LOGINMendengar tuntutan gila itu, air mata Hailey menetes tanpa bisa ditahan. Ketakutan membayangkan apa yang bisa dilakukan keluarga kaya berpengaruh itu pada dirinya membuat seluruh tubuh Hailey berguncang hebat.
Namun, Mathias justru terkekeh. Sebuah kekehan renyah, dingin, dan penuh dengan ejekan yang dalam. Dia tidak menyentuh map itu sama sekali. Sebagai gantinya, Mathias melirik jam tangannya.
“Pukul dua lewat sepuluh menit,” gumam Mathias santai. Dia lalu menatap
“Siapa di sana?!” teriak salah satu pengawal Carlos Ruiz refleks, memutar tubuhnya dan langsung menyambar senjata di balik jasnya, mengarahkannya ke balik layar terpal kapal.“Jangan bergerak!” bentak pengawal itu tajam.Dada Hailey seolah berhenti berdetak. Kaki dan tangannya mendadak lemas. Mengetahui posisinya sudah ketahuan dan keputusasaan menyergapnya, Hailey tidak punya pilihan lain. Dengan gemetar, dia melangkah keluar perlahan dari balik tirai terpal kapal, melepas kacamata hitamnya, lalu menatap lurus ke arah area dek dengan mata berkaca-kaca.“Nyonya Hailey?!” panggil Nash kaget, matanya terbelalak tak percaya melihat kehadiran wanita itu di sana.Namun reaksi yang paling menakutkan datang dari Mathias. Tepat ketika matanya menangkap sosok Hailey berdiri di atas platform dermaga dengan baju sedikit kotor dan wajah sembab, raut tenang di wajah Mathias seketika lenyap. Pendar mata biru pria itu membeku, berubah
Mendengar tuntutan gila itu, air mata Hailey menetes tanpa bisa ditahan. Ketakutan membayangkan apa yang bisa dilakukan keluarga kaya berpengaruh itu pada dirinya membuat seluruh tubuh Hailey berguncang hebat.Namun, Mathias justru terkekeh. Sebuah kekehan renyah, dingin, dan penuh dengan ejekan yang dalam. Dia tidak menyentuh map itu sama sekali. Sebagai gantinya, Mathias melirik jam tangannya.“Pukul dua lewat sepuluh menit,” gumam Mathias santai. Dia lalu menatap Carlos Ruiz dengan tatapan kasihan. “Carlos, kau menghabiskan waktumu hanya untuk menyusun skenario kekanak-kanakan ini?”Carlos memicingkan matanya, raut wajahnya berubah curiga. “Apa maksudmu?” tanyanya dengan tuntutan.Mathias menjentikkan jemarinya. Nash, yang berdiri tenang beberapa meter di belakang Mathias, melangkah maju dan meletakkan sebuah tablet iPad tipis yang menyala tepat di hadapan Carlos Ruiz.“Coba kau periksa berita keuangan g
Mathias duduk menyandarkan punggungnya di kursi kayu jati. Pria tampan itu mengenakan kemeja katun hitam yang lengannya digulung hingga ke siku, memamerkan jam tangan Patek Philippe mahal dan otot lengannya yang kokoh. Jemari tangannya yang panjang memegang sebuah gelas kristal berisi whisky Macallan amber, memutar-mutarnya perlahan hingga es di dalamnya berdenting halus.Di hadapannya, duduk seorang pria berusia enam puluhan tahun dengan rambut perak yang tersisir rapi ke belakang. Carlos Ruiz. Pria tua itu mengenakan setelan jas buatan penjahit Savile Row, memancarkan aura kekuasaan dan kekejaman pengusaha minyak berpengaruh asal Madrid yang tak pernah dibantah sepanjang hidupnya.Aura di antara kedua pria itu begitu mendomonasi hingga membuat udara panas Cabo San Lucas terasa seolah membeku.“Rupanya kau memiliki keberanian tinggi,” suara Carlos Ruiz membuka percakapan. Suaranya berat, serak, dan sarat akan ancaman terselubung. “Apakah
