Share

Bab 3

Author: Safira
Setelah menerima rincian tagihan itu, sahabatku mengirimkan kepadanya serangkaian pesan suara.

Seandainya saja Daniel mau membukanya, dia akan mendengar berita tentang kebakaran itu. Sayangnya, dia tidak melakukannya. Setiap orang dan setiap hal yang berkaitan denganku, selalu membuatnya tidak sabar sejak dulu.

Setengah jam berlalu tanpa respons dariku. Dia langsung menelepon panti jompo. "Aku Daniel. Hentikan segera semua biaya Winona dan usir dia keluar."

Perawat di seberang sana terdiam sejenak, lalu membuka buku catatan dengan raut ragu. "Yang Anda maksud itu ibunya Nona Meisy?"

"Ya."

"Bu Winona ... sudah meninggal karena kecelakaan sebulan yang lalu."

Napas Daniel tertahan dan matanya sedikit membelalak. Namun detik berikutnya, dia merasa itu mustahil. "Pasti Meisy yang menyuruhmu bilang begitu, 'kan? Mana mungkin ada orang tertabrak mobil di panti jompo? Mau bohong saja nggak masuk akal. Usir dia sekarang juga. Aku nggak mau mengulanginya."

Nada sambung terputus terdengar. Perawat itu hanya bisa merasa heran. "Dia 'kan pergi menghadiri pernikahan putrinya ... lalu tertabrak mobil di depan markas pemadam kebakaran ...."

Kalimat itu tidak pernah sampai ke telinga Daniel. Dia sudah sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Rania.

Sebab, dulu Daniel pernah berjanji kepada ayah Rania bahwa dia akan membuat putrinya menjadi wanita paling bahagia di dunia. Harapan ulang tahun yang pernah diucapkan Rania adalah menikah dengannya.

Daniel mengelus pipinya dengan penuh kelembutan. "Rania, meski aku nggak bisa mendaftarkan pernikahan dan menjadi pasangan resmi denganmu, aku akan memberimu pernikahan paling romantis."

Jari Rania mencengkeram telapak tangannya sendiri. Dengan nada tidak rela, dia bertanya, "Kenapa ... kalau Kak Meisy sampai setuju bercerai gimana?"

"Dia nggak akan."

Daniel menjawab tanpa ragu. "Aku juga nggak akan cerai. Soal cerai itu cuma untuk memancing dia kembali, supaya dia mau memberikan kulitnya untukmu."

"Aku sudah delapan tahun bersamanya, masih ada perasaan. Dia sudah lama mengurus rumah ini. Meski nggak berjasa besar, setidaknya dia sudah banyak berkorban."

Mendengar hal itu, aku agak terkejut.

Tak kusangka, Daniel benar-benar bisa berkata bahwa dia masih punya perasaan padaku. Perasaan macam apa?

Apakah karena sudah terbiasa memanggilku sesuka hati dan mengusirku kapan saja? Atau karena sikap tidak peduli dan acuh tak acuh, serta keyakinan bahwa aku tidak akan pernah bisa meninggalkannya?

Perasaannya terlalu mahal. Bahkan menuntut nyawa sebagai harga. Aku benar-benar tidak sanggup membayarnya.

Rania menggigit bibirnya dengan kuat. Butuh usaha besar baginya untuk menahan kecemburuan yang meluap-luap di dalam dada, lalu dia terpaksa mengangguk pelan. Melihat kekecewaannya, Daniel baru hendak menenangkan, ketika sebuah pesan dari kantor catatan sipil kembali masuk.

[ Karena Anda adalah pemohon pertama perceraian dengan skema pembagian secara adil, proses ini akan dilakukan melalui penilaian terbuka. Apakah Anda menyetujui? ]

Daniel bahkan tidak berpikir. Dia langsung menekan tombol setuju. Bagaimanapun, dalam pandangannya, pasti akulah yang lebih banyak berutang padanya.

Aku melayang di udara, hatiku terasa perih dan asam. Aku ingin menghentikan semuanya, tapi mustahil. Tak kusangka, bahkan setelah mati, aku masih harus dipermalukan di depan umum dan dicap sebagai parasit penguras harta.

Bagaimanapun juga, selama bertahun-tahun ini aku memang tidak punya penghasilan. Hidupku hanya berputar di antara urusan rumah tangga.

Namun beberapa menit kemudian, aku melihat sahabatku mengirim pesan kepada Daniel. Di dalamnya juga ada sebuah daftar.

