เข้าสู่ระบบSatria menatap jemari Nismara yang gemetar di atas dadanya. Ia bisa merasakan gairahnya sendiri sudah berada di ambang batas, namun kepasrahan dan sisa ketakutan yang tersirat di mata gadis itu membuat nuraninya menang.
Dengan napas berat yang tertahan, Satria mengusap sisa air mata di pipi Nismara menggunakan ibu jarinya.
"Cukup untuk malam ini," bisik Satria parau.”Katakan pada istriku, kamu sudah melayaniku” mendengar kalimat itu air mata Nismara menetes kembali.
Satria menarik kain selimut sutra untuk menutupi tubuh Nismara yang terekspos, lalu bangkit berdiri. Tanpa menoleh lagi, Satria melangkah menuju kamar mandi.
Pagi harinya, Nismara keluar dari kamar utama dengan langkah perlahan.
Gaun tidur tipisnya agak melorot di bahunya, secara tak sengaja menyingkap ruam kemerahan yang begitu mencolok di leher dan tulang dadanya—sebuah tanda yang sengaja ditinggalkan Satria.
Sebelum sempat melangkah jauh ke lorong, Bude Murni mencegatnya dan membawa Nismara menuju ruang keluarga pribadi yang tertutup rapat.
Di dalam ruangan beraroma bunga melati itu, Prameswari sudah duduk anggun di sofa jati. Saat pintu terbuka dan matanya menangkap bercak merah di kulit halus Nismara, Prameswari langsung menghentikan gerakannya.
Jemarinya yang memegang cangkir teh mengetat. Cemburu.
"Tutup pintunya, Bude," perintah Prameswari dingin, tanpa mengalihkan pandangan dari tubuh Nismara.
Bude Murni menurut dan segera mengunci pintu dari luar, meninggalkan mereka berdua dalam keheningan yang mencekik.
Prameswari bangkit dari duduknya. Dengan langkah perlahan namun mengintimidasi, ia mendekati Nismara. Tangannya mencengkeram dagu Nismara kuat-kuat, memaksa gadis itu menengadah.
"Apa kamu menikmatinya?" tanya Prameswari dengan nada berbisik, namun penuh penekanan. "Jawab aku! Apa kamu menyukai sentuhan suamiku?"
Nismara menelan ludah payah, cengkeraman di dagunya terasa begitu menyakitkan.
"Ti—tidak, Ndoro Ayu... Saya... saya hanya menjalankan tugas dari Ndoro Ayu..." jawab Nismara terbata-bata, suaranya bergetar.
Prameswari menatap bercak merah di leher Nismara dengan tatapan jijik bercampur dengki, lalu melepaskan cengkeramannya secara kasar hingga kepala Nismara terlempar sedikit ke samping.
"Bagus kalau kamu sadar diri!" Prameswari mengusap jemarinya dengan sapu tangan, seolah habis menyentuh hal yang kotor.
"Dengar baik-baik, Nismara. Kamu di sini jangan main perasaan atau berharap lebih. Kamu cuma alat! Keluarga Sasmita hanya membutuhkan tubuhmu untuk suamiku selama aku tidak bisa melayaninya.
Jangan pernah sekali-kali berpikiran untuk menyukai suamiku, apalagi berusaha merayunya!”
Prameswari mendekatkan wajahnya ke telinga Nismara, memberikan peringatan yang membuat darah Nismara bergidik ngeri.
"Ingat, di depan suamiku kamu hanya pelayan bisu!. Kalau sampai aku tahu kamu berniat mencuri hatinya atau berani bersuara di depannya tanpa izin dariku... aku tidak akan segan-segan benar-benar memotong lidahmu. Paham?!"
"Paham... Ndoro Ayu... Saya paham..." bisik Nismara pasrah, menunduk dalam-dalam menyembunyikan getar ketakutannya.
"Sekarang ganti pakaianmu dan siapkan sarapan!" pangkas Prameswari tajam.
Beberapa saat kemudian di ruang makan, Satria berjalan keluar dari kamar dengan pakaian kerja yang rapi dan aroma wangi maskulin yang khas.
Prameswari yang berada di meja makan langsung menyambut suaminya dengan senyuman manis, seolah tak terjadi apa-apa sebelumnya.
