Mag-log inHujan gerimis mulai membasahi dedaunan lebat di sekitar gubuk tengah hutan. Bau tanah basah beradu dengan aroma kayu lapuk dan kelembaban yang terkunci di dalam ruangan kecil itu.Di sudut ruangan yang remang-remang, Budhe Murni duduk bersimpuh di atas lantai papan. Kedua tangannya terikat kaku di belakang punggung. Tubuh tua itu gemetar, matanya yang sembab oleh air mata terus bergulir liar menatap pintu kayu yang terkunci rapat dari luar.Klek.Bunyi engsel kayu yang berderit memecah keheningan. Satria melangkah masuk dengan tenang. Ia menyapu pandangan ke sekeliling ruangan sebelum matanya tertuju lurus pada wanita tua yang makin menciut di sudut.Di belakangnya, Sastro menyusul masuk, menutup pintu kayu tersebut rapat-rapat dan berdiri kaku di dekat ambang pintu.Satria berjalan pelan, menarik sebuah kursi kayu tua yang berdebu lalu mendudukinya tepat di hadapan Budhe Murni. Ia menyilangkan kaki, menyandarkan punggungnya dengan santai. Tak ada senyum, tak ada amarah yang meledak-l
“Jadi itu memang kamu?” Bramantyo menjawab Nismara dengan pertanyaan.“Iya…aku yakin kamu tahu kalau tanda itu dariku” jawab Nismara dengan ritme yang cepat seolah takut ketahuan.Bramantyo mengangguk perlahan. Tatapannya meneliti Nismara dari kepala hingga ujung kaki, menyadari raut pucat yang masih berbekas di wajah gadis itu."Kenapa kamu melakukan ini, Nismara?" bisik Bramantyo dengan kening berkerut. "Aku kan sudah bilang... tunggu sebentar lagi. Aku akan menjemputmu secara baik-baik dengan cara yang benar."“Cara yang benar? Aku tidak tahu bagaimana cara yang benar itu? Dua puluh satu tahun aku hidup di tengah hutan dan tidak pernah bertemu manusia, menurutmu apa aku mengerti?” cecar Nismara tidak sabar dan emosional.“Nismara…Bukan itu maksudku, aku turut prihatin dengan apa yang menimpamu..” Bramantyo mencoba menenangkan.Nismara menarik napas panjang. Sikap tenang dan serba tertata yang ditunjukkan Bramantyo justru membuat Nismara semakin tidak sabar."Aku hanya butuh bantuan
Satria turun dari peraduan, melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil selembar handuk kecil dan membasahinya dengan air hangat. Kembali ke sisi ranjang, ia menyeka lembut sisa-sisa cairan hangat miliknya yang menempel di atas kulit perut Nismara."Ndoro Den… tidak perlu, saya bisa bersihkan sendiri," bisik Nismara halus, berniat mengambil handuk itu dari tangan Satria.Satria tersenyum tipis, menahan gerakan tangan Nismara. "Kamu baru saja pulih, tidak usah banyak bergerak dulu."Ia meraih kemeja putih miliknya dari atas kursi, menyarungkannya ke tubuh Nismara lalu mengancingkannya satu per satu. Kemeja itu tampak kebesaran, menutupi paha Nismara dengan longgar."Istirahatlah," ucap Satria, mengusap puncak kepala Nismara dengan lembut. "Aku harus pergi sebentar untuk menyelesaikan satu urusan. Begitu selesai, aku akan langsung kembali ke sini."Nismara mengangguk pelan tanpa menyela.Pandangannya tertuju lurus pada punggung Satria hingga pria itu menghilang di balik pintu yang tert
Nismara mengangguk perlahan. Gerakan kepalanya begitu pelan, menunjukkan sebuah kepasrahan yang terbit sepenuh hati dari dalam dadanya.Satria menatap mata jernih itu sejenak, memastikan tak ada keraguan tersisa di sana. Dengan gerakan lambat yang hampir terasa seperti siksaan berbalut kelembutan, tangan besar Satria menyusup ke bawah hem baju longgar yang dikenakan Nismara. Ia menyingkap kain tipis itu ke atas secara perlahan, melewati perut yang masih terasa dingin, hingga terangkat penuh melewati kepalanya.Tubuh bagian atas Nismara terekspos sepenuhnya di remang cahaya pagi. Satria bergeming sejenak, mengagumi lekuk ringkih yang kini pasrah di bawah kukungannya. Tanpa memberi jeda terlalu lama untuk rasa canggung, Satria kembali menunduk, meraup bibir Nismara yang masih terasa panas dan basah.Ciuman itu lebih dalam. Di saat yang sama, telapak tangan hangat Satria merayap naik, meremas lembut payudara Nismara dengan tekanan yang terukur. Ibu jarinya mengusap melingkar di puncakn
Satria duduk di tepi ranjang, membelai pelan rambut halus Nismara yang terurai di atas bantal. Suhu badan Nismara sudah kembali normal, tak lagi panas seperti semalam."Bagaimana keadaanmu?" tanya Satria rendah. "Sudah jauh enakan?"Nismara mengangguk perlahan. Pandangannya bergulir ke bawah, menatap selang bening yang masih menempel di punggung tangannya."Apa... ini bisa diambil, Ndoro Den?" tanyanya pelan. Tubuhnya terasa risih dan terbatas tiap kali hendak bergerak."Nanti," sahut Satria lembut, mengusap punggung tangan Nismara yang tidak terpasang jarum. "Tunggu Dokter Tirto datang melepasnya. Jangan ditarik sendiri."“Saya lapar…” ucap Nismara. Satria terkekeh, dia berdiri kembali keluar kamar dan tak lama kembali dengan nampan berisi makanan. Membantu Nismara duduk kemudian menyuapi bubur sedikit demi sedikit. Karena lapar Nismara makan lebih banyak.“Begini bagus….biar cepat pulih” gumam Satria mengelap pinggir bibir Nismara dengan jarinya. Usai mangkuk bubur itu kosong, ketu
Semalaman Satria tidak beranjak dari sisi ranjang Nismara. Ia duduk di kursi kayu berukir, memandangi wajah pucat yang kini tampak begitu ringkih. Sesekali jarinya mengambil kompres di dahi Nismara yang mulai mengering, membasahinya kembali di mangkuk air dingin, lalu menempelkannya perlahan. Sebuah hal yang tidak pernah ia lakukan sama sekali selama tiga puluh satu tahun hidup.Suara tetesan cairan infus menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi keheningan kamar. Setiap kali Nismara melenguh atau menggerakkan jemarinya dalam tidur gelisah, Satria menggenggam jemari dingin itu, mengusapnya pelan."Kamu selalu bilang dirimu cuma pelayan, Nismara," gumam Satria pelan, suaranya nyaris seperti hembusan napas yang memecah kesunyian. Pandangannya tak lepas dari kelopak mata Nismara yang tertutup rapat. "Selalu merasa dirimu tidak punya harga, perempuan bisu yang bisa dibuang kapan saja."Ibu jari Satria mengusap lambat punggung tangan Nismara yang terbebas dari jarum infus."Kamu tidak tahu,







