Home / Romansa / Pengganti Ranjang Ndoro / Jangan Jatuh Cinta

Share

Jangan Jatuh Cinta

Author: Strawberry
last update publish date: 2026-08-10 17:51:00

Nismara terdiam. Lidahnya kelu. Ia bahkan tak tahu berapa besar utang yang sebenarnya menjerat keluarganya. Setelah menatap Satria beberapa saat, ia hanya mampu menggeleng pelan.

Satria menghela napas. Tatapannya jatuh pada jemari Nismara yang gemetar, lalu menyadari setetes air mata telah mengalir di pipinya.

Dengan napas berat, Satria mengusap air mata itu menggunakan ibu jarinya.

“Cukup untuk malam ini,” bisiknya parau. “Katakan pada istriku, kamu sudah melayaniku.”

Air mata Nismara kembali jatuh. Ia tak menyangka Satria akan memperlakukannya seperti itu.

Namun, kelegaan itu tak bertahan lama.

Jika Satria tidak benar-benar menyentuhnya, apa yang harus ia katakan kepada Prameswari? Bagaimana jika kebohongan itu terbongkar dan harapannya untuk terbebas bersama keluarganya kembali pupus?

Satria memperhatikan wajah Nismara yang masih diliputi kebingungan. “Ada apa?”

Bibir Nismara terbuka, tetapi tak ada suara yang keluar. Ia akhirnya menunjuk buku panduan di meja, lalu menyentuh lehernya sendiri sebelum menunduk malu.

Satria mengikuti arah pandangannya. Di salah satu halaman, terdapat gambar-gambar yang menunjukkan tanda-tanda setelah seorang wanita menjalankan kewajibannya. Seketika, ia memahami maksud Nismara.

“Kamu benar,” ucapnya pelan. “Aku akan memberimu bukti untuk ditunjukkan kepada istriku.”

Satria mendekat, membuat napas Nismara seketika tertahan.

Sebelum melakukan apa yang diperlukan, pria itu berbisik lirih, “Maaf.”

**

Pagi harinya, Nismara keluar dari kamar utama dengan langkah perlahan. 

Gaun tidur tipisnya agak melorot di bahunya, secara tak sengaja menyingkap ruam kemerahan yang begitu mencolok di leher dan tulang dadanya—sebuah tanda yang sengaja ditinggalkan Satria.

Sebelum sempat melangkah jauh ke lorong, Bude Murni mencegatnya dan membawa Nismara menuju ruang keluarga pribadi yang tertutup rapat.

Di dalam ruangan beraroma bunga melati itu, Prameswari sudah duduk anggun di sofa jati. Saat pintu terbuka dan matanya menangkap bercak merah di kulit halus Nismara, Prameswari langsung  menghentikan gerakannya. 

Jemarinya yang memegang cangkir teh mengetat. Cemburu. 

"Tutup pintunya, Bude," perintah Prameswari dingin, tanpa mengalihkan pandangan dari tubuh Nismara.

Bude Murni menurut dan segera mengunci pintu dari luar, meninggalkan mereka berdua dalam keheningan yang mencekik.

Prameswari bangkit dari duduknya. Dengan langkah perlahan namun mengintimidasi, ia mendekati Nismara. Tangannya mencengkeram dagu Nismara kuat-kuat, memaksa gadis itu menengadah.

"Apa kamu menikmatinya?" tanya Prameswari dengan nada berbisik, namun penuh penekanan. "Jawab aku! Apa kamu menyukai sentuhan suamiku?"

Nismara menelan ludah payah, cengkeraman di dagunya terasa begitu menyakitkan. 

"Ti—tidak, Ndoro Ayu... Saya... saya hanya menjalankan tugas dari Ndoro Ayu..." jawab Nismara terbata-bata, suaranya bergetar.

Prameswari menatap bercak merah di leher Nismara dengan tatapan jijik bercampur dengki, lalu melepaskan cengkeramannya secara kasar hingga kepala Nismara terlempar sedikit ke samping.

"Bagus kalau kamu sadar diri!" Prameswari mengusap jemarinya dengan sapu tangan, seolah habis menyentuh hal yang kotor. 

"Dengar baik-baik, Nismara. Kamu di sini jangan main perasaan atau berharap lebih. Kamu cuma alat! Keluarga Sasmita hanya membutuhkan tubuhmu untuk suamiku selama aku tidak bisa melayaninya. 

Jangan pernah sekali-kali berpikiran untuk menyukai suamiku, apalagi berusaha merayunya!”

Prameswari mendekatkan wajahnya ke telinga Nismara, memberikan peringatan yang membuat darah Nismara bergidik ngeri.

