Home / Pendekar / Penguasa Pedang / 1 Seorang Budak Menyedihkan

Share

Penguasa Pedang
Penguasa Pedang
Author: Lembean

1 Seorang Budak Menyedihkan

Author: Lembean
last update publish date: 2026-03-19 12:37:32

Angin dingin menyapu halaman latihan Sekte Xuantian pagi itu, membawa serta bau tanah basah dan daun-daun gugur dari pegunungan di kejauhan. 

Matahari baru saja menyembul di balik puncak Gunung Xuantian, menerangi deretan bangunan kayu berlapis genteng hitam yang menjulang megah di sepanjang lereng. 

Namun di sudut halaman yang paling jauh dari aula utama, di tempat yang bahkan sinar matahari pun enggan menyentuh, seorang pemuda jatuh tersungkur ke tanah untuk kesekian kalinya.

Lin Xuan merasakan rasa besi di mulutnya. Darah. Dia sudah tidak asing lagi dengan rasanya.

Sebuah tendangan menghantam rusuknya dan membuatnya terguling beberapa kali di atas tanah berbatu. Tubuhnya yang kurus menabrak tiang kayu penyangga atap gudang senjata, menimbulkan bunyi debaman yang menggema singkat sebelum ditelan oleh suara tawa.

"Bangun, budak pedang! Kau pikir latihan sudah selesai?"

Seorang murid sekte luar dengan jubah abu-abu bertepuk tangan, matanya berbinar penuh kenikmatan melihat Lin Xuan meringkuk di tanah. Di belakangnya, lima murid lain berdiri dengan ekspresi serupa. 

Ada yang menyilangkan tangan di dada. Ada yang memutar-mutar pedang kayu di tangannya seperti mainan. Semuanya memandang Lin Xuan dengan tatapan yang sama, tatapan yang biasa diberikan seseorang kepada seekor anjing liar yang kebetulan masuk ke pekarangan rumahnya.

Budak pedang. Itulah sebutan untuk murid-murid seperti Lin Xuan. Mereka bukan murid sekte luar, apalagi murid sekte dalam. Mereka adalah lapisan paling bawah dalam hierarki Sekte Xuantian, orang-orang yang diterima hanya untuk melayani. Mencuci jubah para murid. Mengasah pedang mereka. Membersihkan aula latihan. Mengambil air dari mata air di puncak gunung sebelum fajar menyingsing. Dan yang paling menyakitkan dari semua tugas itu, menjadi sasaran latihan.

Para murid sekte membutuhkan lawan untuk mengasah teknik mereka. Boneka kayu terlalu kaku dan tidak memberikan sensasi yang nyata. Maka budak pedang seperti Lin Xuan menjadi pilihan yang sempurna. Mereka cukup hidup untuk memberikan reaksi, tapi cukup lemah untuk tidak bisa melawan.

Lin Xuan memaksakan kedua tangannya menopang tubuhnya. Lengannya gemetar. Sudut bibirnya sobek dan darah menetes ke tanah, membentuk bercak-bercak kecil yang langsung diserap oleh debu. Dia berhasil bangkit dengan satu lutut, lalu tangan kanannya bergerak ke dadanya secara naluriah.

Jari-jarinya menemukan liontin itu.

Sebuah liontin kecil berbentuk pedang, tergantung di rantai perak tipis yang sudah kusam dimakan waktu. Permukaannya dingin di bawah sentuhannya, tapi entah mengapa setiap kali dia menggenggamnya, ada kehangatan samar yang menjalar dari logam itu ke telapak tangannya.

'Ayah...'

Dia menggenggam liontin itu erat-erat sementara kakinya berusaha berdiri tegak. Ayahnya memberikan liontin ini kepadanya bertahun-tahun yang lalu, di malam terakhir sebelum pria itu pergi tanpa pernah kembali. Lin Xuan masih ingat tangan besar dan kasar ayahnya yang mengalungkan rantai itu ke lehernya, dan suara beratnya yang berkata bahwa suatu hari nanti Lin Xuan akan mengerti mengapa liontin ini begitu penting.

