แชร์

Bab 4 

ผู้เขียน: Koresh
Noreen tertegun sejenak, lalu menyahut dengan suara pelan, "Beberapa hari lagi adalah hari peringatan kematian kakekku. Aku mau pulang ke kampung halamanku untuk memberi penghormatan."

Kaivan mengangguk, tanpa menawarkan untuk ikut dengan Noreen. Dia tahu kota kecil itu akan menjadi mimpi buruk Kaivan seumur hidup.

Itu adalah tempat ibunya bunuh diri, tempat dia melompat ke sungai, tempat yang berusaha ditinggalkannya dengan susah payah. Kaivan seharusnya tidak akan pernah kembali ke sana selama sisa hidupnya.

Setelah berpisah, mereka mungkin tidak akan bertemu lagi.

Tatapan Kaivan tertuju pada luka goresan di lengan Noreen. Keningnya sedikit berkerut. "Kenapa kamu bisa terluka?"

Noreen terdiam beberapa detik, lalu menjawab dengan jujur, "Waktu restoran kebakaran, aku berlari kembali ke lantai dua dan tanpa sengaja terdorong jatuh."

Mata Kaivan menjadi gelap. "Kenapa kamu kembali ke lantai dua?"

"Aku takut sesuatu terjadi padamu."

Tatapan Kaivan membeku. Setelah beberapa saat, dia berkata dengan suara rendah, "Kamu masih sama seperti dulu."

Noreen tahu Kaivan merujuk pada saat dirinya melompat ke sungai untuk menyelamatkannya. Dia tersenyum getir. "Sekarang sudah beda."

Saat itu, Kaivan sendirian. Sekarang, dia memiliki Zayleen dan tidak lagi membutuhkan Noreen.

Beberapa hari kemudian, Kaivan mulai memindahkan barang-barangnya ke rumah baru. Noreen menyisihkan barangnya dengan alasan ingin memeriksanya lagi sebelum pindah.

Tanpa banyak berpikir, Kaivan secara bertahap memindahkan semua barang miliknya. Rumah itu dengan cepat menjadi kosong.

Noreen duduk sendirian di ruang tamu dan mendengarkan napasnya yang terdengar jelas di ruangan kosong itu. Ini mengingatkannya pada rumah kecil reyot bertahun-tahun lalu, tempat di mana hanya dia dan Kaivan yang hidup saling bergantung.

Noreen bangkit untuk membuang beberapa barang lama. Ketika kembali, seseorang tiba-tiba menutup mulutnya dari belakang. Semuanya menjadi gelap dan dia kehilangan kesadaran.

Ketika tersadar, Noreen mendapati dirinya terikat di kursi dan mulutnya disumpal. Dia sedang berada di sebuah gudang yang terbengkalai. Seorang pria berdiri di hadapannya. Wajah pria itu sangat mirip dengan Kaivan, tetapi tatapannya terlihat jahat. Pria itu menatapnya dengan tatapan merendahkan.

"Ternyata kamu yang selamatkan anak haram itu dulu?" Pria itu mencibir, "Kamu mau dia kembali untuk rebut harta denganku, 'kan?"

Pria ini adalah kakak tiri Kaivan!

Noreen menatapnya lekat-lekat. Dia tak mampu mengeluarkan suara.

Pria itu menarik kain yang menyumpal mulut Noreen. Dia bernapas terengah-engah dan menyahut dengan suara serak, "Kaivan itu manusia. Darah yang mengalir di tubuhnya sama dengan yang mengalir di tubuhmu. Kamu nggak berhak menghinanya."

"Dia nggak pernah berniat merebut warisanmu. Ayahmu yang mengkhianati ibunya!" Suara Noreen bergetar, tetapi kata-katanya tegas. "Ibunya juga tertipu. Dia bukan pelakor dan Kaivan bukan anak haram!"

Ekspresi pria itu seketika berubah. Dia menampar Noreen dengan kuat. Pandangan Noreen menjadi kabur dan dia merasakan darah di mulutnya.

"Berani juga kamu melawan." Pria itu meraih dagu Noreen, lalu memaksanya untuk mendongak. "Hubungi Kaivan."

Noreen tahu pria ini ingin memanfaatkannya untuk membalas dendam pada Kaivan. Dia menggertakkan giginya dan menolak untuk setuju.

Pria itu tersenyum sinis, lalu merebut ponselnya dan menghubungi nomor Kaivan. Tidak ada yang menjawab. Dia menelepon lagi, tetapi tetap tidak ada jawaban.

"Sepertinya, hubungan kalian setelah hidup saling bergantung begitu lama juga nggak sekuat itu." Pria itu menatap Noreen dengan penuh ejekan. "Dia sama sekali nggak peduli dengan hidup dan matimu, tapi kamu masih begitu membelanya?"

Hati Noreen terasa sakit, tetapi dia tetap berkata dengan suara serak, "Kaivan bukan orang seperti yang kamu kira."

