Início / Romansa / Madu Untuk Ndoro / Tawaran Bramantya

Compartilhar

Tawaran Bramantya

Autor: Strawberry
last update Data de publicação: 2026-10-25 23:05:52

Sebuah ketukan keras di pintu utama Kaputren tanpa jeda dan tanpa salam.

Suara keras dan berisik itu mengusik ketenangan pagi, membuat Nismara yang sedang merapikan tempat tidur di dalam kaputren menghentikan gerakannya dengan kening berkerut.

‘Siapa jam segini datang? Para pelayan tidak akan bertindak selancang ini sepagi ini,’ batin Nismara gusar.

Nismara menyapu sisa rasa pegal di bahunya, melangkah menuju depan kaputren. Begitu ia membuka pintu kayu berukir berbentuk kupu-tarung itu, tubuh
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Madu Untuk Ndoro   Strategy Baru

    Satria menggeleng cepat. Ia menarik tangan Nismara, menggenggamnya erat seraya menatap mata perempuan itu tanpa ragu."Jangan berpikir begitu, Nismara," potong Satria tegas. "Ini bukan salahmu. Ini perang antara idealismeku dan ketamakan mereka. Kalau aku menyerahkanmu atau tunduk pada Bramantya cuma demi kelancaran proyek, aku sama saja seperti pengecut."Nismara mengangguk perlahan. Rasanya lega mendengar kepastian dari Satria. Kebohongan yang mengikat keluarganya memang belum terbongkar sepenuhnya, tapi berdiri di samping Satria membuat Nismara yakin mereka tidak akan menyerah pada gertakan Bramantya dan Raden Arya."Lagipula, aku tidak pernah berniat membiarkan mereka mengontrol izin pembangunan jalan itu," lanjut Satria. Suaranya kembali datar, dingin, dan penuh perhitungan. “Jalan itu milik kita, kita bangun di tanah kita. Yang aku butuhkan bukan sokongan dananya, tapi ijin saja.”“Ijin…bukankah itu sangat susah? Mas Satria tidak memiliki kenalan pejabat di kepatuhan atau—”Satr

  • Madu Untuk Ndoro   Pria Tanpa Harga Diri

    "Berhenti! Berani kamu menyentuh Nismara, aku patahkan tanganmu!"Suara tegas Satria mendadak memotong pergerakan Bramantya. Tangannya yang sudah terulur di udara siap mencengkeram leher Nismara mengambang di udara dan ia tarik kembali sebelum Satria semakin dekat dengan raut muka yang keruh.Nismara menoleh ke arah datangnya suara. Satria melangkah cepat mendekati mereka, napasnya sedikit terengah seolah baru saja berlari dari kediaman utama."Maaf aku telat," ucap Satria.Nismara menggeleng pelan, mengulas senyum tipis. "Nggak, Mas... tepat waktu."Bramantya terlihat sangat terganggu dengan kedatangan Satria yang menurutnya merusak rencananya."Aku sudah menebak kamu pasti datang ke sini," ejek Satria seraya bersedekap dada, menatap Bramantya dengan raut dingin. "Kamu mau menawarkan bantuan untuk membujuk pemerintah Hindia Belanda agar mau menyokong pembangunan jalan karesidenan? Lupakan!"Bramantya tertawa sinis, merapikan kerah jas priyayinya yang tidak kusut sama sekali. "Kamu bu

  • Madu Untuk Ndoro   Tawaran Bramantya

    Sebuah ketukan keras di pintu utama Kaputren tanpa jeda dan tanpa salam. Suara keras dan berisik itu mengusik ketenangan pagi, membuat Nismara yang sedang merapikan tempat tidur di dalam kaputren menghentikan gerakannya dengan kening berkerut.‘Siapa jam segini datang? Para pelayan tidak akan bertindak selancang ini sepagi ini,’ batin Nismara gusar.Nismara menyapu sisa rasa pegal di bahunya, melangkah menuju depan kaputren. Begitu ia membuka pintu kayu berukir berbentuk kupu-tarung itu, tubuhnya langsung membeku. Kedua tangannya tertahan di tepi daun pintu, membentang kaku menutupi jalan masuk."Bramantya... kenapa kamu datang ke sini?" tanya Nismara dingin.Pria di hadapannya menyunggingkan senyum tipis yang memprovokasi. Pakaian khas priyayi mudanya tampak rapi, namun sorot matanya yang tajam tidak bisa menyembunyikan maksud tersembunyi."Apa kabar, sepupuku?" sahut Bramantya santai, seolah-olah ia sedang mengunjungi kerabat dekat.Nismara menyunggingkan senyum sinis. Tanpa ragu,

