Share

Pulang

Author: Strawberry
last update publish date: 2026-08-21 06:26:38

“Nismara Kalingga, kenapa nasibmu buruk sekali, Nduk…” ujar Mbok Nem sambil mengoleskan obat-obatan herbal di tubuhnya.

“Aduh, aduh… Mbok, pelan-pelan… Ini sakit sekali, jangan terlalu ditekan…” Nismara menahan sakit sambil meringis. Lelehan air mata menetes di pipinya yang pucat.

Mbok Nem menatap Nismara dengan pandangan kasihan, lalu menggelengkan kepalanya pelan.

“Sebagai abdi dalem, kita itu harus selalu nurut sama tuan kita. Kalau tidak, ya begini seperti kamu. Bisa-bisa habis tubuh kurus
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Umpan

    Langkah kaki Prameswari menerobos masuk ke dalam kamar pelayan di sudut belakang rumah utama. Budhe Murni yang sedang merapikan kain langsung menjatuhkan diri, berlutut di atas lantai semen yang dingin. Wanita paruh baya itu hafal betul temperamen Ndoro Ayu-nya—jika Prameswari sampai sudi melangkah ke biliknya begini, artinya ada badai besar yang siap menghantam."Kenapa harus berlutut? Bangunlah… aku hanya ingin mengobrol sebentar denganmu," ucap Prameswari sembari mengibaskan jemarinya pelan.Budhe Murni tak lantas percaya. Ia mendongak ragu, menatap raut wajah Prameswari yang terpoles senyum tipis."Apa aku sejahat itu sampai kamu harus sebegini takutnya?" sindir Prameswari ringan."Ti-tidak, Ndoro Ayu…" jawab Budhe Murni menyembunyikan getar suaranya. Dalam hati, wanita tua itu paham betul betapa licik dan kejamnya wanita di hadapannya ini.Prameswari duduk di tepi bangku kayu kecil, mengusap lipatan kebaya sutranya dengan anggun. "Budhe… sebetulnya belakangan ini aku memikirkan N

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Saat Kebebasan Bukan Lagi Jalan Keluar

    Nismara duduk di atas ranjang dengan kedua kaki ditekuk merapat ke dada, menyandarkan keningnya di atas lutut. Beberapa kali ia menarik napas panjang, mencoba mengurai beban berat yang menghimpit ulu hatinya."Belum tidur?" suara lembut Satria memecah sunyi. Pria itu mengulurkan tangan, menyentuh lengan Nismara pelan. "Kenapa? Banyak yang dipikirkan?"Nismara tidak langsung menjawab. Pikirannya memang terlalu bising oleh keraguan dan ketakutan yang berkecamuk."Ndoro Den… apakah benar kelak Ndoro Den akan membebaskan saya?" tanya Nismara lirih, hampir berupa bisikan.Satria menegakkan posisi duduknya. Tangan besarnya terulur merangkul bahu Nismara, menarik tubuh lemas gadis itu agar merapat ke sisinya.Malam terasa jauh lebih sepi dari biasanya. Ada kehampaan yang aneh menggantung di dada Nismara, membuatnya merasa begitu rapuh."Ndoro…" panggilnya pelan."Hm?" sahut Satria halus, jemarinya bermain lembut di antara anak rambut di pelipis Nismara."Kalau suatu hari saya pergi…" Nismara

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Benih Keraguan

    "Murni! Karyo!"Teriakan Prameswari terdengar dari dalam kamar di sudut rumah utama. Ruangan bernuansa gelap itu kini tak ubahnya tempat pengasingan baginya. Sudah berminggu-minggu Satria tak pernah lagi tidur di sana. Kalaupun pria itu sesekali pulang, langkah kakinya tak pernah sekalipun mengarah ke ambang pintu kamarnya. Namun, sampai saat ini Prameswari belum menyadari bahwa seluruh rahasia dan rencana telah terbongkar di mata Satria. Pria itu hanya sedang menyusun langkah, menunggu saat yang tepat untuk menghantamnya.Pintu terdorong pelan. Budhe Murni dan Pak Karyo masuk melangkah terburu-buru dengan kepala tertunduk dalam, mereka langsung duduk di lantai."Apa yang kalian temukan tadi malam?" tuntut Prameswari dingin, matanya menyipit, gesturenya menunjukkan kalau dia sudah menunggu dengan tidak sabar. "Jangan beri aku berita buruk lagi. Kalian paham?"Pak Karyo menelan ludah sebelum memberanikan diri bersuara. "Saya dan istri saya bertemu Ndoro Den Satria, Ndoro Ayu… tapi Ndo

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Begini Saja, Keluar?