Pria itu pun marah. Dengan lambaian tangannya, pengawalnya melangkah maju dan meninju perut Noreen. Dia meringkuk kesakitan dan keringat dingin langsung membasahi punggungnya.

"Dengar, setiap Kaivan nggak menjawab telepon sekali, aku akan mencabut satu gigimu." Pria itu membungkuk dan menepuk-nepuk wajah Noreen. "Lihat saja seberapa mengenaskan kematianmu nanti gara-gara dia."

Ketika gigi pertama Noreen dicabut secara paksa, pandangannya seketika kabur karena rasa sakit. Dia juga mengeluarkan rintihan yang sangat menyakitkan.

Kaivan masih tidak menjawab telepon. Jadi, gigi Noreen terus dicabut satu per satu ....

Mulutnya sudah dipenuhi darah dan kesadarannya mulai memudar. Namun, masih tidak ada tanggapan dari ujung telepon. Akhirnya, ketika gigi terakhir dicabut, panggilan itu terhubung.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 21

    Pada musim dingin berikutnya, Noreen telah pulih sepenuhnya. Hasil pemeriksaan lanjutannya membuatnya dan Albert sangat bahagia.Albert membawa Noreen pergi melihat aurora yang selalu ingin dilihatnya.Angin dingin menerpa pipi Noreen. Dia menarik syalnya lebih tinggi lagi, hingga hampir menutupi separuh wajahnya. Malam musim dingin di Norwegin sangat dingin. Namun, demi melihat aurora, rasa dingin ini bukanlah apa-apa."Bertahanlah sedikit lebih lama lagi. Pemandunya bilang, peluang melihat aurora malam ini sangat tinggi." Albert memberikan termos kepada Noreen. Uapnya mengembun menjadi kabut putih di udara dingin. "Minumlah air panas untuk menghangatkan badan.""Auroranya sudah muncul!" Mendengar suara pemandu, keduanya serentak mendongak. Di kejauhan, seberkas cahaya hijau samar yang seperti tirai perlahan-lahan terbentang di langit. Cahaya itu awalnya lemah. Seiring waktu berlalu, warna hijau itu makin terang dan secara bertahap berubah menjadi seperti aliran sungai."Indah bange

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 20 

    Albert tidak meminta Noreen untuk segera memberi jawaban. "Jangan buru-buru kasih aku jawaban. Istirahat saja dulu dengan baik. Kita bicarakan semuanya beberapa hari lagi."Setelah beberapa hari pemulihan, Noreen akhirnya bisa mengonsumsi makanan cair. Raut wajahnya pun membaik secara signifikan.Albert meletakkan bubur di depannya. "Hati-hati panas. Makanlah dengan pelan." Noreen meraih pergelangan tangannya. "Albert, ada sesuatu yang mau kukatakan padamu." Dia menatap wajah Albert yang penuh semangat. Pikirannya dipenuhi segala sesuatu yang telah Albert lakukan untuknya selama ini. Baik itu buket bunga segar harian, makanan berkhasiat yang Albert siapkan secara pribadi, atau perawatan teliti yang dia berikan sebelum dan sesudah operasi, semua itu sebenarnya hanyalah hal-hal kecil.Namun, hal-hal kecil inilah yang penting bagi Noreen. Segala sesuatu di masa lalu terasa seperti air yang membanjiri hatinya dan menumbukan lagi benih-benih yang terkubur di lubuk hatinya yang terdalam. B

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 19

    "Aku nggak pandang rendah ...." Noreen mencibir, "Kamu memang nggak seharusnya pandang rendah aku." Dia mengangkat tangannya dan melanjutkan, "Demi hasilkan uang kuliahmu, aku mencuci piring di tengah musim dingin. Tanganku terendam air hampir 20 jam sehari. Bahkan sampai sekarang, aku masih sering mengalami radang dingin yang menyakitkan dan gatal di musim dingin. Karena sering memindahkan barang, lututku sudah rusak dan selalu sangat sakit waktu hujan." Masih ada luka di punggung dan kapalan di telapak tangan Noreen. Demi membiayai pendidikan Kaivan, dia telah melakukan berbagai pekerjaan kotor dan berat. Terkadang, ketika melihat bayangannya yang berantakan di cermin, dia bertanya-tanya apakah dirinya tidak pantas berdiri di samping Kaivan.Noreen bisa memikirkan itu dalam hati, tetapi dia tidak bisa menerima Kaivan memandang rendah dirinya."Memangnya aku yang masih berusia belasan dan dua puluhan tahun nggak suka pakaian yang cantik? Tapi, demi menghasilkan uang, aku pakai paka

