Masuk"Loh, ini kayak kain ya?" pikirku ketika tanganku menyentuh sesuatu.
Karena panik dan terburu-buru, benda yang terselip di sela ventilasi itu pun terjatuh ke lantai karena gesekan oleh tanganku sendiri. Deg! Aku menyipitkan mata menatap benda yang jatuh itu. Sebuah kain putih, tampak kumal berwarna coklat. Hmm... Bisa dibilang seperti kain yang lama dipendam dalam tanah. Kotor dan bau amis. Aku segera turun dari kursi, kupungut benda yang seukuran dus sabun mandi tersebut. Ya, ini kain yang dibutalkan, ada lilitan kain putih yang sudah kecoklatan diikat seperti sebuah kado. "Apa isinya? Kok rasanya kayak ada sesuatu di dalam?" rasa penasaranku sudah tak tertolong, aku gegas membuka kain kotor itu perlahan, mencoba mengabaikan bau amis yang semakin menusuk hidungku. Tanganku gemetar saat aku meraih ujung kain yang dililitkan, perlahan mengurai ikatan yang rapat. “Ya Allah, ini apa sih sebenarnya?” gumamku, berbisik. Entah kenapa, meski merasa cemas, ada dorongan kuat dalam diriku untuk melihat apa yang tersembunyi di balik kain itu. Seolah-olah benda tersebut menyimpan sesuatu yang ingin kutemukan, meski hatiku berteriak untuk berhenti. Saat lilitan terakhir terbuka, aku tertegun. Isi di dalam kain tersebut adalah tanah kering dengan berbagai kembang yang juga sudah mengering. Wus... "Astagfirullah!" aku merasa ada hawa dingin yang tiba-tiba meniup tengkukku. Dengan cepat aku berbalik. "Siapa?!" teriakku. Hening, tak ada apa-apa. Mataku mulai nanar menelisik ke sekeliling, aku yang tak percaya dengan hal-hal gaib dibuat ketakutan oleh kejadian ini. "Ya Allah, kenapa gue ngerasa kayak ada yang merhatiin gue dari tadi?" pikirku. Ketika pertama kali masuk ke rumah ini saat survei, aku memang sudah merasa ada yang aneh. Udara di dalam rumah terasa lebih dingin, meski di luar cuaca cerah. Aroma lembap dan pengap menyergap hidungku, seolah rumah ini sudah lama tidak dihuni. Dinding-dinding di rumah ini dipenuhi coretan-coretan aneh, lambang-lambang yang tidak kupahami, dan beberapa gambar yang sepertinya bukan sekadar seni graffiti biasa. Aku pikir, mungkin ini cuma karya iseng penghuni sebelumnya. Lagian, aku tidak percaya hal-hal mistis—tahayul. Jadi aku tidak ambil pusing. Aku kembali menatap benda yang baru saja kutemukan. "Nak, kalau kamu temukan hal yang aneh atau kamu merasa terancam, bakar saja. Jangan lupa, di Syahadatin." Tiba-tiba suara ibuku bergema di dalam kepalaku. "Mana bisa setan nyakitin manusia?" gumamku, menggeleng, menepis pikiran yang mulai diliputi ketakutan. "Jangan ngeyel, Kinara! Jangan merasa mereka tidak ada di sekeliling kita." Untuk kesekian kali, suara ibuku seakan berusaha memperingatkan, memberikan dorongan agar aku tidak meremehkan apa yang baru saja kutemukan. Aku memandang bungkusan kain itu lagi, kini dengan rasa waswas yang lebih dalam. “Bakar?” ulangku pelan, mencoba mencerna maksud dari pesan yang tiba-tiba terlintas di benakku. Aku menggigit bibir, ragu. Apa benar ini harus kubakar? Atau hanya ketakutan berlebihan saja? Kupandangi lagi tanah dan kembang kering di dalam kain itu. Aku baru sadar, bunga-bunga itu bukan sembarang bunga. Ada mawar hitam, melati, dan bunga kantil. Sepertinya benda ini sengaja dirangkai untuk tujuan tertentu. Mendadak hatiku terasa makin tidak tenang. “Ah, sudahlah. Mungkin ini cuma kebetulan.” Aku berusaha menghibur diri, berusaha mencari penjelasan logis. Tapi aku tahu betul, ada sesuatu yang menggelisahkan di dalam rumah ini sejak awal aku masuk. Entah suara-suara bisikan