Masuk“Bagaimana kamu melayani suamiku semalam?” tanya Prameswari setengah berbisik, seraya melemparkan gaun tidur berbahan sutra tipis yang baru tepat ke wajah Nismara.
Jujur saja, Prameswari mulai khawatir. Bagaimana jika Satria benar-benar tertarik pada Nismara?
Meskipun pelayan itu berakting bisu di depan suaminya, Nismara tetaplah seorang wanita muda dengan tubuh yang elok. Prameswari tidak bisa membiarkan posisinya terancam.
Nismara menunduk dalam, memeluk gaun tidur tipis itu di dadanya. "Saya... hanya seperti yang ada di buku, Ndoro Ayu," sahut Nismara pelan.
Prameswari mendesis tajam seraya maju mencengkeram bahu Nismara. “Ingat, tidak boleh ada desahan! Kamu yang harus bergerak aktif, buka kakimu, dan setelah suamiku selesai, kamu langsung keluar! Malam ini kamu tidak boleh berada di kamar itu sampai pagi! Mengerti?!”
Prameswari yang awalnya menganggap Nismara tak lebih dari alat pembayar utang, kini terpaksa mengubah strateginya. Risiko terlalu besar jika membiarkan Nismara berlama-lama di samping Satria.
"Mengerti, Ndoro Ayu..." bisik Nismara pasrah.
“Sekarang masuk! Satria sudah menunggu di dalam. Ingat, dalam dua jam kamu sudah harus keluar!” gertak Prameswari geram seraya mendorong bahu Nismara.
Nismara menelan ludah yang terasa pahit. Dengan gaun tidur tipis yang nyaris tak menutupi lekuk tubuhnya, ia mengetuk pintu kamar utama dan mendorongnya pelan.
Saat melintasi ambang pintu, Nismara langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat—kembali mengunci suaranya dan harus berpura-pura bisu lagi.
Di dalam kamar, bau harum sabun dan uap air hangat menyerbak. Satria baru saja keluar dari kamar mandi.
Pria itu hanya mengenakan celana sutra longgar berwarna hitam yang membingkai pinggang kokohnya, sementara rambut basahnya dibiarkan berantakan. Dada bidangnya yang tegap dan berotot masih terhias sisa-sisa titik air.
Satria menoleh saat mendengar langkah kaki. Matanya memindai Nismara dari atas ke bawah, memperhatikan gaun tidur transparan yang membalut kulit mulus gadis itu. Namun, tidak ada binar keserakahan di matanya.
Pria itu justru menghembuskan napas pelan dan berjalan mendekat.
"Nismara..." tutur Satria dengan suara beratnya yang tenang. "Aku memintamu datang lagi malam ini bukan sekadar untuk melayaniku. Aku ingin tahu tentang ayahmu... Haryo Kalingga."
Mata Nismara seketika membulat sempurna. Wajahnya mendadak pucat dan penuh kecemasan. Kenapa Satria menanyakan soal almarhum ayahnya?
Tanpa buang waktu, Nismara melangkah maju dan meraih tangan kanan Satria. Ujung jemarinya yang gemetar langsung menggoreskan pesan di atas telapak tangan pria itu.
"Tidak ada yang bisa aku ceritakan tentang ayahku. Dia meninggal karena sakit menahun, lalu aku dijemput ke rumah ini," tulis Nismara lewat gerakan jari dan juga pupils matanya.
Satria meremas perlahan jemari Nismara yang berada di genggamannya. Tatapannya menerawang jauh, tenggelam dalam mode berpikir yang intens.
Penyelidikan internal mengenai dugaan penggelapan uang di perusahaan perkebunan keluarga Sasmita mengarah kuat pada nama almarhum Haryo Kalingga.
Pria itu menghela napas berat. Ia merasa seperti membentur dinding tebal saat berhadapan dengan Nismara yang bisu, karena informasi yang ia cari tersimpan begitu rapat.
Satria lalu melepaskan tangan Nismara, melangkah melintasi ruangan dan bersandar di tepi meja. Pria itu memijit pelipisnya, tampak frustasi dan lelah.
Melihat Satria yang terdiam lama dalam pikirannya sendiri, rasa panik mulai menggerogoti dada Nismara.
Dentang jam dinding di kamar itu seolah berdetik lebih cepat, mengingatkannya pada batas waktu ketat dari Prameswari. Dua jam... dan ia belum melakukan apa-apa. Hukuman nyonya besar menanti jika ia gagal.
Nismara menelan ludah. Mengingat instruksi Prameswari bahwa dialah yang harus mengambil inisiatif bergerak aktif, Nismara memberanikan diri melangkah mendekati Satria.
Langkah kakinya yang tanpa alas terdengar halus di atas lantai kayu. Nismara meraih kembali telapak tangan Satria yang lebar dan hangat.
Saat Satria menoleh menatapnya, Nismara dengan jemari gemetar menggoreskan kalimat di atas telapak tangan Satria beserta gerakan tubuh lainnya yang diakhiri dengan menunjuk pintu keluar.
