Share

Penghuni
Penghuni
Author: Kuldesak

1

Author: Kuldesak
last update publish date: 2024-11-04 13:13:02

Aku merasakan ada sesuatu yang jatuh dari atas langit-langit plafon di mana aku sedang terbaring. Rasanya tidak nyaman ketika sesuatu itu menimpa wajahku.

"Apaan sih? Kok rasanya geli?" gumamku, meski mataku terasa amat berat, aku memaksakan kelopak mataku agar terbuka lebih lebar.

Deg!

Jantungku berhenti berdetak saat melihat belatung-belatung seukuran butir nasi itu jatuh satu per satu, menumpuk di wajahku. Aku tertegun, tidak percaya dengan apa yang terjadi.

Duk, duk, duk!

Bunyi aneh seperti hentakan kaki tiba-tiba terdengar di atas palafon, di sela-sela plafon, keluar belatung yang tercurah seperti hujan.

"Akkkh..." aku berusaha menjerit, ingin mengeluarkan suara, namun suaraku tercekat.

Belatung-belatung mulai bergerak, menggeliat di pipi, hidung, bahkan masuk ke dalam sudut mataku. Aku mencoba mengusapnya dengan cepat, lagi-lagi tangan ini terasa berat, seolah ada yang menahannya.

"Apa-apaan ini...? Menyingkir!" bisikku, nyaris tanpa suara.

Aku merasa perutku sudah sangat mual, jijik dan ingin muntah.

"Nggak, ini nggak beres. Ini pasti cuma mimpi, gue harus bangun!" aku membatin, sekuat tenaga aku berusaha bangun.

Tetapi aku seperti dipaksa untuk terus terbaring dan menatap ke arah palafon.

"Ya Allah, tubuh gue kenapa? Kok gue nggak bisa nge gerakin tubuh gue?" batinku meracau.

Tiba-tiba plafon yang terbuat dari triplek itu patah, mengeluarkan suara. "Krek!" sontak saja sebuah kepala keluar dari patahan plafon tersebut.

"Astaghfirullah, Ya Allah!" aku refleks beristighfar saat melihat rambut seorang wanita terjuntai, menutupi wajah.

Perlahan, makhluk di atas plafon itu mengangkat wajahnya perlahan, kepala itu posisinya ke bawah disusul dengan suara tawa yang membuat bulu kudukku seketika meremang.

"Hihihi... Longo...!" makhluk itu berdesis, suaranya serak dan berat, seperti batu gerinda yang bergesekan dengan baja.

Aku tertegun melihat wajah nun pucat kini menatapku dari plafon, rambutnya yang kusut menjuntai seperti akar pohon yang berayun-ayun. Mata mahkluk jelmaan wanita tampak hitam pekat, tidak ada putihnya sama sekali.

Bukan hanya itu saja, cairan hitam pun menetes dari sudut bibir mahkluk tersebut yang merekah lebar, tertawa tanpa suara. Mulutnya sedikit terbuka, memamerkan gigi-gigi runcing dan hitam yang membuat tenggorokanku nyaris tercekik karena ketakutan.

"Metu... Ojo ninggal ing kene..." lagi, suara wanita misterius tersebut berdesis.

Aku tidak tahu apa yang dimaksud oleh mahkluk jelek di atas sana, tapi suara tersebut sudah berhasil membuat bulu-bulu halus di tubuhku berdiri, seakan ada ribuan jarum menusuk kulitku.

"Ya Allah, ini mahkluk apaan? Nggak, ini bukan hantu. Pasti gue lagi sedang berhalusinasi!" Aku bergumam dalam hati, mencoba menggerakkan bibirku yang gemetar.

"Hihihi..." wanita menyeramkan itu tertawa lagi.

Aku terus memberontak, berupaya agar tubuhku yang lumpuh ini bisa bergerak. "Kinara ayo, lo harus maksa bangun, ini tuh cuma mimpi. Sadar!" yakinku pada diri sendiri, tapi tubuhku sama sekali tak mau bergerak.

