Share

Bab 3 

Penulis: Koresh
Selama beberapa hari itu, Kaivan tidak pulang.

Ketika membuka media sosial, Noreen selalu melihat postingan Zayleen. Kaivan menemaninya ke perpustakaan, membawakannya sarapan, dan membungkuk untuk mengikat tali sepatunya. Di setiap foto, ekspresi Kaivan terlihat lebih lembut daripada saat bersama Noreen.

Noreen memperhatikan dalam diam sambil mengemasi barang-barangnya sedikit demi sedikit. Selama bertahun-tahun, dia hanya memiliki sedikit barang. Beberapa pakaian ganti, sepasang sepatu kets yang telah dipakainya selama bertahun-tahun, dan sebuah album foto yang penuh dengan foto-foto candid Kaivan.

Ada wajah samping Kaivan saat membaca, punggungnya saat memasak, keningnya yang sedikit berkerut saat tidur, dan sebagainya.

Ketika Kaivan kembali, Noreen sedang mengemasi kotak kecil terakhir.

"Buat apa kamu berkemas?" tanya Kaivan yang berdiri di ambang pintu. Suaranya terdengar acuh tak acuh.

"Nggak kepakai lagi. Aku mau membuangnya." Noreen tidak mendongak karena takut Kaivan akan melihat matanya yang memerah.

Kaivan hanya mengiakan, lalu masuk dan menuang segelas air. "Bagus juga kamu berkemas. Bukannya kamu bilang rumah ini kurang nyaman? Aku sudah beli sebuah vila. Beberapa hari lagi, kita bisa pindah ke sana."

Kaivan terdiam sejenak, lalu tiba-tiba berkata, "Kalau nggak, aku akan ajak kamu pergi melihatnya hari ini."

Jari Noreen sedikit gemetar. Pada akhirnya, dia mengangguk. Anggap saja dia pergi melihat rumah baru Kaivan untuk yang terakhir kalinya sebelum pergi.

Area vila itu indah dan teduh karena tertutup pepohonan. Suasananya juga tenang, seolah-olah terisolasi dari dunia luar.

Begitu sampai di depan pintu, mereka bertemu dengan Zayleen. Dia mengenakan gaun kuning pucat dan tersenyum berseri-seri. "Kalian ada di sini? Kak Noreen, rumahku bersebelahan dengan rumah kalian. Kelak, kita bisa bertemu setiap hari!"

Zayleen dengan antusias mengajak mereka berkeliling vilanya. Namun, begitu pintunya dibuka, Noreen langsung membeku. Sofa berwarna putih gading, meja makan dengan warna kayu alami, bahkan tanaman hijau di balkon vila ini sama persis dengan yang baru saja dilihatnya di vila Kaivan.

"Aku dan Kai pergi pilih perabot bersama-sama," kata Zayleen sambil tersenyum. "Aku nggak nyangka selera kami begitu mirip. Begitu didekorasi, kesannya seperti rumah yang sama."

Zayleen mengedipkan mata dan menambahkan, "Bahkan ada teman yang bilang kalau dinding pembatasnya dirobohkan, kedua rumah ini bisa jadi satu rumah tanpa terlihat aneh!"

Kaivan berdiri di samping dan menyunggingkan senyum yang jarang terlihat. "Dia belajar desain dan punya selera yang bagus."

Hati Noreen terasa sangat sakit, seperti ditusuk jarum. Benar juga, setelah dia pergi, mereka dapat secara resmi mengonfirmasi hubungan mereka. Mereka memang dapat menggabungkan kedua rumah ini menjadi satu.

Saat berkeliling rumah, waktu sudah menunjukkan hampir jam makan siang. Zayleen pun mengusulkan mereka makan siang bersama dan memilih restoran Barat elite. Semua menunya dalam bahasa asing.

Zayleen juga sengaja memberikan menu itu kepada Noreen terlebih dahulu. Begitu mengambilnya, jari-jari Noreen sedikit gemetar. Dia tidak mengenali satu kata pun.

Kaivan sepertinya merasakan rasa malu Noreen dan mengulurkan tangan untuk mengambil menu itu. "Biar aku saja yang pesan."

Zayleen bertopang dagu, lalu berkata sambil tersenyum, "Kai, jangan cuma pesan yang aku suka, perhatikan juga Kak Noreen."