"Sekarang biarkan saya melayani Ndoro Den. Setelah itu saya harus keluar," kalimat itu seakan tertulis tegas.
Satria menatap Nismara dengan dahi berkerut, membaca ketakutan dan ketergesaan yang terpancar jelas dari raut wajah gadis itu. "Kenapa terburu-buru?" tanya Satria rendah.
Nismara tidak menjawab dengan suara. Ia hanya menatap mata Satria dengan pandangan memohon, lalu perlahan menjatuhkan tali gaun tidur tipisnya dari satu sisi bahunya, membiarkan kain sutra itu meluncur turun menyingkap bahu dan sebagian dadanya yang mulus.
Nismara membawa tangan Satria untuk menyentuh pinggangnya sendiri, sementara tangan Nismara yang lain bergerak perlahan naik ke dada telanjang Satria yang hangat.
Satria menahan napas, matanya menggelap melihat keberanian yang dibalut kepasrahan itu. Pria itu diam, membiarkan Nismara yang mengambil kendali, penasaran sejauh mana gadis polos ini berani melangkah.
Nismara menunduk, matanya terpejam sejenak menetralkan detak jantungnya yang berdentum keras hingga membuat perutnya mual.
Dengan gerak canggung namun pasrah, jemari lentiknya turun dari dada Satria, merambat perlahan melewati perut yang berotot tegap, hingga akhirnya mendarat tepat di atas celana sutra Satria—menyentuh bagian sensitif yang tersembunyi di balik kain pria itu.
Deg.
Sensasi hangat dan mengeras seketika menyengat telapak tangan Nismara. Satria refleks menegakkan tubuhnya, menggenggam pergelangan tangan Nismara untuk menghentikan gerakan gadis itu di sana.
"Apa yang kamu lakukan, Nismara?" tanya Satria dengan nada suara yang mendadak berat dan parau.
Pipi Nismara seketika terbakar merah padam. Di bawah telapak tangannya, ia bisa merasakan milik tuannya itu kian bereaksi tajam—terasa amat keras dan panas. Tenggorokan Nismara terasa kering kerontang.
"Nismara... kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan?" ulang Satria, menatap lurus menembus manik mata Nismara yang berembun gairah dan ketakutan.
Nismara mengangguk pelan. Ia tidak menarik tangannya, melainkan justru memberikan remasan lembut yang canggung di sana.
Kemudian, ia meraih kembali jemari Satria dan menuliskan permohonannya secara singkat.
"Saya harus melayani Ndoro Den... tolong, biarkan saya melakukannya," gerak jemari Nismara, meremas lembut kejantanan Satria yang berada dalam genggamannya.
Hujan gerimis mulai membasahi dedaunan lebat di sekitar gubuk tengah hutan. Bau tanah basah beradu dengan aroma kayu lapuk dan kelembaban yang terkunci di dalam ruangan kecil itu.Di sudut ruangan yang remang-remang, Budhe Murni duduk bersimpuh di atas lantai papan. Kedua tangannya terikat kaku di belakang punggung. Tubuh tua itu gemetar, matanya yang sembab oleh air mata terus bergulir liar menatap pintu kayu yang terkunci rapat dari luar.Klek.Bunyi engsel kayu yang berderit memecah keheningan. Satria melangkah masuk dengan tenang. Ia menyapu pandangan ke sekeliling ruangan sebelum matanya tertuju lurus pada wanita tua yang makin menciut di sudut.Di belakangnya, Sastro menyusul masuk, menutup pintu kayu tersebut rapat-rapat dan berdiri kaku di dekat ambang pintu.Satria berjalan pelan, menarik sebuah kursi kayu tua yang berdebu lalu mendudukinya tepat di hadapan Budhe Murni. Ia menyilangkan kaki, menyandarkan punggungnya dengan santai. Tak ada senyum, tak ada amarah yang meledak-l
“Jadi itu memang kamu?” Bramantyo menjawab Nismara dengan pertanyaan.“Iya…aku yakin kamu tahu kalau tanda itu dariku” jawab Nismara dengan ritme yang cepat seolah takut ketahuan.Bramantyo mengangguk perlahan. Tatapannya meneliti Nismara dari kepala hingga ujung kaki, menyadari raut pucat yang masih berbekas di wajah gadis itu."Kenapa kamu melakukan ini, Nismara?" bisik Bramantyo dengan kening berkerut. "Aku kan sudah bilang... tunggu sebentar lagi. Aku akan menjemputmu secara baik-baik dengan cara yang benar."“Cara yang benar? Aku tidak tahu bagaimana cara yang benar itu? Dua puluh satu tahun aku hidup di tengah hutan dan tidak pernah bertemu manusia, menurutmu apa aku mengerti?” cecar Nismara tidak sabar dan emosional.“Nismara…Bukan itu maksudku, aku turut prihatin dengan apa yang menimpamu..” Bramantyo mencoba menenangkan.Nismara menarik napas panjang. Sikap tenang dan serba tertata yang ditunjukkan Bramantyo justru membuat Nismara semakin tidak sabar."Aku hanya butuh bantuan
