebut. "Sinergi yang teramat sempurna, Anak-anakku!" gumam Martis bangga. BOOOOOOOOOOOOOOOOMMMM! Naga energi Tri-Elemen menghantam raga Martis secara mutlak. Ledakan cahaya tiga warna membumbung tinggi ratusan meter ke udara, memicu badai angin panas dan pendaran petir keemasan yang menyapu seluruh pelataran rumput Danau batu di dekat mereka terangkat belasan meter memiringkan tirai air yang amat megah. Asap tebal dan percikan bunga api meluruh perlahan-lahan.
Pagi hari di Lembah Jurang Kabut Purba disambut oleh embusan angin dingin yang membelah tebalnya tirai kabut perak. Di tengah pelataran rumput luas di tepi danau batu, Rian, Lina, dan Kiki telah berdiri tegak. Ketiganya memancarkan pendaran aura Tri-Elemen yang kian pekat dan stabil, sebuah bukti nyata bahwa Sirkulasi Jiwa Bertiga telah mengakar sempurna di dalam meridian mereka. Namun, suasana latihan pagi ini terasa sangat berbeda dari biasanya. Tidak ada sasaran tebing batu yang disiapkan, tidak ada arahan teori dari Duo Naga Lele Purba. Di hadapan mereka, berjarak sepuluh langkah, Martis melangkah perlahan ke tengah lapangan. Jubah tempur berujung keemasannya melambai tenang. Sang Penguasa Api tidak memegang senjata apa pun, namun hanya dengan berdiri tegak, pendaran Api Suci Abadi Tingkat Dewa yang melingkupi raganya sudah cukup untuk membuat udara di sekeliling lembah mendidih dan menekan tanah batu hingga retak-retak halus. "Ayah...?" bisik Rian ragu seraya meremas gaga
Sesi latihan khusus pada hari berikutnya dimulai dengan metode yang sama sekali baru dan unik. Di tengah pelataran rumput Lembah Jurang Kabut Purba, Rian, Lina, dan Kiki tidak lagi berdiri terpisah dalam jarak beberapa meter seperti biasanya. Ketiganya duduk melingkar di atas tanah batu latihan, saling berhadapan dengan telapak tangan yang saling bertautan erat. Rian memegang telapak tangan kiri Lina dan telapak tangan kanan Kiki. Lina memegang telapak tangan kanan Rian dan tangan mungil Kiki di sisi lain. Di tengah lingkaran kecil mereka, Belati Naga Perak Yin, Tongkat Bintang Murni, dan guci batu milik Kiki diletakkan secara sejajar, memancarkan pendaran tiga warna yang bergetar lembut. Martis berdiri di sisi lapangan bersama Mia, mengawasi setiap pergerakan denyut nadi dan aliran meridian ketiga muridnya dengan Mata Penglihat Kehampaan. Sementara Duo Naga Lele Purba melayang rapat di atas kepala mereka, siap memberikan arahan teknis secara terperinci. "Dengarkan intruksiku
Sinar mentari pagi membiaskan pendaran cahaya keemasan yang hangat menembus celah tebing tinggi di Lembah Jurang Kabut Purba. Di atas tanah rumput yang masih basah oleh embun pagi, Rian, Lina, dan Kiki duduk bersila dalam lingkaran kecil. Meskipun senyuman kebahagiaan atas keberhasilan mengeksekusi jurus kombinasi Badai Naga Penghancur Yin-Yang Petir kemarin masih berbekas jelas di bibir mereka, raga ketiga murid kecil itu tampak masih lemas dan tak bertenaga. Napas mereka tersengal-sengal pendek, dan pendaran aura di sekeliling kulit mereka belum sepenuhnya pulih. Dua Naga Lele Purba melayang pelan di atas kepala mereka. Ikan Lele Hitam mengibaskan kumis naga kegelapannya seraya mengamati aliran meridian Rian dengan seksama, sementara Ikan Lele Putih memancarkan hujan gelombang cahaya perak halus untuk menyegarkan raga Lina dan Kiki. Martis melangkah mendekat dengan jubah tempurnya yang berujung keemasan melambai lambat ditiup angin pagi. Di sisinya, Mia berjalan anggun membawa
Meskipun Lancelot memiliki sistem utama, dia masih harus banyak belajar lebih banyak lagi. Tapi syukurnya, ada ayahnya di sisinya."Ayah, apa yang harus aku lakukan untuk melawan teknik ilusi yang digunakan musuh kita ini?" tanya Lancelot pada ayahnya."Jangan bingung Nak. Cobalah lebih fokus. Kamu bu
Jackson adalah seorang pejuang yang terkenal di kalangannya. Dia dikenal karena kecepatan dan kekuatannya yang luar biasa, tetapi yang paling menonjol adalah kemampuan khususnya. Jackson memiliki kemampuan untuk memanipulasi waktu. Dalam pertempuran, dia bisa melambatkan waktu di sekitarnya, memberi
Martis langsung bersiap akan menuju toko kue milik orang tuanya itu."Martis, biar Ayah saja yang ke sana. Kau tetaplah di sini saja," ucap Marten yang ingin mencegah Martis pergi. Marten khawatir akan terjadi sesuatu pada anak kesayangannya ini."Tidak Ayah! Mungkin tadi belum cukup untuk membuat mer
Akhirnya pengintai yang berhasil Martis tangkap langsung dibawa oleh Odele untuk diinterogasi.Namun nampaknya, kali ini orang itu benar-benar mengunci mulutnya dengan rapat. Setiap kali diancam dan bahkan dipukuli, orang itu hanya menyeringai. Dan lagi, ia seperti tidak merasakan sakit sedikitpun.Od







