Mag-log in"Aghh... Nismara..."
Milik Satria berdenyut semakin keras di dalam bungkusan jemari Nismara. Erangan parau pria itu memecah keheningan kamar. “Le–lepas.”
Namun, Nismara masih mencoba dan tak mau berhenti didorong oleh rasa takut jika Prameswari tahu dia masuk ke kamar ini tanpa melakukan apa-apa.
"Le–lepas, Nismara..." bisik Satria parau, menahan napasnya yang memburu tepat di depan bibir Nismara. "Lepas... kamu tidak tahu akan seperti apa jadinya kalau aku sampai hilang kendali."
Tanpa peringatan, tangan perkasa Satria menyusup ke sela-sela rambut panjang Nismara, mencengkeramnya dengan tekanan yang menuntut namun tak menyakiti, memandu gerakan kepala gadis itu agar makin merapat ke tubuhnya.
Nismara yang pada dasarnya masih sangat kaku dan awam, terus mencoba. Otaknya memutar ulang lembar-lembar ilustrasi dari buku erotis yang ia baca kemarin.
Di sana tertulis ada titik-titik saraf di tubuh pria yang, jika diberi sentuhan atau tekanan yang tepat, tak akan sanggup ditolak oleh nafsu terliar sekalipun.
Nismara telah menemukannya—ibu jarinya terus mengusap dan menekan lembut bagian bawah poros keras Satria yang berdenyut panas di balik kain sutra.
Nismara tidak tahu apakah caranya ini benar atau salah. Ia hanya fokus memberikan kenikmatan secepat mungkin agar tugasnya selesai sebelum tenggat dua jam habis, lalu ia bisa keluar dari kamar ini dengan selamat.
Namun, usaha amatir yang dilandasi kepasrahan itu justru menghancurkan seluruh pertahanan Satria.
"Cukup, Nismara..." bisik Satria parau. Suaranya sudah tenggelam sepenuhnya oleh gairah.
Pria itu tak lagi sanggup menahan diri. Satria mencengkram pinggang kecil Nismara, lalu mengangkat tubuh ringkih gadis itu begitu mudah. Dalam satu gerakan sigap, Satria merebahkan Nismara di atas ranjang sutra yang dingin dan mengungkungnya di bawah naungan tubuh tegapnya.
Nismara menahan napas saat gaun tidur tipisnya disingkap kasar hingga menumpuk di atas dadanya. Udara dingin malam menyapa kulit telanjangnya, namun dingin itu seketika sirna digantikan oleh kehangatan membakar dari kulit Satria yang menempel ketat di atasnya.
Satria mulai bergerak liar. Bibir dan lidahnya yang panas menerpa leher Nismara, melumat kulit halus di sana, lalu merambat turun ke arah dadanya.
Jemari lebar Satria meremas, memilin, dan meraut puncak dadanya yang sudah mengeras tegang akibat dorongan gairah alami yang asing.
Nismara tersentak. Sensasi menyengat menjalar cepat dari puncaknya yang dipilin menuju area di antara kedua pahanya—membuat bagian bawah tubuhnya mendadak basah dan berdenyut hangat. Rangsangan itu terlalu intens untuk tubuh polos yang belum pernah tersentuh seperti dirinya.
"Mmmph!"
Nismara menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga rasa asin darah samar-samar mengecap di lidah. Ia menahan desahannya mati-matian. Bayangan ancaman Prameswari—tentang lidah yang dipotong jika ia meloloskan suara—membuatnya makin erat mengatupkan gigi, meski tenggorokannya rasanya hendak pecah.
Satria tak berhenti di situ. Tanpa melucuti pakaian dalam Nismara sepenuhnya, jemari panjang pria itu menyusup ke sela pahanya yang sudah terlumasi cairan alaminya sendiri. Ujung jari Satria menekan dan mengusap titik paling sensitif Nismara dengan ritme yang menuntut.
"Nngghh...!"
Nismara mendongak ekstrem. Tubuhnya melengkung kaku. Sensasi nikmat yang asing dan tajam bagai sengatan listrik menembus dasar perutnya, disusul rasa gila yang menghimpit seluruh organ tubuh bagian bawahnya. Air mata menetes otomatis dari sudut matanya.
Tak sanggup lagi menahan stimulasi jemari Satria yang kian cepat dan lihai—sambil mengingat ancaman Prameswari agar tidak meloloskan suara—Nismara refleks menarik leher Satria mendekat. Ia menancapkan giginya dalam-dalam di atas bahu kokoh pria itu, menggigit kulit tegap Satria kuat-kuat demi mengunci erangan dan tangisnya yang hendak pecah.
"Mmmpph..." lenguh Nismara tertahan.
"Berteriaklah, Nismara!" bisik Satria parau, tak memedulikan air mata Nismara yang meleleh menahan reaksi tubuhnya.
Satria tersentak pelan. Rasa sakit dari gigitan nekat itu justru bagai bensin yang menyiram gairah liarnya. Bukannya berhenti, jemari Satria justru bergerak makin dalam dan tempo gerakannya kian memburu, mempermainkan kewarasan Nismara di atas ranjang.