Satria turun dari peraduan, melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil selembar handuk kecil dan membasahinya dengan air hangat. Kembali ke sisi ranjang, ia menyeka lembut sisa-sisa cairan hangat miliknya yang menempel di atas kulit perut Nismara."Ndoro Den… tidak perlu, saya bisa bersihkan sendiri," bisik Nismara halus, berniat mengambil handuk itu dari tangan Satria.Satria tersenyum tipis, menahan gerakan tangan Nismara. "Kamu baru saja pulih, tidak usah banyak bergerak dulu."Ia meraih kemeja putih miliknya dari atas kursi, menyarungkannya ke tubuh Nismara lalu mengancingkannya satu per satu. Kemeja itu tampak kebesaran, menutupi paha Nismara dengan longgar."Istirahatlah," ucap Satria, mengusap puncak kepala Nismara dengan lembut. "Aku harus pergi sebentar untuk menyelesaikan satu urusan. Begitu selesai, aku akan langsung kembali ke sini."Nismara mengangguk pelan tanpa menyela.Pandangannya tertuju lurus pada punggung Satria hingga pria itu menghilang di balik pintu yang tert
Nismara mengangguk perlahan. Gerakan kepalanya begitu pelan, menunjukkan sebuah kepasrahan yang terbit sepenuh hati dari dalam dadanya.Satria menatap mata jernih itu sejenak, memastikan tak ada keraguan tersisa di sana. Dengan gerakan lambat yang hampir terasa seperti siksaan berbalut kelembutan, tangan besar Satria menyusup ke bawah hem baju longgar yang dikenakan Nismara. Ia menyingkap kain tipis itu ke atas secara perlahan, melewati perut yang masih terasa dingin, hingga terangkat penuh melewati kepalanya.Tubuh bagian atas Nismara terekspos sepenuhnya di remang cahaya pagi. Satria bergeming sejenak, mengagumi lekuk ringkih yang kini pasrah di bawah kukungannya. Tanpa memberi jeda terlalu lama untuk rasa canggung, Satria kembali menunduk, meraup bibir Nismara yang masih terasa panas dan basah.Ciuman itu lebih dalam. Di saat yang sama, telapak tangan hangat Satria merayap naik, meremas lembut payudara Nismara dengan tekanan yang terukur. Ibu jarinya mengusap melingkar di puncakny
Satria duduk di tepi ranjang, membelai pelan rambut halus Nismara yang terurai di atas bantal. Suhu badan Nismara sudah kembali normal, tak lagi panas seperti semalam."Bagaimana keadaanmu?" tanya Satria rendah. "Sudah jauh enakan?"Nismara mengangguk perlahan. Pandangannya bergulir ke bawah, menatap selang bening yang masih menempel di punggung tangannya."Apa... ini bisa diambil, Ndoro Den?" tanyanya pelan. Tubuhnya terasa risih dan terbatas tiap kali hendak bergerak."Nanti," sahut Satria lembut, mengusap punggung tangan Nismara yang tidak terpasang jarum. "Tunggu Dokter Tirto datang melepasnya. Jangan ditarik sendiri."“Saya lapar…” ucap Nismara. Satria terkekeh, dia berdiri kembali keluar kamar dan tak lama kembali dengan nampan berisi makanan. Membantu Nismara duduk kemudian menyuapi bubur sedikit demi sedikit. Karena lapar Nismara makan lebih banyak.“Begini bagus….biar cepat pulih” gumam Satria mengelap pinggir bibir Nismara dengan jarinya. Usai mangkuk bubur itu kosong, ketu
Semalaman Satria tidak beranjak dari sisi ranjang Nismara. Ia duduk di kursi kayu berukir, memandangi wajah pucat yang kini tampak begitu ringkih. Sesekali jarinya mengambil kompres di dahi Nismara yang mulai mengering, membasahinya kembali di mangkuk air dingin, lalu menempelkannya perlahan. Sebuah hal yang tidak pernah ia lakukan sama sekali selama tiga puluh satu tahun hidup.Suara tetesan cairan infus menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi keheningan kamar. Setiap kali Nismara melenguh atau menggerakkan jemarinya dalam tidur gelisah, Satria menggenggam jemari dingin itu, mengusapnya pelan."Kamu selalu bilang dirimu cuma pelayan, Nismara," gumam Satria pelan, suaranya nyaris seperti hembusan napas yang memecah kesunyian. Pandangannya tak lepas dari kelopak mata Nismara yang tertutup rapat. "Selalu merasa dirimu tidak punya harga, perempuan bisu yang bisa dibuang kapan saja."Ibu jari Satria mengusap lambat punggung tangan Nismara yang terbebas dari jarum infus."Kamu tidak tahu,