Kaivan menatap Noreen. "Kamu mau makan apa?"

Noreen pun menunduk. Kaivan mengingat jelas makanan favorit Zayleen. Sementara itu, mereka sudah hidup bersama begitu lama, tetapi Kaivan bahkan tidak tahu apa yang disukainya atau makanan jenis apa yang disukai.

"Apa saja boleh," jawab Noreen dengan pelan.

Ketika makanan tiba, Noreen menggunakan pisau dan garpu dengan canggung, lalu tanpa sengaja menjatuhkan piringnya. Sausnya terciprat ke taplak meja dan orang-orang di sekitar mengarahkan pandangan merendahkan ke arahnya.

Noreen buru-buru berdiri dan berniat pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Akan tetapi, dia mendengar bisikan di belakangnya.

"Dari mana datangnya orang kampungan ini? Dia seharusnya nggak pernah datang ke restoran ala Prancis, 'kan?"

"Memalukan banget! Berdiri di samping pasangan cakep itu, dia kelihatan seperti manusia primitif ...."

Noreen bergegas ke kamar mandi, menyalakan keran, dan dengan panik menggosok minyak dari tangannya. Gadis di cermin terlihat pucat dan matanya merah. Dia terlihat seperti badut yang menyedihkan.

Benar, dia dan Kaivan sudah tidak lagi berada di dunia yang sama.

Tiba-tiba, terdengar teriakan dari luar. "Kebakaran!"

Ekspresi Noreen seketika berubah. Naluri pertamanya adalah bergegas keluar untuk mencari Kaivan. Akan tetapi, ketika dia berlari melawan arus orang menuju tempat duduknya, tempat itu sudah kosong. Kaivan sudah pergi bersama Zayleen.

Noreen terdorong oleh kerumunan yang panik dan jatuh ke lantai. Tangannya diinjak dengan kuat. Rasa sakit itu membuat pandangannya kabur. Setelah menuruni tangga dengan terhuyung-huyung, dia melihat Kaivan menggendong Zayleen dan dengan tergesa-gesa memberi tahu sopir, "Ke rumah sakit!"

Zayleen bersandar padanya dan berbisik, "Kak Noreen masih di dalam ...."

Kaivan melirik ke arah restoran yang ramai. "Toiletnya di lantai satu. Dia seharusnya sudah keluar sekarang."

Setelah terdiam sejenak, Kaivan melanjutkan, "Cedera kakimu lebih penting. Kita pergi ke rumah sakit dulu."

Pintu mobil tertutup dan mereka pun pergi.

Noreen berdiri di tempat. Luka di tangannya terasa perih, tetapi itu tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya. Dia pergi ke rumah sakit sendirian. Setelah lukanya dibalut, dia pulang dan memesan selembar tiket kereta api untuk pergi.

Setelah tertidur, Noreen bermimpi tentang banyak hal dari masa lalu.

Kaivan yang berusia 16 tahun berdiri di tepi sungai dan bertanya kenapa Noreen menyelamatkannya. Kaivan yang berusia 19 tahun dengan keras kepala menunggunya pulang di meja makan sampai larut malam.

Kaivan yang berusia 22 tahun memeluknya dan berkata, "Noreen, aku pasti akan memberimu kehidupan yang baik."

Kaivan yang berusia 24 tahun memiliki seorang gadis yang disukainya dan tidak lagi membutuhkannya.

Dalam mimpi, Noreen tersenyum dan air mata tanpa sadar jatuh membasahi pipinya. Ketika terbangun lagi, Kaivan berdiri di samping tempat tidurnya dan sedang memegang ponselnya.