Sampai hari ini, Lin Xuan belum mengerti. Tapi liontin itu sudah menjadi satu-satunya pegangannya. Setiap kali tubuhnya dipukul hingga remuk, setiap kali harga dirinya diinjak-injak, dia menggenggam liontin itu dan membiarkan dinginnya logam mengingatkannya bahwa dia masih hidup. Bahwa dia masih punya alasan untuk bertahan.

"Kau masih bisa berdiri juga, ya?"

Sebuah tinju menghantam pelipisnya dan dunia berputar. Lin Xuan terhuyung ke samping, tersandung kakinya sendiri, dan jatuh lagi ke tanah. Kali ini dia mendarat dengan wajah lebih dulu. Kerikil-kerikil kecil menggores pipinya dan rasa perih langsung menyebar di separuh wajahnya.

"Zhang Bin, jangan terlalu keras. Kalau dia mati, siapa yang akan membersihkan gudang senjata malam ini?"

Tawa pecah di antara para murid. 

Zhang Bin, pemuda bertubuh kekar dengan rahang persegi dan mata kecil yang selalu menyipit penuh kebencian, hanya mendengus. Dia menurunkan tinjunya dan meludah ke tanah tepat di samping kepala Lin Xuan.

"Dia tidak akan mati semudah itu. Kecoak seperti dia selalu susah dibunuh."

Zhang Bin adalah murid sekte luar tahap ketiga alam kondensasi Qi, jauh di atas Lin Xuan yang hanya tahap 3 Alam Pemurnian Tubuh. 

Tendangan terakhir mendarat di punggung Lin Xuan sebelum Zhang Bin memasukkan tangannya ke dalam lengan jubahnya dan berbalik pergi. 

Para murid lain mengikuti di belakangnya, masih tertawa dan sesekali menoleh ke belakang untuk melihat tubuh yang terkapar di tanah.

Lin Xuan tidak bergerak sampai suara langkah mereka menghilang sepenuhnya.

Dia berbaring di sana, menatap langit yang biru cerah di atas sana. Langit yang sama yang dilihat oleh para murid sekte dalam di paviliun mewah mereka. Langit yang sama yang dilihat oleh para tetua sekte di puncak Gunung Xuantian. Tapi bagi Lin Xuan, langit itu terasa jauh. Terlalu jauh untuk dijangkau oleh tangan-tangannya yang penuh luka.

Dari sudut matanya, dia bisa melihat budak-budak pedang lainnya bergegas menghampiri para murid yang baru saja pergi. Mereka membungkuk dengan senyum yang dipaksakan, menawarkan teh, menawarkan untuk membawa tas dan senjata latihan para murid. Suara mereka manis dan penuh kepatuhan.

"Tuan Zhang, biarkan saya yang membawakan pedang Anda."

"Tuan Li, apakah Anda memerlukan air hangat untuk membersihkan tangan?"

Lin Xuan memejamkan matanya sejenak. Dia memahami mengapa budak-budak pedang itu melakukannya. Kalau mereka tidak menjilat, mereka akan bernasib sama dengannya. Atau bahkan lebih buruk. Setidaknya dengan menjadi anjing yang patuh, mereka bisa menghindari pukulan dan tendangan yang seharusnya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka.

Tapi Lin Xuan tidak bisa melakukan itu. Bukan karena dia terlalu bangga. Tubuhnya yang penuh luka adalah bukti bahwa kebanggaan sudah lama menjadi kemewahan yang tidak bisa dia miliki. Dia hanya tidak bisa memaksa dirinya untuk tersenyum kepada orang-orang yang memukulinya. Hanya itu saja. Hal sesederhana itu.

Dia bangkit perlahan. Setiap gerakan mengirimkan rasa sakit yang tajam menjalar di seluruh tubuhnya. Tulang rusuknya mungkin retak. Atau mungkin hanya memar parah. Dia sudah tidak bisa membedakan keduanya lagi.