"Pagi, Mas... Bagaimana tidurmu semalam?" tanya Prameswari manja seraya menuangkan kopi ke cangkir Satria. Ia lalu melirik Nismara yang sedang berdiri menunduk di sudut ruangan. "Bagaimana dengan pelayan yang kukirim semalam? Apa dia melayanimu dengan baik?"
Satria menyesap kopi hitamnya yang masih berasap dengan santai. Pandangannya bergeser sekilas ke arah Nismara yang berdiri kaku di dekat meja, sibuk menuangkan teh hangat ke dalam cangkir Prameswari dengan jemari yang masih sedikit bergetar.
"Biasa saja. Dingin dan hambar," ucap Satria datar, meletakkan cangkir kopinya kembali ke atas tatakan porselen dengan berdenting pelan.
"Dia tidak tahu teknik apa pun dan sangat kurang pengalaman."
Mendengar jawaban suaminya, binar tegang di wajah Prameswari meluruh seketika, berganti senyum lega yang amat puas. Rasa cemburu yang sempat membakar dadanya luruh tanpa sisa.
"Yang penting kebutuhanmu tersalurkan, Mas..." bisik Prameswari lirih, mengusap punggung tangan suaminya dengan penuh kasih. "Maafkan aku... gara-gara kehamilan ini, aku jadi tidak bisa—"
"Tapi aku mau dia melayaniku lagi malam ini," potong Satria tenang.
"Nismara! Nismara!"Seorang pelayan muda berusia belasan tahun berlari terengah-engah menghampiri mereka. Begitu menyadari keberadaan Satria di samping Nismara, langkahnya mendadak kaku. Gadis itu terburu-buru membungkukkan badan dalam-dalam, tak berani mengangkat wajahnya sedikit pun."Ndoro Den... maaf, Nismara dicari Ndoro Ayu di kamar mandi," ucap pelayan itu dengan suara gemetar."Hmm," Satria merespons singkat. Tatapannya beralih menatap Nismara. "Setelah membantu istriku, temui aku di ruang baca."Kepanikan seketika menyengat dada Nismara. Gerakan tangannya terangkat panik, memperagakan bahasa isyarat dengan cepat—isyarat sederhana yang belakangan mulai dipahami Satria.‘Jangan, Ndoro Den... Saya bersedia melakukan apa saja, asal jangan buat saya bermasalah dengan Ndoro Ayu.’"Kamu tidak usah khawatir," potong Satria tenang. "Aku hanya ingin bicara tentang Haryo Kalingga. Ayahmu."Mata Nismara membulat sempurna. Nama ayahnya langsung mengunci seluruh persendiannya. Ada apa sebe
"Istriku menugaskanmu di sini?"Nismara tersentak kaget. Untung saja ia tidak sedang bersenandung lirih saat mengelap daun dan kelopak bunga di taman belakang ini. Jika Satria sampai mendengar suaranya, ancaman Prameswari untuk memotong lidahnya benar-benar bisa jadi kenyataan.Pagi itu Nismara sedang menyirami dan merawat tanaman hias. Selain karena memang suka bunga, pekerjaan ini adalah jalannya untuk menghindar agar tidak terus-terusan bertatap muka dengan Satria. Harusnya, ia hanya perlu berhadapan dengan pria itu saat melayaninya di kamar.Dia langsung memutar kepalanya, melihat ke kanan dan ke kiri takut kalau ada pelayan lain yang melihat, khususnya beberapa pelayan yang melayani Prameswari langsung.“Kenapa kamu tampak ketakutan? Apa kamu melakukan kesalahan?” tanya Satria menatap Nismara penuh selidik.“Tidak! Tidak! Saya tidak melakukan kesalahan apa-apa. Tapi saya tidak bisa bertemu dengan Ndoro Den di sini!” jawab Nismara dengan bahasa isyarat sebisanya, kakinya sedikit g
