MasukGemuruh di Lembah Angin Kelam mencapai puncaknya. Kawah raksasa yang tercipta akibat benturan energi kini membara oleh sisa-sisa Api Suci Merah Keemasan milik Martis. Jenderal Valthor berdiri terengah-engah di dasar kawah, zirahnya terkoyak hebat dan topeng besinya telah retak separuh, memperlihatkan raut wajahnya yang pucat dan dipenuhi kemurkaan. "Aku adalah Penguasa Setengah Dewa dari Sekte Bayangan Abadi!" raung Valthor histeris. Ia mengangkat sabit tulangnya yang retak, mencoba memanggil sisa-sisa Angin Kelam Pemotong Realitas. "Kalian tidak akan pernah bisa melampauiku!" "Banyak bicara!" teriak Estias menggelegar. Dengan kekuatan Evolusi Dominion tiga kali lipatnya, Estias menerjang maju mendahului angin. Raksasa itu tidak lagi menggunakan senjata, melainkan memusatkan seluruh aura batu emasnya ke dalam dua telapak tangannya. BAM! BAM! Estias menepuk kedua sisinya, mengunci pergerakan sabit Valthor tepat di tengah cengkeraman tangannya yang sekeras baja purba. Logam
Langkah kaki Estias mengguncang tanah perbatasan Benua Utama. Zirah kulit batu purba yang kini berukirkan rajah api keemasan berpendar redup, menyerap energi alam di sekitarnya. Di sampingnya, Martis melangkah tenang dengan tujuh warna Api Suci yang membalikkan aura kelelahan menjadi dominasi mutlak. Mereka tidak perlu membuang waktu memetakan wilayah. Jejak Angin Kelam Pemotong Realitas milik Jenderal Valthor menyebarkan aroma racun busuk yang begitu pekat di udara, menuntun mereka langsung ke sebuah celah tebing terjal yang dikenal sebagai Lembah Angin Kelam. "Martis, baunya makin tajam," bisik Estias. Bukannya takut, sang raksasa justru menyeringai lebar seraya menepuk-nepuk perutnya yang sudah terisi penuh. "Suara gejolak di dadaku sudah tidak sabar ingin mencicipi kepala pria bertopeng itu." [Peringatan Sistem: Terdeteksi Sinyal Energi Jenderal Valthor!] [Jarak: 200 Meter di Depan] [Kondisi Martis & Partner: Siap Tempur Mutlak] Di tengah lembah gundul yang tandus, sesos
Aroma tanah basah bercampur embun perak menyeruak di dalam Gua Kristal Tersembunyi, sebuah celah jurang purba di pinggiran Benua Utama yang tak terjangkau oleh radar energi Sekte Bayangan Abadi. Sudah empat hari berlalu sejak peristiwa mengerikan di Gerbang Halilintar Jiwa. Empat hari penuh penderitaan bagi Martis. Di tengah kegelapan gua, Martis berlutut tanpa henti di samping tubuh raksasa Estias yang terbujur kaku. Tubuh Martis sendiri tampak amat letih dengan lingkar hitam menghiasi matanya, dan keringat dingin membasahi pakaian tempurnya. Selama sembilan puluh enam jam tanpa tidur dan istirahat, Martis terus mengalirkan Api Suci Hijau Zamrud serta meracik obat-obatan purba melalui petunjuk Sistem untuk mengikis racun Angin Kelam Pemotong Realitas milik Valthor. [Proses Pemurnian Racun: 99.8% Selesai] [Peringatan Sistem: Esensi Jiwa Martis Hampir Habis!] [Pemberitahuan Khusus: Terjadi Reaksi Tak Terduga Antara Esensi Tujuh Api Suci dengan Inti Jiwa Raksasa Dominion!] Mar
Asap reruntuhan Gerbang Halilintar Jiwa belum sepenuhnya tersapu angin saat udara di sekitar benteng mendadak menjadi sangat dingin. Tekanan atmosfer menukik tajam secara tidak alami, membuat pilar-pilar batu yang tersisa meretak halus di bawah cengkeraman aura asing yang teramat pekat. Estias, yang baru saja bangkit seraya menepuk-nepuk celananya yang kotor, mendadak menghentikan gerakannya. Bulu kuduk raksasanya berdiri tegak. "Martis..." bisik Estias dengan nada suara yang tak lagi bercanda. "Ada sesuatu yang mendekat... dan aromanya seperti kematian murni." [Peringatan Darurat Sistem!] [Terdeteksi Entitas Tingkat Tinggi dari Benua Utama!] [Nama: Jenderal Valthor - Sang Pemotong Jiwa (Sekte Bayangan Abadi)] [Tingkat Kekuatan: Penguasa Alam Setengah Dewa] [Peringatan: Tingkat Kekuatan Musuh Melampaui Batas Dimensi Ini!] Dari celah udara hampa di atas benteng yang hancur, sebuah retakan dimensi hitam mencuat. Seorang pria bertubuh jangkung dengan jubah zirah hitam kelam dan
