MasukPada musim dingin berikutnya, Noreen telah pulih sepenuhnya. Hasil pemeriksaan lanjutannya membuatnya dan Albert sangat bahagia.Albert membawa Noreen pergi melihat aurora yang selalu ingin dilihatnya.Angin dingin menerpa pipi Noreen. Dia menarik syalnya lebih tinggi lagi, hingga hampir menutupi separuh wajahnya. Malam musim dingin di Norwegin sangat dingin. Namun, demi melihat aurora, rasa dingin ini bukanlah apa-apa."Bertahanlah sedikit lebih lama lagi. Pemandunya bilang, peluang melihat aurora malam ini sangat tinggi." Albert memberikan termos kepada Noreen. Uapnya mengembun menjadi kabut putih di udara dingin. "Minumlah air panas untuk menghangatkan badan.""Auroranya sudah muncul!" Mendengar suara pemandu, keduanya serentak mendongak. Di kejauhan, seberkas cahaya hijau samar yang seperti tirai perlahan-lahan terbentang di langit. Cahaya itu awalnya lemah. Seiring waktu berlalu, warna hijau itu makin terang dan secara bertahap berubah menjadi seperti aliran sungai."Indah bange
Albert tidak meminta Noreen untuk segera memberi jawaban. "Jangan buru-buru kasih aku jawaban. Istirahat saja dulu dengan baik. Kita bicarakan semuanya beberapa hari lagi."Setelah beberapa hari pemulihan, Noreen akhirnya bisa mengonsumsi makanan cair. Raut wajahnya pun membaik secara signifikan.Albert meletakkan bubur di depannya. "Hati-hati panas. Makanlah dengan pelan." Noreen meraih pergelangan tangannya. "Albert, ada sesuatu yang mau kukatakan padamu." Dia menatap wajah Albert yang penuh semangat. Pikirannya dipenuhi segala sesuatu yang telah Albert lakukan untuknya selama ini. Baik itu buket bunga segar harian, makanan berkhasiat yang Albert siapkan secara pribadi, atau perawatan teliti yang dia berikan sebelum dan sesudah operasi, semua itu sebenarnya hanyalah hal-hal kecil.Namun, hal-hal kecil inilah yang penting bagi Noreen. Segala sesuatu di masa lalu terasa seperti air yang membanjiri hatinya dan menumbukan lagi benih-benih yang terkubur di lubuk hatinya yang terdalam. B
"Aku nggak pandang rendah ...." Noreen mencibir, "Kamu memang nggak seharusnya pandang rendah aku." Dia mengangkat tangannya dan melanjutkan, "Demi hasilkan uang kuliahmu, aku mencuci piring di tengah musim dingin. Tanganku terendam air hampir 20 jam sehari. Bahkan sampai sekarang, aku masih sering mengalami radang dingin yang menyakitkan dan gatal di musim dingin. Karena sering memindahkan barang, lututku sudah rusak dan selalu sangat sakit waktu hujan." Masih ada luka di punggung dan kapalan di telapak tangan Noreen. Demi membiayai pendidikan Kaivan, dia telah melakukan berbagai pekerjaan kotor dan berat. Terkadang, ketika melihat bayangannya yang berantakan di cermin, dia bertanya-tanya apakah dirinya tidak pantas berdiri di samping Kaivan.Noreen bisa memikirkan itu dalam hati, tetapi dia tidak bisa menerima Kaivan memandang rendah dirinya."Memangnya aku yang masih berusia belasan dan dua puluhan tahun nggak suka pakaian yang cantik? Tapi, demi menghasilkan uang, aku pakai paka
Kaivan menurunkan tangannya dengan sedih. Dia kembali ke tempat di mana dia dan Noreen pernah tinggal bersama. Rumah itu telah direnovasi dan terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya.Mengikuti ingatannya, Kaivan berjalan ke arah pohon akasia di halaman belakang. Ayunan di pohon itu sudah usang. Hanya satu sentuhan ringan saja dapat menyebabkan banyak bagian yang lepas.Kaivan menatap kosong ke ayunan itu dan memikirkan masa lalunya bersama Noreen. Di rumah kecil nan bobrok ini, dia telah menghabiskan masa-masa terkelam hidupnya. Dinding halaman tidak mampu menghalangi gosip, kutukan, hinaan, dan tawa mengejek. Semua itu terus-menerus terdengar di telinganya.Kaivan hampir kehilangan kendali berkali-kali. Akan tetapi, setiap kali, Noreen akan menutupi telinganya dan berkata, "Kaivan, nggak apa-apa. Aku akan selalu berada di sisimu." Mereka telah bersama selama sepuluh tahun. Apa pun yang terjadi, setiap kali menoleh, Kaivan selalu melihat Noreen di belakangnya.Awalnya, Noreen bekerja
