LOGINNiat suci dan tekad membara Rian, Kiki, dan Kira untuk membantu Ayah Martis mendadak membentur kenyataan yang teramat pahit. Baru saja ketiga ksatria muda itu melompat turun sejauh lima puluh meter menembus retakan tanah raksasa di alun-alun kota, udara di dalam celah bawah tanah tersebut mendadak membeku secara tidak masuk akal. Warna udara berubah menjadi kelabu pekat, memancarkan gelombang gravitasi raksasa yang kepadatannya menyerupai dinding baja murni dari era purba. HUMMMMMMMMMMM—BOOOOOOOOOOMMMM! Tanpa sempat mengeksekusi jurus pertahanan atau mengayunkan belati, sebuah Hempasan Aura Gravitasi Purba meletup dahsyat dari kedalaman bumi. Hempasan energi itu bagaikan dinding gunung tak kasat mata yang dihantamkan secara mendadak dari arah bawah. Pelindung petir emas milik Kiki, perisai petir ungu milik Kira, serta aura bayangan Yin milik Rian seketika retak hancur berkeping-keping hanya dalam hitungan milidetik. "UAAAAAGHH!" Jeritan Rian, Kiki, dan Kira membumbung ti
Gelombang monster di luar benteng Kota Megah Pahlawan Api makin meluap bagaikan lautan merah yang tak bertepi. Tiga ribu prajurit Pasukan Garuda Hitam di bawah komando Dosen Kaisar Malakori bekerja keras mempertahankan benteng luar. Kiki dan Kira terus meletupkan Lautan Petir Kombinasi, sementara Rian membelah udara malam dengan kecepatan Bayangan Kilat Yin. Namun, sebanyak apa pun monster yang berhasil ditumbangkan, ribuan monster baru terus bermunculan dari kegelapan Hutan Belantara Barat. Sementara itu, jauh di bawah tanah Kota Megah Pahlawan Api, Martis melayang menembus lapisan batu granit dan jaringan magmatik di kedalaman puluhan ribu meter. Sang Penguasa Api melipat kedua tangannya di dada, jubah keemasannya memancarkan pendaran cahaya murni yang membelah kegelapan abadi bawah tanah. [Aktivasi Sistem: Pelacakan Sumber Gelombang Purba] [Status Pelacakan: Terdistorsi oleh Sihir Pembias Jiwa] Langkah Martis mendadak terhenti di sebuah ruangan raksasa bawah tanah yang dike
Ketenangan malam yang damai di Kota Megah Pahlawan Api mendadak terpecahkan oleh fenomena yang tak pernah terjadi sebelumnya. Sekitar tengah malam, tanah di sekitar kota bergetar halus namun terus-menerus. Awalnya, warga mengira itu hanya getaran biasa dari aktivitas gunung di selatan, namun getaran itu kian lama kian kencang disertai suara gemuruh parau yang menggetarkan fondasi benteng. Dari atas menara pengawas, Rian yang sedang menjalankan jadwal patroli malam bersama Kiki dan Kira mendadak membelalakkan matanya. "Kak Rian! Lihat ke arah Hutan Belantara Barat!" pekik Kira seraya menunjuk ke kegelapan malam. Melalui pendaran cahaya bulan dan petir ungu milik Kira, terlihat pemandangan yang teramat mengerikan sekaligus aneh. Ribuan pasang mata merah menyala memenuhi kegelapan hutan. Berbagai jenis hewan monster mulai dari Serigala Zirah Tembaga, Babi Hutan Berduri Besi, hingga Burung Bangkai Api bergerak bersamaan menuju gerbang Kota Pahlawan Api. Anehnya, monster-monster ini t
Lautan awan jingga menghiasi langit sore di atas Kota Megah Pahlawan Api. Angin sejuk berembus dari arah danau, membawa aroma harum masakan rumah dan ramainya suara warga yang sedang menikmati suasana senja. Di lapangan Akademi Garuda Hitam, gema teriakan semangat tiga ribu prajurit di bawah instruksi Dosen Kaisar Malakori masih terdengar berwibawa, berpadu dengan kekonyolan Raja Gungnir yang sibuk mendorong gerobak pupuk tanaman di tepi ladang dengan wajah pasrah. Di pintu gerbang utama benteng selatan, Lina kecil yang sedang duduk di bahu Estias sang Raksasa Batu mendadak melompat-lompat riang seraya menunjuk ke arah celah perbukitan. "Ibu Mia! Ayah Martis! Lihat itu! Kak Rian dan Kak Kiki sudah pulang!" jerit Lina kecil dengan suara nyaring yang menggelegar gembira. Dari balik bukit, tampak rombongan ekspedisi Rian, Kiki, dan Kira berjalan tegap. Rian melangkah di depan dengan senyuman jernih, sementara Kiki berzirah emas dan Kira berzirah petir ungu melayang anggun di samp
