Share

Bab 2

Author: Safira
Beberapa menit kemudian, Daniel menatap ponselnya yang masih tak menunjukkan reaksi apa pun. Di hatinya tiba-tiba muncul rasa tidak tenang.

Bagaimanapun juga, selama ini aku selain mengurus rumah, hampir setiap saat hanya menunggu panggilannya. Kali ini dia yang menelepon lebih dulu, tetapi aku malah tidak membalas dengan penuh rasa terima kasih seperti biasanya.

Saat dia hendak menghubungi tim untuk memastikan laporan kebakaran, Rania buru-buru menghentikannya. "Kak Daniel, setelah acara penghargaan, semua telepon laporan masuk aku yang terima. Kak Meisy sama sekali nggak menelepon."

Begitu mendengar ucapannya, alis Daniel yang sempat berkerut karena cemas langsung mengendur. "Teman-temannya memang semuanya sampah. Sudah pasti mereka bersekongkol untuk bohongi aku!"

Setelah berkata demikian, dia mengambil tangkapan layar halaman pemesanan perceraian dengan kesal, berniat mengirimkannya kepadaku. Namun setelah membolak-balik daftar kontak dan mencoba beberapa nama, dia tidak menemukan foto profilku sama sekali.

Masuk akal juga. Dia memang tak pernah peduli membalas pesanku, bahkan malas mengganti catatan nama kontakku. Sebaliknya, adik juniornya, Rania, selalu berada di posisi teratas daftar WhatsApp-nya.

Di hatinya sempat terlintas perasaan aneh, tetapi akhirnya dia mengurungkannya.

Rania segera menenangkan dengan nada penuh pengertian, "Kak, toh kamu memang berniat menipunya supaya mau cerai. Kenapa nggak sekalian pakai perceraian dengan perhitungan masing-masing?"

"Lagian, selama lima tahun ini dia cuma jadi ibu rumah tangga menikmati hidup enak. Dari mana dia punya uang untuk menggantimu? Pasti nanti dia akan muncul."

Ucapan itu seolah menyadarkan Daniel. Dia segera membuka semua mutasi rekening bank.

Selain uang belanja dua juta yang dia berikan padaku setiap bulan, semua pengeluaran lainnya ternyata dibagi dua masing-masing. Dari makan, liburan, sewa kamar, bahkan sampai alat kontrasepsi pun harus dibagi dua.

Aku tidak bekerja. Semua uang itu sejatinya berasal darinya. Jika dijumlahkan, nilainya sama sekali tidak sedikit. Dia membuka aplikasi pemesanan terbaru dan benar saja, di sana tertera opsi perceraian dengan perhitungan seperti itu. Tanpa ragu, dia langsung menekan tombol ajukan.

Ponselnya segera menerima pesan singkat.

[ Karena sistem ini masih dalam tahap uji coba, pengajuan tidak dapat dibatalkan lagi jika diajukan. Sistem ini menjamin keadilan dan objektivitas mutlak. Selama pernikahan berlangsung, seluruh perhitungan harta akan diselesaikan sampai tuntas. ]

[ Jika salah satu pihak meninggal dunia, pihak yang berutang akan merasakan penderitaan dan ingatan pihak tersebut sebelum kematian. ]

Daniel sempat ragu, tetapi begitu melihat wajah Rania yang tampak menyedihkan, dia langsung menekan tombol konfirmasi.

Pertama, dia yakin aku tidak mungkin sudah meninggal. Kedua, dia merasa aku akan selalu kembali padanya begitu dia menyuruhku. Dengan penuh rasa puas, dia mengirimkan rincian tagihan itu kepada sahabatku, memintanya segera menyampaikan sebagai ancaman.

Lalu, dia menarik Rania ke dalam pelukannya dan menghela napas panjang. "Rania, kalau bukan karena kamu yang terus membantuku secara anonim waktu kuliah dulu, aku pasti nggak akan sanggup bertahan."

"Sebagai istriku, Meisy cuma tahu hidup dari menguras tenagaku. Bisa menyumbangkan kulitnya untukmu sebagai balas budi, seharusnya dia merasa terhormat."

Rania berkedip dengan tatapan sedikit gelisah, lalu pura-pura menunduk untuk menutupinya. "Itu bukan apa-apa. Kak Daniel selamanya adalah pahlawan di hatiku. Demi kamu, aku rela melakukan apa pun."

Melihat mereka berdua saling bersandar begitu mesra, tenggorokanku terasa hampir muntah. Padahal rumah ini juga kupertahankan dengan susah payah, tetapi dia tidak pernah melihatnya.

Saat masih berpacaran, aku bekerja lima pekerjaan setiap hari demi mengumpulkan uang kuliahnya. Demi menjaga harga dirinya, aku sengaja memberi bantuan secara anonim.