Setelah kehujanan sehari sebelumnya, Noreen bangun dengan demam ringan dan tidak pergi ke toko Steffi. Dia minum obat dan berpikir dirinya akan baik-baik saja setelah beristirahat. Namun, kepalanya makin pusing.Mendengar ketukan di pintu, Noreen memaksakan diri untuk pergi membuka pintu. Namun, begitu melihat Albert, dia langsung pingsan. Ketika tersadar, dia sudah berada di rumah sakit."Jangan bergerak. Infus belum selesai." Suara Albert terdengar di telinganya. Noreen pun menoleh untuk melihatnya."Terima kasih sudah menyelamatkanku kemarin. Dokter bilang, kamu demam karena kehujanan terlalu lama." Noreen menerima air yang ditawarkan Albert. "Terima kasih.""Nggak perlu berterima kasih padaku. Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Waktu menuruni gunung kemarin, dadaku tiba-tiba nyeri. Kalau bukan berkat kamu, aku pasti sudah mati sebelum para pengawal menemukanku. Kamu sudah selamatkan nyawaku. Aku nggak akan pernah lupakan kebaikanmu." Noreen tak kuasa menahan tawa setela
Ketika kembali menginjakkan kaki di kota kecil ini, Noreen merasa sedikit linglung. Sepuluh tahun telah berlalu, tetapi tempat ini sepertinya tidak pernah berubah. Selain sedikit dekorasi yang berubah di jalanan dan gang-gang, tata letaknya tetap sama persis seperti yang dia ingat.Sesampainya di salon kuku Steffi, Noreen dan Steffi juga tidak merasa canggung meskipun telah berpisah selama bertahun-tahun. Begitu melihat satu sama lain, mereka langsung berpelukan dengan erat."Kenapa kamu tiba-tiba putuskan untuk kembali?" Dihadapkan dengan kekhawatiran sahabatnya, Noreen terdiam sesaat. Matanya terasa perih dan air mata mengalir di wajahnya."Noreen, ada apa?" Melihatnya menangis, Steffi buru-buru memberinya tisu. "Apa Kaivan menindasmu?" Noreen tidak bisa mengendalikan emosinya. Dia menceritakan semua yang telah terjadi selama beberapa saat ini sambil menangis."Kaivan benar-benar nggak manusiawi! Kamu sudah bekerja keras untuk biayai pendidikannya, bahkan korbankan studimu meski su
Zayleen segera tersenyum dan menggeleng. "Nggak apa-apa, kami cuma lagi ngomong soal liburan." Kaivan tidak bertanya lebih lanjut. Dia hanya berjalan mendekat dengan terhuyung-huyung, lalu meraih pergelangan tangan Noreen. "Ayo pulang." Telapak tangannya terasa sangat panas, begitu panas hingga me
Saat bersiap untuk pergi, Noreen dan Kaivan bertemu dengan Zayleen. Dia mengenakan gaun berwarna pastel dan berlari mendekat sambil tersenyum. "Kai! Kebetulan sekali! Aku lagi nongkrong bareng teman satu gengku."Zayleen menatap Kaivan dengan mata berbinar dan melanjutkan, "Kai, bukannya kamu bilang
Namun, yang terdengar adalah suara Zayleen. "Halo? Kai baru saja tidur setelah melakukan eksperimen sepanjang malam. Ada masalah apa?"Kakak tiri Kaivan menatap Noreen dengan iba. "Sudah dengar? Pria yang kamu lindungi dengan segenap hati mengabaikanmu karena sedang bersama wanita lain. Sungguh meny
Noreen tertegun sejenak, lalu menyahut dengan suara pelan, "Beberapa hari lagi adalah hari peringatan kematian kakekku. Aku mau pulang ke kampung halamanku untuk memberi penghormatan."Kaivan mengangguk, tanpa menawarkan untuk ikut dengan Noreen. Dia tahu kota kecil itu akan menjadi mimpi buruk Kaiv







