로그인Cahaya fajar yang mulai merayap masuk melalui celah gorden ruang kerja pribadi mansion Arka tidak menyurutkan semangat Lia Sanjaya. Sebaliknya, setiap berkas digital yang terpampang di layar monitor justru semakin mengobarkan api di matanya. Setelah menemukan jejak hitam Elena di kasino-kasino Makau, Lia merasa masih ada potongan teka-teki yang hilang. Ia bertanya-tanya dalam hati, dari mana seorang wanita yang sedang bangkrut dan diburu penagih utang bisa mendapatkan dokumen sensitif mengenai akuisisi Global Tech yang terjadi bertahun-tahun lalu? Arka adalah pria yang sangat teliti dalam menghapus jejak, dan tidak mungkin dokumen itu tertinggal di tangan seorang mantan istri yang sudah lama diusir, kecuali ada pengkhianatan dari pihak ketiga.Lia duduk tegak kembali, jemarinya yang lentik namun kokoh kembali menari di atas papan ketik, memerintahkan Benyamin untuk melacak riwayat firma hukum yang menangani perceraian Arka dan Elena. Ia mencurigai bahwa dokumen itu bukan diberikan o
Lampu gantung kristal di ruang kerja pribadi mansion Arka hanya berpendar redup, menyisakan pencahayaan yang terpusat pada dua layar monitor besar yang masih menyala di tengah kegelapan malam yang pekat. Jarum jam dinding telah melewati angka tiga pagi, saat di mana sebagian besar penghuni Jakarta terlelap dalam mimpi, namun bagi Lia, malam ini adalah awal dari sebuah operasi perburuan yang sesungguhnya. Ia tidak mengganti gaun malamnya sepenuhnya, hanya melapisi tubuhnya dengan cardigan wol lembut, sementara rambutnya diikat asal-asalan ke atas untuk memudahkan fokus. Di sampingnya, Benyamin duduk dengan punggung tegak, jari-jarinya menari di atas papan ketik dengan kecepatan yang stabil, membedah lapisan-lapisan keamanan perbankan internasional yang selama ini menyembunyikan identitas asli Elena.Lia menatap layar dengan mata yang sedikit memerah namun penuh kewaspadaan. Guncangan emosi dari pertemuan di parkiran tadi tidak membuatnya luruh; sebaliknya, itu menjadi bahan bakar yan
Udara malam di luar Hotel terasa kontras dengan kehangatan aula yang baru saja ditinggalkan Arka dan Lia. Angin malam berembus tajam, membawa aroma aspal basah dan sisa-sia hujan sore tadi. Arka melangkah dengan wibawa yang tak tergoyahkan, tangannya masih melingkar protektif di pinggang Lia, sementara beberapa petugas keamanan pribadi mereka memberikan jarak yang cukup namun tetap waspada di sekitar. Suasana sunyi di area parkir VIP itu mendadak pecah oleh suara langkah kaki yang terburu-buru dan deru napas yang memburu. Langkah kaki yang tidak beraturan, beradu dengan suara hak sepatu yang menghantam beton dengan kasar.Lia merasakan otot lengan Arka mengeras seketika. Sebelum mereka sempat mencapai pintu mobil Rolls-Royce hitam yang sudah menunggu, sebuah bayangan merah keputihan muncul dari balik pilar beton besar. Elena berdiri di sana, menghalangi jalan mereka. Penampilannya kini jauh dari kata anggun. Rambut yang tadi tertata rapi kini sedikit berantakan karena angin dan keri
Aula besar Hotel Grand Astoria yang semula riuh dengan gumaman rendah para pebisnis kelas kakap mendadak diselimuti keheningan yang menyesakkan ketika Arka melangkah menjauh dari meja bar, diikuti oleh Lia Sanjaya yang melingkarkan tangannya dengan posesif di lengan pria itu. Di sana, di tengah sorot lampu kristal yang membiaskan cahaya keemasan, Elena berdiri mematung dengan gaun putih nostalgianya yang kini tampak seperti anomali di tengah kemewahan modern. Ia menyadari bahwa tatapan ratusan pasang mata kini tertuju padanya, menanti drama apa yang akan meledak di antara sang mantan istri dan penguasa baru Dirgantara Group. Elena menarik napas panjang, mencoba membusungkan dadanya dan mempertahankan sisa-sisa keanggunan yang ia miliki, meski ia tahu hatinya sedang bergetar hebat menghadapi tatapan dingin Arka yang seolah-olah sedang menguliti jiwanya."Arka, tunggu," suara Elena memecah keheningan, terdengar sedikit melengking di tengah ruangan yang sunyi. Ia melangkah maju, membia
