Share

Bab 5

Author: Koresh
Namun, yang terdengar adalah suara Zayleen. "Halo? Kai baru saja tidur setelah melakukan eksperimen sepanjang malam. Ada masalah apa?"

Kakak tiri Kaivan menatap Noreen dengan iba. "Sudah dengar? Pria yang kamu lindungi dengan segenap hati mengabaikanmu karena sedang bersama wanita lain. Sungguh menyedihkan!"

Zayleen merasa ada yang janggal. Suaranya menjadi penuh waspada. "Siapa kamu? Apa yang sudah terjadi?"

"Kamu nggak perlu tahu aku ini siapa," ejek pria itu. "Suruh Kaivan segera kemari. Kalau nggak, siap-siap untuk terima jasad wanita ini."

Setelah menutup telepon, pria itu terus melontarkan hinaan paling kejam terhadap Kaivan dan ibunya, termasuk Noreen.

Noreen hampir mati rasa karena kesakitan, tetapi lebih takut lagi jika Kaivan benar-benar datang. Apa yang akan terjadi jika Kaivan datang? Apakah dia akan dipukuli sampai mati? Apakah dia akan diancam?

Seluruh tubuh Noreen gemetar karena diliputi rasa takut yang luar biasa.

Setelah entah berapa lama, pintu gudang terbuka dan terdengar suara langkah kaki mendekat. Jantung Noreen hampir berhenti berdetak. Dia segera mendongak.

Hanya Zayleen seorang yang datang. Dia mengucapkan beberapa patah kata dengan kakak tiri Kaivan. Ekspresi pria itu berubah beberapa kali sebelum akhirnya melirik Noreen dan mencibir, "Anggap saja kamu beruntung hari ini."

Setelah pria itu pergi bersama pengawalnya, Zayleen segera menghampiri Noreen, lalu melepaskan tali yang mengikatnya dan memapahnya keluar.

"Aku akan bawa kamu ke rumah sakit," kata Zayleen dengan suara agak gemetar.

Mulut Noreen penuh darah dan dia tidak bisa berbicara. Dia hanya membiarkan Zayleen memapahnya masuk ke mobil.

Di rumah sakit, dokter merawat luka Noreen dan memasangkan gigi palsu sementara.

Zayleen berdiri di samping dan tak sanggup melihat kondisi Noreen yang mengerikan.

"Terima kasih sudah gantikan Kai lewati bencana ini," ucap Zayleen dengan pelan. "Aku sudah mencapai kesepakatan dengan kakaknya. Dia nggak akan mencari masalah dengan Kai lagi."

Noreen bertanya dengan suara serak, "Kesepakatan apa?"

Zayleen menatap Noreen dengan tenang untuk sejenak, lalu menggeleng. "Kamu nggak akan ngerti meski aku kasih tahu kamu."

"Tapi, kamu cuma perlu tahu satu hal." Setelah berhenti sejenak, Zayleen menambahkan, "Selaam ada aku, hal yang sama nggak akan terjadi lagi pada Kai."

Melihat sikap Zayleen yang percaya diri dan tenang, Noreen tiba-tiba tersadar. Benar, dia tidak mengerti. Yang perlu dia ketahui hanyalah Zayleen dapat dengan mudah menyelesaikan masalah yang tidak bisa dia selesaikan sendiri, tidak peduli sekeras apa pun dia berusaha. Yang Kaivan butuhkan selalu seseorang seperti Zayleen.

Jadi, Noreen mengangguk. Suaranya hampir tak terdengar saat berkata, "Jangan pernah biarkan Kaivan tahu tentang hal ini."

Selama beberapa hari terakhir, Noreen memulihkan diri sambil menelusuri kembali jejaknya di kota ini. Restoran kecil tempat dia dan Kaivan pertama kali makan hotpot telah tutup dan digantikan oleh restoran Barat elite.

Gang di belakang kampus sudah direnovasi dan Noreen tidak lagi menemukan atap tempat mereka biasa berlindung dari hujan. Bahkan pohon akasia tua di tepi sungai juga telah ditebang. Saat ini, tempat itu dibangun menjadi platform pengamatan yang akan diterangi lampu neon indah di malam hari.

Berdiri di tepi sungai sambil memandang lampu-lampu yang menyilaukan di seberang sungai, Noreen tiba-tiba menyadari bahwa dia tidak pernah benar-benar merasa menjadi bagian dari kota ini. Namun, Kaivan telah berakar di sini dan tumbuh menjadi seseorang yang hanya bisa dikagumi oleh Noreen.

Ponselnya tiba-tiba bergetar. Itu adalah panggilan dari Kaivan.

"Di mana kamu?" Suara Kaivan masih dingin seperti biasa.

Noreen mengirimkan lokasinya. Kurang dari 20 menit kemudian, Kaivan muncul di tepi sungai.

"Kenapa kamu datang kemari sendirian?" Kaivan berdiri di samping Noreen. Pandangannya tertuju pada sungai yang jauh.

