Se connecterSetelah mendaftarkan pernikahan selama lima tahun, suamiku yang seorang pemadam kebakaran selalu berkata dia tidak punya waktu untuk menggelar acara pernikahan. Akan tetapi, sekarang tiba-tiba dia mengatakan ada waktu. Namun pada hari upacara, aku sama sekali tidak bisa menghubunginya. Sampai akhirnya aku melihat sebuah video di grup keluarga .... Seorang adik junior perempuan menggandeng lengannya dan menerima langsung medali "Pahlawan Pemadam Kebakaran" yang dianugerahkan oleh wali kota. Grup keluarga pun dipenuhi rasa iri. [ Pasangan Kapten Daniel memang cantik, nggak seperti istriku yang cuma bisa mengurus rumah sampai wajahnya kusam. ] [ Iya, anggun dan tenang sekali. Pasti istri yang bijak di balik kesuksesan Kapten Daniel. ] Dengan tangan kasar yang gemetar, aku hendak berkata bahwa akulah istri Daniel. Namun, tiba-tiba terdengar dentuman keras. Terjadi ledakan gas di dapur. Sambil menahan rasa sakit seperti dipanggang suhu tinggi, aku meneleponnya untuk meminta tolong. Telepon itu malah direspons dengan nada tidak sabar, "Ribut apa sih? Aku bilang mau mengadakan pernikahan cuma supaya kamu nggak datang bikin drama." "Ayah Rania gugur demi menyelamatkanku. Aku membiarkannya menerima penghargaan sebagai istriku, itu nggak berlebihan, 'kan?" Aku tertegun sejenak. Lalu, telepon itu diputus tanpa ragu.
Voir plusLlovía fuerte en la ciudad. El sonido de las gotas golpeando los grandes ventanales de la habitación parecía una cuenta regresiva en su cabeza.
Emma estaba sentada en el borde de la bañera, descalza y temblando. El corazón le latía tan rápido que le dolía el pecho. Entre sus manos sudorosas sostenía aquella pequeña prueba de plástico.
Dos líneas rojas. Positivo. Estaba embarazada.
Acababa de cumplir la cláusula principal del contrato. Acababa de sellar su trato con Nicolás.
Le vendió su libertad a Nicolás Altamirano solo para poder pagar el hospital de su madre. Aceptó ponerse un anillo carísimo, fingir que era feliz frente a su familia y dormir con un hombre que la tocaba solo para darle un hijo, no porque realmente la amara.
Pero el contrato no decía nada sobre lo que pasaría si ella se enamoraba perdidamente de su esposo falso. Ese fue su mayor error.
El ruido de la puerta abriéndose de golpe la asustó.
—Emma, ¿estás ahí?
La voz de Nicolás sonó grave y jadeante.
Era el mismo tono autoritario que usaba para dar órdenes en su empresa, pero cuando estaban solos, su voz tenía algo distinto, algo que a ella siempre le erizaba la piel.
Escuchó sus pasos acercándose hasta que él se detuvo en la puerta del baño.
Emma levantó la vista despacio. Nicolás tenía el saco abierto y la corbata suelta. Se veía agotado, pero igual de guapo que siempre.
Sus ojos grises miraron todo en un segundo: la cara llorosa de Emma, sus hombros caídos y, por último, lo que ella intentaba esconder con desesperación entre sus manos.
El silencio en el baño se volvió opresivo.
—Ya lo conseguiste —dijo Emma, con la voz rota por el llanto—. Cumplí con el trato, Nicolás. Vas a tener a tu hijo. Ya nadie en tu familia podrá quitarte la empresa. Ganaste.
Nicolás no se movió. Su rostro serio no mostraba ninguna emoción. Dio unos pasos lentos y se paró frente a ella.
—Mírame a los ojos —le pidió en voz baja.
Emma negó con la cabeza y apretó los labios para no sollozar. Tenía mucho miedo.
—¿Qué va a pasar ahora? —preguntó ella casi en un susurro, agarrándose fuerte de los bordes de la bañera—. ¿Me vas a dejar a un lado? ¿Me vas a encerrar en esta casa inmensa mientras tú sigues con tu vida? Te lo juro, Nicolás, si intentas quitarme a este bebé con tus abogados, yo...
Ni siquiera pudo terminar de hablar.
Nicolás se arrodilló frente a ella en el suelo frío, sin importarle ensuciar su traje. Con una suavidad increíble, tomó la cara de Emma entre sus manos y le secó las lágrimas con los pulgares.
Cuando ella lo miró, no vio al empresario al que todos le tenían terror. Vio a un hombre desesperado, mirándola con una intensidad que le robó el aliento.
—Ese contrato dejó de importarme el día que te hice mía por primera vez, Emma —le dijo Nicolás con la voz suave, acariciando su mejilla—. Eres mi esposa. Eres la madre de mi hijo. Y te juro que si alguien intenta alejarte de mi lado, lo mato.
Él bajó la mirada hacia el vientre de Emma, y por primera vez desde que lo conocía, notó cómo le temblaban las manos al todopoderoso Nicolás Altamirano.
