Share

Bab 7

Author: Miss Sunny
Sudut Pandang Irene.

Rangka dekoratif besar yang dipenuhi lampu dan rangkaian bunga berderit pelan. Benda itu bergoyang-goyang dengan berbahaya.

Benda itu roboh.

Dan, jatuh tepat ke arah kami.

Dalam sepersekian detik itu, insting mengambil alih. Atau mungkin, itu adalah kebenaran yang akhirnya terungkap.

Leon tidak meraihku.

Dia justru menerjang melewatiku. Dia melemparkan tubuhnya ke arah kiri, menyambar tubuh Sofia ke tanah, melindungi wanita itu dengan tubuhnya sendiri saat rangka baja berat itu runtuh.

Sementara aku berdiri di sana, sendirian di tengah panggung, saat lampu-lampu itu jatuh ke arahku. Kemudian aku jatuh ke dalam kegelapan.

...

Hal pertama yang kulihat adalah keheningan.

Tidak ada musik. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada suara baja yang runtuh.

Hanya bunyi bip ... bip ... bip yang berirama dari monitor detak jantung.

Aku membuka mata. Cahaya lampu neon yang menyilaukan di kamar rumah sakit membutakanku sesaat. Aku mencoba menutupi mata, tetapi rasa sakit yang tajam dan menyengat menusuk lengan kiriku.

Aku tersentak, melihat ke bawah. Lenganku terbalut gips tebal. Kepalaku berdenyut dengan rasa sakit yang tumpul dan berat, itu pasti gegar otak.

"Kau akhirnya bangun."

Suara itu datang dari kursi di samping tempat tidurku. Itu bukan suara Leon.

Aku menoleh perlahan.

Sofia sedang duduk di sana, kakinya disilangkan dengan anggun. Dia tampak sempurna. Tidak ada sehelai rambut pun yang berantakan, riasannya tanpa cela, masih mengenakan gaun putih yang sama dari pesta itu. Gaun itu bahkan tidak kusut.

Di tangannya, dia memegang pisau kecil dan sebuah apel merah. Dia sedang mengupasnya, satu strip kulit panjang yang terus menerus melengkung terlepas dari buahnya.

"Di mana Leon?" tanyaku serak. Tenggorokanku terasa seperti dipenuhi pecahan kaca.

"Dia di luar," kata Sofia, tanpa mengalihkan pandangan dari apel itu. "Bicara dengan dokter. Dan pengacara. Dan tim wartawan. Kau sudah membuat kekacauan besar, Irene."

"Aku membuat kekacauan?" Aku mencoba duduk, tetapi rasa pusing menghantamku kembali ke bantal. "Rangka itu jatuh menimpaku."

Sofia akhirnya menatapku. Sorot matanya dingin, tanpa simpati sedikit pun. Senyum kecil terukir di bibirnya saat dia memotong apel dan memasukkan potongannya ke mulut.

"Menurutmu siapa yang mendorongnya?" bisiknya.

Aku membeku.

"Itu kecelakaan," lanjutnya dengan nada ringan dan santai. "Atau setidaknya, itulah yang tertulis di laporan polisi. Baut longgar. Sebuah tragedi."

Dia lalu mencondongkan tubuh ke depan, menyandarkan sikunya di pagar tempat tidur, mendekat ke diriku.

"Tapi kita melihatnya, kan? Dalam sepersekian detik ketika rangka itu jatuh ... siapa yang dia selamatkan?"

Napasku tercekat. Ingatan itu terpatri dalam pikiranku. Leon menerjang. Bukan ke arahku. Tapi menjauh dariku. Melindunginya.

"Dia memilihku," kata Sofia. Suaranya terdengar lembut namun penuh racun. "Dia bahkan nggak berpikir, Irene. Itu instingnya. Dia melindungi ibu dari anaknya, dan membiarkanmu membusuk di sana."

"Keluar," bisikku, tanganku mengepal erat di atas seprai.

"Kenapa? Aku hanya menemanimu." Sofia tertawa pelan. "Kau seharusnya bersyukur. Kalau kau mati, aku harus berpura-pura sedih di pemakamanmu. Itu pasti melelahkan."

Dia berdiri, menepuk gaunnya seolah membersihkan debu yang tak ada. "Terima saja kenyataannya, Sayang. Kau kalah. Kau hanya pengganti. Tumbal visa."

"Sofia!"

Pintu terbuka. Leon masuk. Dia tampak kelelahan, dasinya terlepas, keringat mengucur di dahinya.

Ketika dia melihat Sofia berdiri di samping tempat tidurku, ekspresinya langsung melunak.

"Sofia," kata Leon bergegas menghampirinya. "Kau baik-baik saja? Kau sudah berdiri terlalu lama. Dokter bilang kau perlu istirahat. Stres nggak baik untuk kandungan."

