LOGINPagi hari di Kota Megah Pahlawan Api biasanya dipenuhi suara dentang pedang Pasukan Garuda Hitam atau teriakan tegas Dosen Kaisar Malakori. Namun pagi ini, suasana di area taman tengah kediaman utama terasa sedikit berbeda. Lina kecil duduk di atas rumput hijau seraya memegangi nampan kue mangkoknya yang kosong dengan raut wajah cemberut dan mata berkaca-kaca. Di hadapannya, ada tiga ekor Tikus Berduri Kristal monster kerdil pencuri yang meloloskan diri dari sisa-sisa gelombang anomali yang sedang berdiri di atas batu seraya mengunyah kue mangkok terakhir milik Lina tanpa rasa dosa sedikit pun. CIT-CIT! Tikus-tikus kecil itu bahkan mengibaskan ekor berduri mereka konyol, seolah-olah mengejek Lina yang tampak polos dan tak berdaya. "Kue mangkok buatan Ibu Mia... dimakan sama tikus nakal..." bisik Lina kecil dengan suara gemetar, bibirnya melengkung ke bawah. Dari kejauhan, Rian yang baru selesai mengelap Belati Naga Perak Yin kaget melihat Lina menangis. "Lina! Ada apa?!" K
Sinar mentari pagi memancar hangat menembus sisa-sisa kabut tipis di atas Kota Megah Pahlawan Api. Udara segar berembus lembut membawa harum dedaunan dan aroma roti panggang buatan Ibu Mia. Suasana di sekitar benteng tampak sibuk namun dipenuhi gelak tawa. Para prajurit Pasukan Garuda Hitam sedang bergotong-royong merapikan sisa-sisa retakan batu, sementara Lina kecil terlihat riang menunggangi bahu Estias sang Raksasa Batu. Namun, pemandangan paling mengocok perut pagi itu terjadi di sudut alun-alun kota. Raja Gungnir yang bertelanjang dada tampak ngos-ngosan mendorong gerobak pupuk tanaman raksasa. Di sampingnya, Kaisar Malakori berjalan tegap mengenakan celemek bunga matahari kesayangannya seraya membawa sapu lidi dan sebuah papan nilai dari batu. "Dorong lebih lurus, Gungnir!" teriak Kaisar Malakori berapi-api bagaikan mandor galak. "Postur tubuhmu miring ke kiri! Bagaimana pupuk ini bisa sampai ke ladang jagung kalau gerobakmu oleng begitu?! Sebagai mantan raja, sapuan da
Udara di dasar celah bawah tanah mendadak berubah menjadi lautan kelabu yang pekat dan sangat padat. Bau belerang purba yang berumur jutaan tahun menyeruak tajam, berpadu dengan hawa dingin yang sanggup meledakkan pembuluh darah. Di kedalaman ribuan meter itu, Martis berdiri melayang di tengah pusaran ruang yang terdistorsi. Jubah keemasannya berkibar hebat, memancarkan pendaran Api Murni Pahlawan Api yang menahan tekanan ribuan atmosfer. Di hadapannya, pusaran hitam, kelabu itu perlahan memadat. Bayangan raksasa sang Entitas Purba peninggalan dari Era Keretakan Dimensi mulai menampakkan wujud aslinya. Entitas itu tidak memiliki wajah manusia, melainkan gumpalan kristal kegelapan raksasa berhiaskan belasan mata merah darah yang berdenyut redup. Dari celah-celah badannya, menjulur puluhan tentakel gravitasi cair yang memancarkan daya hancur mutlak. GROAARRRRRRRRRRRRR! Raungan entitas itu tidak merambat melalui udara, melainkan menghantam langsung dinding jiwa Martis. BOOOOOOO
Niat suci dan tekad membara Rian, Kiki, dan Kira untuk membantu Ayah Martis mendadak membentur kenyataan yang teramat pahit. Baru saja ketiga ksatria muda itu melompat turun sejauh lima puluh meter menembus retakan tanah raksasa di alun-alun kota, udara di dalam celah bawah tanah tersebut mendadak membeku secara tidak masuk akal. Warna udara berubah menjadi kelabu pekat, memancarkan gelombang gravitasi raksasa yang kepadatannya menyerupai dinding baja murni dari era purba. HUMMMMMMMMMMM—BOOOOOOOOOOMMMM! Tanpa sempat mengeksekusi jurus pertahanan atau mengayunkan belati, sebuah Hempasan Aura Gravitasi Purba meletup dahsyat dari kedalaman bumi. Hempasan energi itu bagaikan dinding gunung tak kasat mata yang dihantamkan secara mendadak dari arah bawah. Pelindung petir emas milik Kiki, perisai petir ungu milik Kira, serta aura bayangan Yin milik Rian seketika retak hancur berkeping-keping hanya dalam hitungan milidetik. "UAAAAAGHH!" Jeritan Rian, Kiki, dan Kira membumbung ti
