Se connecterPendaran cahaya perak di langit perlahan menyusut, menyisakan kehangatan matahari yang lembut di atas Hutan Bambu Emas. Di dalam gubuk kayu yang kini terasa jauh lebih hidup, Martis perlahan melepaskan pelukannya, menuntun Mia untuk duduk di atas pembaringan rumput. Martis berbalik menatap dua sahabatnya yang masih berdiri di ambang pintu. Dengan senyuman hangat yang jarang sekali terlihat di wajah sang Penguasa Api, Martis merangkul bahu raksasa Estias dan melambai pada Rafaela. "Mia, perkenalkan," ujar Martis seraya menunjuk raksasa di sampingnya. "Ini Estias, sahabat terbaikku di Ranah Atas. Dia raksasa yang sedikit konyol, tapi memiliki keteguhan hati sekeras zirah batunya. Dan di sebelahnya adalah Rafaela, keturunan Suku Cahaya Purba." Mia mendongak, menatap Estias dan Rafaela dengan binar mata penuh rasa terima kasih. Ia membungkukkan badannya dengan anggun. "Salam kenal, Estias, Rafaela... Terima kasih telah menemani dan berjuang bersama Martis selama ini." Estias yan
Langit merah darah yang menggantung di atas Benua Utama terus bergulung dahsyat, memancarkan gelombang tekanan yang membuat seluruh pepohonan Bambu Emas tertunduk kaku. Udara di sekeliling Martis, Estias, dan Rafaela mendadak dipenuhi oleh energi misterius yang menggetarkan fondasi ruang dan waktu. Estias pasang kuda-kuda kokoh dengan memasang badan di depan Rafaela, mata raksasanya menatap liar ke arah pusaran awan merah. "Martis! Apakah ini sisa-sisa sekte musuh?! Kenapa aromanya rasanya seperti hukum alam yang dipaksa robek?!" Martis tidak langsung menjawab. Mata Penglihat Kehampaan milik Martis berpendar terang, menembus lapisan awan merah menyala tersebut. Di saat yang sama, antarmuka Sistem di dalam benaknya berkedip-kedip cepat dengan warna biru yang tidak pernah ia lihat sebelumnya, bukan peringatan bahaya pemusnah, melainkan modul rekognisi memori tingkat tinggi. [Sistem: Menganalisis Fluktuasi Energi Dimensi...] [Hasil Analisis: Tidak Terdeteksi Aura Kehampaan Maupun
Sinar matahari fajar yang hangat menembus celah-celah daun bambu keemasan, membiaskan pendaran cahaya sejuk di atas gubuk kayu tersembunyi. Di dalam gubuk, suasana terasa tegang namun penuh harap. Estias tak henti-hentinya berjalan mondar-mandir dengan langkah raksasanya yang canggung, sementara Rafaela duduk bersila seraya menyatukan kedua tangannya, memanjatkan doa tulus untuk keselamatan sang pahlawan api. "Estias, duduklah... kau membuat gubuk ini berguncang," bisik Rafaela lembut, meski matanya sendiri kerap mengarah ke pintu luar. "Bagaimana aku bisa duduk?!" balas Estias seraya menepuk dadanya panik. "Martis bertarung sendirian melawan Hantu Hitam itu! Kalau dia sampai lecet sedikit saja, aku tidak akan pernah memaafkan diriku—" BOOM! Sebuah deru angin hangat mendadak berembus dari luar, menghentikan kalimat Estias. Pendaran cahaya keemasan yang menenangkan merayap masuk melintasi celah jendela gubuk. Sesosok pria melangkah masuk dengan santai. Pakaian tempurnya yan
Langit di atas Pusat Kota Abadi telah melampaui batas kehancurannya. Pertarungan yang berlangsung selama berjam-jam tanpa jeda itu telah meratakan seluruh bangunan benteng, menyisakan kawah raksasa yang membara oleh benturan energi emas dan hitam. Udara di sekitarnya terdistorsi hebat, memancarkan gelombang panas bercampur tekanan dingin yang membekukan darah. CLANG! BANG! BOOOM! Di angkasa, Martis melayang cepat, melayangkan serangkaian tinju berbalut Api Suci Abadi Tingkat Dewa. Namun sosok bayangan misterius itu secara lincah meleleh menjadi lautan benang hitam, menyerap sebagian daya hantam pukulan Martis sebelum menyatu kembali di sudut lain dan melancarkan tebasan balasan yang merobek bagian tepi pakaian tempur Martis. "Hahaha! Percuma, Martis!" suara ghaib sosok bayangan itu bergema garing dari segala arah. "Tubuhku adalah Kehampaan murni! Tidak ada wujud padat yang bisa kau hancurkan! Setiap serangan apimu hanya akan terserap dan menjadi bahan bakar bagi kekuatan abadi