Leon meletakkan tangannya di punggung Sofia, lalu menuntunnya ke kursi yang baru saja ditinggalkannya. Dia bahkan tidak menatapku.

Aku memperhatikan mereka. Suamiku ... memanjakan selingkuhannya sementara istrinya terbaring di ranjang rumah sakit dengan tulang patah.

"Aku baik-baik saja, Leon," kata Sofia dengan suara gemetar. "Aku cuma ... khawatir dengan Irene. Dia tampak sangat gelisah."

Leon akhirnya menoleh ke arahku. Ekspresinya bukan kekhawatiran. Itu adalah kejengkelan.

"Irene." Leon menghela napas sambil mengusap rambut Sofia. "Kenapa kau membuatnya kesal? Sofia sudah di sini berjam-jam menunggu kau bangun. Dia trauma."

Aku menatapnya dengan tidak percaya. "Dia trauma? Leon, aku yang patah lengan dan gegar otak! Dia baru saja bilang kalau dia yang mendorong rangka itu!"

"Sudah, hentikan!" bentak Leon. "Itu akibat gegar otak. Kau berhalusinasi. Sofia nggak akan pernah melakukan itu."

"Dia mengakuinya sendiri!"

"Turunkan suaramu!" desis Leon sambil melirik ke pintu. "Ada wartawan di luar! Apa kau ingin mereka mendengar kau berteriak seperti orang gila?"

Dia berjalan ke sisi tempat tidur. "Dengar, aku tahu kau kesakitan. Tapi kau harus mikir. Itu kecelakaan. Aku mencoba menyelamatkan semua orang, tapi kejadiannya terlalu cepat."

"Kau nggak mencoba menyelamatkan semua orang," kataku. Air mata amarah mulai menggenang di pelupuk mataku. "Kau menyelamatkannya. Dan ... kau meninggalkanku di sana."

"Dia lemah, Irene!" seru Leon. "Tentu saja aku memprioritaskannya! Kau atlet. Kau tangguh. Aku tahu kau bisa menahannya. Tapi Sofia ... dia rapuh."

Aku tahu kau bisa menahannya ....

Kata-kata itu menghantamku lebih keras daripada rangka baja itu.

Karena aku kuat, aku bisa dikorbankan. Karena aku kompeten, aku pantas merasakan sakit.

"Oh ...." kataku. Suaraku menjadi sangat tenang.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 30

    Sudut Pandang Irene.Satu Tahun Kemudian.Matahari terbenam di atas tebing kompleks perkebunan Justin, mewarnai samudra dengan nuansa emas dan ungu.Sebuah lorong sutra putih membentang di atas halaman hijau zamrud, menuju altar yang terbuat dari kayu apung dan mawar putih. Itu adalah upacara pernikahan yang ditunggu-tunggu dunia, "Pernikahan Terbaik Abad Ini" menurut tabloid berita. Tapi bagiku, itu hanyalah sebuah janji yang dibuat di depan orang-orang yang penting.Aku berdiri di lobi rumah besar itu, memandang diriku sendiri di cermin besar.Gaunku adalah mahakarya dari renda dan sutra terbaik, dirancang untuk bisa menangkap cahaya dengan setiap gerakan. Gaun itu anggun, elegan, dan sangat indah. Di leherku ada liontin safir sederhana, hadiah pernikahan dari Justin.Suara gemericik lembut terdengar dari buaian di dekat jendela. Levi yang kini berusia satu tahun dan tegap mengenakan setelan jas kecil, sibuk mencoba memakan dasi kupu-kupunya sendiri."Kau tampak menakjubkan, Dokter I

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 29

    Sudut Pandang Irene."Utangnya sudah lunas," kataku dengan suara tenang. "Sang penyelamat dan sang bintang ... kita sudah selesai."Aku membelakangi kuburan dan berjalan menuruni bukit.Dengan setiap langkah, aku merasakan beban semu selama sepuluh tahun ini akhirnya menghilang. Aku bukan lagi dokter “Master Hoki”. Aku bukan lagi istri rahasianya. Aku hanya Irene.Justin sedang menunggu di dekat pintu mobil. Ketika melihatku, dia tidak bertanya bagaimana perasaanku. Dia hanya membuka pintu, membaringkanku di kursi kulit yang hangat, dan mencium keningku."Sudah siap?" tanyanya."Siap," jawabku.Kami pun pergi, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak melihat ke belakang di kaca spion....Tiga bulan kemudian, Sonar Barica menuju babak pasca musiman. Aku kembali bekerja, gelar Kepala Dokter Tim sekarang menjadi simbol departemen medis paling sukses di liga."Protokol Leon" milikku telah diubah namanya menjadi "Metode Irene". Dan, telah dilisensikan oleh tim-tim di seluruh nege