Dengan langkah yang timpang, Lin Xuan berjalan meninggalkan halaman latihan dan menuju hutan di sisi timur kompleks sekte. Jalan setapak yang dia lalui sudah sangat dia hafal karena dia melewatinya setiap hari, kadang dua kali sehari. Melewati deretan pohon pinus tua yang batangnya berlumut, melewati sungai kecil yang airnya jernih, hingga dia sampai di sebuah lahan terbuka di tengah hutan yang menjadi tempat latihannya.

Sebatang pedang kayu sudah menunggunya di sana, bersandar di sebuah batu besar yang permukaannya rata. Dia mengambil pedang itu dan mulai mengayunkannya.

Tebasan pertama. Tubuhnya protes dengan rasa sakit yang menusuk dari rusuk kirinya. Dia menahan napas dan melanjutkan.

Tebasan kedua. Lebih cepat. Lebih tajam.

Tebasan ketiga. Pergelangan tangannya memutar dengan sudut yang presisi, membuat ujung pedang kayu membelah udara dengan suara siulan tipis yang nyaris tidak terdengar.

Gerakan-gerakannya bersih. Posisi kakinya tepat. Setiap ayunan mengikuti prinsip-prinsip dasar ilmu pedang dengan akurasi yang seharusnya tidak dimiliki oleh seorang budak pedang. 

Kalau ada seorang ahli pedang yang kebetulan lewat dan melihatnya berlatih, ahli itu pasti akan terkejut. Bukan karena tenaganya, tenaganya lemah, hampir tidak ada. Tapi karena pemahamannya terhadap setiap gerakan sangat dalam, seolah-olah setiap tebasan telah dipelajarinya selama bertahun-tahun.

Kenyataannya, Lin Xuan hanya perlu melihat sebuah teknik satu kali untuk memahaminya sepenuhnya.

Ini adalah bakatnya. Satu-satunya bakat yang dia miliki. Kemampuan pemahaman yang melampaui siapapun di Sekte Xuantian, atau bahkan mungkin di seluruh dunia kultivasi. 

Di mana murid lain membutuhkan berminggu-minggu untuk menguasai satu set gerakan dasar, Lin Xuan hanya perlu sekali melihat. Di mana murid lain harus membaca sebuah manual ilmu pedang berulang-ulang selama berbulan-bulan, Lin Xuan hanya perlu membacanya sekali dan seluruh isinya sudah terpatri di benaknya, dipahami hingga ke intinya.

Tapi apa gunanya pemahaman tanpa kekuatan?

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
mulai menarik
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Penguasa Pedang   1859: Memburu Putra Suci!

    "Berlari!"Raja-raja di sekitarnya juga melarikan diri dengan panik.Bahkan Putra Suci Sepuluh Ribu Guntur pun telah pergi, jadi mereka tidak berani berlama-lama lagi.Jika musuh kembali, tak seorang pun dari mereka akan mampu menandinginya.Oleh karena itu, orang-orang ini juga melarikan diri ke segala arah.Dari formasi pembunuh yang dilepaskan Lin Xuan, tiga hancur, sementara lima sisanya dipanggil kembali dengan lambaian tangannya.Formasi pembunuh yang tidak rusak ini dapat digunakan kembali; mereka hanya perlu dimurnikan lagi.Tanpa perlindungan formasi, aura dan pemandangan di sini langsung dikenali oleh sosok kuat dari Kota Awan Ungu.Tak terhitung banyaknya raja yang pernah memandang ke arah pinggiran kota ini pada saat itu.Mereka kemudian benar-benar terkejut.Karena tempat itu telah hancur menjadi ketiadaan, dan segala sesuatu tidak lagi ada."Siapa sebenarnya yang bertarung di sini? Bagaimana mungkin mereka bisa menyembunyikan keberadaan mereka sepenuhnya?""Ini menakutka

  • Penguasa Pedang   1858 Pedang Ilahi Matahari dan Bulan!