Setelah menikah, aku semakin iba melihatnya mempertaruhkan nyawa demi pekerjaan, sampai-sampai uang dua juta itu kuhemat habis-habisan. Air, listrik, iuran lingkungan, semua kuhitung dengan cermat. Hari raya, hari besar, ulang tahun, semuanya kutakar per rupiah.

Bahkan saat demam, aku tidak tega pergi ke rumah sakit, hanya agar setelah dia selesai bertugas, dia bisa pulang dan menikmati semeja penuh masakan hangat.

Hari demi hari, aku hidup dalam urusan dapur dan kebutuhan harian. Perlahan-lahan, dia pun lupa bahwa aku pernah melepaskan status pegawai negeri hanya untuk kembali menjadi ibu rumah tangga.

Pada akhirnya, bantuan anonim itu menjadi jasa Rania. Dan di hati Daniel, aku yang rela menjadi ibu rumah tangga hanyalah parasit tak bernilai.

Sambil menangis, aku menunduk menatap jari manisku. Di sana ada bekas yang lebih mencolok daripada luka bakar mana pun.

Cincin lamaran perak polos yang kupakai selama lima tahun itu sudah lama meleleh di tengah kobaran api. Saat aku meninggal dalam kesakitan, cinta palsu Daniel yang manis itulah yang meninggalkan luka terdalam dan paling menyakitkan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penghargaan yang Diterima Saat Sang Istri Dilahap Api   Bab 9

    "Halo, saya Daniel. Ibu Meisy masih di panti jompo, 'kan?""Tolong jaga dia. Nanti saya akan menjemput."Menjaga ibuku adalah satu-satunya cara penebusan yang bisa Daniel pikirkan.Namun, ucapan perawat berikutnya membuat hatinya benar-benar hancur. "Saya sudah bilang terakhir kali, Bu Winona sudah tidak ada.""Pergi ... pergi ke mana?""Aduh, meninggal karena kecelakaan. Tepat di depan markas pemadam kebakaran. Kapten Daniel, Anda tidak tahu?"Ponsel itu terlepas dari tangannya. Daniel menatap kosong ke depan, tidak sanggup memercayai semua ini nyata.Sahabatku akhirnya tidak bisa menahan diri. Dia menerjang dan menampar Daniel dengan keras. "Daniel, kamu ini binatang! Ibu Meisy hanya punya kecerdasan setara anak tujuh tahun. Dia nggak mengerti apa-apa, tapi dia tahu harus menyelamatkan Meisy! Dia masih mengira kamu akan menyelamatkan Meisy. Sampai napas terakhirnya di genangan darah, dia masih memanggil namamu!"Dadaku terasa seperti diremas kuat. Aku ingin sekali pergi mencari ibuku

  • Penghargaan yang Diterima Saat Sang Istri Dilahap Api   Bab 8

    Ucapan itu bagai petir di siang bolong. Daniel mendadak membelalakkan mata, sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.Meisy meninggal? Bagaimana mungkin?"Nggak mungkin! Hari itu aku sama sekali nggak menerima satu pun laporan kebakaran! Meisy nggak mungkin mati!"Wakil komandan tertawa sinis terhadap atasannya sendiri. "Benar. Kamu memang nggak menerima laporan itu. Tapi adik junior kesayanganmu yang menerimanya.""Seandainya dia sedikit saja lebih cepat. Seandainya saja dia kasih tahu kami ...." Seolah teringat sesuatu yang mengerikan, wakil komandan mengepalkan tinjunya dengan penuh rasa sakit.Aku menatap mereka, lalu menurunkan pandangan.Benar. Sedikit saja lebih cepat, mungkin aku masih bisa diselamatkan. Namun, beberapa menit yang sengaja ditunda itulah yang membuatku mati tercekik di tengah asap pekat."Dia sangat ingin hidup. Dengan tubuh yang sudah melepuh, dia merangkak sampai ke pintu. Tapi pada akhirnya tetap nggak bisa keluar.""Nggak ada orang yan