Deru mesin helikopter Airbus H145 yang mendarat di helipad pribadi vila milik Mathias kini perlahan memudar, meninggalkan kesunyian yang mencekam di sekeliling koridor berlantai marmer. Dari balik jendela kaca besar di ruang makan, Hailey berdiri membeku. Dia menyaksikan helikopter hitam berlogo kustom inisial M.C itu lepas landas menuju arah selatan—membawa Mathias pergi.Rasa dingin merayapi jemari kaki dan tangan Hailey. Gelas es yang tadi dia pegang kini sudah mengembun, meneteskan air yang membasahi meja porselen. Pun debar jantungnya kini makin berpacu. Entah kenapa Mathias memilih pergi menggunakan helikopter bukan dengan mobil. Dia tak bisa bertanya, karena pria itu langsung pergi tanpa berpamitan lagi.Kebohongan Mathias masih bergema tajam di telinganya. Pria itu bersikap seolah ancaman dari sosok yang cukup berpengaruh di Spanyol hanyalah kerikil kecil di dalam sepatunya. Mathias menutup rapat-rapat kenyataan bahaya itu agar Hailey tidak merasa terbeba
Hailey mendongak pelan, mati-matian mengerahkan seluruh sisa kewarasannya untuk mengontrol raut wajah, sorot mata, dan getaran di bibirnya. Ia harus terlihat natural, menepis segala kepanikan akibat percakapan rahasia yang tak sengaja ia dengar pagi ini. “I-iya ... Selamat pagi,” sapanya tipis, suaranya terdengar agak serak, tertahan oleh bongkahan rasa cemas yang mendadak menyumbat tenggorokannya.Mathias memicingkan mata biru lautnya sedikit. Pria itu menghentikan gerakannya sesaat, meneliti paras Hailey yang tampak sepucat kertas dengan intensitas tajam yang begitu intimidatif—sebuah tatapan yang selalu mampu menelanjangi kebohongan Hailey tanpa perlu kata-kata.“Kau tidur nyenyak?” tanyanya dengan nada datar seraya menarik kursi di kepala meja dan meraih iPad miliknya, menyembunyikan sebagian ekspresinya di balik layar kaca.Hailey menggigit bagian dalam pipinya begitu keras hingga ia bisa merasakan getirnya darah. Jemarinya meremas kain taplak meja porselen di bawah lipatannya ku
“Bagaimana dengan ayahnya?” tanya Mathias dari dalam ruangan, nadanya santai seolah sedang mendengarkan laporan perkiraan cuaca harian.“Itu poin utamanya, Tuan. Carlos Ruiz yang berada di Madrid sudah menerima kabar ini sejak dini hari tadi,” bisik Nash pelan tapi terdengar jelas di telinga Hailey yang bergemetar di luar pintu. “Pria tua itu sangat murka mengetahui putra tunggalnya dihajar hingga kritis di Meksiko. Dia tidak terima. Selama ini tidak ada satu pun yang berani menyentuh keluarganya tanpa konsekuensi fatal.”“Lalu?” kekeh Mathias—sebuah terkekeh sinis yang amat dingin dan meremehkan.“Carlos Ruiz membatalkan seluruh agenda bisnisnya di Spanyol dan langsung terbang menggunakan jet pribadi menuju Los Cabos pagi ini,” terang Nash terdengar serius “Dia telah mengontak beberapa koneksi pejabat lokal serta otoritas keamanan di Meksiko. Dia menuntut pertemuan mendadak dengan Anda siang ini pukul dua di sebuah klub eksklusif di area marina untuk meminta pertanggungjawaban atau d
Butiran pasal perjanjian yang membuat kesesakan luar biasa bagi Hailey. Otaknya seakan benar-benar buntu, dan merasa kehidupannya telah habis tak tersisa. Dia memang masih ada di dunia, tapi itu seolah jiwanya saja. Sementara raganya sudah mati tepat di kala dia mengenal sosok Mathias Cameron.Lang
Pintu limusin tertutup dengan dentuman yang terdengar seperti palu hakim yang menjatuhkan vonis mati. Di dalam kabin yang kedap suara itu, keheningan terasa begitu berat, seolah oksigen telah diisap keluar, meninggalkan Hailey dalam ruang hampa yang menyesakkan.Hailey tak bisa tenang setelah resmi
Langkah kaki Hailey terasa seberat timah saat menelusuri lorong panjang menuju altar gereja. Gaun pengantin cantik telah melekat di tubuh wanita itu, tapi sayangnya gaun itu terasa seperti kain yang mencekik. Tak ada raut wajah kebahagiaan, bahkan senyum pun tak sama sekali tampak. Padahal orang b
Harum yang berasal dari bunga lili putih mahal telah berhasil memenuhi udara salah satu gereja yang ada di kota New York. Namun, sayangnya bagi Hailey Brantley aroma itu mendadak tercium seperti bau pemakaman yang seolah membuat otaknya menyadarkan bahwa dia berada di dunia yang tak seharusnya.Wan