"Ingat, di depan suamiku kamu hanya pelayan bisu!. Kalau sampai aku tahu kamu berniat mencuri hatinya atau berani bersuara di depannya tanpa izin dariku... aku tidak akan segan-segan benar-benar memotong lidahmu. Paham?!"

"Paham... Ndoro Ayu... Saya paham..." bisik Nismara pasrah, menunduk dalam-dalam menyembunyikan getar ketakutannya.

"Sekarang ganti pakaianmu dan siapkan sarapan!" pangkas Prameswari tajam.

Beberapa saat kemudian di ruang makan, Satria berjalan keluar dari kamar dengan pakaian kerja yang rapi dan aroma wangi maskulin yang khas. 

Prameswari yang berada di meja makan langsung menyambut suaminya dengan senyuman manis, seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya.

"Pagi, Mas... Bagaimana tidurmu semalam?" tanya Prameswari manja seraya menuangkan kopi ke cangkir Satria. Ia lalu melirik Nismara yang sedang berdiri menunduk di sudut ruangan. "Bagaimana dengan pelayan yang kukirim semalam? Apa dia melayanimu dengan baik?"

Satria menyesap kopi hitamnya yang masih berasap dengan santai. Pandangannya bergeser sekilas ke arah Nismara yang berdiri kaku di dekat meja, sibuk menuangkan teh hangat ke dalam cangkir Prameswari dengan jemari yang masih sedikit bergetar.

"Biasa saja. Dingin dan hambar," ucap Satria datar, meletakkan cangkir kopinya kembali ke atas tatakan porselen dengan berdenting pelan.

 "Dia tidak tahu teknik apa pun dan sangat kurang pengalaman."

Mendengar jawaban suaminya, binar tegang di wajah Prameswari meluruh seketika, berganti senyum lega yang amat puas. Rasa cemburu yang sempat membakar dadanya luruh tanpa sisa.

"Yang penting kebutuhanmu tersalurkan, Mas..." bisik Prameswari lirih, mengusap punggung tangan suaminya dengan penuh kasih. "Maafkan aku... gara-gara kehamilan ini, aku jadi tidak bisa—"

"Tapi aku mau dia melayaniku lagi malam ini," potong Satria tenang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Rahasia Lain

    Hujan gerimis mulai membasahi dedaunan lebat di sekitar gubuk tengah hutan. Bau tanah basah beradu dengan aroma kayu lapuk dan kelembaban yang terkunci di dalam ruangan kecil itu.Di sudut ruangan yang remang-remang, Budhe Murni duduk bersimpuh di atas lantai papan. Kedua tangannya terikat kaku di belakang punggung. Tubuh tua itu gemetar, matanya yang sembab oleh air mata terus bergulir liar menatap pintu kayu yang terkunci rapat dari luar.Klek.Bunyi engsel kayu yang berderit memecah keheningan. Satria melangkah masuk dengan tenang. Ia menyapu pandangan ke sekeliling ruangan sebelum matanya tertuju lurus pada wanita tua yang makin menciut di sudut.Di belakangnya, Sastro menyusul masuk, menutup pintu kayu tersebut rapat-rapat dan berdiri kaku di dekat ambang pintu.Satria berjalan pelan, menarik sebuah kursi kayu tua yang berdebu lalu mendudukinya tepat di hadapan Budhe Murni. Ia menyilangkan kaki, menyandarkan punggungnya dengan santai. Tak ada senyum, tak ada amarah yang meledak-l

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Benar-Benar Kabur

    “Jadi itu memang kamu?” Bramantyo menjawab Nismara dengan pertanyaan.“Iya…aku yakin kamu tahu kalau tanda itu dariku” jawab Nismara dengan ritme yang cepat seolah takut ketahuan.Bramantyo mengangguk perlahan. Tatapannya meneliti Nismara dari kepala hingga ujung kaki, menyadari raut pucat yang masih berbekas di wajah gadis itu."Kenapa kamu melakukan ini, Nismara?" bisik Bramantyo dengan kening berkerut. "Aku kan sudah bilang... tunggu sebentar lagi. Aku akan menjemputmu secara baik-baik dengan cara yang benar."“Cara yang benar? Aku tidak tahu bagaimana cara yang benar itu? Dua puluh satu tahun aku hidup di tengah hutan dan tidak pernah bertemu manusia, menurutmu apa aku mengerti?” cecar Nismara tidak sabar dan emosional.“Nismara…Bukan itu maksudku, aku turut prihatin dengan apa yang menimpamu..” Bramantyo mencoba menenangkan.Nismara menarik napas panjang. Sikap tenang dan serba tertata yang ditunjukkan Bramantyo justru membuat Nismara semakin tidak sabar."Aku hanya butuh bantuan