halus yang terdengar di sela-sela keheningan, atau bayangan yang sesekali melintas di sudut mataku. Semua itu tidak bisa hanya dianggap kebetulan. "Yaudah, gue bakar aja. Daripada ribet!" aku pun membawa kain putih berisi tanah dan kembang itu menuju dapur. Rumah ini terbilang luas, ada sumur kerek tua berlumut di dapur. Di sisi kanan sumur tersebut, ada dua kamar mandi, ada lahan yang ditumbuhi rumput liar sebagai tempat jemuran. Di balik pintu yang berada di dapur ada ruas jalan seluas lima jengkal berbentuk later L dengan tembok bata merah menjual tinggi yang sudah ditumbuhi tanaman merambat. Rumah ini tampak seperti terisolasi dari dunia luar, meski siang hari, rasanya seakan-akan aku berada di tempat lain. Cahaya matahari yang menyusup dari sela-sela ventilasi di dapur tampak redup dan berwarna pucat, hampir seperti cahaya senja yang suram, bukan siang hari. Seolah ada sesuatu yang menelan kecerahan hari ini, menyelimutinya dengan kegelapan tipis yang tidak biasa. Aku mendekati sumur tua itu, berdiri di bibirnya. Sumur ini pasti sudah lama sekali tak digunakan; tali kereknya berkarat dan ember yang tergantung terlihat rapuh, seolah siap terurai kapan saja. Aku menggenggam kain di tanganku erat-erat, masih mencoba meyakinkan diri bahwa membakarnya akan menyelesaikan semuanya. “Ayo, Kinara, bakar aja. Setelah ini semua bakal beres,” gumamku, berusaha terdengar lebih yakin dari yang sebenarnya kurasakan. Sampai di tepi halaman, aku mengeluarkan korek api gas yang kubawa. "Asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, lahaula walakuata illabillah. Ya... Allah, jika barang ini membawa sesuatu yang buruk, maka bakar juga keburukan itu," ucapku, memohon karamah dari doa yang ku rapalkan. Aku pun mematik korek tersebut dan mengarahkan api yang tengah meliuk-liuk itu ke arah kain. Wus! Saat api itu bersentuhan dengan kain, api langsung membesar, seolah kain tersebut mengandung minyak. "Aw...!" aku menjerit dan dengan refleks melempar kain yang menyala itu saat kobaran api menyambar ujung jari-jariku. Kain itu jatuh di tanah, api menjilat cepat dan membakar seluruh permukaannya, menciptakan asap tebal yang bergulung naik, membentuk pola yang aneh dan berputar-putar seakan menggambarkan sesuatu. "Aneh banget. Sebenarnya, ada apa dengan rumah ini?" aku bergumam sambil mundur beberapa langkah, terperangah. "Ahh... Gue ke warung mie ayam saja di dekat rel. Kebetulan, gue belum makan. Sekalian nunggu anak-anak. Lama-lama di dalam rumah ini, kayaknya gue bakalan gila!" dengan cepat, aku pun bergegas meninggalkan kain yang terbakar itu. Sesampainya di depan rumah, aku segera mengunci pintu dan berjalan melewati gang. Di sebelah rumah yang baru saja aku dan teman-temanku sewa, ada juga sebuah rumah kosong tak berpenghuni. Ya... Sama-sama menyeramkan. Tak butuh waktu lama, setelah berjalan kaki lima puluh langkah, aku pun tiba di warung penjual mie ayam tepat bersebelahan dengan rel kereta dan pos kereta api. "Bu, satu mie ayam ya!" seruku sambil duduk di salah satu bangku panjang di warung yang sederhana itu. Suasana di sini sedikit menghibur—orang-orang berlalu-lalang, suara hiruk-pikuk motor yang lewat, dan bunyi lonceng pos kereta yang sesekali terdengar saat palang pintu mulai turun. "Iya, sebentar ya, Mbak!" jawab ibu penjual mie ayam dengan senyum ramah. Aku menghela napas, mencoba mengendurkan ketegangan yang menggulung sejak tadi. Setidaknya di sini, aku bisa merasa sedikit lebih normal, tidak seperti di rumah itu yang seakan-akan menelanku hidup-hidup oleh rasa takut. "Mimpi belatung dan wanita dengan pipi terluka. Dan ... Kain putih berisikan tanah...." Saat aku sedang menunggu mie ayamku datang, tiba-tiba rekap ulang adegan mimpi dan penemuan kain tadi kembali berputar di kepalaku. Entah mengapa, rasanya seperti ada yang menarik-narik ingatanku untuk terus kembali ke momen-momen itu. Padahal aku sedang berusaha melupakannya, setidaknya untuk sesaat. "Mbak, mie ayamnya sudah siap," kata ibu penjual sambil meletakkan semangkuk mie ayam panas yang masih mengepul di hadapanku. "Matur Nuwun, Bu," aku menjawab sambil tersenyum. Ibu itu tak langsung pergi, ia berdiri di sampingku. "Mbak, Mbak ini yang baru ngontrak di rumah pak Kirman, ya?" tanya ibu penjual mie ayam, suara ibu itu terdengar waspada. Aku yang sedang mengaduk-ngaduk mie pun menoleh lalu memberikan senyum terbaik. "Inggih, Bu. Baru aja masuk tadi pagi. Tapi saya lagi nungguin teman-teman yang lain. Jadi sekalian makan," jawabku. "Oh... Semoga betah, ya! Mugi-mugi iso lama ngontraknya," ucap ibu itu yang kemudian berlalu.Krieeet…Suara pintu di seberang lorong yang terbuka perlahan itu seribu kali lebih menakutkan daripada teriakan mana pun. Itu adalah suara yang disengaja. Pelan, penuh kendali, sebuah ejekan yang tak terucap. Senter ponsel di tangan kami bertiga bergetar hebat, membuat tiga lingkaran cahaya yang menari liar di dinding lorong yang gelap. Kami membeku, tiga patung manusia yang terperangkap di antara ancaman di depan dan tulisan kematian di belakang.Tidak ada sosok yang keluar dari kegelapan di balik pintu itu. Yang keluar adalah sesuatu yang lain.Pertama adalah baunya. Aroma tanah basah yang anyir, bercampur dengan wangi manis bunga kantil yang membusuk. Bau yang sama persis dengan bungkusan kain yang kubakar.Bau santet. Bau kuburan. Aroma itu merayap keluar dari celah pintu, mengalir di udara, dan menyergap hidung kami, membuat perutku seketika mual.Lalu, suaranya."Kiikikik… Kiikikik…"Tawa itu lagi. Bukan tawa kuntilanak yang melengking seperti yang diputar Mira. Ini lebih rend
Uhuk... uhuk... uhuk...!Kami berlima membeku di atas tikar. Suara riuh rendah obrolan kami yang gugup seketika mati, ditelan oleh tiga kali suara batuk yang terdengar begitu nyata. Itu bukan suara batuk biasa. Itu suara batuk orang sakit. Lemah, penuh dahak, dan sarat akan penderitaan. Dan yang paling mengerikan, suara itu datang dari kamar kosong di lantai atas.Andi, yang baru saja merebahkan badannya, langsung duduk tegak. Matanya melotot ke arah tangga yang gelap. "Anjir... Lo semua denger itu, kan?" bisik Andi, suara laki-laki itu lebih mirip desisan ketakutan. "Gue nggak ngigo, kan?"Ranti sudah memeluk Mira lebih erat, tubuhnya gemetar hebat. "Suara bapak-bapak," cicitnya pelan. "Kayak orang sesek napas gitu nggak sih?!"Seketika, secercah harapan dan rasa kendali yang baru saja kami rasakan lenyap tak berbekas. Digantikan oleh hawa dingin yang merayap dari lantai, naik ke tulang punggung kami. Makhluk itu seolah-olah mendengar rencana kami. Ia tahu kami akan menjenguk bapa
"Hah ... Gue?!" Aku berseru tak percaya, merasa menjadi pusat perhatian yang sangat tidak nyaman. Tatapan teman-teman seperti menelanjangiku."Kowe wis ngrusak papan panggonanku!" Suara Mira bergema dingin.Aku menggaruk kepala berjilbabku, merasa panik. "A-apa maksud lo, Mir? Sumpah, ya! Gue benar-benar nggak ngerti apa yang lo omongin!"Mira diam, mata kosongnya terus menatapku. Tangannya yang gemetar jatuh ke pangkuan. Pak Ustaz mulai membaca Ayat Kursi.Aku bisa merasakan tatapan teman-teman. Mereka butuh penjelasan, sekarang."Bentar! Bentar!" potongku cepat, suara agak gemetar. "Pak Ustaz, teman-teman... Saya ... Saya memang membakar sesuatu kemarin sore!"Pengakuanku membuat beberapa orang tersentak kaget. Ada yang berbisik, ada yang melotot tak percaya."Tapi saya beneran nggak tau itu apaan! Sumpah!" lanjutku cepat, mencoba membela diri. "Aku nemu bungkusan aneh itu di atas ventilasi pintu keluar!" Tunjukku ke arah pintu di ruangan itu.Heru, yang duduk tak jauh dariku, seg
“Nara, kita nggak usah lewat jalan ini, deh,” kata Mira tiba-tiba, memecah keheningan.Aku menoleh. “Kenapa?”Mira menatap lurus ke depan, wajahnya agak pucat. “Tuh... liat deh pohon beringin gede itu. Gue... ngerasa nggak enak. Tadi pas gue ke toko kue aja, kayak ada yang berdiri di situ.”Aku ikut menoleh. Pohon beringin tua berdiri menjulang di tikungan jalan, rimbun menelan cahaya matahari siang. Di bawahnya, ada bekas sesajen kering, daun-daun menguning, dan satu boneka reyot tergantung di salah satu dahan.Dadaku berdebar.“Lo ngelihat apaan barusan?” tanyaku pelan.Mira menelan ludah. “Bayangan. Nggak jelas. Tapi... matanya merah. Nggak tau juga itu apaan. Ya, daripada ada masalah kan, ya, mending kita muter!"Aku langsung menekan rem, memutar balik pelan. “Oke, kita cari jalan lain.”Kami tak berkata-kata selama beberapa menit. Hanya suara mesin motor dan detak jantungku sendiri yang terasa berdentum di telinga. Tepat saat kami belok ke gang kecil sebagai jalan alternatif, t
Kupacu sepeda motor maticku dengan kecepatan sedang setelah berteleponan dengan Mira. Meski pikiranku carut-marut, aku berusaha tetap fokus. "Tadi Mira di Warnet apa ya?" aku bergumam. Nggak, pokoknya nggak mau aku kembali ke kontrakan itu sendirian. Sungguh mati, disambar petir bareng-bareng juga aku mau.Mengingat hal aneh yang terjadi, aku lebih memilih untuk menjemput Mira saja. Aku tepikan sepeda motorku di bahu jalan, aku kemudian mengambil ponselku dan mencari nomor Mira di aplikasi hijau. "Mir, lo di warnet mana? Bareng aja ya ke kontrakan." Kirim. Aku menunggu balasan, sesekali aku memperhatikan jalanan yang masih ramai oleh lalu lalang kendaraan. "Nduk...." "Astaghfirullah, ya Allah!" aku terkesiap, mendengar suara dari belakang. Aku pun menoleh. Seorang wanita paruh baya seperti pengemis itu sudah berada di belakang tubuhku. Wajah wanita tersebut tampak serius kala ia menatapku. "Ya Allah, Bu, saya kaget. Ada apa, Bu?" tanyaku dengan suara masih terguncang, beru
Aku menelan ludah, mencoba menenangkan diriku. Dengan tangan gemetar, aku menggeser ikon hijau di layar ponselku dan menjawab panggilan itu."H—halo? Mira?" suaraku bergetar, nyaris tak keluar.Hening. Hanya ada suara statis di ujung telepon. Kemudian, sebuah suara terdengar—bukan suara Mira yang biasa. Lebih berat, lebih serak, dan terdengar seperti berasal dari kedalaman yang tak terjamah manusia."Kinara... tanggung jawab... saiki!" suara itu bergema, membuat bulu kudukku meremang. Napasku tercekat, dan aku hampir menjatuhkan ponsel dari tanganku."Mira? Ini lo?" tanyaku panik, berharap ini semua hanya kesalahpahaman atau semacam prank yang sering Mira lakukan.Namun, suara itu tidak menjawab. Hanya ada desisan aneh seperti seseorang yang sedang menarik napas dalam-dalam. Di tengah keheningan itu, suara lain muncul—tangisan lirih, seperti anak kecil yang menangis, perlahan berubah menjadi tawa cekikikan yang memekakkan telinga.Aku langsung menutup telepon, napasku memburu. "Sial!