—Ustedes son mi familia ahora. Son todo lo que tengo —murmuró.
Luego, acortó la distancia y la besó con desesperación, demostrándole que el trato ya no era fingido, sino completamente real.
"Halo, saya Daniel. Ibu Meisy masih di panti jompo, 'kan?""Tolong jaga dia. Nanti saya akan menjemput."Menjaga ibuku adalah satu-satunya cara penebusan yang bisa Daniel pikirkan.Namun, ucapan perawat berikutnya membuat hatinya benar-benar hancur. "Saya sudah bilang terakhir kali, Bu Winona sudah tidak ada.""Pergi ... pergi ke mana?""Aduh, meninggal karena kecelakaan. Tepat di depan markas pemadam kebakaran. Kapten Daniel, Anda tidak tahu?"Ponsel itu terlepas dari tangannya. Daniel menatap kosong ke depan, tidak sanggup memercayai semua ini nyata.Sahabatku akhirnya tidak bisa menahan diri. Dia menerjang dan menampar Daniel dengan keras. "Daniel, kamu ini binatang! Ibu Meisy hanya punya kecerdasan setara anak tujuh tahun. Dia nggak mengerti apa-apa, tapi dia tahu harus menyelamatkan Meisy! Dia masih mengira kamu akan menyelamatkan Meisy. Sampai napas terakhirnya di genangan darah, dia masih memanggil namamu!"Dadaku terasa seperti diremas kuat. Aku ingin sekali pergi mencari ibuku
Ucapan itu bagai petir di siang bolong. Daniel mendadak membelalakkan mata, sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.Meisy meninggal? Bagaimana mungkin?"Nggak mungkin! Hari itu aku sama sekali nggak menerima satu pun laporan kebakaran! Meisy nggak mungkin mati!"Wakil komandan tertawa sinis terhadap atasannya sendiri. "Benar. Kamu memang nggak menerima laporan itu. Tapi adik junior kesayanganmu yang menerimanya.""Seandainya dia sedikit saja lebih cepat. Seandainya saja dia kasih tahu kami ...." Seolah teringat sesuatu yang mengerikan, wakil komandan mengepalkan tinjunya dengan penuh rasa sakit.Aku menatap mereka, lalu menurunkan pandangan.Benar. Sedikit saja lebih cepat, mungkin aku masih bisa diselamatkan. Namun, beberapa menit yang sengaja ditunda itulah yang membuatku mati tercekik di tengah asap pekat."Dia sangat ingin hidup. Dengan tubuh yang sudah melepuh, dia merangkak sampai ke pintu. Tapi pada akhirnya tetap nggak bisa keluar.""Nggak ada orang yan
Suasana hati orang-orang di bawah panggung ikut naik turun. Melihat angka-angka di layar, mereka akhirnya terdiam dan mengakui perhitungan itu.Sahabatku mencibir dingin beberapa kali, lalu terus mendesak, "Kapten Daniel. Aku masih ingat, dulu waktu mendaftarkan pernikahan, kamu bilang akan mencintainya seumur hidup.""Jadi menurutmu, memberi dia cuma dua juta sebulan dan membiarkannya hidup sesulit itu disebut cinta? Lihat baik-baik. Apa hitungan utangmu sama dia sudah benar!"Daniel mengangkat kepala dengan wajah panik. Benar saja, angka di layar masih kurang lebih dari 400 juta untuk mencapai empat miliar sebelumnya.Dia tiba-tiba teringat sesuatu. Bibirnya mulai bergetar. "Nggak mungkin ... nggak mungkin ....""Kamu masih ingat nggak angka itu?"Air mata sahabatku akhirnya jatuh. Matanya memerah saat mengingat kepedihanku. "Itu biaya kuliahmu selama tiga tahun. Semua itu dia kumpulkan sedikit demi sedikit! Demi mengumpulkan uang untukmu, dalam setengah tahun berat badannya turun tu
Orang-orang yang menonton dari bawah panggung mulai menggerutu, "Itu semua memang kewajiban perempuan yang sudah menikah. Kenapa harus dihitung dengan uang? Laki-laki cari nafkah di luar, perempuan urus rumah. Bukankah itu sudah seharusnya?"Petugas bagian perhitungan dari kantor catatan sipil tersenyum dan bertanya dengan tenang, "Kalau menyewa pembantu rumah tangga, perlu bayar nggak?"Dari bawah terdengar jawaban, "Perlu.""Kalau menyewa petugas kebersihan, perlu bayar nggak?""Perlu juga.""Kalau menyewa perawat, perlu bayar nggak?""Ya, tetap perlu!"Petugas itu melanjutkan dengan nada tetap sopan, "Kalau kalian mengakui semua itu perlu dibayar, berarti pekerjaan tersebut memang bernilai. Lalu kenapa setelah menikah, nilai seorang perempuan, khususnya ibu rumah tangga penuh waktu, malah kalian anggap nggak ada?"Suasana di lokasi mendadak sunyi.Namun, samar-samar masih terdengar isak tangis tertahan. Entah berasal dari sudut mana dan entah dari siapa. Mungkin, itu datang dari set






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentaires