LOGIN
Aku merasakan ada sesuatu yang jatuh dari atas langit-langit plafon di mana aku sedang terbaring. Rasanya tidak nyaman ketika sesuatu itu menimpa wajahku.
"Apaan sih? Kok rasanya geli?" gumamku, meski mataku terasa amat berat, aku memaksakan kelopak mataku agar terbuka lebih lebar. Deg! Jantungku berhenti berdetak saat melihat belatung-belatung seukuran butir nasi itu jatuh satu per satu, menumpuk di wajahku. Aku tertegun, tidak percaya dengan apa yang terjadi. Duk, duk, duk! Bunyi aneh seperti hentakan kaki tiba-tiba terdengar di atas palafon, di sela-sela plafon, keluar belatung yang tercurah seperti hujan. "Akkkh..." aku berusaha menjerit, ingin mengeluarkan suara, namun suaraku tercekat. Belatung-belatung mulai bergerak, menggeliat di pipi, hidung, bahkan masuk ke dalam sudut mataku. Aku mencoba mengusapnya dengan cepat, lagi-lagi tangan ini terasa berat, seolah ada yang menahannya. "Apa-apaan ini...? Menyingkir!" bisikku, nyaris tanpa suara. Aku merasa perutku sudah sangat mual, jijik dan ingin muntah. "Nggak, ini nggak beres. Ini pasti cuma mimpi, gue harus bangun!" aku membatin, sekuat tenaga aku berusaha bangun. Tetapi aku seperti dipaksa untuk terus terbaring dan menatap ke arah palafon. "Ya Allah, tubuh gue kenapa? Kok gue nggak bisa nge gerakin tubuh gue?" batinku meracau. Tiba-tiba plafon yang terbuat dari triplek itu patah, mengeluarkan suara. "Krek!" sontak saja sebuah kepala keluar dari patahan plafon tersebut. "Astaghfirullah, Ya Allah!" aku refleks beristighfar saat melihat rambut seorang wanita terjuntai, menutupi wajah. Perlahan, makhluk di atas plafon itu mengangkat wajahnya perlahan, kepala itu posisinya ke bawah disusul dengan suara tawa yang membuat bulu kudukku seketika meremang. "Hihihi... Longo...!" makhluk itu berdesis, suaranya serak dan berat, seperti batu gerinda yang bergesekan dengan baja. Aku tertegun melihat wajah nun pucat kini menatapku dari plafon, rambutnya yang kusut menjuntai seperti akar pohon yang berayun-ayun. Mata mahkluk jelmaan wanita tampak hitam pekat, tidak ada putihnya sama sekali. Bukan hanya itu saja, cairan hitam pun menetes dari sudut bibir mahkluk tersebut yang merekah lebar, tertawa tanpa suara. Mulutnya sedikit terbuka, memamerkan gigi-gigi runcing dan hitam yang membuat tenggorokanku nyaris tercekik karena ketakutan. "Metu... Ojo ninggal ing kene..." lagi, suara wanita misterius tersebut berdesis. Aku tidak tahu apa yang dimaksud oleh mahkluk jelek di atas sana, tapi suara tersebut sudah berhasil membuat bulu-bulu halus di tubuhku berdiri, seakan ada ribuan jarum menusuk kulitku. "Ya Allah, ini mahkluk apaan? Nggak, ini bukan hantu. Pasti gue lagi sedang berhalusinasi!" Aku bergumam dalam hati, mencoba menggerakkan bibirku yang gemetar. "Hihihi..." wanita menyeramkan itu tertawa lagi. Aku terus memberontak, berupaya agar tubuhku yang lumpuh ini bisa bergerak. "Kinara ayo, lo harus maksa bangun, ini tuh cuma mimpi. Sadar!" yakinku pada diri sendiri, tapi tubuhku sama sekali tak mau bergerak. Aku tidak menyerah, aku mulai merapal doa dalam hati, "A'udzu billahi min ash-shaytan ir-rajim..." mencoba menenangkan diriku, berharap makhluk itu segera pergi. Namun, wanita seram tersebut tetap berada di sana, semakin mendekat. Belatung-belatung masih terus jatuh dari plafon, mengotori wajahku dan seolah menyusup ke pori-pori kulitku. Kini tangan kiriku terasa lemas, dengan sisa-sisa tenaga, aku mencoba mengangkat tanganku untuk mengusir belatung yang kini hampir masuk ke mulutku. "Allahu Akbar... Ya Allah, lindungi hamba," ucapku sambil menahan mual yang semakin kuat. Kepala wanita menyeramkan itu meluncur turun lebih rendah, wajahnya sekarang hanya beberapa inci dari wajahku. Deg, deg, deg! Jantungku seperti maraton, aku bisa melihat dengan jelas luka busuk di pipi kanan mahkluk