"Kamu beli tiket kereta api?" Kaivan menatap Noreen dan bertanya dengan suara sedingin es, "Kamu mau ke mana?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 21

    Pada musim dingin berikutnya, Noreen telah pulih sepenuhnya. Hasil pemeriksaan lanjutannya membuatnya dan Albert sangat bahagia.Albert membawa Noreen pergi melihat aurora yang selalu ingin dilihatnya.Angin dingin menerpa pipi Noreen. Dia menarik syalnya lebih tinggi lagi, hingga hampir menutupi separuh wajahnya. Malam musim dingin di Norwegin sangat dingin. Namun, demi melihat aurora, rasa dingin ini bukanlah apa-apa."Bertahanlah sedikit lebih lama lagi. Pemandunya bilang, peluang melihat aurora malam ini sangat tinggi." Albert memberikan termos kepada Noreen. Uapnya mengembun menjadi kabut putih di udara dingin. "Minumlah air panas untuk menghangatkan badan.""Auroranya sudah muncul!" Mendengar suara pemandu, keduanya serentak mendongak. Di kejauhan, seberkas cahaya hijau samar yang seperti tirai perlahan-lahan terbentang di langit. Cahaya itu awalnya lemah. Seiring waktu berlalu, warna hijau itu makin terang dan secara bertahap berubah menjadi seperti aliran sungai."Indah bange

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 20 

    Albert tidak meminta Noreen untuk segera memberi jawaban. "Jangan buru-buru kasih aku jawaban. Istirahat saja dulu dengan baik. Kita bicarakan semuanya beberapa hari lagi."Setelah beberapa hari pemulihan, Noreen akhirnya bisa mengonsumsi makanan cair. Raut wajahnya pun membaik secara signifikan.Albert meletakkan bubur di depannya. "Hati-hati panas. Makanlah dengan pelan." Noreen meraih pergelangan tangannya. "Albert, ada sesuatu yang mau kukatakan padamu." Dia menatap wajah Albert yang penuh semangat. Pikirannya dipenuhi segala sesuatu yang telah Albert lakukan untuknya selama ini. Baik itu buket bunga segar harian, makanan berkhasiat yang Albert siapkan secara pribadi, atau perawatan teliti yang dia berikan sebelum dan sesudah operasi, semua itu sebenarnya hanyalah hal-hal kecil.Namun, hal-hal kecil inilah yang penting bagi Noreen. Segala sesuatu di masa lalu terasa seperti air yang membanjiri hatinya dan menumbukan lagi benih-benih yang terkubur di lubuk hatinya yang terdalam. B

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 19

    "Aku nggak pandang rendah ...." Noreen mencibir, "Kamu memang nggak seharusnya pandang rendah aku." Dia mengangkat tangannya dan melanjutkan, "Demi hasilkan uang kuliahmu, aku mencuci piring di tengah musim dingin. Tanganku terendam air hampir 20 jam sehari. Bahkan sampai sekarang, aku masih sering mengalami radang dingin yang menyakitkan dan gatal di musim dingin. Karena sering memindahkan barang, lututku sudah rusak dan selalu sangat sakit waktu hujan." Masih ada luka di punggung dan kapalan di telapak tangan Noreen. Demi membiayai pendidikan Kaivan, dia telah melakukan berbagai pekerjaan kotor dan berat. Terkadang, ketika melihat bayangannya yang berantakan di cermin, dia bertanya-tanya apakah dirinya tidak pantas berdiri di samping Kaivan.Noreen bisa memikirkan itu dalam hati, tetapi dia tidak bisa menerima Kaivan memandang rendah dirinya."Memangnya aku yang masih berusia belasan dan dua puluhan tahun nggak suka pakaian yang cantik? Tapi, demi menghasilkan uang, aku pakai paka

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 18

    Kaivan menurunkan tangannya dengan sedih. Dia kembali ke tempat di mana dia dan Noreen pernah tinggal bersama. Rumah itu telah direnovasi dan terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya.Mengikuti ingatannya, Kaivan berjalan ke arah pohon akasia di halaman belakang. Ayunan di pohon itu sudah usang. Hanya satu sentuhan ringan saja dapat menyebabkan banyak bagian yang lepas.Kaivan menatap kosong ke ayunan itu dan memikirkan masa lalunya bersama Noreen. Di rumah kecil nan bobrok ini, dia telah menghabiskan masa-masa terkelam hidupnya. Dinding halaman tidak mampu menghalangi gosip, kutukan, hinaan, dan tawa mengejek. Semua itu terus-menerus terdengar di telinganya.Kaivan hampir kehilangan kendali berkali-kali. Akan tetapi, setiap kali, Noreen akan menutupi telinganya dan berkata, "Kaivan, nggak apa-apa. Aku akan selalu berada di sisimu." Mereka telah bersama selama sepuluh tahun. Apa pun yang terjadi, setiap kali menoleh, Kaivan selalu melihat Noreen di belakangnya.Awalnya, Noreen bekerja