    Sesaat kemudian, ia juga sembuh dari luka-lukanya.Orang-orang di sekitar menatap pemandangan itu dengan mata terbelalak.Metode ini sungguh terlalu luar biasa; mereka sama sekali tidak mungkin melakukannya.Karena mereka tidak memiliki Teknik Panjang Umur Lin Xuan maupun kekayaan luar biasa milik Wan Lei Shengzi.Oleh karena itu, jika mereka menderita cedera yang begitu parah, mereka pasti akan meninggal.Namun, mereka tidak menyadari bahwa, meskipun pertandingan tampak seimbang, kedua pemain telah pulih.Namun, bahaya tersembunyi sebenarnya telah ditanamkan di dalam tubuh Wan Lei Shengzi.Karena energi pedang Lin Xuan bukanlah sesuatu yang mudah dihilangkan.Itu adalah energi pedang yang dihasilkan oleh Jiwa Pedang Naga Agung, sangat tajam, dan bahkan memiliki aura keabadian.Meskipun saat ini berhasil ditekan, jika tidak sepenuhnya dihilangkan, pada akhirnya akan meletus dan menyebabkan kerusakan yang lebih besar.Semua ini sama sekali diabaikan oleh Putra Suci Sepuluh Ribu Guntur.

  • Penguasa Pedang   1857: Pedang Menghancurkan Seluruh Langit! 

    Di pusat ledakan, Lin Xuan dan Wan Lei Shengzi terus mundur, gerakan mereka secepat kilat, menerobos kehampaan.Namun, Lin Xuan mengenakan baju zirah hitam, yang menghalangi sebagian besar dampak energi tersebut.Oleh karena itu, dia hanya mundur dengan wajah pucat, dan dia tidak menderita luka serius.Namun, setetes darah merembes dari sudut mulut Wanlei Saint Son, dengan warna merah tua yang tidak biasa."Apa? Putra Suci Wanlei terluka!"Melihat hal itu, raja-raja di sekitarnya bangkit dari tanah, mata mereka terbelalak karena takjub."Ini luar biasa!"Fakta bahwa Wan Lei Shengzi terluka saat bertarung melawan raja bintang lima mungkin tidak akan dipercaya siapa pun jika kabar itu tersebar.Memang benar, Wan Lei Shengzi tidak hanya terluka, tetapi juga mengalami banyak patah tulang.Matanya tampak sangat dingin.Sesaat kemudian, dia mengaktifkan kekuatan ilahi tertingginya, dan tulang-tulang di tubuhnya sembuh dengan cepat, mengeluarkan suara gemerisik.Dalam sekejap, lukanya sembuh

  • Penguasa Pedang   1856 Penindasan!

    Lautan petir berkobar, kehampaan hancur berkeping-keping, dan seolah-olah sebuah gunung dahsyat turun dari langit untuk menekan Lin Xuan.Menghadapi serangan yang mengerikan itu, tatapan mata Lin Xuan tetap dingin, dan dia melayang di Alam Pedang Naga seperti seorang pendekar pedang abadi.Aura energi pedang yang tajam dan bergelombang mengalir di sekelilingnya. Bersamaan dengan itu, terdapat niat membunuh yang mengerikan.Aura mematikan ini melesat lurus ke langit, merobek langit dan bumi.Bahkan raja-raja yang bertempur melawan formasi pembunuh di kejauhan pun merasakan niat membunuh yang mengerikan ini.Tiba-tiba, seluruh tubuhku terasa dingin, bahkan darah di tubuhku terasa seperti akan membeku."Sungguh menakutkan!"Mereka merasakan aura ini dan tubuh mereka gemetar.Untungnya, yang melawan lawan adalah Wanlei Saint Son; jika mereka yang melawan, mereka mungkin tidak akan mampu menahan satu gerakan pun.ledakan!Di langit, telapak tangan Thor kedua turun, bahkan lebih menakutkan

  • Penguasa Pedang   1855 Putra Suci Melakukan Langkahnya!