Perjalanan menuju Benua Utama Ranah Atas bukanlah jalan jalan santai di taman. Untuk menembus batas benua, Martis dan Estias harus melewati Gerbang Halilintar Jiwa—sebuah celah dimensi raksasa yang dijaga ketat oleh sisa-sisa sekte musuh dan badai petir purba. Di hadapan mereka, benteng pertahanan Gerbang Halilintar berdiri megah menempel di tebing jurang dimensi. Ratusan prajurit elit dari Sekte Bayangan Abadi bersenjata tombak petir hitam tampak berjaga di sepanjang dinding benteng. "Martis, rencana kita apa?" bisik Estias dengan suara beratnya yang justru membuat tanah bergetar pelan. Tubuh raksasanya mencoba bersembunyi di balik sebuah batu kecil yang ukurannya bahkan tidak cukup untuk menutupi satu lututnya. Martis menoleh ke arah Estias, menyipitkan matanya menatap aksi penyamaran raksasa itu yang sangat konyol. "Estias... kau sadar tidak kalau batu itu cuma seukuran kepala kucing untuk tubuhmu?" "I-Ini namanya teknik penyamaran taktis!" protes Estias membela diri sera
"Apa-apaan?!" jerit Malakor terkejut setengah mati melihat sebuah pilar bangunan melayang ke arah wajahnya. BRUKKK! Malakor terpaksa memecah fokus sihirnya untuk menangkis pilar raksasa tersebut. Gangguan konsentrasi itu menjadi celah fatal bagi Malakor yang ditunggu oleh Martis. "Ini akhirnya!" teriak Martis. Dengan memanfaatkan celah tersebut, Martis menembus benteng sihir Malakor dan mengayunkan Pedang Api Suci miliknya tepat mengenai tongkat tengkorak naga milik sang Tetua Agung itu. KREK... PRANGGG! DUAR... PRANGGG! Setelah mengamankan Prasasti Kuno di Kuil Astral, Martis dan Estias kemudian memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah bukit kecil di luar kota. Sinar matahari sore menyinari lanskap Lembah Astral yang nampak mulai pulih. Namun, kedamaian itu sepertinya mendadak terganggu oleh suara dentingan nyaring yang hanya bisa didengar oleh Martis di dalam kepalanya. TRIING! [NOTIFIKASI SISTEM PEMBAWA API SUCI] Status Misi: Menyelamatkan Lembah Astral & Me
Martis kemudian mendekatkan wajahnya pada Mona. Martis memperhatikan kedua bola matanya. Dan akhirnya, Martis menemukan sesuatu yang terasa janggal. "Tunggu...! Siapa namamu?" tanya Martis, ia segera menarik tangan Mona yang hendak berbalik badan kemudian pergi. Jantung Mona berdebar lebih cepat sa
Martis yang terus ditatap oleh Mona dengan cara tidak biasa akhirnya merasakan tatapan itu. "Ada apa, Mona? Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Martis secara langsung, ia justru mendekatkan wajahnya pada Mona. Mona yang tersadar langsung terkejut. "Eh, anu, itu, aku..., tidak, tidak! Tidak ad
Mereka berusaha memasuki markas tersebut, tetapi pasukan penjaga langsung menghadang mereka. Martis dan timnya terpaksa mulai berperang dengan para pasukan The Silent Hand. Mereka berusaha dengan segala cara untuk masuk ke dalam markas dan menemukan Xander.Tiba-tiba, seorang anggota musuh muncul dar
Meskipun Lancelot memiliki sistem utama, dia masih harus banyak belajar lebih banyak lagi. Tapi syukurnya, ada ayahnya di sisinya."Ayah, apa yang harus aku lakukan untuk melawan teknik ilusi yang digunakan musuh kita ini?" tanya Lancelot pada ayahnya."Jangan bingung Nak. Cobalah lebih fokus. Kamu bu







