MasukPusaran kilat perak membelah angkasa Benua Utama dengan kecepatan yang melampaui batas angin. Lancelot memacu seluruh daya batinnya, memeluk tubuh Martis dengan satu tangan seraya menopang pusaran sihir pelindung yang membawa raga raksasa Estias dan Brakas. Di belakang mereka, kejaran sisa-sisa armada Klan Pemburu Jiwa perlahan menghilang ditelan jarak. "Tahan sebentar, Ayah... Uncle Estias, Uncle Brakas..." bisik Lancelot seraya menatap cemas raut wajah ketiga orang di dekatnya yang kian memucat akibat Racun Pemusnah Jiwa Purba. Lancelot mengarahkan laju terbangnya menuju ke arah pegunungan tersembunyi di perbatasan Sektor Barat, sebuah wilayah yang baru saja ia jelajahi selama pengembaraannya. Di tengah himpitan bukit-bukit batu purba yang tertutup kabut tebal, terdapat sebuah lembah terisolasi yang menyimpan Mata Air Cahaya Abadi, suaka penyembuhan purba yang tak sengaja ditemukan Lancelot beberapa minggu lalu. BOOM! Lancelot mendarat cepat di dasar lembah. Suhu udara di
Sisa-sisa armada kayu hitam Klan Pemburu Jiwa yang melayang di angkasa Sektor Perbatasan Alam Bahtera mulai bergerak mengepung. Ratusan kapal perang yang tadinya terhenti kini meluncur perlahan mendekati puing-puing geladak kapal induk tempat Martis, Estias, dan Brakas terbaring tak berdaya. Ribuan prajurit Pemburu Jiwa dengan zirah kelabu dan sabit-sabit beracun melompat turun dari atas geladak kapal. Mereka menyeringai kejam saat melihat sang Penguasa Api dan dua raksasa Dominion terkulai lemas di bawah pengaruh Racun Pemusnah Jiwa Purba. "Hahaha! Panglima Morvath telah mengorbankan dirinya dengan racun purba!" raung salah seorang komandan Pemburu Jiwa seraya mengacungkan pedang beracunnya. "Tangkap pria berambut keemasan itu! Ambil kepala Pahlawan Api dan persembahkan esensi jiwanya kepada Tetua Purba kita!" "Serbu mereka!" jerit puluhan ribu prajurit musuh yang berlarian menembus asap hitam, mengarahkan tombak dan racun ke arah Martis yang masih terhenyak berlutut dengan p
Panglima Morvath terbaring lemah di atas puing-puing geladak kapal induknya yang telah hancur. Zirah kelabunya retak-retak, dan dua lengan belakangnya terkulai tak bernyawa. Namun, saat menatap Martis, Estias, dan Brakas yang berdiri gagah di hadapannya, sudut bibir Morvath yang bersimbah darah kelabu mendadak tertarik membentuk sebuah senyuman sinis yang teramat mengerikan. "Hahaha... Kalian pikir... kalian sudah menang, hah?!" kekeh Morvath dengan suara parau yang membara oleh kegilaan mutlak. "Apa yang kau tertawakan, Cumi-cumi?" gertak Estias seraya melangkah maju, hendak mencengkeram leher sang panglima. Namun, sebelum jemari raksasa Estias menyentuhnya, Morvath dengan cepat menggerakkan salah satu telapak tangannya yang tersisa ke balik zirahnya. Ia menarik sebuah kristal pil berwarna hitam pekat yang dipenuhi ukiran garis-garis merah menyala—Pil Racun Pemusnah Jiwa Purba. "Jika Klan Pemburu Jiwa tidak bisa mendapatkan benua ini... maka kalian semua harus hancur bersam
Langit di Sektor Perbatasan Alam Bahtera kini dipenuhi asap hitam dan percikan bunga api keemasan. Puluhan kapal perang kayu milik Klan Pemburu Jiwa yang telah runtuh menjadi serpihan kayu terbakar perlahan-lahan melayang jatuh ke dalam retakan dimensi. Di tengah lautan puing tersebut, Estias dan Brakas berdiri gagah melayang di angkasa, memamerkan tinju batu mereka yang membara oleh aura Dominion. Panglima Morvath mengepalkan keempat tangannya hingga buku-buku jarinya berbunyi nyaring. Wajah kelabunya yang biasanya dingin kini memerah padam oleh kemurkaan yang tak tertahan. Pria empat lengan itu melangkah maju ke ujung geladak kapal induk raksasa, memancarkan gelombang energi kegelapan yang membekukan partikel uap di sekitarnya. "Raksasa-raksasa tidak tahu diri!" raung Morvath dengan suara melengking yang menggetarkan angkasa. "Kalian pikir bisa menghentikan invasi Klan Pemburu Jiwa hanya dengan kekuatan fisik kasar?!" Morvath menarik empat bilah pedang berkepala tengkorak da