Aku tidak menyerah, aku mulai merapal doa dalam hati, "A'udzu billahi min ash-shaytan ir-rajim..." mencoba menenangkan diriku, berharap makhluk itu segera pergi.

Namun, wanita seram tersebut tetap berada di sana, semakin mendekat. Belatung-belatung masih terus jatuh dari plafon, mengotori wajahku dan seolah menyusup ke pori-pori kulitku.

Kini tangan kiriku terasa lemas, dengan sisa-sisa tenaga, aku mencoba mengangkat tanganku untuk mengusir belatung yang kini hampir masuk ke mulutku.

"Allahu Akbar... Ya Allah, lindungi hamba," ucapku sambil menahan mual yang semakin kuat.

Kepala wanita menyeramkan itu meluncur turun lebih rendah, wajahnya sekarang hanya beberapa inci dari wajahku.

Deg, deg, deg!

Jantungku seperti maraton, aku bisa melihat dengan jelas luka busuk di pipi kanan mahkluk itu yang menganga, mengeluarkan cairan merah kental, lebih ke hitam dan belatung. Mulut wanita menyeramkan itu bergerak, mengucapkan sesuatu dalam bahasa yang sama sekali tidak kumengerti, itu terdengar seperti mantra yang tidak henti-hentinya berdengung di telingaku.

"Pergi! Menjauh! Lo pikir lo bisa menakutin gue, hah! Wajah lo itu jelek! Lo pikir lo cantik? Dasar mahkluk menjijikkan!" desahku lemah, berusaha memberanikan diri meski sekujur tubuhku gemetar hebat.

Dengan sekuat tenaga, aku menggerakkan bibirku untuk melantunkan doa, "Bismillahirrahmanirrahim... Qul a'udzu birabbin nas..." Aku terus membacanya meski suaraku terdengar parau.

Tiba-tiba semuanya berhenti. Belatung-belatung itu tidak lagi bergerak, dan suara tawa itu perlahan memudar. Aku terbangun dengan napas tersengal, tubuhku basah oleh keringat.

"Haah... Astaghfirullah," aku berucap dengan refleks.

Aku langsung duduk, memeriksa wajah dan tangan, memastikan tidak ada belatung yang tersisa. Ruang tengah di mana aku berbaring tampak normal, tapi detak jantungku masih menggila.

“Ya Allah ... cuma mimpi,” bisikku sambil menyeka keringat di dahiku. Aku melihat jam di ponselku—baru pukul dua siang.

“Tapi, kenapa mimpinya terasa begitu nyata?” tanyaku pada diri sendiri, masih terhanyut dalam perasaan takut yang belum benar-benar hilang.

Aku bangkit dari lantai, mencoba menenangkan diri. Awalnya, aku baru saja tiba di rumah kontrakan ini tadi pagi. Aku datang lebih awal karena ingin membersihkan rumah sebelum teman-temanku yang lain datang.

Kami semua sepakat untuk pindah ke sini setelah menemukan rumah dengan harga sewa yang terjangkau, meski kesan pertama rumah ini cukup menyeramkan. Rumah dua lantai bergaya klasik era 90-an itu tampak sunyi dan agak usang, dengan cat yang sudah mulai pudar di beberapa tempat dan dinding yang terlihat lembab.

Kami tidak terlalu memikirkannya, karena harga sewa tujuh juta setahun untuk rumah sebesar ini benar-benar menggiurkan bagi mahasiswa seperti kami.

Saat tiba pagi tadi, aku juga membawa peralatan kebersihan dan mulai menyapu serta mengepel lantai. Aku ingin memastikan rumah ini setidaknya layak sebelum teman-temanku tiba. Setelah hampir dua jam membersihkan, aku merasa lelah.

Aku pun memutuskan untuk berbaring sebentar di lantai ruang tengah, menggunakan pashmina yang kubawa sebagai alas karena rumah ini kosong dan bahkan tak di cat oleh pemiliknya. Tiba-tiba rasa kantuk menyerangku, dan tanpa sadar aku pun tertidur.

Dan sekarang, aku terbangun dari mimpi buruk yang begitu nyata—mimpi tentang wanita seram di plafon yang memanggilku dengan suara berdesis, "Longo..." Seolah-olah makhluk itu mencoba memanggilku, atau mungkin memperingatkanku tentang sesuatu yang tidak kuketahui.

Sial!

Aku menggigil hanya dengan memikirkan kejadian barusan, meskipun saat ini sinar matahari masih menembus jendela, menerangi ruangan dengan cahaya hangat, tetap saja ada perasaan ganjil yang tidak bisa kuabaikan, seolah ada yang tidak beres di rumah ini.

“Seharusnya gue nggak langsung tidur tadi,” gumamku, sambil merapikan pashmina yang tadi kugunakan sebagai alas. "Mungkin karena capek, jadi mimpi aneh." Aku mencoba menenangkan diri sendiri, tapi entah kenapa, perasaan itu tidak mau hilang. Seperti ada sesuatu yang masih mengawasi, menunggu aku lengah lagi.

Kupikir, mungkin lebih baik aku menunggu di luar saja sampai teman-temanku datang. Setidaknya, di luar rumah ini aku tidak akan merasa sesak seperti di dalam sini.

Saat hendak menuju pintu depan, mataku terpaku pada ventilasi di atas pintu. Perasaan tidak nyaman itu kembali muncul, seperti ada bisikan yang memaksaku untuk memeriksa ventilasi itu. Aku terhenti sejenak, merasakan jantungku mulai berdebar lagi.

“Apa sih, Kinara, kenapa lo tiba-tiba jadi parno kayak gini?” Aku menggelengkan kepala, mencoba mengabaikan perasaan aneh itu.

Pada akhirnya, rasa penasaran lebih kuat daripada ketakutanku. "Ngapa gue malah gergetan sendiri sama ventilasi itu? Haah... Nggak bisa, Yura! Gue harus ngecek!" aku pun segera mencari kursi plastik yang ada di sudut ruangan, dan dengan sedikit ragu, aku menaiki kursi itu, mengulurkan tangan untuk meraba sela-sela ventilasi.

Deg!

Aku merasa tanganku menyentuh sesuatu. "Benda apa ini?" gumamku, alisku mengernyit.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penghuni    21

    Malam turun membawa hawa dingin yang menusuk tulang. Kontrakan kami sudah jauh lebih rapi setelah seharian dibersihkan, tapi udara di dalamnya terasa berat, seolah dinding-dinding ini tahu bahwa pertempuran akan segera pecah.Kami berkumpul lagi di ruang tengah, duduk bersila di atas karpet. Hanya lampu bercahaya kuning di sudut ruangan yang menyala, memberikan nuansa temaram. Kotak kayu berisi surat-surat ancaman Pak Burhan tergeletak di tengah kami bak artefak berharga."Gimana, Ndi? Pak Ustaz bisa?" tanyaku memecah keheningan.Andi mengangguk pelan, meletakkan ponselnya di atas karpet. "Bisa. Beliau bilang bakal datang besok siang sehabis zuhur. Katanya kita disuruh nyiapin air putih yang banyak, daun bidara, sama garam krosok. Untung tadi sore gue udah beli semua di pasar.""Bagus," pangkas Heru. Ia mencondongkan badannya ke depan, menatap kami satu per satu dengan raut wajah serius. "Sekarang dengerin gue baik-baik. Kita harus satu suara. Malam besok itu bukan ruqyah biasa. Musuh

  • Penghuni    20

    Pagi sudah tiba, dan udara terasa dingin, tapi bukan dingin yang mencekam seperti semalam. Ini dingin khas pagi hari di kota yang membawa sisa-sisa kelelahan kami.Kami berlima duduk melingkar di ruang tengah, menatap sebuah lemari jati tua di pojok dekat tangga. Lemari itu sudah ada di sana sejak hari pertama kami pindah, terkunci rapat dan tak pernah kami pedulikan. Sampai semalam, saat Pak Darmo memberikan kuncinya padaku."Buka sekarang, Ra?" tanya Andi, memecah keheningan. Ia menguap lebar, matanya merah karena kurang tidur.Aku mengangguk, menggenggam kunci kuningan berkarat di tanganku. "Iya. Kita harus tau apa yang disembunyikan Pak Darmo di sini."Aku bangkit, berjalan mendekati lemari jati itu. Ada bau kapur barus tua dan debu yang menyengat saat aku memasukkan kunci ke lubangnya. Krek! Pintu lemari terbuka. "Uhuk! Gila, debunya," keluh Ranti sambil mengipas-ngibaskan tangan di depan hidung."Ada apa aja di dalem?" Heru ikut berdiri, melongok dari belakang bahuku."Cuma

  • Penghuni    19

    Ruangan depan rumah Pak Darmo terasa lebih terang setelah kami menyalakan lampu. Tapi terang itu tidak menghapus ketegangan yang masih menggantung di udara. Bu Lastri sudah sadar, duduk bersandar di sofa dengan selimut menutupi tubuhnya yang masih gemetar. Wajahnya pucat, matanya masih menyimpan sisa-sisa ketakutan.Mira menuangkan air putih ke gelas, lalu memberikannya pada Bu Lastri. "Minum dulu, Bu. Pelan-pelan."Bu Lastri menerima dengan tangan bergetar. Ia meneguknya sedikit, lalu menghela napas panjang. "Matur nuwun, Nduk. (Terima kasih, Nak.)"Aku duduk di lantai, tepat di depan Bu Lastri. Heru berdiri menyandar di dinding, Andi di sampingnya. Ranti duduk di ujung sofa, memijat-mijat kakinya sendiri—kebiasaannya kalau sedang cemas."Bu," aku memulai, hati-hati. "Ibu... lihat apa tadi? Sebelum pingsan?"Bu Lastri menatapku. Sorot matanya berubah. Bukan lagi ketakutan. Tapi sesuatu yang sudah lama disimpan. "Aku... aku lagi nyiapke wedang nang pawon. (Aku... aku lagi menyiapkan

  • Penghuni    18

    Ruang kamar itu pengap. Bau obat dan sesuatu yang anyir. Jelas seperti tanah basah bercampur darah kering mengendap di udara. Cahaya dari satu lampu bohlam redup di sudut membuat bayangan-bayangan aneh menari di dinding.Pak Darmo terbaring lemah. Tubuhnya yang kurus tenggelam di antara selimut batik lusuh. Napasnya berat, setiap helaan seolah harus diperjuangkan.Aku masih berlutut di sisi ranjang. Tanganku dingin. "Pak... apa Bapak itu yang naruh bungkus itu, Pak?"Pertanyaan itu akhirnya terlontar.Pak Darmo membuka matanya perlahan. Sepasang mata cekung itu menatapku dengan sesuatu yang sulit kuartikan—campuran antara penyesalan, kemarahan, dan kelegaan. Ia menghela napas panjang, dadanya naik turun dengan susah payah."Iya, Nduk." Suaranya parau, nyaris seperti bisikan. "Sing naruh bungkusan iku ya Pak Burhan. (Yang menaruh bungkusan itu ya Pak Burhan.)"Meski sudah menduganya, tetap saja dadaku terasa ditusuk. Dari belakang, kudengar Ranti menarik napas tajam. Andi bergumam pela

  • Penghuni    17

    Kakiku tidak bergerak.Namaku baru saja dipanggil dari dalam kegelapan rumah yang seluruh lampunya mati. Dengan suara yang asing. Suara pria yang lemah dan serak, seperti suara seseorang yang sudah lama terbaring sakit.Suara yang tidak seharusnya tahu namaku."Ra." Heru menyentuh lenganku pelan. "Lo nggak apa-apa?"Aku menelan ludah. "Itu... suara Pak Darmo kan?"Tidak ada yang menjawab.Karena tidak ada yang tahu."Masuk?" tanya Andi. Nada suaranya tidak mengandung humor sama sekali. Pertama kalinya sejak aku kenal dia.Heru sudah mendorong pintu pagar yang ternyata tidak terkunci. Besi tua itu berderit panjang, memecah keheningan kampung yang mencekam. "Masuk," jawabnya, bukan sebagai pertanyaan.Kami masuk satu per satu.Halaman depan rumah Pak Darmo dipenuhi rumput yang tidak terpotong rapi. Pohon mangga tua di sudut halaman berdiri gelap, daun-daunnya tidak bergerak meski seharusnya ada angin. Cahaya dari lampu jalan di luar pagar hanya cukup untuk membuat bayangan-bayangan yang

  • Penghuni    16

    "Oke. Kita berangkat sekarang."Kalimat itu terlontar dari mulutku sendiri, tapi rasanya seperti diucapkan oleh orang lain. Seseorang yang lebih berani dariku. Seseorang yang tidak sedang gemetar di dalam.Heru mengangguk tanpa banyak bicara. Ia langsung berdiri, mengambil jaketnya yang tergantung di balik pintu."Gue ambil air putih sisa ruqyah Pak Ustaz dulu," ujar Heru singkat.Ranti yang masih duduk memeluk lutut di atas tikar langsung mendongak. "Kalian serius mau pergi sekarang? Tengah malam gini?""Kita nggak tau kondisi Pak Darmo kayak gimana. Kita mesti buru-buru. Semakin cepat, kita bakal tau rahasia rumah ini," jawabku. "Kita nggak bisa tunggu sampai pagi, Ran.""Tapi—""Ranti." Mira menyentuh lengan Ranti pelan. Suaranya masih lemah, tapi matanya sudah lebih jernih sebelum tadi. "Nara bener. Kita nggak bisa diem aja."Ranti menggigit bibir, matanya merah. Ia menoleh ke Andi yang dari tadi berdiri bersandar di tembok dengan tangan terlipat di dada."Lo diem aja, Ndi?" tanya

  • Penghuni    12

    “Nara, kita nggak usah lewat jalan ini, deh,” kata Mira tiba-tiba, memecah keheningan.Aku menoleh. “Kenapa?”Mira menatap lurus ke depan, wajahnya agak pucat. “Tuh... liat deh pohon beringin gede itu. Gue... ngerasa nggak enak. Tadi pas gue ke toko kue aja, kayak ada yang berdiri di situ.”Aku ik

  • Penghuni    Bab 11

    Kupacu sepeda motor maticku dengan kecepatan sedang setelah berteleponan dengan Mira. Meski pikiranku carut-marut, aku berusaha tetap fokus. "Tadi Mira di Warnet apa ya?" aku bergumam. Nggak, pokoknya nggak mau aku kembali ke kontrakan itu sendirian. Sungguh mati, disambar petir bareng-bareng juga a

  • Penghuni    10

    Aku menelan ludah, mencoba menenangkan diriku. Dengan tangan gemetar, aku menggeser ikon hijau di layar ponselku dan menjawab panggilan itu."H—halo? Mira?" suaraku bergetar, nyaris tak keluar.Hening. Hanya ada suara statis di ujung telepon. Kemudian, sebuah suara terdengar—bukan suara Mira yang bias

  • Penghuni    9

    "Mungkin yang lo temuin itu santet tanah kuburan." Aku yang sudah berada di dalam ruang perkuliahan masih terngiang-ngiang ucapan Heru. Semalam, setelah menenangkan Mira, aku menjelaskan bagaimana aku mendapatkan bungkusan tanah di atas ventilasi. 'Santet? Buat apa coba? Jaman gini masih ada hal beg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status