Mencuci pakaian, memasak, merawat orang tua, semuanya ternyata bisa dihitung sebagai upah. Ini ... bagaimana mungkin?

Aku tidak bisa melihat seluruh isinya. Aku pun menoleh mencari Daniel. Namun, dia tiba-tiba dicium oleh Rania dan sama sekali tidak punya waktu membaca pesan itu. Dia sempat ingin mendorong Rania pergi, tetapi malah dipeluk semakin erat.

"Kak, sekali saja. Aku cuma ingin mendapatkanmu sekali."

Mendengar hal itu, wajah Daniel tampak berjuang menahan diri. Namun pada akhirnya, kepalan tangannya yang menegang perlahan mengendur. Dia memeluk Rania, lalu mereka terjatuh bersama.

Tak lama kemudian, ranjang rumah sakit itu bergoyang tanpa henti.

Aku menatap pemandangan di hadapanku, sudut mataku tersenyum sambil meneteskan air mata duka.

'Daniel, sekarang aku mengerti. Ternyata, caramu memperlakukan delapan tahun kebersamaan kita ini adalah dengan pengkhianatan.'
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penghargaan yang Diterima Saat Sang Istri Dilahap Api   Bab 9

    "Halo, saya Daniel. Ibu Meisy masih di panti jompo, 'kan?""Tolong jaga dia. Nanti saya akan menjemput."Menjaga ibuku adalah satu-satunya cara penebusan yang bisa Daniel pikirkan.Namun, ucapan perawat berikutnya membuat hatinya benar-benar hancur. "Saya sudah bilang terakhir kali, Bu Winona sudah tidak ada.""Pergi ... pergi ke mana?""Aduh, meninggal karena kecelakaan. Tepat di depan markas pemadam kebakaran. Kapten Daniel, Anda tidak tahu?"Ponsel itu terlepas dari tangannya. Daniel menatap kosong ke depan, tidak sanggup memercayai semua ini nyata.Sahabatku akhirnya tidak bisa menahan diri. Dia menerjang dan menampar Daniel dengan keras. "Daniel, kamu ini binatang! Ibu Meisy hanya punya kecerdasan setara anak tujuh tahun. Dia nggak mengerti apa-apa, tapi dia tahu harus menyelamatkan Meisy! Dia masih mengira kamu akan menyelamatkan Meisy. Sampai napas terakhirnya di genangan darah, dia masih memanggil namamu!"Dadaku terasa seperti diremas kuat. Aku ingin sekali pergi mencari ibuku

  • Penghargaan yang Diterima Saat Sang Istri Dilahap Api   Bab 8

    Ucapan itu bagai petir di siang bolong. Daniel mendadak membelalakkan mata, sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.Meisy meninggal? Bagaimana mungkin?"Nggak mungkin! Hari itu aku sama sekali nggak menerima satu pun laporan kebakaran! Meisy nggak mungkin mati!"Wakil komandan tertawa sinis terhadap atasannya sendiri. "Benar. Kamu memang nggak menerima laporan itu. Tapi adik junior kesayanganmu yang menerimanya.""Seandainya dia sedikit saja lebih cepat. Seandainya saja dia kasih tahu kami ...." Seolah teringat sesuatu yang mengerikan, wakil komandan mengepalkan tinjunya dengan penuh rasa sakit.Aku menatap mereka, lalu menurunkan pandangan.Benar. Sedikit saja lebih cepat, mungkin aku masih bisa diselamatkan. Namun, beberapa menit yang sengaja ditunda itulah yang membuatku mati tercekik di tengah asap pekat."Dia sangat ingin hidup. Dengan tubuh yang sudah melepuh, dia merangkak sampai ke pintu. Tapi pada akhirnya tetap nggak bisa keluar.""Nggak ada orang yan

  • Penghargaan yang Diterima Saat Sang Istri Dilahap Api   Bab 7

    Suasana hati orang-orang di bawah panggung ikut naik turun. Melihat angka-angka di layar, mereka akhirnya terdiam dan mengakui perhitungan itu.Sahabatku mencibir dingin beberapa kali, lalu terus mendesak, "Kapten Daniel. Aku masih ingat, dulu waktu mendaftarkan pernikahan, kamu bilang akan mencintainya seumur hidup.""Jadi menurutmu, memberi dia cuma dua juta sebulan dan membiarkannya hidup sesulit itu disebut cinta? Lihat baik-baik. Apa hitungan utangmu sama dia sudah benar!"Daniel mengangkat kepala dengan wajah panik. Benar saja, angka di layar masih kurang lebih dari 400 juta untuk mencapai empat miliar sebelumnya.Dia tiba-tiba teringat sesuatu. Bibirnya mulai bergetar. "Nggak mungkin ... nggak mungkin ....""Kamu masih ingat nggak angka itu?"Air mata sahabatku akhirnya jatuh. Matanya memerah saat mengingat kepedihanku. "Itu biaya kuliahmu selama tiga tahun. Semua itu dia kumpulkan sedikit demi sedikit! Demi mengumpulkan uang untukmu, dalam setengah tahun berat badannya turun tu