Baru dengan usapan tangannya saja Satria mampu membuatnya seseru ini, Nismara tak sanggup membayangkan betapa hancurnya ia jika keperkasaan pria itu yang benar-benar menembusnya nanti.
Satu tangan Nismara mencengkeram sprei sutra hingga kusut, sementara tangannya yang lain refleks terangkat meremas pinggang Satria, membiarkan giginya terus menekan bahu pria itu hingga meninggalkan jejak merah berdarah.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu yang keras dan tiba-tiba memecah kepungan gairah mereka.
"Mas? Kalian sudah selesai..." Suara Prameswari terdengar dari balik pintu, bernada dingin dan menuntut.
Jantung Nismara serasa berhenti berdetak. Sensasi panik membakar dadanya. Namun, ketukan itu justru membuat kewarasan Satria runtuh sepenuhnya. Sengatan risiko tertangkap basah membakar gairahnya ke tingkat tertinggi.
"Mas...?" Suara kenop pintu mulai terputar dari luar.
Gerakan jemari Satria di area intim Nismara mendadak makin liar dan menekan tajam. Nismara membelalak, tubuhnya gemetar hebat dihantam gelombang kenikmatan gila yang meledak bersamaan dengan rasa takut. Ia menggigit bahu Satria makin dalam.
"Mmmphh...!"
Tubuh Nismara melengkung ekstrem saat puncak pelepasan menghantamnya tanpa ampun. Di detik yang sama, gigitan tajam Nismara serta guncangan hebat tubuh gadis itu memicu pelepasan Satria sendiri.
Satria mengerang rendah di ceruk leher Nismara, menumpahkan cairan gairahnya di atas perut dan gaun Nismara seiring tubuh mereka yang saling menekan erat dalam pelepasan yang intens—tepat saat pintu kamar terdorong terbuka!
Cklek.
"Mas Satria—"
Prameswari melangkah masuk. Namun sebelum matanya sempat menangkap pemandangan di atas ranjang, Satria dengan refleks kilat menarik selimut sutra tebal menutupi seluruh tubuh Nismara, lalu menyandarkan tubuhnya sendiri yang bertelanjang dada di atas Nismara untuk menyembunyikan gadis itu sepenuhnya.
Nismara yang berada di bawah kungkungan tubuh tegap Satria hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat. Dadanya naik-turun memburu, napasnya tersengal, dengan jejak keringat dan kebasahan di sela pahanya yang terasa begitu nyata—di hadapan Prameswari yang kini berdiri mematung di ambang pintu dengan wajah tegang.
"Nismara! Nismara!"Seorang pelayan muda berusia belasan tahun berlari terengah-engah menghampiri mereka. Begitu menyadari keberadaan Satria di samping Nismara, langkahnya mendadak kaku. Gadis itu terburu-buru membungkukkan badan dalam-dalam, tak berani mengangkat wajahnya sedikit pun."Ndoro Den... maaf, Nismara dicari Ndoro Ayu di kamar mandi," ucap pelayan itu dengan suara gemetar."Hmm," Satria merespons singkat. Tatapannya beralih menatap Nismara. "Setelah membantu istriku, temui aku di ruang baca."Kepanikan seketika menyengat dada Nismara. Gerakan tangannya terangkat panik, memperagakan bahasa isyarat dengan cepat—isyarat sederhana yang belakangan mulai dipahami Satria.‘Jangan, Ndoro Den... Saya bersedia melakukan apa saja, asal jangan buat saya bermasalah dengan Ndoro Ayu.’"Kamu tidak usah khawatir," potong Satria tenang. "Aku hanya ingin bicara tentang Haryo Kalingga. Ayahmu."Mata Nismara membulat sempurna. Nama ayahnya langsung mengunci seluruh persendiannya. Ada apa sebe
"Istriku menugaskanmu di sini?"Nismara tersentak kaget. Untung saja ia tidak sedang bersenandung lirih saat mengelap daun dan kelopak bunga di taman belakang ini. Jika Satria sampai mendengar suaranya, ancaman Prameswari untuk memotong lidahnya benar-benar bisa jadi kenyataan.Pagi itu Nismara sedang menyirami dan merawat tanaman hias. Selain karena memang suka bunga, pekerjaan ini adalah jalannya untuk menghindar agar tidak terus-terusan bertatap muka dengan Satria. Harusnya, ia hanya perlu berhadapan dengan pria itu saat melayaninya di kamar.Dia langsung memutar kepalanya, melihat ke kanan dan ke kiri takut kalau ada pelayan lain yang melihat, khususnya beberapa pelayan yang melayani Prameswari langsung.“Kenapa kamu tampak ketakutan? Apa kamu melakukan kesalahan?” tanya Satria menatap Nismara penuh selidik.“Tidak! Tidak! Saya tidak melakukan kesalahan apa-apa. Tapi saya tidak bisa bertemu dengan Ndoro Den di sini!” jawab Nismara dengan bahasa isyarat sebisanya, kakinya sedikit g
