Se connecterLangkah Satria berderap cepat menerobos ambang pintu kamar. Pria itu langsung menghampiri meja kayu kecil di sudut ruangan. Permukaannya kini kosong melompong, menyisakan bekas gesekan tipis di atas lapisan debu halus.Kotak kayu peninggalan almarhum ayah Nismara benar-benar hilang."Sastro!" panggil Satria tajam, suaranya dipenuhi amarah yang kembali membakar. Pria itu berbalik hendak melangkah keluar. "Ada pencuri lain yang masuk lewat lorong samping saat kita di pendopo!""Mas, tunggu..." suara Nismara menyela pelan namun tertahan.Nismara menyandar kaku pada bingkai pintu, jemarinya meremas kain tapih yang membungkus tubuhnya. Wajahnya yang pucat pasi nampak kelesuan pasca keguguran, tetapi tatapan matanya lurus menatap Satria."Tidak perlu mengejar siapapun malam ini, Mas," bisik Nismara parau. "Biarkan saja mereka mengambil kotak itu."Satria menoleh cepat, rahangnya mengetat kaku. "Biarkan? Di dalam kotak itu ada surat-surat berharga, Nismara! Mereka sengaja mencurinya untuk me
"Subrata! Keluar kamu!"Teriakan Satria bergema keras, memecah keheningan di lorong kaputren yang sepi dan remang. Nama sang paman dipanggilnya tanpa rasa hormat sedikit pun, menelanjangi murka yang tak lagi ditahannya.Langkah Satria terdengar berat di atas lantai batu pendopo. Wajahnya kaku menahan marah. Angin malam yang berhembus di antara pilar-pilar kayu sama sekali tak mengurangi ketegangan di area kaputren itu.Mbok Nah dan tiga pengawal pribadi Raden Mas Subrata yang berdiri di tengah pendopo seketika membeku. Wajah mereka pucat pasi. Sastro yang berdiri di sudut sampai terlonjak kaget, makin merapatkan tubuhnya ke dinding.Satria melangkah menerobos pendopo dengan rahang mengeras kaku."Panggil bajingan itu ke sini!" bentak Satria lagi saat berhenti tepat di depan mereka. "Suruh dia lihat sendiri apa yang orang-orangnya perbuat di kaputrenku!""Nd-Ndoro Den..." Mbok Nah mencoba membuka suara, bicaranya gemetar hebat. "Raden Mas Subrata tidak ada di sini... Kami hanya menjala
"Ya Gusti... Mas Satria... siapa yang melakukan ini?"Nismara menahan napas. Di bawah remang lampu minyak, isi kamar itu sudah tak lagi sama. Kasur berantakan, isi lemari pakaian berserakan di atas lantai batu, dan meja riasnya sudah bergeser—seperti baru saja diacak-acak oleh seseorang secara terburu-buru.Satria tidak menjawab. Ketegangan yang membeku di rahangnya berganti menjadi emosi yang menggulung di dalam mata merahnya. Satria menurunkan tubuh Nismara perlahan, memastikan Nismara bertumpu dengan aman di tepi dipan yang sprei kainnya sudah terkoyak separuh."Sastro!" panggil Satria. Suaranya tidak teriak, tapi gaungnya membelah malam di sepanjang koridor kaputren.Dalam hitungan detik, langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekat. Sastro muncul di ambang pintu, napasnya memburu. Namun, begitu matanya menangkap pemandangan di dalam kamar, wajah abdi dalem kepercayaan itu seketika pucat pasi."Ndoro Den..." gagap Sastro, tangannya gemetar di sisi tubuh. "Demi Gusti, saya... saya
"Bagaimana kalau saya menolak?"Suara Satria bergema tenang di seluruh ruangan Sasana Agung. Sama sekali tidak terdengar getaran ketakutan dalam nadanya, hanya ketegasan yang mendinginkan suasana. Dengan tingginya yang hampir dua meter, Satria berdiri menjulang, menatap Pangarsa Sesepuh tanpa berkedip.Langkah kaki Satria maju satu tapak, menyembunyikan posisi Nismara di belakang punggung tegapnya."Pangarsa bicara soal aturan adat dan pengabaian istri sah," lanjut Satria dengan senyum sinis yang sangat tipis. "Tetapi bukankah Sasana Agung juga punya aturan dasar? Seorang Tuan Muda yang memegang pucuk kepemimpinan bisnis dan aset trah memiliki hak veto atas urusan kaputrennya sendiri, selama keputusan itu tidak merugikan keuangan keluarga."Para tetua yang duduk melingkar mulai saling pandang. Kasak-kusuk pelan kembali terdengar di antara mereka."Satria!" tegur Raden Arya Pradipta seraya melangkah mendekat, wajahnya memerah menahan gusar. "Jangan coba-coba menggunakan celah aturan u
Panggilan yang disampaikan lewat Sastro itu menggantung di udara, memutus duka yang belum sepenuhnya mereda. Satria tak langsung menjawab. Tangannya masih mendekap tubuh Nismara, seolah mengukuhkan benteng terakhir sebelum badai yang sebenarnya menghantam mereka."Mas..." bisik Nismara parau, suaranya hampir tenggelam di balik dada bidang Satria.Satria melonggarkan pelukan perlahan. Matanya yang memerah menatap Nismara dengan sorot terluka, lalu beralih menatap pintu kayu yang masih terkunci."Katakan pada Pangarsa Sesepuh, kami akan segera menghadap, tapi nggak sekarang. Keadaan Nismara sedang tidak baik." sahut Satria dingin, suaranya datar namun sarat ancaman yang terselubung.Dari balik pintu, langkah kaki Sastro terdengar menjauh secara perlahan. Keheningan kembali menyergap keputren, tapi kali ini bukan keheningan hampa pasca-duka, melainkan ketegangan yang merambat cepat ke setiap sudut ruangan.Satria bergeser, mengambil selendang kain batik dan kain tapih kering dari dalam
Saat membuka mata, Nismara merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya. Ia merasa tubuhnya seperti bukan miliknya lagi.Ada rasa kosong yang dalam di perut bawahnya—bukan sekadar sakit, melainkan rasa hampa, walaupun dia baru tahu ada calon bayi di perutnya tak beberapa minggu yang lalu.Pinggangnya terasa pegal, seolah baru saja digilas. Paha dalamnya basah oleh keringat dingin dan sisa darah yang sudah mengering. Napasnya pendek. Setiap kali dia mencoba menggerakkan kaki, rasa nyeri tumpul langsung menjalar dari rahimnya yang kini terasa lenggang.Tangannya secara refleks menyentuh perut. Datar. Tidak ada apa-apa.“Mas Satria…” desahnya lirih.Air mata langsung menetes tanpa suara.“Bayinya… sudah tidak ada.” tambahnya lagi dengan air mata yang berurai.Ruangan kaputren terasa sunyi. Hanya terdengar deru angin pelan dari celah jendela kayu dan aroma minyak herbal yang masih menggantung di udara. Di samping dipannya, Satria duduk membungkuk. Kedua sikunya bertumpu di lutut, ke







