INICIAR SESIÓNSuara embusan angin pegunungan yang dingin dan kering menyapu punden batu meteorit di Lembah Tengkorak Hitam. Di bawah naungan kubah cahaya keemasan yang diciptakan oleh Martis, suasana yang semula tegang dan mencekam perlahan berubah menjadi hangat dan penuh rasa kebersamaan. Estias dan Brakas berdiri tegap seraya memperhatikan raga mereka sendiri yang kini diselimuti oleh zirah pelindung baru yang memancarkan pendaran emas-perak murni. "Luar biasa..." bisik Estias dengan suara beratnya yang menggetarkan batuan di sekitarnya. Raksasa batu itu mengepalkan tangan kirinya yang telah pulih sepenuhnya, merasakan aliran energi Dominion Murni berayun lembut dan selaras dengan inti jantung batunya. "Kekuatan ini... terasa begitu menyatu dengan jiwa dan ragaku. Tidak ada lagi rasa panas beracun atau tekanan gravitasi yang merusak." Brakas menepuk dada tegapnya yang kini dilapisi Zirah Pelindung Dominion Absolut. Suara benturan permukaannya terdengar nyaring bagaikan dentang lonceng purb
Di dasar Lembah Tengkorak Hitam, badai gravitasi hitam berputar makin buas dan ganas. Asap beracun yang tebal merayap pelan membungkus raga Estias dan Brakas yang terkulai lemas tak berdaya di atas lantai punden meteorit. Lengan kiri Estias yang hancur menjadi abu batu tidak lagi mampu memancarkan energi pemulih alaminya, sementara napas Brakas kian pendek, terengah-engah di batas ambang kematian yang teramat kritis. Darah segar dan pecahan zirah besi berserakan di sekeliling mereka, menyuarakan betapa mengerikannya kegagalan ujian di altar purba tersebut. "Kak Estias... bertahanlah..." bisik Brakas parau dengan suara bergetar, jemari kanannya yang tersisa mencoba menggapai batu di sampingnya, namun seluruh tenaganya telah terkuras habis oleh tekanan racun gravitasi. "Jangan... jangan biarkan matamu tertutup..." Estias memejamkan mata batunya seraya menahan rasa sakit yang membakar seluruh inti jiwanya. "Maafkan aku, Brakas... Aku yang membawamu ke tempat ini... Aku telah gagal
Asap hitam pekat di dasar Lembah Tengkorak Hitam berputar liar bagaikan gulungan naga raksasa yang kejam. Bau belerang purba yang beracun menusuk hidung, berpadu erat dengan hawa dingin yang sanggup membekukan pembuluh darah dan memecahkan batuan granit. Estias dan Brakas melangkah menaiki tangga punden berundak dari batuan meteorit hitam. Setiap pijakan kaki raksasa mereka terasa amat berat, seolah-olah ada belenggu besi tak kasat mata yang mengikat pergelangan kaki mereka akibat tekanan gravitasi gaib di tempat itu meningkat sepuluh kali lipat. Tanpa bimbingan dan pengawasan langsung dari Penguasa Api Martis, sosok bijaksana yang selalu sanggup menetralkan daya hancur energi purba, dua raksasa itu tidak menyadari bahwa Altar Dominion bukanlah tempat latihan biasa yang aman. Altar tersebut adalah peninggalan ujian kuno ekstrem yang menuntut pengorbanan raga dan jiwa secara mutlak tanpa ampun. "Estias... napas... napasku terasa sangat sesak dan berat..." rintih Brakas seraya mem
Di Puncak Gunung Api Purba, Pahlawan Api Martis masih terus membimbing latihan pribadi putri kecilnya dengan penuh kesabaran, kehangatan, dan rasa bangga. Di bawah arahan langsung sang ayah, Lina kecil kian mahir mengendalikan Wadah Cahaya Purba Absolut yang bersemayam di dalam raga kecilnya. Kupu-kupu api keemasan buatan Lina kini tidak hanya menari-nari memutari lereng gunung, melainkan sanggup menyebarkan pendaran hawa pemulih yang menyejukkan seluruh permukaan tanah batu yang semula tandus. Namun, di sudut lain Kota Megah Pahlawan Api, ada dua sosok tubuh tinggi besar yang menyaksikan perkembangan pesat anak-anak muda itu dari kejauhan dengan mata berbinar campur aduk. Mereka adalah Brakas dan Estias sang Raksasa Batu. Keduanya berdiri bersandar pada dinding pilar benteng barat seraya memperhatikan Rian yang sedang mengasah tebasan bayangan peraknya, Kiki dan Kira yang sibuk meletupkan petir kombinasi, serta tawa riang Lina kecil yang baru saja memunculkan bunga-bunga krista