Malam itu, aula utama Hotel Grand Astoria disulap menjadi samudra kemewahan yang menyilaukan mata. Cahaya dari lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit memantul pada lantai marmer yang dipoles hingga mengilap, menciptakan ilusi bahwa setiap tamu yang hadir sedang melangkah di atas permukaan air yang tenang. Gala dinner tahunan Dirgantara Group bukan sekadar acara makan malam biasa; ini adalah panggung kekuasaan, sebuah medan pertempuran tak kasat mata di mana kesepakatan bernilai triliunan rupiah sering kali diputuskan di sela-sela denting gelas sampanye. Harum aroma bunga lili putih dan melati menyebar di udara, bercampur dengan aroma parfum mahal yang menyesakkan indra. Di tengah hiruk-pikuk para petinggi bisnis dan pejabat pemerintahan, Arka Dirgantara berdiri sebagai pusat gravitasi. Mengenakan tuksedo hitam yang dijahit sempurna mengikuti lekuk tubuhnya yang tegap, ia tampak seperti kaisar modern yang sedang mengawasi wilayah kekuasaannya dengan tatapan yang dingi
Lia berdiri diam selama beberapa saat di koridor yang baru saja ditinggalkan oleh Elena. Gema tawa mengejek wanita itu seolah masih menempel di dinding marmer, meninggalkan residu aura negatif yang mencoba merusak ketenangannya. Namun, alih-alih merasa terintimidasi atau terluka oleh sebutan "mainan pengganti," Lia justru merasakan sesuatu yang lain bergejolak di dalam dadanya. Itu bukan lagi ketakutan, bukan pula keraguan seorang gadis yang merasa dirinya hanya sekadar jaminan utang. Ada percik api yang perlahan menyala, sebuah tekad yang lahir dari keinginan untuk melindungi apa yang telah menjadi dunianya. Ia menyadari bahwa jika ia terus bersikap pasif, masa lalu Arka akan selalu datang untuk menelan masa depan mereka.Dengan langkah yang mantap dan suara sepatu hak tinggi yang mengetuk lantai dengan ritme penuh otoritas, Lia berbalik. Ia tidak kembali ke mejanya sendiri. Ia berjalan lurus menuju pintu besar ruangan Arka, mendorongnya terbuka tanpa ragu, dan masuk ke dalam ruang
Langkah kaki Arka yang menghantam lantai marmer koridor lantai atas mansion itu terdengar seperti suara guntur yang mendahului badai besar. Ia tidak lagi menggunakan sisa-sisa kesopanan yang biasanya ia tunjukkan di depan para pelayan. Tangan kanannya mencengkeram pergelangan tangan Lia Sanjaya de
Kegelapan di dalam ruang kendali keamanan pribadi Arka Dirgantara terasa begitu pekat, hanya menyisakan pendar biru pucat dari deretan layar monitor yang menempel di dinding. Ruangan ini adalah jantung dari sistem pengawasan mansion, sebuah tempat yang biasanya hanya dimasuki oleh tim keamanan eli
Pintu kamar itu terkunci dengan bunyi klik yang bergema seperti vonis mati bagi kewarasan di dalam ruangan yang luas itu. Arka tidak melepaskan tatapannya dari Lia, matanya gelap, hampir hitam sepenuhnya karena pupil yang melebar akibat adrenalin dan gairah yang sudah meluap melampaui bendungan lo
Kesunyian di koridor lantai lima puluh Dirgantara Group terasa jauh lebih tegang dibandingkan pagi sebelumnya. Arka Dirgantara berjalan dengan langkah yang lebar dan kaku, masing-masing hentakan sepatu kulitnya di atas lantai granit seolah-olah mengumumkan pada seluruh gedung bahwa sang penguasa s