  • Penghargaan yang Diterima Saat Sang Istri Dilahap Api   Bab 6

    Orang-orang yang menonton dari bawah panggung mulai menggerutu, "Itu semua memang kewajiban perempuan yang sudah menikah. Kenapa harus dihitung dengan uang? Laki-laki cari nafkah di luar, perempuan urus rumah. Bukankah itu sudah seharusnya?"Petugas bagian perhitungan dari kantor catatan sipil tersenyum dan bertanya dengan tenang, "Kalau menyewa pembantu rumah tangga, perlu bayar nggak?"Dari bawah terdengar jawaban, "Perlu.""Kalau menyewa petugas kebersihan, perlu bayar nggak?""Perlu juga.""Kalau menyewa perawat, perlu bayar nggak?""Ya, tetap perlu!"Petugas itu melanjutkan dengan nada tetap sopan, "Kalau kalian mengakui semua itu perlu dibayar, berarti pekerjaan tersebut memang bernilai. Lalu kenapa setelah menikah, nilai seorang perempuan, khususnya ibu rumah tangga penuh waktu, malah kalian anggap nggak ada?"Suasana di lokasi mendadak sunyi.Namun, samar-samar masih terdengar isak tangis tertahan. Entah berasal dari sudut mana dan entah dari siapa. Mungkin, itu datang dari set

  • Penghargaan yang Diterima Saat Sang Istri Dilahap Api   Bab 5

    "Mana mungkin! Bagaimana aku bisa berutang uang sebanyak itu pada Meisy! Dia cuma ibu rumah tangga!""Di mana dia? Kenapa malah kamu yang naik menggantikannya! Ini jelas nggak adil!"Daniel menatap angka dua miliar itu dengan wajah tak percaya. Tak lama kemudian, angka itu menurun menjadi nol, lalu terus jatuh hingga berubah menjadi angka negatif. Sementara itu, angka negatif di atas kepala sahabatku malah perlahan naik, bahkan melonjak sampai empat miliar.Kerumunan penonton ikut ricuh. Mereka berteriak bahwa sahabatku naik menggantikanku, jelas-jelas itu kecurangan.Rania bahkan memungut botol air mineral dari lantai dan melemparkannya ke arah sahabatku. "Sistem sampah apa ini. Ternyata cuma alat buat mempermainkan orang. Suruh Meisy keluar dan bayar utangnya!""Iya, bayar! Bayar!" Orang-orang di sekitar ikut menyahut.Botol itu melesat lurus ke arah sahabatku. Aku refleks berdiri di depannya, tetapi hanya bisa menatap kosong saat botol itu menembus tubuhku.Untungnya, Wakil Komandan

  • Penghargaan yang Diterima Saat Sang Istri Dilahap Api   Bab 4

    Setelah bermesraan dengan sengit, Rania kelelahan dan tertidur. Entah kenapa, Daniel tiba-tiba teringat padaku, istri yang menemaninya sejak masa sulit.Dia pelan-pelan mengambil ponsel dan membuka daftar kontak satu per satu. Saat menemukan kontak dengan tanda tangan "Mencintai Daniel Selamanya", dia pun menghela napas lega, lalu bersikap seolah berbaik hati mengirim pesan kepadaku.[ Sudah, jangan drama. Aku nggak akan benar-benar menagih uang darimu, cukup kembali dan berikan kulitmu untuk Rania. Dia masih gadis muda. Kalau sampai ada bekas luka, gimana nanti dia menikah? Cepat kembali, aku menunggumu di rumah sakit. ]Namun, layar ponsel mati dan menyala bergantian, tetap saja tak ada balasan dariku. Dengan kesal, dia mencium pipi Rania seolah melampiaskan emosi.Aku memaksakan senyum tipis. Di satu sisi terasa menyedihkan, di sisi lain justru terasa melegakan.Menyedihkan karena aku yang dulu bodoh, benar-benar akan melonjak kegirangan menerima pesan seperti itu. Tak akan pernah t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status