Hari-hari berikutnya di Kota Megah Pahlawan Api diwarnai oleh fenomena unik yang kian hari kian membuat seluruh penghuni kediaman takjub sekaligus garuk-garuk kepala. Lina kecil, yang biasanya hanya sibuk berlari riang membawa kue mangkok atau mengerjai para mantan penguasa, menunjukkan perkembangan kekuatan alami yang teramat tidak masuk akal dan di luar nalar kultivasi biasa. Kejadian aneh pertama bermula pada suatu pagi yang cerah saat Lina bermain petak umpet bersama Kiki dan Kira di area taman dalam. Lina yang kebingungan mencari tempat bersembunyi dari incaran dua Kera Dewa itu mendadak memejamkan mata dan memusatkan pikirannya. Secara tidak sengaja, raga kecilnya mengeksekusi langkah Bayangan Ruang Murni yang memindahkan tubuhnya menembus dinding batu benteng setinggi lima meter tanpa menyisakan bekas retakan atau riak energi sedikit pun. Kiki dan Kira yang mencari ke sana-kemari sampai memanjat atap seketika melotot kaget saat menemukan Lina sedang santai duduk di balik
Pagi hari di Kota Megah Pahlawan Api biasanya dipenuhi suara dentang pedang Pasukan Garuda Hitam atau teriakan tegas Dosen Kaisar Malakori. Namun pagi ini, suasana di area taman tengah kediaman utama terasa sedikit berbeda. Lina kecil duduk di atas rumput hijau seraya memegangi nampan kue mangkoknya yang kosong dengan raut wajah cemberut dan mata berkaca-kaca. Di hadapannya, ada tiga ekor Tikus Berduri Kristal monster kerdil pencuri yang meloloskan diri dari sisa-sisa gelombang anomali yang sedang berdiri di atas batu seraya mengunyah kue mangkok terakhir milik Lina tanpa rasa dosa sedikit pun. CIT-CIT! Tikus-tikus kecil itu bahkan mengibaskan ekor berduri mereka konyol, seolah-olah mengejek Lina yang tampak polos dan tak berdaya. "Kue mangkok buatan Ibu Mia... dimakan sama tikus nakal..." bisik Lina kecil dengan suara gemetar, bibirnya melengkung ke bawah. Dari kejauhan, Rian yang baru selesai mengelap Belati Naga Perak Yin kaget melihat Lina menangis. "Lina! Ada apa?!" K
Dalam sejarah hidupnya, sampai saat ini hanya ada dua orang yang mampu menghadapi serangan meteor miliknya. Dan orang kedua itu adalah Martis. "Si-siapa kau sebenarnya?" tanya Edmiral Kaziru yang akhirnya penasaran. "Aku?" Martis menunjuk dirinya sendiri. "Bukankah kau sudah tahu, bahwa namaku ada
Jackson adalah seorang pejuang yang terkenal di kalangannya. Dia dikenal karena kecepatan dan kekuatannya yang luar biasa, tetapi yang paling menonjol adalah kemampuan khususnya. Jackson memiliki kemampuan untuk memanipulasi waktu. Dalam pertempuran, dia bisa melambatkan waktu di sekitarnya, memberi
Akhirnya pengintai yang berhasil Martis tangkap langsung dibawa oleh Odele untuk diinterogasi.Namun nampaknya, kali ini orang itu benar-benar mengunci mulutnya dengan rapat. Setiap kali diancam dan bahkan dipukuli, orang itu hanya menyeringai. Dan lagi, ia seperti tidak merasakan sakit sedikitpun.Od
Martis pun bingung, apa yang harus ia lakukan sekarang . Sebab, salah satu langkah saja, maka kehidupan di masa depan akan ada dampak buruknya. Maka dari itu, Martis akhirnya berpikir sejenak. Dalam hatinya Martis berkata, 'Sistem, apakah ada kemungkinan aku bisa menghubungi keluargaku di dimensi