Suara raungan Naga Purba Berzirah Lava menggelegar dahsyat, menggetarkan dinding-dinding batu Reruntuhan Lembah Naga Api. Gelombang udara panas yang membawa pijar-pijar api menyembur ke segala arah, melelehkan pilar-pilar batu di sekitar ruangan menjadi cairan lahar kental. Naga raksasa berukuran lima puluh meter itu mengepakkan sayap apinya yang megah, memancarkan tekanan aura binatang purba yang sanggup meruntuhkan mental kultivator biasa dalam seketika. Namun, Rian, Kiki, dan Kira berdiri berjejer dengan kuda-kuda yang teramat kokoh. Tidak ada sedikit pun keraguan atau rasa gentar di wajah mereka. Di dada mereka membara semangat pertarungan yang ditempa dari ajaran dan kehangatan Ayah Martis. "Kiki, Kira! Naga ini dilindungi oleh zirah lava padat yang teramat tebal!" seru Rian tegap seraya mengalirkan energi esensi Yin ke dalam Belati Naga Perak Yin. "Serangan fisik biasa tidak akan sanggup menembus pertahanannya. Kita harus memecah fokusnya dan menghancurkan persendian zirah
Pagi yang begitu cerah dan benderang kembali menyapa Kota Megah Pahlawan Api. Udara hangat berembus lembut dari arah perbukitan, membawa harum dedaunan dan keceriaan warga yang mulai beraktivitas. Di lapangan Akademi Garuda Hitam, gema teriakan semangat tiga ribu prajurit di bawah arahan Dosen Kaisar Malakor terdengar riuh berkumandang. Kehidupan di kota benteng itu kian hari kian menunjukkan keteraturan, keharmonisan, serta kedamaian yang teramat abadi. Namun, bagi seorang murid ksatria seperti Rian, kedamaian bukan berarti berdiam diri tanpa mengasah keahlian. Di dalam ruang perpustakaan dimensi milik Martis, Rian sedang bermeditasi seraya mempelajari gulungan-gulungan kitab purba yang tersusun rapi. Saat jari jemarinya menelusuri lembaran kain sutra keemasan dari sebuah kitab bertuliskan huruf-huruf dewa, sebuah pendaran cahaya merah menyala mendadak memercik keluar. [Sistem Pahlawan Api: Deteksi Peta Purbakala] [Lokasi: Reruntuhan Lembah Naga Api - Batas Pegunungan Selatan
Akhirnya pengintai yang berhasil Martis tangkap langsung dibawa oleh Odele untuk diinterogasi.Namun nampaknya, kali ini orang itu benar-benar mengunci mulutnya dengan rapat. Setiap kali diancam dan bahkan dipukuli, orang itu hanya menyeringai. Dan lagi, ia seperti tidak merasakan sakit sedikitpun.Od
Jeritan minta tolong itu menggema di tengah derasnya hujan dan gemuruh petir. Martis berlari sekencang mungkin ke arah sumber suara dengan jantungnya yang berdebar-debar. Saat Martis tiba, ia melihat tenda Aidit sudah porak-poranda, kainnya terkoyak dan tercabik-cabik oleh tubuh raksasa anaconda it
Sosok misterius itu menatap tajam petir yang Martis maksud. Ia pun berkata dalam hatinya, 'Apa...?! Bukankah Petir ini adalah petir putih? Petir putih adalah petir yang paling tinggi! Celaka, aku belum pernah sebelumnya melawan petir tingkatan ini. Tapi apa boleh buat, aku tidak akan mau dipermaluk
Dalam sejarah hidupnya, sampai saat ini hanya ada dua orang yang mampu menghadapi serangan meteor miliknya. Dan orang kedua itu adalah Martis. "Si-siapa kau sebenarnya?" tanya Edmiral Kaziru yang akhirnya penasaran. "Aku?" Martis menunjuk dirinya sendiri. "Bukankah kau sudah tahu, bahwa namaku ada







