Mag-log inSiang itu, matahari Jakarta seolah sedang menguji kesabaran siapa pun yang berada di luar ruangan. Namun, di dalam kamar utama rumah mewah itu, hawa dingin dari AC sentral terasa menusuk tulang. Ana berdiri di depan lemari walk-in closet milik Clara yang luasnya hampir menyamai luas rumah ibunya di kampung.“Na, semua gaun pesta yang di sebelah kiri itu tolong disusun ulang berdasarkan gradasi warna, ya. Aku nggak suka kalau berantakan begitu,” ucap Clara santai. Ia sedang duduk di meja rias, sibuk mengaplikasikan masker wajah yang aromanya sangat mahal.“Baik, Nyonya,” sahut Ana lirih.Ana mulai menyentuh satu per satu pakaian itu. Sutra, brokat, hingga kasmir. Harga satu gaun di sini mungkin bisa membiayai pengobatan ibunya selama setahun penuh.Ia melihat pantulan dirinya di cermin besar lemari; seorang gadis dengan seragam ART sederhana, rambut yang diikat seadanya, dan wajah yang tampak kuyu karena kurang istirahat.Minder itu datang tanpa diundang, menyesakkan dada saat ia meny
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui sela-sela gorden kamar utama, menerangi debu-debu yang beterbangan di udara.Ana terbangun dengan posisi leher yang kaku karena tertidur di sofa kecil samping tempat tidur Kevin. Ia segera berdiri, merapikan seragamnya yang kusut, dan melihat ke arah ranjang besar itu. Kevin sudah tidak ada di sana.Hanya ada bekas seprai yang berantakan dan aroma alkohol yang mulai memudar. Ana bergegas turun ke dapur, jantungnya berdebar kencang.Ia bertanya-tanya dalam hati, apakah ucapan Kevin semalam tentang dirinya yang “terasa nyata” akan mengubah segalanya? Apakah pagi ini Kevin akan menatapnya dengan lebih lembut?Di meja makan, Kevin sudah duduk dengan rapi. Ia mengenakan setelan jas berwarna abu-abu gelap yang elegan, rambutnya klimis disisir ke belakang, dan wajahnya tampak segar seolah-olah ia tidak baru saja menghabiskan satu botol wiski dan meracau seperti orang gila beberapa jam yang lalu.Ia sedang sibuk dengan tablet di tangan kirinya, se
Jam dinding di ruang tengah berdentang dua belas kali, suaranya menggema di seluruh penjuru rumah yang sunyi senyap.Ana masih terjaga, duduk di tepi ranjangnya yang sempit sambil menatap ponsel hitam pemberian Kevin.Pikirannya kalut membayangkan perintah Kevin untuk datang ke kamarnya pukul satu nanti. Namun, sebuah suara gaduh dari arah pintu depan membuyarkan lamunannya. Suara kunci yang dipaksa masuk dan bunyi benda jatuh membuat jantung Ana mencelos.Ia memberanikan diri keluar dari kamarnya di paviliun belakang. Dengan langkah ragu, ia menyusuri koridor remang menuju ruang tamu.Di sana, ia melihat Kevin sedang bersandar pada pilar besar, napasnya berat dan berbau alkohol yang sangat menyengat. Jas mahalnya sudah entah ke mana, dan kemeja putihnya berantakan dengan kancing atas yang terbuka paksa.“Tuan? Tuan nggak apa-apa?” tanya Ana sambil mendekat dengan waspada.Kevin mendongak, matanya merah dan sayu. Ia mencoba berdiri tegak tapi hampir limbung kalau saja Ana tidak segera
Langkah kaki Ana terasa sangat berat saat ia menaiki anak tangga menuju lantai dua. Pintu ruang kerja Kevin sedikit terbuka, dan dari sela-selanya, ia bisa melihat Rafi berdiri mematung dengan kepala menunduk di hadapan meja besar itu.Suasana di dalam sana begitu sunyi, jenis kesunyian yang mencekam sebelum sebuah vonis dijatuhkan.Tanpa berpikir panjang, Ana mendorong pintu lebih lebar. Suara derit kayu jati itu membuat kedua pria di dalam ruangan menoleh serentak.“Tuan, tolong... jangan pecat Mas Rafi,” ucap Ana spontan, suaranya parau dan napasnya memburu.Kevin menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, menatap Ana dengan sorot mata yang sulit diartikan. Senyum miring kembali tersungging di bibirnya. “Berani juga kamu masuk ke sini tanpa izin, Na. Kamu pikir ini pasar?”“Saya minta maaf, Tuan. Tapi ini salah saya, bukan Mas Rafi. Dia cuma mau bantu saya tadi. Tolong, jangan hukum dia karena kebaikan yang dia kasih ke saya,” rintih Ana. Ia melangkah maju, berdiri di samping Rafi ya