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 18

    Kaivan menurunkan tangannya dengan sedih. Dia kembali ke tempat di mana dia dan Noreen pernah tinggal bersama. Rumah itu telah direnovasi dan terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya.Mengikuti ingatannya, Kaivan berjalan ke arah pohon akasia di halaman belakang. Ayunan di pohon itu sudah usang. Hanya satu sentuhan ringan saja dapat menyebabkan banyak bagian yang lepas.Kaivan menatap kosong ke ayunan itu dan memikirkan masa lalunya bersama Noreen. Di rumah kecil nan bobrok ini, dia telah menghabiskan masa-masa terkelam hidupnya. Dinding halaman tidak mampu menghalangi gosip, kutukan, hinaan, dan tawa mengejek. Semua itu terus-menerus terdengar di telinganya.Kaivan hampir kehilangan kendali berkali-kali. Akan tetapi, setiap kali, Noreen akan menutupi telinganya dan berkata, "Kaivan, nggak apa-apa. Aku akan selalu berada di sisimu." Mereka telah bersama selama sepuluh tahun. Apa pun yang terjadi, setiap kali menoleh, Kaivan selalu melihat Noreen di belakangnya.Awalnya, Noreen bekerja

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 17 

    Setelah kehujanan sehari sebelumnya, Noreen bangun dengan demam ringan dan tidak pergi ke toko Steffi. Dia minum obat dan berpikir dirinya akan baik-baik saja setelah beristirahat. Namun, kepalanya makin pusing.Mendengar ketukan di pintu, Noreen memaksakan diri untuk pergi membuka pintu. Namun, begitu melihat Albert, dia langsung pingsan. Ketika tersadar, dia sudah berada di rumah sakit."Jangan bergerak. Infus belum selesai." Suara Albert terdengar di telinganya. Noreen pun menoleh untuk melihatnya."Terima kasih sudah menyelamatkanku kemarin. Dokter bilang, kamu demam karena kehujanan terlalu lama." Noreen menerima air yang ditawarkan Albert. "Terima kasih.""Nggak perlu berterima kasih padaku. Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Waktu menuruni gunung kemarin, dadaku tiba-tiba nyeri. Kalau bukan berkat kamu, aku pasti sudah mati sebelum para pengawal menemukanku. Kamu sudah selamatkan nyawaku. Aku nggak akan pernah lupakan kebaikanmu." Noreen tak kuasa menahan tawa setela

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 16 

    Ketika kembali menginjakkan kaki di kota kecil ini, Noreen merasa sedikit linglung. Sepuluh tahun telah berlalu, tetapi tempat ini sepertinya tidak pernah berubah. Selain sedikit dekorasi yang berubah di jalanan dan gang-gang, tata letaknya tetap sama persis seperti yang dia ingat.Sesampainya di salon kuku Steffi, Noreen dan Steffi juga tidak merasa canggung meskipun telah berpisah selama bertahun-tahun. Begitu melihat satu sama lain, mereka langsung berpelukan dengan erat."Kenapa kamu tiba-tiba putuskan untuk kembali?" Dihadapkan dengan kekhawatiran sahabatnya, Noreen terdiam sesaat. Matanya terasa perih dan air mata mengalir di wajahnya."Noreen, ada apa?" Melihatnya menangis, Steffi buru-buru memberinya tisu. "Apa Kaivan menindasmu?" Noreen tidak bisa mengendalikan emosinya. Dia menceritakan semua yang telah terjadi selama beberapa saat ini sambil menangis."Kaivan benar-benar nggak manusiawi! Kamu sudah bekerja keras untuk biayai pendidikannya, bahkan korbankan studimu meski su

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 3 

    Selama beberapa hari itu, Kaivan tidak pulang. Ketika membuka media sosial, Noreen selalu melihat postingan Zayleen. Kaivan menemaninya ke perpustakaan, membawakannya sarapan, dan membungkuk untuk mengikat tali sepatunya. Di setiap foto, ekspresi Kaivan terlihat lebih lembut daripada saat bersama N

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 7

    Zayleen segera tersenyum dan menggeleng. "Nggak apa-apa, kami cuma lagi ngomong soal liburan." Kaivan tidak bertanya lebih lanjut. Dia hanya berjalan mendekat dengan terhuyung-huyung, lalu meraih pergelangan tangan Noreen. "Ayo pulang." Telapak tangannya terasa sangat panas, begitu panas hingga me

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 6

    Saat bersiap untuk pergi, Noreen dan Kaivan bertemu dengan Zayleen. Dia mengenakan gaun berwarna pastel dan berlari mendekat sambil tersenyum. "Kai! Kebetulan sekali! Aku lagi nongkrong bareng teman satu gengku."Zayleen menatap Kaivan dengan mata berbinar dan melanjutkan, "Kai, bukannya kamu bilang

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 5

    Namun, yang terdengar adalah suara Zayleen. "Halo? Kai baru saja tidur setelah melakukan eksperimen sepanjang malam. Ada masalah apa?"Kakak tiri Kaivan menatap Noreen dengan iba. "Sudah dengar? Pria yang kamu lindungi dengan segenap hati mengabaikanmu karena sedang bersama wanita lain. Sungguh meny

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status