"Bu-Bude... kenapa tanya begitu?"Kepala Nismara tertunduk kian dalam. Kepanikan yang membuncah membuat dadanya kembang-kempis, mengabaikan denyut kebas yang masih menyengat di area sensitif di antara kedua pahanya.Lantas, kenapa jika ia menyerahkan kegadisannya malam ini? Bukankah itu memang tugas utamanya melayani sang tuan di atas ranjang? Malam ini mungkin dia bisa lolos, apakah malam berikutnya akan sama?Mustahil baginya untuk mempertahankan kehormatan satu-satunya itu di bawah tubuh perkasa Satria yang begitu dominan."Karena... aku tidak melihat jejaknya," jawab Bude Murni ketus seraya melempar kain basah ke dalam ember dengan kecipak air yang kencang.Mata wanita tua itu memicing, menatap air bilasan yang bersih tanpa warna pendarahan malam pertama. Ada helaan napas berat yang lolos dari bibirnya."Dengar, Nismara. Aku tidak bisa melindungimu terus-menerus. Kita di rumah ini cuma abdi, cuma budak! Turuti apa pun yang dikatakan Ndoro Ayu dan Ndoro Den, tidak ada bantahan!" te
Bab 07 Hanya BudakBrak!Pintu kamar mandi terbuka lebar, Budhe Murni yang berada di ambang pintu."Keluar kamu, Nismara!" suara Bude Murni terdengar panik dari balik pintu. "Nyonya Prameswari menyuruhmu minum jamu ini sekarang juga. Jangan sampai ada bibit haram yang tumbuh di rahimmu!"Nismara memejamkan mata erat-erat. Dengan tubuh gemetar dan hanya berbalut kain jarik basah, ia membuka pintu kamar mandi lebar.Bude Murni berdiri di sana memegang cangkir seng berisi racikan jamu pahit yang aromanya menyengat. Wanita tua itu langsung menyodorkannya ke hadapan Nismara dengan raut wajah tegang.Nismara menatap cairan hitam itu lama. Entah dari mana datangnya keberanian yang mendadak menyusup ke dadanya, Nismara menatap mata Bude Murni lurus."Memangnya kenapa kalau sampai aku hamil, Bude?" tanya Nismara tiba-tiba, suaranya parau dan bergetar.Bude Murni membelalak lebar, terkejut mendengar pertanyaan lancang itu."Lancang!" umpat Bude Murni seraya menempeleng bahu Nismara pelan. "Kamu
"Tugasmu sudah selesai, sekarang keluar! Jangan mengotori ranjangku!"Prameswari berdiri tegak di ambang pintu kamar yang setengah terbuka. Matanya menusuk lurus ke arah pembaringan.Di atas ranjang, jemari besar Satria menarik selimut sutra tebal, menutupi dada Nismara yang kembang-kempis. Pria itu beranjak turun tanpa terburu-buru, menarik celana sutranya naik membingkai pinggang. Dada bidangnya yang berpeluh dan penuh jejak pergulatan dibiarkan terbuka. Usai menyapu sisa peluh di pelipis, ia menyambar jubah tidur hitam di sisi ranjang, menyampirkannya di bahu, lantas menatap istrinya dengan sorot mata dingin teramat tenang. Nismara tersentak dengan kehadiran Prameswari, dia tidak menduga kalau perempuan itu bakal mendobrak masuk. Seluruh badannya membeku seketika. Dengan paha yang terasa gemetaran dan lemah, ia terburu-buru memeluk selimut rapat-rapat ke dadanya. Area bawah tubuhnya terasa perih dan panas, disusul lelehan hangat benih Satria yang perlahan merembes keluar membasa
"Aghh... Nismara..."Milik Satria berdenyut semakin keras di dalam bungkusan jemari Nismara. Erangan parau pria itu memecah keheningan kamar. “Le–lepas.” Namun, Nismara masih mencoba dan tak mau berhenti didorong oleh rasa takut jika Prameswari tahu dia masuk ke kamar ini tanpa melakukan apa-apa."Le–lepas, Nismara..." bisik Satria parau, menahan napasnya yang memburu tepat di depan bibir Nismara. "Lepas... kamu tidak tahu akan seperti apa jadinya kalau aku sampai hilang kendali." Tanpa peringatan, tangan perkasa Satria menyusup ke sela-sela rambut panjang Nismara, mencengkeramnya dengan tekanan yang menuntut namun tak menyakiti, memandu gerakan kepala gadis itu agar makin merapat ke tubuhnya.Nismara yang pada dasarnya masih sangat kaku dan awam, terus mencoba. Otaknya memutar ulang lembar-lembar ilustrasi dari buku erotis yang ia baca kemarin. Di sana tertulis ada titik-titik saraf di tubuh pria yang, jika diberi sentuhan atau tekanan yang tepat, tak akan sanggup ditolak oleh naf