Langit di atas Pusat Kota Abadi tidak lagi berwarna biru, melainkan berubah menjadi lautan kegelapan pekat yang membeku. Di puncak menara tertinggi kota, formasi sihir Kehampaan Abadi berputar liar, menyedot partikel kehidupan dari tanah dan udara di sekitarnya. Di tengah-tengah alun-alun benteng utama, telah bersiaga puluhan ribu prajurit elit Sekte Bayangan Abadi. Mereka terdiri dari para algojo bertopeng, komandan zirah hitam, hingga raksasa-raksasa hasil eksperimen energi kehampaan. Senjata-senjata mereka yang beracun memancarkan pendaran ungu pekat, membentuk lautan prajurit yang tampak tak tertembus. Di atas puncak menara, melayang sosok bayangan misterius. Wajahnya yang tanpa bentuk padat tersenyum sinis saat merasakan gelombang panas yang mendekat dari angkasa. "Kau datang juga, Martis..." bisik sosok bayangan itu dengan suara ghaib yang bergema gading. "Tetapi datang seorang diri menghadapi puluhan ribu pasukanku adalah bentuk kebodohan tertinggi—" BOOOOOOOOOOMMMM!
Angin sejuk berembus lembut melintasi Hutan Bambu Emas, menggoyangkan dedaunan yang memendarkan pantulan cahaya keemasan. Di dalam gubuk kayu yang tenang, kondisi Rafaela tampak semakin membaik secara fisik. Rona di wajahnya kian segar, tetapi tatapan matanya masih kerap menyipit ketakutan setiap kali mendengar kepakan sayap burung atau derit batang bambu yang bergesek. Penyiksaan berpuluh-puluh tahun di dalam penjara bawah tanah yang gelap telah menorehkan trauma jiwa yang amat dalam pada diri wanita dari Suku Cahaya Purba tersebut. Setiap kali bayangan hitam melintas, tubuh kurusnya akan gemetar hebat, dan ia refleks berusaha meringkuk di sudut ruangan. Martis berdiri di ambang pintu gubuk, menatap lanskap Pusat Kota Abadi yang tampak samar di horizon jauh. Pendaran Mata Penglihat Kehampaan di mata keemasannya menangkap gumpalan aura kegelapan yang kian membesar di atas langit kota, sebuah tanda bahwa sosok bayangan misterius tengah menyempurnakan ritual terakhirnya setelah ke
Asidi mengangkat kepalanya dan menatap langsung ke mata sang Master. "Master, ada orang bernama Jackson dan Martis. Mereka berdua telah mengambil artefak bola cahaya yang kita incar selama bertahun-tahun. Aku khawatir jika mereka saat ini telah berhasil membuka segel dari artefak tersebut, dan sekar
Wow, tampaknya Jendral William memiliki kekuatan yang luar biasa! Meskipun terlihat terluka dan terbaring, dia masih memiliki semangat dan kegigihan untuk melawan. Dia bangkit kembali dengan tekad yang kuat, menunjukkan bahwa pertempuran ini belum berakhir.Dengan gerakan yang cepat, Jendral William
Lalu keesokan harinya Martis mengatakan bahwa ia akan mencoba menemui pemimpin Bayangan Hitam. Terkadang, keberanian sejati bukanlah tentang berperang, akan tetapi tentang mencari cara untuk menyelesaikan konflik tanpa harus bertempur. Dengan kekuatan dan kebijaksanaannya, Martis akan mencoba untuk
Martis tanpa ragu-ragu meluncur ke arah pemimpin pasukan Bayangan Hitam dengan kecepatan yang luar biasa. Dia tidak akan menyerah dan bertekad untuk mengalahkan lawannya. Pertarungan ini pun akhirnya berjalan semakin memanas."Terima ini...! Hiyat...!" Dengan tinju yang dibalut dengan kekuatan elemen