Gelombang monster di luar benteng Kota Megah Pahlawan Api makin meluap bagaikan lautan merah yang tak bertepi. Tiga ribu prajurit Pasukan Garuda Hitam di bawah komando Dosen Kaisar Malakori bekerja keras mempertahankan benteng luar. Kiki dan Kira terus meletupkan Lautan Petir Kombinasi, sementara Rian membelah udara malam dengan kecepatan Bayangan Kilat Yin. Namun, sebanyak apa pun monster yang berhasil ditumbangkan, ribuan monster baru terus bermunculan dari kegelapan Hutan Belantara Barat. Sementara itu, jauh di bawah tanah Kota Megah Pahlawan Api, Martis melayang menembus lapisan batu granit dan jaringan magmatik di kedalaman puluhan ribu meter. Sang Penguasa Api melipat kedua tangannya di dada, jubah keemasannya memancarkan pendaran cahaya murni yang membelah kegelapan abadi bawah tanah. [Aktivasi Sistem: Pelacakan Sumber Gelombang Purba] [Status Pelacakan: Terdistorsi oleh Sihir Pembias Jiwa] Langkah Martis mendadak terhenti di sebuah ruangan raksasa bawah tanah yang dike
Ketenangan malam yang damai di Kota Megah Pahlawan Api mendadak terpecahkan oleh fenomena yang tak pernah terjadi sebelumnya. Sekitar tengah malam, tanah di sekitar kota bergetar halus namun terus-menerus. Awalnya, warga mengira itu hanya getaran biasa dari aktivitas gunung di selatan, namun getaran itu kian lama kian kencang disertai suara gemuruh parau yang menggetarkan fondasi benteng. Dari atas menara pengawas, Rian yang sedang menjalankan jadwal patroli malam bersama Kiki dan Kira mendadak membelalakkan matanya. "Kak Rian! Lihat ke arah Hutan Belantara Barat!" pekik Kira seraya menunjuk ke kegelapan malam. Melalui pendaran cahaya bulan dan petir ungu milik Kira, terlihat pemandangan yang teramat mengerikan sekaligus aneh. Ribuan pasang mata merah menyala memenuhi kegelapan hutan. Berbagai jenis hewan monster mulai dari Serigala Zirah Tembaga, Babi Hutan Berduri Besi, hingga Burung Bangkai Api bergerak bersamaan menuju gerbang Kota Pahlawan Api. Anehnya, monster-monster ini t
Akhirnya pengintai yang berhasil Martis tangkap langsung dibawa oleh Odele untuk diinterogasi.Namun nampaknya, kali ini orang itu benar-benar mengunci mulutnya dengan rapat. Setiap kali diancam dan bahkan dipukuli, orang itu hanya menyeringai. Dan lagi, ia seperti tidak merasakan sakit sedikitpun.Od
Jeritan minta tolong itu menggema di tengah derasnya hujan dan gemuruh petir. Martis berlari sekencang mungkin ke arah sumber suara dengan jantungnya yang berdebar-debar. Saat Martis tiba, ia melihat tenda Aidit sudah porak-poranda, kainnya terkoyak dan tercabik-cabik oleh tubuh raksasa anaconda it
Sosok misterius itu menatap tajam petir yang Martis maksud. Ia pun berkata dalam hatinya, 'Apa...?! Bukankah Petir ini adalah petir putih? Petir putih adalah petir yang paling tinggi! Celaka, aku belum pernah sebelumnya melawan petir tingkatan ini. Tapi apa boleh buat, aku tidak akan mau dipermaluk
Martis langsung bersiap akan menuju toko kue milik orang tuanya itu."Martis, biar Ayah saja yang ke sana. Kau tetaplah di sini saja," ucap Marten yang ingin mencegah Martis pergi. Marten khawatir akan terjadi sesuatu pada anak kesayangannya ini."Tidak Ayah! Mungkin tadi belum cukup untuk membuat mer