"Bu-Bude... kenapa tanya begitu?"Kepala Nismara tertunduk kian dalam. Kepanikan yang membuncah membuat dadanya kembang-kempis, mengabaikan denyut kebas yang masih menyengat di area sensitif di antara kedua pahanya.Lantas, kenapa jika ia menyerahkan kegadisannya malam ini? Bukankah itu memang tugas utamanya melayani sang tuan di atas ranjang? Malam ini mungkin dia bisa lolos, apakah malam berikutnya akan sama?Mustahil baginya untuk mempertahankan kehormatan satu-satunya itu di bawah tubuh perkasa Satria yang begitu dominan."Karena... aku tidak melihat jejaknya," jawab Bude Murni ketus seraya melempar kain basah ke dalam ember dengan kecipak air yang kencang.Mata wanita tua itu memicing, menatap air bilasan yang bersih tanpa warna pendarahan malam pertama. Ada helaan napas berat yang lolos dari bibirnya."Dengar, Nismara. Aku tidak bisa melindungimu terus-menerus. Kita di rumah ini cuma abdi, cuma budak! Turuti apa pun yang dikatakan Ndoro Ayu dan Ndoro Den, tidak ada bantahan!" te
Bab 07 Hanya BudakBrak!Pintu kamar mandi terbuka lebar, Budhe Murni yang berada di ambang pintu."Keluar kamu, Nismara!" suara Bude Murni terdengar panik dari balik pintu. "Nyonya Prameswari menyuruhmu minum jamu ini sekarang juga. Jangan sampai ada bibit haram yang tumbuh di rahimmu!"Nismara memejamkan mata erat-erat. Dengan tubuh gemetar dan hanya berbalut kain jarik basah, ia membuka pintu kamar mandi lebar.Bude Murni berdiri di sana memegang cangkir seng berisi racikan jamu pahit yang aromanya menyengat. Wanita tua itu langsung menyodorkannya ke hadapan Nismara dengan raut wajah tegang.Nismara menatap cairan hitam itu lama. Entah dari mana datangnya keberanian yang mendadak menyusup ke dadanya, Nismara menatap mata Bude Murni lurus."Memangnya kenapa kalau sampai aku hamil, Bude?" tanya Nismara tiba-tiba, suaranya parau dan bergetar.Bude Murni membelalak lebar, terkejut mendengar pertanyaan lancang itu."Lancang!" umpat Bude Murni seraya menempeleng bahu Nismara pelan. "Kamu
"Tugasmu sudah selesai, sekarang keluar! Jangan mengotori ranjangku!"Prameswari berdiri tegak di ambang pintu kamar yang setengah terbuka. Matanya menusuk lurus ke arah pembaringan.Di atas ranjang, jemari besar Satria menarik selimut sutra tebal, menutupi dada Nismara yang kembang-kempis. Pria itu beranjak turun tanpa terburu-buru, menarik celana sutranya naik membingkai pinggang. Dada bidangnya yang berpeluh dan penuh jejak pergulatan dibiarkan terbuka. Usai menyapu sisa peluh di pelipis, ia menyambar jubah tidur hitam di sisi ranjang, menyampirkannya di bahu, lantas menatap istrinya dengan sorot mata dingin teramat tenang. Nismara tersentak dengan kehadiran Prameswari, dia tidak menduga kalau perempuan itu bakal mendobrak masuk. Seluruh badannya membeku seketika. Dengan paha yang terasa gemetaran dan lemah, ia terburu-buru memeluk selimut rapat-rapat ke dadanya. Area bawah tubuhnya terasa perih dan panas, disusul lelehan hangat benih Satria yang perlahan merembes keluar membasa
"Aghh... Nismara..."Milik Satria berdenyut semakin keras di dalam bungkusan jemari Nismara. Erangan parau pria itu memecah keheningan kamar. “Le–lepas.” Namun, Nismara masih mencoba dan tak mau berhenti didorong oleh rasa takut jika Prameswari tahu dia masuk ke kamar ini tanpa melakukan apa-apa."Le–lepas, Nismara..." bisik Satria parau, menahan napasnya yang memburu tepat di depan bibir Nismara. "Lepas... kamu tidak tahu akan seperti apa jadinya kalau aku sampai hilang kendali." Tanpa peringatan, tangan perkasa Satria menyusup ke sela-sela rambut panjang Nismara, mencengkeramnya dengan tekanan yang menuntut namun tak menyakiti, memandu gerakan kepala gadis itu agar makin merapat ke tubuhnya.Nismara yang pada dasarnya masih sangat kaku dan awam, terus mencoba. Otaknya memutar ulang lembar-lembar ilustrasi dari buku erotis yang ia baca kemarin. Di sana tertulis ada titik-titik saraf di tubuh pria yang, jika diberi sentuhan atau tekanan yang tepat, tak akan sanggup ditolak oleh naf