Angkasa di Sektor Perbatasan Alam Bahtera berguncang hebat. Retakan-retakan dimensi berwarna ungu kehitaman membentang luas di atas lautan awan, memuntahkan ribuan kapal perang layang berukuran raksasa dari Klan Pemburu Jiwa. Kapal-kapal kayu hitam purba itu dilapisi oleh ukiran-ukiran tengkorak yang menyerap partikel esensi kehidupan dari alam sekitarnya, memancarkan bau busuk dan aura kematian yang teramat pekat. Di geladak kapal induk utama, melayang sesosok pria tinggi kurus berzirah kelabu dengan empat lengan bersisik, Panglima Morvath. Dua matanya yang berwarna hijau menyala menatap dingin ke arah bentangan benua hijau di kejauhan. "Benua Utama..." bisik Morvath dengan suara yang melengking bagaikan gesekan besi berkarat. "Setelah runtuhnya Sekte Bayangan Abadi, benua kaya ini tidak lagi memiliki pelindung! Panen ratusan juta jiwa di tanah itu, dan persembahkan esensinya untuk membangkitkan Tetua Purba kita!" "Siap, Panglima!" raung puluhan ribu prajurit Pemburu Jiwa yan
Berbulan-bulan telah berlalu sejak penumpasan Sekte Bayangan Abadi dan penetasan Burung Phoenix Api Emas yang kini diberi nama Ignis oleh Mia. Kehidupan di Desa Lembah Asri berlangsung dalam kedamaian yang tak tergoyahkan. Kehadiran Brakas, adik kandung Estias memberikan warna baru di desa tersebut. Bersama Estias, kedua raksasa itu membantu warga membangun infrastruktur benteng dan pertanian dengan kekuatan Dominion mereka yang tak terbatas. Namun, di balik kedamaian yang melingkupi Benua Utama, Martis tidak pernah melupakan tugasnya sebagai Penguasa Mutlak. Di puncak bukit tertinggi di balik desa, Martis duduk bersila dalam meditasi. Di sekeliling tubuhnya, Tujuh Api Suci Abadi Tingkat Dewa memancar tenang, menyatu secara harmonis dengan pusaran esensi alam. Ignis melayang anggun di angkasa di atas Martis, menjaga ketenangan sang majikan. [Sistem: Melakukan Pemindaian Rutin Multiverse] [Deteksi Anomali: Terjadi Fluktuasi Energi Asing di Sektor Perbatasan Alam Bahtera!] [Tingka
Wow, tampaknya Jendral William memiliki kekuatan yang luar biasa! Meskipun terlihat terluka dan terbaring, dia masih memiliki semangat dan kegigihan untuk melawan. Dia bangkit kembali dengan tekad yang kuat, menunjukkan bahwa pertempuran ini belum berakhir.Dengan gerakan yang cepat, Jendral William
Lalu keesokan harinya Martis mengatakan bahwa ia akan mencoba menemui pemimpin Bayangan Hitam. Terkadang, keberanian sejati bukanlah tentang berperang, akan tetapi tentang mencari cara untuk menyelesaikan konflik tanpa harus bertempur. Dengan kekuatan dan kebijaksanaannya, Martis akan mencoba untuk
Seiring dengan berjalannya waktu, Dr. X semakin tampak lemah dan terdesak. Martis dengan kekuatan Elysium terus menyerang tanpa henti. Setiap serangan yang dilancarkan oleh Martis tampaknya berhasil membuat Dr. X semakin terpojok."Kali ini aku tidak akan memberimu kesempatan untuk memulihkan diri,"
Martis langsung bersiap akan menuju toko kue milik orang tuanya itu."Martis, biar Ayah saja yang ke sana. Kau tetaplah di sini saja," ucap Marten yang ingin mencegah Martis pergi. Marten khawatir akan terjadi sesuatu pada anak kesayangannya ini."Tidak Ayah! Mungkin tadi belum cukup untuk membuat mer