itu yang menganga, mengeluarkan cairan merah kental, lebih ke hitam dan belatung. Mulut wanita menyeramkan itu bergerak, mengucapkan sesuatu dalam bahasa yang sama sekali tidak kumengerti, itu terdengar seperti mantra yang tidak henti-hentinya berdengung di telingaku. "Pergi! Menjauh! Lo pikir lo bisa menakutin gue, hah! Wajah lo itu jelek! Lo pikir lo cantik? Dasar mahkluk menjijikkan!" desahku lemah, berusaha memberanikan diri meski sekujur tubuhku gemetar hebat. Dengan sekuat tenaga, aku menggerakkan bibirku untuk melantunkan doa, "Bismillahirrahmanirrahim... Qul a'udzu birabbin nas..." Aku terus membacanya meski suaraku terdengar parau. Tiba-tiba semuanya berhenti. Belatung-belatung itu tidak lagi bergerak, dan suara tawa itu perlahan memudar. Aku terbangun dengan napas tersengal, tubuhku basah oleh keringat. "Haah... Astaghfirullah," aku berucap dengan refleks. Aku langsung duduk, memeriksa wajah dan tangan, memastikan tidak ada belatung yang tersisa. Ruang tengah di mana aku berbaring tampak normal, tapi detak jantungku masih menggila. “Ya Allah ... cuma mimpi,” bisikku sambil menyeka keringat di dahiku. Aku melihat jam di ponselku—baru pukul dua siang. “Tapi, kenapa mimpinya terasa begitu nyata?” tanyaku pada diri sendiri, masih terhanyut dalam perasaan takut yang belum benar-benar hilang. Aku bangkit dari lantai, mencoba menenangkan diri. Awalnya, aku baru saja tiba di rumah kontrakan ini tadi pagi. Aku datang lebih awal karena ingin membersihkan rumah sebelum teman-temanku yang lain datang. Kami semua sepakat untuk pindah ke sini setelah menemukan rumah dengan harga sewa yang terjangkau, meski kesan pertama rumah ini cukup menyeramkan. Rumah dua lantai bergaya klasik era 90-an itu tampak sunyi dan agak usang, dengan cat yang sudah mulai pudar di beberapa tempat dan dinding yang terlihat lembab. Kami tidak terlalu memikirkannya, karena harga sewa tujuh juta setahun untuk rumah sebesar ini benar-benar menggiurkan bagi mahasiswa seperti kami. Saat tiba pagi tadi, aku juga membawa peralatan kebersihan dan mulai menyapu serta mengepel lantai. Aku ingin memastikan rumah ini setidaknya layak sebelum teman-temanku tiba. Setelah hampir dua jam membersihkan, aku merasa lelah. Aku pun memutuskan untuk berbaring sebentar di lantai ruang tengah, menggunakan pashmina yang kubawa sebagai alas karena rumah ini kosong dan bahkan tak di cat oleh pemiliknya. Tiba-tiba rasa kantuk menyerangku, dan tanpa sadar aku pun tertidur. Dan sekarang, aku terbangun dari mimpi buruk yang begitu nyata—mimpi tentang wanita seram di plafon yang memanggilku dengan suara berdesis, "Longo..." Seolah-olah makhluk itu mencoba memanggilku, atau mungkin memperingatkanku tentang sesuatu yang tidak kuketahui. Sial! Aku menggigil hanya dengan memikirkan kejadian barusan, meskipun saat ini sinar matahari masih menembus jendela, menerangi ruangan dengan cahaya hangat, tetap saja ada perasaan ganjil yang tidak bisa kuabaikan, seolah ada yang tidak beres di rumah ini. “Seharusnya gue nggak langsung tidur tadi,” gumamku, sambil merapikan pashmina yang tadi kugunakan sebagai alas. "Mungkin karena capek, jadi mimpi aneh." Aku mencoba menenangkan diri sendiri, tapi entah kenapa, perasaan itu tidak mau hilang. Seperti ada sesuatu yang masih mengawasi, menunggu aku lengah lagi. Kupikir, mungkin lebih baik aku menunggu di luar saja sampai teman-temanku datang. Setidaknya, di luar rumah ini aku tidak akan merasa sesak seperti di dalam sini. Saat hendak menuju pintu depan, mataku terpaku pada ventilasi di atas pintu. Perasaan tidak nyaman itu kembali muncul, seperti ada bisikan yang memaksaku untuk memeriksa ventilasi itu. Aku terhenti sejenak, merasakan jantungku mulai berdebar lagi. “Apa sih, Kinara, kenapa lo tiba-tiba jadi parno kayak gini?” Aku menggelengkan kepala, mencoba