  • Penghargaan yang Diterima Saat Sang Istri Dilahap Api   Bab 7

    Suasana hati orang-orang di bawah panggung ikut naik turun. Melihat angka-angka di layar, mereka akhirnya terdiam dan mengakui perhitungan itu.Sahabatku mencibir dingin beberapa kali, lalu terus mendesak, "Kapten Daniel. Aku masih ingat, dulu waktu mendaftarkan pernikahan, kamu bilang akan mencintainya seumur hidup.""Jadi menurutmu, memberi dia cuma dua juta sebulan dan membiarkannya hidup sesulit itu disebut cinta? Lihat baik-baik. Apa hitungan utangmu sama dia sudah benar!"Daniel mengangkat kepala dengan wajah panik. Benar saja, angka di layar masih kurang lebih dari 400 juta untuk mencapai empat miliar sebelumnya.Dia tiba-tiba teringat sesuatu. Bibirnya mulai bergetar. "Nggak mungkin ... nggak mungkin ....""Kamu masih ingat nggak angka itu?"Air mata sahabatku akhirnya jatuh. Matanya memerah saat mengingat kepedihanku. "Itu biaya kuliahmu selama tiga tahun. Semua itu dia kumpulkan sedikit demi sedikit! Demi mengumpulkan uang untukmu, dalam setengah tahun berat badannya turun tu

  • Penghargaan yang Diterima Saat Sang Istri Dilahap Api   Bab 6

    Orang-orang yang menonton dari bawah panggung mulai menggerutu, "Itu semua memang kewajiban perempuan yang sudah menikah. Kenapa harus dihitung dengan uang? Laki-laki cari nafkah di luar, perempuan urus rumah. Bukankah itu sudah seharusnya?"Petugas bagian perhitungan dari kantor catatan sipil tersenyum dan bertanya dengan tenang, "Kalau menyewa pembantu rumah tangga, perlu bayar nggak?"Dari bawah terdengar jawaban, "Perlu.""Kalau menyewa petugas kebersihan, perlu bayar nggak?""Perlu juga.""Kalau menyewa perawat, perlu bayar nggak?""Ya, tetap perlu!"Petugas itu melanjutkan dengan nada tetap sopan, "Kalau kalian mengakui semua itu perlu dibayar, berarti pekerjaan tersebut memang bernilai. Lalu kenapa setelah menikah, nilai seorang perempuan, khususnya ibu rumah tangga penuh waktu, malah kalian anggap nggak ada?"Suasana di lokasi mendadak sunyi.Namun, samar-samar masih terdengar isak tangis tertahan. Entah berasal dari sudut mana dan entah dari siapa. Mungkin, itu datang dari set

  • Penghargaan yang Diterima Saat Sang Istri Dilahap Api   Bab 5

    "Mana mungkin! Bagaimana aku bisa berutang uang sebanyak itu pada Meisy! Dia cuma ibu rumah tangga!""Di mana dia? Kenapa malah kamu yang naik menggantikannya! Ini jelas nggak adil!"Daniel menatap angka dua miliar itu dengan wajah tak percaya. Tak lama kemudian, angka itu menurun menjadi nol, lalu terus jatuh hingga berubah menjadi angka negatif. Sementara itu, angka negatif di atas kepala sahabatku malah perlahan naik, bahkan melonjak sampai empat miliar.Kerumunan penonton ikut ricuh. Mereka berteriak bahwa sahabatku naik menggantikanku, jelas-jelas itu kecurangan.Rania bahkan memungut botol air mineral dari lantai dan melemparkannya ke arah sahabatku. "Sistem sampah apa ini. Ternyata cuma alat buat mempermainkan orang. Suruh Meisy keluar dan bayar utangnya!""Iya, bayar! Bayar!" Orang-orang di sekitar ikut menyahut.Botol itu melesat lurus ke arah sahabatku. Aku refleks berdiri di depannya, tetapi hanya bisa menatap kosong saat botol itu menembus tubuhku.Untungnya, Wakil Komandan

  • Penghargaan yang Diterima Saat Sang Istri Dilahap Api   Bab 4

    Setelah bermesraan dengan sengit, Rania kelelahan dan tertidur. Entah kenapa, Daniel tiba-tiba teringat padaku, istri yang menemaninya sejak masa sulit.Dia pelan-pelan mengambil ponsel dan membuka daftar kontak satu per satu. Saat menemukan kontak dengan tanda tangan "Mencintai Daniel Selamanya", dia pun menghela napas lega, lalu bersikap seolah berbaik hati mengirim pesan kepadaku.[ Sudah, jangan drama. Aku nggak akan benar-benar menagih uang darimu, cukup kembali dan berikan kulitmu untuk Rania. Dia masih gadis muda. Kalau sampai ada bekas luka, gimana nanti dia menikah? Cepat kembali, aku menunggumu di rumah sakit. ]Namun, layar ponsel mati dan menyala bergantian, tetap saja tak ada balasan dariku. Dengan kesal, dia mencium pipi Rania seolah melampiaskan emosi.Aku memaksakan senyum tipis. Di satu sisi terasa menyedihkan, di sisi lain justru terasa melegakan.Menyedihkan karena aku yang dulu bodoh, benar-benar akan melonjak kegirangan menerima pesan seperti itu. Tak akan pernah t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status