  • Madu Untuk Ndoro   Idealisme

    "Satria... kamu sangat keterlaluan! Aku bisa mengerti jika pria tergila-gila dengan gundiknya yang lebih muda, tapi bukan berarti buta sepertimu!"Suara berat Raden Arya Pradipta menggema di ruang kerja Satria keesokan harinya. Pria paruh baya itu berdiri tegak di depan meja kayu jati, menatap menantunya dengan raut wajah penuh amarah yang tertahan.Masih terlalu pagi untuk memprovokasi.Satria tidak langsung merespons. Tangannya masih santai merapikan beberapa lembar berkas di atas meja. Setelah selesai, ia bersandar pada sandaran kursi, lalu menatap Raden Arya dengan senyum miring."Putri kesayangan Paman Arya sudah mengadu apa?" tanya Satria santai.“Kamu!!! Kamu benar-benar keterlaluan!” Geram Raden Arya dengan tangan mengepal kuat dan siap melayangkan tinju kapan saja.Raden Arya menepuk meja kerja Satria dengan cukup keras. "Nasihati gundikmu itu agar memiliki sopan santun! Bisa-bisanya dia menghina istri sah di tengah taman!""Nismara tidak akan bicara kalau tidak diprovokasi l

  • Madu Untuk Ndoro   Menarik Benang Merah

    "Mas Satria... Ndoro Ayu pasti sekarang sedang gelisah..." ucap Nismara pelan.Satria tersenyum tipis. "Biar saja. Orang yang pikirannya hanya berisi rencana jahat pasti akan gelisah."Jadi, ini tadi Satria dan Nismara tahu kalau ada yang mengikuti sampai ke kaputren itu kenapa Satria sengaja mengucapkan kalimat tersebut.Nismara mengangguk. Ia mengulas senyum tipis sambil tangannya telaten meracik teh di dalam teko keramik China antik. Aroma daun teh hangat menguar perlahan, memenuhi udara sore di ruang tengah kaputren."Kenapa kamu terus-terusan memikirkan Prameswari? Orang yang terang-terangan memikirkanmu di sini, tidak pernahkah kamu pikirkan?"Nada suara Satria sedikit meninggi, namun Nismara tahu pria itu tidak bersungguh-sungguh marah. Tak lama kemudian, tangan besarnya sudah melingkar hangat di pinggang ramping Nismara dari belakang."Mas Satria... saya sedang meracik teh panas," Nismara mengingatkan pelan, berusaha menjaga tangannya agar tidak tumpah."Kalau begitu hati-hati

  • Madu Untuk Ndoro   Keraguan

    "Menangis malu? Kenapa aku harus menangis malu? Memangnya kenapa aku harus menangis malu?" sahut Prameswari, suaranya terdengar sangat sombong."Maaf Ndoro Ayu, saya juga tidak mengerti apa yang dimaksudkan Ndoro Den... Nismara itu benar-benar tidak tahu malu!" jawab Mbok Nah yang tadi diutus mencari informasi dan mengikuti Nismara serta Asih kembali ke kaputren."Ah... sudah, jangan bahas dia lagi," potong Prameswari cepat. “Aku langsung mual mendengar namanya saja” Prameswari mengomel.Padahal, sejatinya ia memang sudah merasa kalah, hanya saja ego tingginya sama sekali tidak bisa menerima kenyataan itu.Dari awal, Nismara hanyalah perempuan yang ia bawa masuk untuk dijadikan pengganti, dan seterusnya harus tetap seperti itu. Kenapa sekarang posisinya malah terbalik? Kenapa justru Nismara yang melangkah dengan kepala tegak, sementara dirinya yang terus-terusan mengelus dada memendam keprihatinan?"Mbok Nah... kamu belum ada kabar tentang keberadaan Budhe Murni?" tanya Prameswari ti

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status