mengabaikan perasaan aneh itu. Pada akhirnya, rasa penasaran lebih kuat daripada ketakutanku. "Ngapa gue malah gergetan sendiri sama ventilasi itu? Haah... Nggak bisa, Yura! Gue harus ngecek!" aku pun segera mencari kursi plastik yang ada di sudut ruangan, dan dengan sedikit ragu, aku menaiki kursi itu, mengulurkan tangan untuk meraba sela-sela ventilasi. Deg! Aku merasa tanganku menyentuh sesuatu. "Benda apa ini?" gumamku, alisku mengernyit.Enam bulan telah berlalu sejak perjalanan kami ke desa Pak Darmo untuk mengantarkan kepergian Mbak Dyah. Namun, kembali ke kehidupan normal ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Trauma tidak hilang hanya dalam semalam.Pada bulan pertama setelah kami pindah, sisa-sisa ketakutan itu masih sering menghampiri. Aku masih sering terbangun tengah malam dengan napas tersengal, secara refleks menatap ke arah plafon kamar kos baruku, takut melihat wajah hancur itu merangkak di sana. Andi sempat mengalami paranoia ringan; ia akan melompat kaget hanya karena mendengar suara ranting pohon bergesekan dengan jendela. Sementara Mira, ia butuh pendampingan psikologis dan spiritual yang cukup intens karena tubuh dan pikirannya pernah diambil alih secara paksa.Namun, waktu dan persahabatan terbukti menjadi obat yang paling ampuh. Kami berlima saling menguatkan. Jika salah satu dari kami merasa cemas, kamar kos kami selalu terbuka untuk dijadikan tempat berkumpul dadakan. Perlahan ta
Sebulan berlalu sejak kami menutup pintu rumah kontrakan itu untuk yang terakhir kalinya. Kehidupan kami sebagai mahasiswa kembali berjalan normal. Ujian semester yang sempat terbengkalai akhirnya bisa kami kejar, dan mimpi-mimpi buruk yang dulu selalu menghantui tidurku perlahan memudar, digantikan oleh malam-malam yang tenang.Hingga suatu sore, saat aku sedang mengerjakan tugas di kamar kos, ponselku bergetar. Sebuah pesan Wawa masuk dari nomor yang tidak asing. Pak Darmo."Assalamualaikum, Mbak Nara. Alhamdulillah, urusan dari kepolisian dan rumah sakit sudah selesai. Jenazah adik saya, Dyah, sore ini sudah bisa kami bawa pulang dan akan dimakamkan di desa. Kalau Mbak Nara dan teman-teman ada waktu, kami sangat berharap kalian bisa hadir."Aku terdiam menatap layar ponsel. Rasa hangat seketika menjalar di dadaku. Tanpa membuang waktu, aku langsung meneruskan pesan itu ke grup obrolan kami berlima.Hanya butuh waktu kurang dari lima menit sampai Heru membalas, "Gue rental mobil se
Satu minggu telah berlalu sejak kepindahan kami dari rumah kontrakan neraka itu. Kehidupan perlahan kembali menemukan ritme normalnya. Kami tidak lagi menyewa satu rumah utuh. Uang sewa yang dikembalikan oleh Pak Slamet dan tambahan dari warga kami gunakan untuk menyewa kamar kos yang lebih aman dan dekat dengan kampus.Aku, Ranti, dan Mira menyewa kamar bersebelahan di sebuah kos putri yang terang, ramai, dan memiliki penjaga kos 24 jam. Sementara Heru dan Andi menyewa kos putra yang jaraknya hanya beda satu blok dari tempat kami.Sinar matahari sore menembus jendela kamarku dengan leluasa. Tidak ada lagi bayangan gelap di sudut ruangan. Tidak ada bau kemenyan, apalagi bau anyir bangkai. Yang ada hanya aroma pewangi pakaian dan harum masakan ibu kos dari lantai bawah."Ra, lo mau ikut ke kantin kampus nggak?" Ranti menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamarku. Wajahnya terlihat jauh lebih segar, kantung matanya yang dulu hitam kini sudah menghilang. "Heru nge-chat nih, katanya d
Proses pemeriksaan di kantor polisi memakan waktu hampir seharian penuh. Kami berlima dimintai keterangan secara terpisah di ruangan yang berbeda. Aku menceritakan semuanya dari awal—mulai dari bau busuk, penemuan bungkusan tanah kuburan, rambut di ubin, hingga akhirnya kami menemukan kerangka itu. Tentu saja, aku menceritakannya dari sudut pandang logika dan apa yang kami temukan secara fisik, tanpa perlu mendebat polisi soal urusan gaib.Menjelang magrib, kami akhirnya diizinkan berkumpul di ruang tunggu. Bau kopi instan dan suara ketikan keyboard mendominasi ruangan. Andi tertidur di kursi panjang dengan mulut setengah terbuka, sementara Heru sibuk memijat pelipisnya.Tak lama kemudian, pintu kaca ruang tunggu terbuka. Pak Yanto, detektif yang memeriksa kami, masuk bersama seorang pria paruh baya yang wajahnya tampak sangat lelah dan familier."Pak Darmo?" panggilku pelan, langsung berdiri dari kursi.Pria itu menoleh. Matanya merah dan berkaca-kaca. Pak Yanto mempersilakan Pak
Suara sirine mobil pemadam kebakaran dan polisi memecah kerumunan warga. Dua mobil patroli dan satu truk damkar berhenti tepat di depan pagar rumah Pak Burhan. Warga yang tadinya berkerumun langsung mundur, memberi jalan."Minggir, minggir! Biar petugas masuk!" teriak salah satu polisi.Karena pagar besi terkunci dari dalam, beberapa petugas damkar terpaksa menjebol gemboknya dengan alat pemotong baja. Brak! Pagar terbuka. Mereka merangsek masuk, menyemprotkan air ke arah jendela lantai dua. Anehnya, begitu semburan air itu menyentuh asap pekat, asapnya langsung menguap tanpa menyisakan bara api atau tembok yang hangus. Hanya bau anyir seperti daging terbakar yang tersisa di udara.Brak!Polisi mendobrak pintu utama. Beberapa menit kemudian, dua petugas keluar sambil menyeret tubuh seseorang.Itu Pak Burhan.Aku hampir tidak mengenali sosoknya. Pria tua yang biasanya tampil congkak itu kini tampak sangat mengenaskan. Baju jubahnya compang-camping. Kulit wajahnya penuh luka cakar
Suara bariton yang menggelegar dari depan rumah itu seakan merobek udara pekat di dalam dapur. Sosok wanita berwajah hancur di depanku mendadak kaku. Kepalanya berputar patah-patah menoleh ke arah ruang tengah, diiringi bunyi gemertak tulang yang membuat perutku mual.Langkah kaki yang tergesa terdengar mendekat. Dari balik sisa-sisa pintu dapur yang hancur, muncul Pak Ustaz dengan peci putih dan serban yang melingkar di leher.Di belakangnya, Pak Slamet mengekor dengan wajah pucat pasi sambil memegang jeriken air."Mundur semua!" teriak Pak Ustaz.Tanpa membuang sedetik pun, beliau merogoh saku gamisnya, mengeluarkan segenggam garam krosok yang sudah didoakan, dan melemparkannya tepat ke wajah sosok mengerikan itu.Cessss!Sosok itu menjerit melengking. Suaranya bukan lagi suara manusia, melainkan perpaduan antara lolongan binatang dan gesekan besi berkarat. Kulit wajahnya yang hancur tampak melepuh dan mengeluarkan asap kelabu. Ia terhuyung mundur, menjauhi kami."Nara! Bakar buh
"Loh, ini kayak kain ya?" pikirku ketika tanganku menyentuh sesuatu. Karena panik dan terburu-buru, benda yang terselip di sela ventilasi itu pun terjatuh ke lantai karena gesekan oleh tanganku sendiri. Deg! Aku menyipitkan mata menatap benda yang jatuh itu. Sebuah kain putih, tampak kumal berw
Jantungku seolah ingin melompat keluar dari dada saat kakiku beradu dengan aspal gang yang kasar. Di belakangku, Heru berlari kencang, napasnya memburu sama sepertiku.Pesan dari Andi di grup Wawa tadi benar-benar meruntuhkan sisa keberanianku. "Cepetan, Ra! Jangan berhenti!" teriak Heru dari bela
Pagi sudah tiba, dan udara terasa dingin, tapi bukan dingin yang mencekam seperti semalam. Ini dingin khas pagi hari di kota yang membawa sisa-sisa kelelahan kami.Kami berlima duduk melingkar di ruang tengah, menatap sebuah lemari jati tua di pojok dekat tangga. Lemari itu sudah ada di sana sejak
"Mugi-mugi iso lama ngontraknya." Kalimat ibu penjual mie ayam terus menggema di dalam benakku. Aku hendak memanggil dan bertanya. Akan tetapi, ibu-ibu yang belum aku tahu namanya itu sudah tampak sibuk melayani pembeli yang lain. Ya ... Terpaksa aku urungkan niatku. Memendam rasa penasaran dala