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 28

    Sudut Pandang Irene.Saat kami berjalan keluar dari gudang, sinar matahari pagi mulai menyinari Dermaga Barica. Udara terasa dingin, tetapi beban yang telah menghancurkan dadaku selama berbulan-bulan akhirnya menghilang.Tiba-tiba, aku merasakan denyutan kecil yang menantang di perut bawahku.Tendangan. Tendangan pertama bayi itu.Aku berhenti berjalan dan melihat ke bawah, lalu menatap Justin. Dia melihat ekspresi wajahku dan meletakkan tangannya di atas tanganku, matanya menelusuri wajahku dengan cemas."Dia baik-baik saja," bisikku. "Kita akan baik-baik saja.""Ayo pulang, Irene," kata Justin. Dia menarikku ke dalam kehangatan mobilnya. "Masa lalu telah berakhir. Hari ini adalah hari pertama dari sisa hidup kita."Debu dari ledakan gudang telah mereda, tetapi gelombang kejut hukum dan emosional baru saja mulai membentuk kembali kota ini.Dua minggu telah berlalu sejak malam saat Leon menukar hidupnya dengan hidupku.Pers yang pernah menikmati pemberitaan tentang dugaan menghilangnya

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 27

    Sudut Pandang Irene.Gudang itu dipenuhi perlengkapan taktis dan lampu darurat, tetapi bagi kami bertiga, dunia telah menyusut menjadi lingkaran kecil di atas beton yang berlumuran darah.Para petugas medis bergegas ke arah kami dengan tandu, langkah kaki mereka bergema di atas kayu, tetapi aku tahu mereka sudah terlambat.Aku bisa merasakan kehidupan perlahan meninggalkan Leon di bawah ujung jariku, kehangatan tubuhnya memudar menjadi hawa dingin lembap pagi itu.Justin berlutut di sampingku, tangannya bertumpu erat di bahuku. Biasanya, sentuhan Justin adalah sebuah klaim, pengingat posesif bahwa aku miliknya.Tetapi sekarang, genggamannya seperti sebuah dukungan. Tidak ada lagi rasa cemburu dalam dirinya, hanya rasa hormat yang berat dan muram kepada pria yang baru saja berjuang untuk keluarganya.Tangan Leon gemetar dan berat karena beban saat-saat terakhirnya, terangkat ke arahku.Dia ingin menyentuh pipiku yang telah dia abaikan selama pernikahan kami, yang telah dia ejek di depan

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 26

    Sudut Pandang Irene.Dalam sepersekian detik Sofia menerjang, otakku memproses semuanya dengan kejelasan yang menyakitkan.Aku melihat kilatan bilah baja tahan karat di tangannya, kegilaan di sorot matanya yang lebar dan tak berkedip, dan gerakan panik Justin yang putus asa saat dia menerobos pembatas dalam, tangannya terulur ke arahku, namun jaraknya masih sepuluh kaki, terlalu jauh untuk menghentikan arah serangan itu.Aku pun memejamkan mata, naluri primitif langsung mengambil alih. Aku membungkukkan tubuh ke depan sejauh yang memungkinkan oleh ikatan kabel, upaya terakhir untuk melindungi kehidupan kecil di dalam diriku dengan tulang rusukku sendiri.Aku menunggu gigitan dingin dan tajam dari pisau itu. Aku menunggu akhir dari mimpi yang baru saja mulai kupercayai.Namun, benturan yang kurasakan tidak tajam. Melainkan berat.Aku pun mendengar erangan serak penuh tenaga, diikuti oleh bunyi hantaman yang mengerikan, suara tubuh yang bertabrakan dengan tubuh.Terdengar suara napas ter

  • Pengkhianatan di Arena Es Hoki   Bab 25

    Sudut Pandang Irene.Gudang itu adalah pusat industri yang sudah terbengkalai, bertengger dengan tidak stabil di tepi Dermaga Barica.Udara dipenuhi aroma air laut yang menggenang, besi berkarat, dan bau tembaga tajam dari keputusasaan Mario.Aku duduk terikat di kursi kayu berat, pergelangan tanganku lecet karena ikatan plastik yang menusuk kulitku.Setiap kali aku bergerak, plastik itu akan semakin menusuk, tetapi aku tetap memposisikan tanganku sebaik mungkin di atas perut.Kehamilanku bukan lagi sekadar rahasia, itu adalah satu-satunya hal yang membuatku tetap waras dalam mimpi buruk ini.Aku seorang dokter, aku tahu statistik trauma selama trimester kedua, dan angka-angka itu berteriak di kepalaku.Di sebelah kiriku, Leon hanyalah bayangan hancur dari pria yang pernah kupuja. Dia terikat di kursi yang serupa. Setelan jasnya yang dulu merupakan baju Master Hoki, kini menjadi kain compang-camping yang berlumuran darah.Wajahnya penuh memar, kesombongannya digantikan oleh kesadaran y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status