    Memang, mereka sudah memutuskan untuk membunuh, dan mereka sudah mengambil tindakan.Ini bisa dianggap sebagai permusuhan berdarah. Jika mereka tidak melawan balik, mereka akan menunggu pihak lain untuk kembali menerobos dan menjadi lebih kuat sepenuhnya.Maka mereka pasti akan dikalahkan oleh pihak lain.Ini adalah pertarungan hidup dan mati; hanya kau atau aku yang akan hidup.Peng!Tepat saat itu, tiga raja muncul secara misterius di belakang Lin Xuan, pedang panjang mereka berubah menjadi kilatan cahaya pedang yang menyilaukan saat mereka dengan cepat menusuk ke depan.Itu terlalu cepat!Sekalipun Lin Xuan tidak bisa menangkisnya, dan ada begitu banyak orang di sekitarnya, bahkan jika dia menghindar, dia tetap akan terkena serangan lain.Lalu, sesaat kemudian, dia dihantam oleh tiga cahaya pedang dan terlempar ke belakang.Lin Xuan mundur lebih dari seribu meter sebelum akhirnya berhenti.Namun, senyum dingin muncul di bibirnya: "Tidak berguna. Seharusnya aku berterima kasih padam

  • Penguasa Pedang   1854 Tiga Teknik Pembunuh Iblis!

    Tidak hanya itu, gelombang pedang tajam muncul dari tubuh Lin Xuan, menyapu ke segala arah.Energi yang menakutkan itu menyebabkan kerumunan di sekitarnya berubah warna.mendengus!Di hadapannya, pupil mata pria paruh baya berambut biru itu menyempit tajam. Ia tentu saja bisa merasakan bahwa kekuatan Lin Xuan telah meningkat lagi.Hal ini sungguh luar biasa baginya.Dia tahu dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi dan harus bertindak cepat.ledakan!Lalu, di saat berikutnya, dia mengayunkan tombak suci hitam di tangannya, yang berubah menjadi serangkaian bayangan iblis dan menyerang Lin Xuan.Tombak Api Neraka berwarna hitam pekat dan memiliki kekuatan iblis yang menakutkan, yang tampaknya mampu memusnahkan para dewa dan Buddha.Boom boom boom!Ke mana pun ia lewat, kehampaan itu dengan cepat runtuh. Tombak-tombak hitam, membawa kobaran api yang tak terbatas, menyelimuti seluruh langit.Lin Xuan menarik napas dalam-dalam dan menggenggam Pedang Sembilan Iblis Nether erat-erat di tangan

  • Penguasa Pedang   5 Kembali ke Sekte

    Lin Xuan menarik tubuhnya melewati bibir jurang dengan tarikan terakhir yang menguras sisa tenaganya. Jari-jarinya yang berdarah mencengkeram akar pohon tua yang mencuat dari tepi tebing, dan dengan satu hentakan, dia melemparkan tubuhnya ke atas permukaan tanah yang rata.Dia berbaring telentang d

  • Penguasa Pedang   4 Liontin Bereaksi

    Liontin di dadanya bergetar.Bukan getaran biasa. Bukan getaran yang disebabkan oleh angin atau gerakan tubuhnya yang jatuh. Getaran ini berasal dari dalam liontin itu sendiri, seolah sesuatu yang selama ini tertidur di dalamnya tiba-tiba terbangun oleh teriakan Lin Xuan.Cahaya putih keperakan men

  • Penguasa Pedang   3 Jatuh ke Jurang

    Mereka sampai di sebuah dataran kecil di pertengahan gunung. Di satu sisi, tebing batu menjulang tinggi. Di sisi lain, jurang menganga lebar dengan kedalaman yang tidak bisa ditebak oleh mata telanjang. Kabut tipis bergulung di mulut jurang seperti napas makhluk raksasa yang sedang tertidur.Zhang

  • Penguasa Pedang   2 Dibawa ke Gunung untuk Dieksekusi

    Setelah beberapa puluh tebasan, Lin Xuan menurunkan pedang kayunya dan duduk di atas batu besar itu. Napasnya terengah-engah. Keringat bercampur darah mengalir di pelipisnya. Dia menatap telapak tangannya yang penuh kapalan dan luka.'Alam pemurnian tubuh tahap ketiga. Sudah bertahun-tahun aku terj

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status