Pagi itu, mobil belanja yang biasa mengantar kebutuhan dapur baru saja berhenti di depan gerbang samping. Ana keluar dengan wajah yang masih tampak lelah, membawa dua plastik besar berisi sayuran dan daging.Beban itu terlihat terlalu berat untuk ukuran tubuhnya yang mungil, membuat langkahnya sedikit sempoyongan di atas paving blok halaman.Rafi, sopir keluarga yang sedang mengelap kaca mobil di garasi, segera meletakkan kain kanoenya. Ia menghampiri Ana dengan langkah cepat dan senyum ramah yang selalu berhasil membuat suasana rumah itu sedikit lebih manusiawi bagi Ana.“Sini, Na. Biar aku yang bawa, berat itu kalau kamu sendiri,” ucap Rafi sambil meraih dua kantong plastik dari tangan Ana.Ana sempat ragu, namun rasa pegal di pergelangan tangannya menang. “Eh, nggak usah, Mas Rafi. Nanti keganggu kerjaannya.”“Cuma angkat ginian nggak bakal bikin mobilnya kotor sendiri, tenang aja,” canda Rafi. Ia sengaja memperlambat langkah agar bisa berjalan bersisian dengan Ana.“Kamu pucat ban
Pagi harinya, Ana sedang sibuk di dapur, mencoba menormalkan detak jantungnya yang masih sering melonjak setiap kali mengingat kejadian semalam di kamar tamu. Ia baru saja selesai menyiapkan sarapan sederhana ketika suara mobil memasuki halaman. Jantungnya mencelos. Itu bukan jam pulang Kevin.Pintu depan terbuka dengan dentuman yang cukup keras. Clara melangkah masuk dengan wajah yang tampak lelah sekaligus gusar. Ia tidak menyapa siapapun, langsung melempar tas desainer miliknya ke sofa ruang tengah.“Ana! Ambilin air es sekarang!” teriak Clara dengan nada tinggi.Ana bergegas membawakan gelas kristal berisi air dingin. “Nyonya sudah pulang? Bukannya acaranya sampai sore nanti?”Clara meneguk air itu sampai habis dalam sekali napas. “Hotelnya berisik. AC-nya juga nggak beres, bikin kepalaku pening. Aku mau tidur di kamar tamu sebentar, kamar utama lagi pengap karena jendelanya belum kamu buka, kan?”Mendengar kata 'kamar tamu', tubuh Ana seketika membeku. Ia belum sempat kembali ke
Keesokan paginya, udara masih terasa lembap oleh embun yang belum sepenuhnya menguap dari dedaunan.Sinar matahari mengintip malu-malu dari celah tirai dapur tempat Ana sedang berdiri. Matanya sembab, namun ada secercah harapan di dalamnya.Ia menekan tombol panggilan di layar ponselnya, menghubung
Waktu sudah menunjuk angka sepuluh malam. Sore tadi, Kevin membawakan sebuah lingerie tipis yang harus dia gunakan untuk melayani Kevin malam ini.Ana berdiri di depan cermin kamarnya. Rambutnya ia sisir pelan, meski dengan tangan gemetar. Seragam kerja sudah dia tanggalkan, diganti dengan
Napas Ana berat ketika berdiri di depan pintu ruang kerja majikannya itu.Jujur saja, dia tidak ingin ke ruangan itu. Tidak ingin menatap wajah pria itu lagi setelah malam-malam penuh tekanan dan sindiran.Tapi, sudah tidak ada pilihan lain. Ia sudah mencoba segalanya. Semua kontak
Setelah menenangkan diri sebisanya, Ana kembali ke kamarnya. Ia duduk di sisi ranjang sempit itu dan menggenggam ponsel dengan tangan gemetar.Napasnya masih berat. Matanya sembab, tapi belum ada waktu untuk menangis lebih lama. Ia harus segera bertindak. Harus mencari bantuan. Ibunya butu







