MasukAlina menghela napas lega sambil merapikan dokumen yang berserakan di atas meja,setelah insiden tadi. "Pak, semua dokumen sudah saya susun." James mengangguk singkat. "Bagus." Carlos masuk membawa sebuah map berwarna hitam. "Pak James, kontrak dengan perusahaan Jepang sudah dikirim." James menerima map itu lalu membukanya sekilas. Beberapa detik kemudian, dahinya berkerut. "Kenapa?" Carlos ikut melihat. "Apakah ada yang salah, Pak?" James menutup map itu. "Dokumen ini harus diterjemahkan ke bahasa Inggris sebelum pukul lima sore." Carlos tampak panik. "Tapi penerjemah perusahaan sedang cuti, Pak." Ruangan mendadak hening. James menoleh kepada Alina. "Kamu bisa bahasa Inggris?" Alina tampak ragu. "Saya... sedikit bisa, Pak." "Saya ingin melihat kemampuanmu." Alina menelan ludah. "Baik, Pak." James menyerahkan map tersebut. "Dua jam." Alina membelalakkan mata. "Dua jam?" "Keberatan?" Alina menarik napas panjang. "Tidak, Pak." "Kalau begitu mulai sekarang."
James membuka pintu ruang VIP lebih dulu. "Silakan masuk." "Baik, Pak." Alina melangkah masuk sambil membawa tablet dan map berisi dokumen kerja. Di dalam ruangan telah duduk seorang wanita paruh baya berpenampilan elegan. Begitu melihat James, wanita itu langsung berdiri. "Pak James." James tersenyum tipis. "Maaf membuat Anda menunggu, Bu Vella." "Tidak masalah." Tatapan Bu Vella kemudian beralih kepada Alina. "Ini pasti asisten pribadi baru Anda?" James mengangguk. "Benar." "Perkenalkan." "Alina Zevanya." Alina segera membungkukkan badan dengan sopan. "Selamat siang, Bu Vella. Senang bertemu dengan Ibu." Bu Vella tersenyum ramah. "Anak yang sopan." James melirik Alina. "Kuenya." "Oh, baik, Pak." Alina segera membuka paper bag dari toko roti. "Ini butter cookies yang Ibu sukai." "Tadi saya juga memilih beberapa varian lain. Semoga cocok dengan selera Ibu." Bu Vella tampak terkejut. "Kamu yang memilih?" "Iya, Bu." "Wah..." Bu
Suasana lobi masih dipenuhi bisikan.Namun semuanya terhenti ketika Carlos bergegas menghampiri James."Pak."James menoleh."Ada apa?"Carlos menundukkan kepala."Seluruh klien sudah berada di ruang rapat."James mengangguk pelan.Lalu ia memandang seluruh karyawan yang masih berkumpul.Wajahnya berubah dingin."Carlos.""Ya, Pak.""Lima belas menit lagi.""Saya ingin seluruh kepala divisi, manajer, supervisor, dan seluruh karyawan yang sedang berada di gedung ini berkumpul di ruang rapat utama."Carlos sedikit terkejut."Rapat mendadak, Pak?""Benar.""Baik, Pak."Carlos segera pergi menyampaikan perintah tersebut.Tak sampai lima belas menit...Ruang rapat utama dipenuhi puluhan karyawan.Semua saling bertanya-tanya."Ada apa ya?""Tidak biasanya Pak James mengadakan rapat mendadak.""Jangan-jangan karena proyek baru."Di barisan belakang, Melinda melirik Darman dengan wajah cemas.Sementara Alina berdiri di samping meja presentasi sebagai asisten pribadi James.Tak lama kemudian..
Mobil hitam milik James berhenti tepat di depan gedung tempat pertemuan dengan klien.Begitu mesin dimatikan, Alina segera turun lebih dulu.Ia berjalan memutar menuju pintu belakang.Klik.Dengan penuh hormat, Alina membukakan pintu mobil."Silakan, Pak."James keluar dengan langkah tenang.Setelan jas hitam yang dikenakannya semakin memancarkan wibawa sebagai Presiden Direktur Andara Group.Namun...Bukan hanya James yang berhasil menarik perhatian.Semua mata justru perlahan beralih kepada wanita yang berdiri di sampingnya.Alina.Dengan blazer berwarna ivory yang pas membingkai tubuhnya, rambut soft curly yang tergerai anggun, serta riasan tipis yang menonjolkan kecantikan alaminya, penampilannya begitu memukau.Sesaat...Suasana di lobi menjadi hening."Astaga...""Itu siapa?""Dia cantik sekali.""Dia bukan model, kan?""Tunggu... bukankah itu asisten pribadi Pak James yang baru?""Benarkah? Kemarin aku hampir tidak mengenalinya.""Kalau sekarang auranya benar-benar berbeda."Be
Mobil sedan hitam itu melaju mulus membelah jalanan kota.Alina duduk di balik kemudi, fokus memperhatikan lalu lintas di depannya.Sementara itu, James duduk di kursi belakang.Pria itu memangku sebuah tablet, sesekali mengusap layar untuk membaca laporan yang harus ia selesaikan sebelum bertemu klien.Di dalam mobil, alunan musik klasik diputar dengan volume rendah.Suasananya begitu tenang.Sesekali James tanpa sadar menganggukkan kepalanya mengikuti irama musik, meski kedua matanya tetap fokus pada layar tablet.Beberapa menit kemudian..."Alina."Suara berat James memecah keheningan.Alina langsung melirik melalui kaca spion."Iya, Pak?""Di depan ada toko roti."James menunjuk ke arah sebuah bangunan di seberang jalan."Tolong mampir sebentar.""Baik, Pak."Alina segera menyalakan lampu sein lalu memarkirkan mobil di depan toko roti tersebut.James kembali menatap tabletnya."Klien kita, Bu Vella, sangat menyukai kue kering dari toko ini."Pria itu kemudian menyerahkan sebuah ka
Pukul enam tepat.Mobil hitam Andara Group perlahan memasuki kawasan perumahan elite di pusat kota.Alina melirik alamat yang tertera di ponselnya."Rumah Pak James..."Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah rumah bergaya modern yang megah namun tetap terasa hangat.Alina mematikan mesin mobil.Ia turun, lalu berjalan menuju gerbang.Tok.Tok.Beberapa detik kemudian, pintu rumah terbuka.Seorang wanita paruh baya dengan senyum lembut menyambutnya."Selamat pagi."Alina sedikit membungkukkan badan."Selamat pagi, Bu. Saya Alina, asisten pribadi Pak James. Saya diminta menjemput beliau.""Oh..."Senyum wanita itu semakin lebar."Jadi kamu Alina."Alina sedikit heran."Ibu mengenal saya?""Tentu."Wanita itu tertawa kecil."James semalam bercerita kalau akhirnya dia menemukan asisten pribadi yang sangat dia percaya."Pipi Alina memerah."Pak James terlalu berlebihan, Bu.""Masuklah dulu.""Tapi saya takut mengganggu.""Tidak mengganggu sama sekali."Wanita itu membuka pintu l







