Short
Penghargaan yang Diterima Saat Sang Istri Dilahap Api

Penghargaan yang Diterima Saat Sang Istri Dilahap Api

By:  SafiraCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
2.8Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Setelah mendaftarkan pernikahan selama lima tahun, suamiku yang seorang pemadam kebakaran selalu berkata dia tidak punya waktu untuk menggelar acara pernikahan. Akan tetapi, sekarang tiba-tiba dia mengatakan ada waktu. Namun pada hari upacara, aku sama sekali tidak bisa menghubunginya. Sampai akhirnya aku melihat sebuah video di grup keluarga .... Seorang adik junior perempuan menggandeng lengannya dan menerima langsung medali "Pahlawan Pemadam Kebakaran" yang dianugerahkan oleh wali kota. Grup keluarga pun dipenuhi rasa iri. [ Pasangan Kapten Daniel memang cantik, nggak seperti istriku yang cuma bisa mengurus rumah sampai wajahnya kusam. ] [ Iya, anggun dan tenang sekali. Pasti istri yang bijak di balik kesuksesan Kapten Daniel. ] Dengan tangan kasar yang gemetar, aku hendak berkata bahwa akulah istri Daniel. Namun, tiba-tiba terdengar dentuman keras. Terjadi ledakan gas di dapur. Sambil menahan rasa sakit seperti dipanggang suhu tinggi, aku meneleponnya untuk meminta tolong. Telepon itu malah direspons dengan nada tidak sabar, "Ribut apa sih? Aku bilang mau mengadakan pernikahan cuma supaya kamu nggak datang bikin drama." "Ayah Rania gugur demi menyelamatkanku. Aku membiarkannya menerima penghargaan sebagai istriku, itu nggak berlebihan, 'kan?" Aku tertegun sejenak. Lalu, telepon itu diputus tanpa ragu.

View More

Chapter 1

Bab 1

Setelah mendaftarkan pernikahan selama lima tahun, suamiku yang seorang pemadam kebakaran selalu berkata dia tidak punya waktu untuk menggelar acara pernikahan. Akan tetapi, sekarang tiba-tiba dia mengatakan ada waktu.

Namun pada hari upacara, aku sama sekali tidak bisa menghubunginya. Sampai akhirnya aku melihat sebuah video di grup keluarga ....

Seorang adik junior perempuan menggandeng lengannya dan menerima langsung medali "Pahlawan Pemadam Kebakaran" yang dianugerahkan oleh wali kota.

Grup keluarga pun dipenuhi rasa iri.

[ Pasangan Kapten Daniel memang cantik, nggak seperti istriku yang cuma bisa mengurus rumah sampai wajahnya kusam. ]

[ Iya, anggun dan tenang sekali. Pasti istri yang bijak di balik kesuksesan Kapten Daniel. ]

Dengan tangan kasar yang gemetar, aku hendak berkata bahwa akulah istri Daniel. Namun, tiba-tiba terdengar dentuman keras. Terjadi ledakan gas di dapur.

Sambil menahan rasa sakit seperti dipanggang suhu tinggi, aku meneleponnya untuk meminta tolong.

Telepon itu malah direspons dengan nada tidak sabar, "Ribut apa sih? Aku bilang mau mengadakan pernikahan cuma supaya kamu nggak datang bikin drama."

"Ayah Rania gugur demi menyelamatkanku. Aku membiarkannya menerima penghargaan sebagai istriku, itu nggak berlebihan, 'kan?"

....

Aku tertegun sejenak. Lalu, telepon itu diputus tanpa ragu. Saat kutelepon lagi, ponselnya sudah tidak aktif.

Sebulan kemudian, adik junior itu mengalami luka bakar.

Untuk keperluan cangkok kulitnya, Daniel akhirnya teringat padaku. "Sudah perang dingin selama ini, memang ada gunanya?"

"Aku beri kamu waktu setengah jam untuk muncul. Kalau Rania sampai meninggalkan bekas luka, aku akan cerai denganmu dan kita hitung semuanya masing-masing!"