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Jejak

    Satria turun dari peraduan, melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil selembar handuk kecil dan membasahinya dengan air hangat. Kembali ke sisi ranjang, ia menyeka lembut sisa-sisa cairan hangat miliknya yang menempel di atas kulit perut Nismara."Ndoro Den… tidak perlu, saya bisa bersihkan sendiri," bisik Nismara halus, berniat mengambil handuk itu dari tangan Satria.Satria tersenyum tipis, menahan gerakan tangan Nismara. "Kamu baru saja pulih, tidak usah banyak bergerak dulu."Ia meraih kemeja putih miliknya dari atas kursi, menyarungkannya ke tubuh Nismara lalu mengancingkannya satu per satu. Kemeja itu tampak kebesaran, menutupi paha Nismara dengan longgar."Istirahatlah," ucap Satria, mengusap puncak kepala Nismara dengan lembut. "Aku harus pergi sebentar untuk menyelesaikan satu urusan. Begitu selesai, aku akan langsung kembali ke sini."Nismara mengangguk pelan tanpa menyela.Pandangannya tertuju lurus pada punggung Satria hingga pria itu menghilang di balik pintu yang tert

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Cinta Apa Balas Budi?

    Nismara mengangguk perlahan. Gerakan kepalanya begitu pelan, menunjukkan sebuah kepasrahan yang terbit sepenuh hati dari dalam dadanya.Satria menatap mata jernih itu sejenak, memastikan tak ada keraguan tersisa di sana. Dengan gerakan lambat yang hampir terasa seperti siksaan berbalut kelembutan, tangan besar Satria menyusup ke bawah hem baju longgar yang dikenakan Nismara. Ia menyingkap kain tipis itu ke atas secara perlahan, melewati perut yang masih terasa dingin, hingga terangkat penuh melewati kepalanya.Tubuh bagian atas Nismara terekspos sepenuhnya di remang cahaya pagi. Satria bergeming sejenak, mengagumi lekuk ringkih yang kini pasrah di bawah kukungannya. Tanpa memberi jeda terlalu lama untuk rasa canggung, Satria kembali menunduk, meraup bibir Nismara yang masih terasa panas dan basah.Ciuman itu lebih dalam. Di saat yang sama, telapak tangan hangat Satria merayap naik, meremas lembut payudara Nismara dengan tekanan yang terukur. Ibu jarinya mengusap melingkar di puncakn

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Dekapan Hangat

    Satria duduk di tepi ranjang, membelai pelan rambut halus Nismara yang terurai di atas bantal. Suhu badan Nismara sudah kembali normal, tak lagi panas seperti semalam."Bagaimana keadaanmu?" tanya Satria rendah. "Sudah jauh enakan?"Nismara mengangguk perlahan. Pandangannya bergulir ke bawah, menatap selang bening yang masih menempel di punggung tangannya."Apa... ini bisa diambil, Ndoro Den?" tanyanya pelan. Tubuhnya terasa risih dan terbatas tiap kali hendak bergerak."Nanti," sahut Satria lembut, mengusap punggung tangan Nismara yang tidak terpasang jarum. "Tunggu Dokter Tirto datang melepasnya. Jangan ditarik sendiri."“Saya lapar…” ucap Nismara. Satria terkekeh, dia berdiri kembali keluar kamar dan tak lama kembali dengan nampan berisi makanan. Membantu Nismara duduk kemudian menyuapi bubur sedikit demi sedikit. Karena lapar Nismara makan lebih banyak.“Begini bagus….biar cepat pulih” gumam Satria mengelap pinggir bibir Nismara dengan jarinya. Usai mangkuk bubur itu kosong, ketu

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Enggan Membuka Mulut

    Semalaman Satria tidak beranjak dari sisi ranjang Nismara. Ia duduk di kursi kayu berukir, memandangi wajah pucat yang kini tampak begitu ringkih. Sesekali jarinya mengambil kompres di dahi Nismara yang mulai mengering, membasahinya kembali di mangkuk air dingin, lalu menempelkannya perlahan. Sebuah hal yang tidak pernah ia lakukan sama sekali selama tiga puluh satu tahun hidup.Suara tetesan cairan infus menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi keheningan kamar. Setiap kali Nismara melenguh atau menggerakkan jemarinya dalam tidur gelisah, Satria menggenggam jemari dingin itu, mengusapnya pelan."Kamu selalu bilang dirimu cuma pelayan, Nismara," gumam Satria pelan, suaranya nyaris seperti hembusan napas yang memecah kesunyian. Pandangannya tak lepas dari kelopak mata Nismara yang tertutup rapat. "Selalu merasa dirimu tidak punya harga, perempuan bisu yang bisa dibuang kapan saja."Ibu jari Satria mengusap lambat punggung tangan Nismara yang terbebas dari jarum infus."Kamu tidak tahu,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status