    "Siapa pun kamu, keluar!" bentak Satria.Pria itu berdiri di ambang pintu gubuk, dadanya bertelanjang dengan kedua tangan bersedekap, menatap lurus ke arah kegelapan rimbunnya pepohonan. Sunyi. Hanya desis angin malam yang menyapu dedaunan kering."Keluar, atau aku yang ke sana!" ulangnya, suaranya rendah dan penuh tekanan.Tak lama kemudian, semak-semak berkresek pelan. Dua sosok melangkah keluar dari kegelapan—Budhe Murni dan suaminya, Pak Karyo. Wajah keduanya pucat pasi. Begitu melangkah ke area tanah terbuka, mereka langsung berlutut di hadapan Satria."Maafkan kami, Ndoro Den… maafkan kami. Kami datang atas perintah Ndoro Ayu," cicit Karyo dengan tubuh gemetar karena ketakutan."Apa yang dia inginkan?" tanya Satria dingin."Ndoro Ayu meminta kami memastikan tempat keberadaan Ndoro Den dan Nismara," jawab Karyo pelan, tak berani mendongak.Kening Satria berkerut tipis. Matanya menyipit, mengunci dua sosok di bawahnya. "Mustahil kalian bisa menemukan tempat ini kalau tidak tahu se

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Di Bawah Kuasa Satria

    Nismara tak langsung menjawab, bahkan menghindari tatapan mata Satria. “Aku tidak peduli apakah kamu mencintaiku atau tidak, Nismara! Karena yang aku tahu kamu milikku!” putus Satria memaksa Nismara untuk menatap matanya dengan mencengkram dagunya.“Ndoro Den…Saya…saya memiliki perasaan yang sama dengan Ndoro Den…” suara Nismara pelan dan parau.“Tunjukkan padaku, kalau memang kamu memilikinya!” tantangnya“Bukan kabur dariku,” bisiknya lagi, kali ini suaranya lebih rendah. “Bukan sengaja menjebakku seperti tadi pagi, bukan?.” tanyanya pelan namun penuh penekanan dan ibu jarinya kini menyentuh puting Nismara perlahan, memutar dengan tekanan yang sengaja dibuat tidak nyaman. “Sekarang kamu akan mengingatkanku… bahwa kamu hanya milikku. Dengan cara yang aku tentukan.”Nismara menggigit bibir. Tubuhnya mulai bereaksi meski ia mencoba menahan. Satria merasakan perubahan itu dan tersenyum tipis—senyum yang tidak hangat.Ia mendorong Nismara telentang, tubuhnya menindih separuh, lututnya

  • Pengganti Ranjang Ndoro   Hukuman

    “Kamu harus dihukum, Nismara…” Napas Nismara masih pendek saat Satria masih berbisik di telinganya. Dan kuda yang mereka tunggangi akhirnya berhenti di depan gubuk. Nismara merasa tubuhnya pegal, paha dalam terasa basah dan perih, sementara jejak jari Satria masih terasa panas di kulitnya. Satria turun lebih dulu, lalu mengangkat Nismara dari pelana seolah Nismara tidak memiliki tenaga sama sekali.Satria bungkam, hanya tatapan dinginnya yang mengunci Nismara sepanjang jalan menuju bilik. Ia menyibak kelambu tipis, lalu merebahkan tubuh Nismara ke ranjang berpilar empat. Kasur itu sangat empuk dan bersih, yang memang sengaja ia siapkan untuk Nismara.Satria masih berdiri di tepi ranjang tanpa baju, memandangi Nismara yang terbaring lemas. Helaan napasnya berat dan teratur. Tatapannya dingin dan tajam, namun di baliknya tersimpan keraguan yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Nismara menatap Satria dalam diam, sebelum akhirnya dia membuka mulutnya untuk bicara.“Ndoro Den…sa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status