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 17 

    Setelah kehujanan sehari sebelumnya, Noreen bangun dengan demam ringan dan tidak pergi ke toko Steffi. Dia minum obat dan berpikir dirinya akan baik-baik saja setelah beristirahat. Namun, kepalanya makin pusing.Mendengar ketukan di pintu, Noreen memaksakan diri untuk pergi membuka pintu. Namun, begitu melihat Albert, dia langsung pingsan. Ketika tersadar, dia sudah berada di rumah sakit."Jangan bergerak. Infus belum selesai." Suara Albert terdengar di telinganya. Noreen pun menoleh untuk melihatnya."Terima kasih sudah menyelamatkanku kemarin. Dokter bilang, kamu demam karena kehujanan terlalu lama." Noreen menerima air yang ditawarkan Albert. "Terima kasih.""Nggak perlu berterima kasih padaku. Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Waktu menuruni gunung kemarin, dadaku tiba-tiba nyeri. Kalau bukan berkat kamu, aku pasti sudah mati sebelum para pengawal menemukanku. Kamu sudah selamatkan nyawaku. Aku nggak akan pernah lupakan kebaikanmu." Noreen tak kuasa menahan tawa setela

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 16 

    Ketika kembali menginjakkan kaki di kota kecil ini, Noreen merasa sedikit linglung. Sepuluh tahun telah berlalu, tetapi tempat ini sepertinya tidak pernah berubah. Selain sedikit dekorasi yang berubah di jalanan dan gang-gang, tata letaknya tetap sama persis seperti yang dia ingat.Sesampainya di salon kuku Steffi, Noreen dan Steffi juga tidak merasa canggung meskipun telah berpisah selama bertahun-tahun. Begitu melihat satu sama lain, mereka langsung berpelukan dengan erat."Kenapa kamu tiba-tiba putuskan untuk kembali?" Dihadapkan dengan kekhawatiran sahabatnya, Noreen terdiam sesaat. Matanya terasa perih dan air mata mengalir di wajahnya."Noreen, ada apa?" Melihatnya menangis, Steffi buru-buru memberinya tisu. "Apa Kaivan menindasmu?" Noreen tidak bisa mengendalikan emosinya. Dia menceritakan semua yang telah terjadi selama beberapa saat ini sambil menangis."Kaivan benar-benar nggak manusiawi! Kamu sudah bekerja keras untuk biayai pendidikannya, bahkan korbankan studimu meski su

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 7

    Zayleen segera tersenyum dan menggeleng. "Nggak apa-apa, kami cuma lagi ngomong soal liburan." Kaivan tidak bertanya lebih lanjut. Dia hanya berjalan mendekat dengan terhuyung-huyung, lalu meraih pergelangan tangan Noreen. "Ayo pulang." Telapak tangannya terasa sangat panas, begitu panas hingga me

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 6

    Saat bersiap untuk pergi, Noreen dan Kaivan bertemu dengan Zayleen. Dia mengenakan gaun berwarna pastel dan berlari mendekat sambil tersenyum. "Kai! Kebetulan sekali! Aku lagi nongkrong bareng teman satu gengku."Zayleen menatap Kaivan dengan mata berbinar dan melanjutkan, "Kai, bukannya kamu bilang

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 5

    Namun, yang terdengar adalah suara Zayleen. "Halo? Kai baru saja tidur setelah melakukan eksperimen sepanjang malam. Ada masalah apa?"Kakak tiri Kaivan menatap Noreen dengan iba. "Sudah dengar? Pria yang kamu lindungi dengan segenap hati mengabaikanmu karena sedang bersama wanita lain. Sungguh meny

  • Pengorbananku yang Tak Pernah Kau Hargai   Bab 4 

    Noreen tertegun sejenak, lalu menyahut dengan suara pelan, "Beberapa hari lagi adalah hari peringatan kematian kakekku. Aku mau pulang ke kampung halamanku untuk memberi penghormatan."Kaivan mengangguk, tanpa menawarkan untuk ikut dengan Noreen. Dia tahu kota kecil itu akan menjadi mimpi buruk Kaiv

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status