"Aku teringat beberapa hal di masa lalu." Noreen bertanya pelan, "Apa kamu masih ingat hal-hal yang terjadi saat kita baru datang ke kota ini?"

Kaivan terdiam sejenak, lalu menjawab dengan tenang, "Jangan selalu terpaku pada masa lalu. Orang harus melihat ke depan."

Noreen tertegun sejenak, lalu menoleh untuk menatap Kaivan. "Kamu ... sama sekali nggak merindukannya?"

"Nggak." Nada Kaivan terdengar tenang, bahkan sedikit dingin. "Aku bahkan membencinya."

Jantung Noreen langsung bergetar. Dia ingin bertanya, 'Apa kamu juga membenci masa-masa kita hidup saling bergantung?'

Namun, kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya.

"Yang kamu bilang benar." Noreen memaksakan senyum. "Kita harus melanjutkan hidup."

Mereka harus menempuh jalan masing-masing.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 21

    Pada musim dingin berikutnya, Noreen telah pulih sepenuhnya. Hasil pemeriksaan lanjutannya membuatnya dan Albert sangat bahagia.Albert membawa Noreen pergi melihat aurora yang selalu ingin dilihatnya.Angin dingin menerpa pipi Noreen. Dia menarik syalnya lebih tinggi lagi, hingga hampir menutupi separuh wajahnya. Malam musim dingin di Norwegin sangat dingin. Namun, demi melihat aurora, rasa dingin ini bukanlah apa-apa."Bertahanlah sedikit lebih lama lagi. Pemandunya bilang, peluang melihat aurora malam ini sangat tinggi." Albert memberikan termos kepada Noreen. Uapnya mengembun menjadi kabut putih di udara dingin. "Minumlah air panas untuk menghangatkan badan.""Auroranya sudah muncul!" Mendengar suara pemandu, keduanya serentak mendongak. Di kejauhan, seberkas cahaya hijau samar yang seperti tirai perlahan-lahan terbentang di langit. Cahaya itu awalnya lemah. Seiring waktu berlalu, warna hijau itu makin terang dan secara bertahap berubah menjadi seperti aliran sungai."Indah bange

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 20 

    Albert tidak meminta Noreen untuk segera memberi jawaban. "Jangan buru-buru kasih aku jawaban. Istirahat saja dulu dengan baik. Kita bicarakan semuanya beberapa hari lagi."Setelah beberapa hari pemulihan, Noreen akhirnya bisa mengonsumsi makanan cair. Raut wajahnya pun membaik secara signifikan.Albert meletakkan bubur di depannya. "Hati-hati panas. Makanlah dengan pelan." Noreen meraih pergelangan tangannya. "Albert, ada sesuatu yang mau kukatakan padamu." Dia menatap wajah Albert yang penuh semangat. Pikirannya dipenuhi segala sesuatu yang telah Albert lakukan untuknya selama ini. Baik itu buket bunga segar harian, makanan berkhasiat yang Albert siapkan secara pribadi, atau perawatan teliti yang dia berikan sebelum dan sesudah operasi, semua itu sebenarnya hanyalah hal-hal kecil.Namun, hal-hal kecil inilah yang penting bagi Noreen. Segala sesuatu di masa lalu terasa seperti air yang membanjiri hatinya dan menumbukan lagi benih-benih yang terkubur di lubuk hatinya yang terdalam. B

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 19

    "Aku nggak pandang rendah ...." Noreen mencibir, "Kamu memang nggak seharusnya pandang rendah aku." Dia mengangkat tangannya dan melanjutkan, "Demi hasilkan uang kuliahmu, aku mencuci piring di tengah musim dingin. Tanganku terendam air hampir 20 jam sehari. Bahkan sampai sekarang, aku masih sering mengalami radang dingin yang menyakitkan dan gatal di musim dingin. Karena sering memindahkan barang, lututku sudah rusak dan selalu sangat sakit waktu hujan." Masih ada luka di punggung dan kapalan di telapak tangan Noreen. Demi membiayai pendidikan Kaivan, dia telah melakukan berbagai pekerjaan kotor dan berat. Terkadang, ketika melihat bayangannya yang berantakan di cermin, dia bertanya-tanya apakah dirinya tidak pantas berdiri di samping Kaivan.Noreen bisa memikirkan itu dalam hati, tetapi dia tidak bisa menerima Kaivan memandang rendah dirinya."Memangnya aku yang masih berusia belasan dan dua puluhan tahun nggak suka pakaian yang cantik? Tapi, demi menghasilkan uang, aku pakai paka

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 18

    Kaivan menurunkan tangannya dengan sedih. Dia kembali ke tempat di mana dia dan Noreen pernah tinggal bersama. Rumah itu telah direnovasi dan terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya.Mengikuti ingatannya, Kaivan berjalan ke arah pohon akasia di halaman belakang. Ayunan di pohon itu sudah usang. Hanya satu sentuhan ringan saja dapat menyebabkan banyak bagian yang lepas.Kaivan menatap kosong ke ayunan itu dan memikirkan masa lalunya bersama Noreen. Di rumah kecil nan bobrok ini, dia telah menghabiskan masa-masa terkelam hidupnya. Dinding halaman tidak mampu menghalangi gosip, kutukan, hinaan, dan tawa mengejek. Semua itu terus-menerus terdengar di telinganya.Kaivan hampir kehilangan kendali berkali-kali. Akan tetapi, setiap kali, Noreen akan menutupi telinganya dan berkata, "Kaivan, nggak apa-apa. Aku akan selalu berada di sisimu." Mereka telah bersama selama sepuluh tahun. Apa pun yang terjadi, setiap kali menoleh, Kaivan selalu melihat Noreen di belakangnya.Awalnya, Noreen bekerja

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 17 

    Setelah kehujanan sehari sebelumnya, Noreen bangun dengan demam ringan dan tidak pergi ke toko Steffi. Dia minum obat dan berpikir dirinya akan baik-baik saja setelah beristirahat. Namun, kepalanya makin pusing.Mendengar ketukan di pintu, Noreen memaksakan diri untuk pergi membuka pintu. Namun, begitu melihat Albert, dia langsung pingsan. Ketika tersadar, dia sudah berada di rumah sakit."Jangan bergerak. Infus belum selesai." Suara Albert terdengar di telinganya. Noreen pun menoleh untuk melihatnya."Terima kasih sudah menyelamatkanku kemarin. Dokter bilang, kamu demam karena kehujanan terlalu lama." Noreen menerima air yang ditawarkan Albert. "Terima kasih.""Nggak perlu berterima kasih padaku. Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Waktu menuruni gunung kemarin, dadaku tiba-tiba nyeri. Kalau bukan berkat kamu, aku pasti sudah mati sebelum para pengawal menemukanku. Kamu sudah selamatkan nyawaku. Aku nggak akan pernah lupakan kebaikanmu." Noreen tak kuasa menahan tawa setela

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 16 

    Ketika kembali menginjakkan kaki di kota kecil ini, Noreen merasa sedikit linglung. Sepuluh tahun telah berlalu, tetapi tempat ini sepertinya tidak pernah berubah. Selain sedikit dekorasi yang berubah di jalanan dan gang-gang, tata letaknya tetap sama persis seperti yang dia ingat.Sesampainya di salon kuku Steffi, Noreen dan Steffi juga tidak merasa canggung meskipun telah berpisah selama bertahun-tahun. Begitu melihat satu sama lain, mereka langsung berpelukan dengan erat."Kenapa kamu tiba-tiba putuskan untuk kembali?" Dihadapkan dengan kekhawatiran sahabatnya, Noreen terdiam sesaat. Matanya terasa perih dan air mata mengalir di wajahnya."Noreen, ada apa?" Melihatnya menangis, Steffi buru-buru memberinya tisu. "Apa Kaivan menindasmu?" Noreen tidak bisa mengendalikan emosinya. Dia menceritakan semua yang telah terjadi selama beberapa saat ini sambil menangis."Kaivan benar-benar nggak manusiawi! Kamu sudah bekerja keras untuk biayai pendidikannya, bahkan korbankan studimu meski su

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 7

    Zayleen segera tersenyum dan menggeleng. "Nggak apa-apa, kami cuma lagi ngomong soal liburan." Kaivan tidak bertanya lebih lanjut. Dia hanya berjalan mendekat dengan terhuyung-huyung, lalu meraih pergelangan tangan Noreen. "Ayo pulang." Telapak tangannya terasa sangat panas, begitu panas hingga me

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 6

    Saat bersiap untuk pergi, Noreen dan Kaivan bertemu dengan Zayleen. Dia mengenakan gaun berwarna pastel dan berlari mendekat sambil tersenyum. "Kai! Kebetulan sekali! Aku lagi nongkrong bareng teman satu gengku."Zayleen menatap Kaivan dengan mata berbinar dan melanjutkan, "Kai, bukannya kamu bilang

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 4 

    Noreen tertegun sejenak, lalu menyahut dengan suara pelan, "Beberapa hari lagi adalah hari peringatan kematian kakekku. Aku mau pulang ke kampung halamanku untuk memberi penghormatan."Kaivan mengangguk, tanpa menawarkan untuk ikut dengan Noreen. Dia tahu kota kecil itu akan menjadi mimpi buruk Kaiv

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 3 

    Selama beberapa hari itu, Kaivan tidak pulang. Ketika membuka media sosial, Noreen selalu melihat postingan Zayleen. Kaivan menemaninya ke perpustakaan, membawakannya sarapan, dan membungkuk untuk mengikat tali sepatunya. Di setiap foto, ekspresi Kaivan terlihat lebih lembut daripada saat bersama N

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status