Perhitungan yang dimaksud adalah semua pengorbanan dalam pernikahan akan diberi harga yang jelas. Sementara ... aku adalah ibu rumah tangga yang tidak punya apa-apa. Dia yakin aku pasti akan datang. Namun dia tidak tahu, aku dan anak di dalam kandunganku sudah lama terkubur dalam lautan api.

Saat baru meninggalkan rumah pernikahan, aku masih belum terbiasa. Pernah ada arwah yang berkata, jika orang yang kucintai merindukanku, aku bisa meninggalkan tempat kematian ini. Namun setelah sebulan berlalu, aku bahkan tak bisa melangkah keluar pintu.

Semata-mata karena suamiku tak pernah memikirkanku. Sekarang, satu-satunya alasan dia mencariku pun hanyalah untuk mencangkok kulit bagi Rania.

Aku tersenyum getir. Masuk akal juga. Saat aku hidup saja dia tidak peduli. Apalagi, sekarang sudah meninggal.

Daniel sedang mensterilkan luka Rania. Di matanya ada rasa sayang yang belum pernah kulihat sebelumnya.

Ponselnya berdering. Dia refleks mengira itu aku, lalu menyeringai meremehkan. Ternyata panggilan tugas dari kantor.

"Wakil komandan itu cuma pajangan, ya? Sudah kubilang, Rania terluka bakar, aku harus menemaninya di rumah sakit. Soal penilaian dan promosi itu nggak penting. Demi Rania, aku rela menyerahkan kesempatan ini pada orang lain."

Panggilan itu berakhir dalam sepuluh detik.

Mataku terasa perih dan dadaku sesak. Ternyata bukan dia tidak punya waktu untuk menemaniku. Dia hanya tidak ingin. Atau mungkin, satu-satunya orang yang membuatnya mau melanggar prinsip hanyalah adik junior kesayangannya.

Rania mengerucutkan bibir mungilnya yang kemerahan. Wajahnya masih menyimpan kecantikan yang belum tersentuh asap dapur. "Kak Daniel, jangan-jangan Kak Meisy sengaja bersembunyi karena nggak mau memberikan kulitnya untukku?"

"Nggak apa-apa. Kalau aku nanti nggak bisa menikah, aku akan tinggal selamanya di markas pemadam, jaga gerbang saja."

Setelah mendengar ucapannya, sorot mata Daniel menjadi semakin kejam. Untuk pertama kalinya, dia yang meneleponku lebih dulu.

Namun di seberang sana, tak pernah ada yang mengangkat. Dalam kepanikan, dia menelepon sahabatku.

Sahabatku memakinya habis-habisan, "Daniel! Waktu Meisy terbakar hidup-hidup, kamu ada di mana? Apa kamu tahu? Dia baru saja mengandung anakmu!"

Daniel mendengus mengejek, lalu langsung memesan perceraian lewat ponselnya. "Kalian bersekongkol menipuku, ya? Aku ini kapten pemadam kebakaran. Kalau ada kebakaran, apa mungkin aku nggak tahu? Sampaikan ke dia, kalau masih mau lanjut perang dingin, aku akan menceraikannya!"

Cerai ....

Padahal detak jantungku sudah lama berhenti, dadaku tetap terasa sakit hingga sesak. Aku menatap tubuhku yang setengah transparan dan tersenyum pilu.

'Daniel, oh Daniel. Nggak perlu cerai. Sejak sebulan lalu, kamu sudah bebas.'

Sahabatku memakinya sebagai binatang. Siapa sangka dia malah semakin kejam. "Aku binatang? Oke! Sampaikan juga ke dia, kalau dia masih nggak mau mengaku salah, aku akan mengusir ibu cacat mentalnya dari panti jompo dan membiarkannya hidup gelandangan di jalan!"

Begitu selesai bicara, dia langsung memutuskan sambungan.

Di sisi lain telepon, sahabatku menangis tersedu-sedu. "Ibu? Ibu apa lagi .... Ibu bodohnya itu ... sudah lama meninggal. Saat dia pergi mencarimu untuk minta tolong, dia tertabrak mobil dan tewas di tempat ...."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status