LOGINButiran pasal perjanjian yang membuat kesesakan luar biasa bagi Hailey. Otaknya seakan benar-benar buntu, dan merasa kehidupannya telah habis tak tersisa. Dia memang masih ada di dunia, tapi itu seolah jiwanya saja. Sementara raganya sudah mati tepat di kala dia mengenal sosok Mathias Cameron.
Langit terang telah berganti. Matahari telah tenggelam, menampilkan awan gelap yang memenuhi kemegahan langit. Tidak ada bulan dan bintang yang biasanya menjadi penghias langit megah. Langit mendung, seakan menunjukkan rasa yang sama dengan Hailey.
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Hailey berdiri di jendela besar kamar yang ada di penthouse Mathias. Ya, dia masih belum kembali ke mansion. Mathias memutuskan mengajaknya bermalam di penthouse pria itu, dan akan kembali ke mansion pada esok pagi.
Hailey tak hanyak bertanya. Wanita cantik itu memilih diam di kala Mathias memutuskan bermalam di penthouse. Dia diantar pelayan ke salah satu kamar tamu, sedangkan pria itu berada di kamarnya. Hal yang pasti, dia tetap bersyukur tidak satu kamar dengan pria keji itu.
Detik jam terdengar memenuhi kamar. Hailey masih berdiri di tempatnya dengan sorot mata lemah lurus ke depan. Tubuhnya mulai terasa sangat lemah, tapi dia masih ingin berdiri di tempatnya, tak mau berbaring sama sekali. Padahal rasa lelah di seluruh jiwa raga telah menghantamnya keras.
“Nyonya?” Pelayan masuk, membuat Hailey mengalihkan pandangannya menatap sang pelayan yang berdiri di ambang pintu.
“Ya?” jawab Hailey sambil menatap sang pelayan yang mendekat ke arahnya.
“Nyonya, saya bawakan teh madu untuk Anda. Silakan diminum.” Pelayan itu menyerahkan secangkir teh pada Hailey.
“Terima kasih.” Hailey hendak menerima secangkir teh itu, tapi tiba-tiba saja kepalanya terasa berputar. Pun kesimbangannya mulai tak terjaga, dia nyaris terjatuh, tapi dengan sigap pelayan itu memegang tangannya.
“Nyonya? Anda sakit?” tanya sang pelayan panik, dan cemas menatap Hailey.
Hailey menggeleng lemah. “Aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit pusing.”
“Nyonya pasti ini karena tadi Anda makan hanya sedikit. Ingin saya bawakan obat?” tawar sang pelayan.
Tadi memang Hailey makan benar-benar sedikit. Bisa dikatakan wanita itu makan hanya formalitas saja. Dia tak makan sungguhan, karena kondisi pikiran yang berkecamuk.
“Tidak usah. Tolong kau tinggalkan aku saja. Aku ingin istirahat,” jawab Hailey tenang, meminta pelayan untuk pergi.
“Baik, Nyonya. Jika Anda membutuhkan sesuatu, mohon beri tahu saya,” balas sang pelayan sopan seraya meletakan cangkir teh ke atas meja.
Saat pelayan hendak berbalik bermaksud pergi, tapi tiba-tiba saja tubuh Hailey langsung tergeletak di lantai dan sukses membuat pelayan itu menoleh menatap Hailey yang sudah jatuh pingsan.
“Ya Tuhan, Nyonya!” seru sang pelayan panik, langsung bersimpuh berusaha membangunkan Hailey. Namun, sayangnya beberapa kali dia mencoba membangunkan istri tuannya itu, tetap saja tak kunjung membuka mata.
Pelayan itu makin panik, khawatir hal buruk terjadi. Dia langsung berteriak memanggil pelayan lain untuk datang. Tepat teriakannya terdengar, satu pelayan lebih muda darinya muncul tergesa-gesa.
“Ada apa ini?” tanya si pelayan muda, dan betapa terkejutnya dia melihat istri tuannya yang jatuh pingsan.
“Tolong beri tahu Tuan Mathias. Nyonya Hailey pingsan,” jawab pelayan yang memegang tubuh Hailey.
Pelayan muda panik dan mengangguk cepat. Detik itu dia berlari menuju ruang kerja di mana tuannya berada. Sementara si pelayan tadi masih berusaha mencoba membangunkan istri tuannya itu.
***
Mathias menatap dingin perjanjian yang sudah ditanda tangani Hailey Tampak sudut bibirnya membentuk senyuman tipis penuh kemenangan. Apa yang dia inginkan memang selalu dan wajib berada digenggaman tangannya. Seperti contoh Hailey mudah patuh tak bisa membantah sedikit pun.
Dia mengambil gelas berisikan wine di hadapannya, dan menyesap perlahan. Gelas itu dimainkan, digerakkan dengan tempo pelan tapi berkesan. Kesunyiangan di ruang kerjanya membuat kedamaian sendiri, sampai tiba-tiba ada yang mengetuk pintu mengganggu ketenangannya.
“Masuk!” titah Mathias tegas, meminta orang yang mengetuk pintu untuk masuk ke dalam.
“Tuan, maaf mengganggu Anda.” Pelayan masuk dan berjalan cepat ke arah Mathias, dengan raut wajah yang menunjukkan kegelisahan.
“Ada apa?” tanya Mathias sambil mengerutkan keningnya, menatap sang pelayan yang sudah berdiri di hadapannya.
Pelayan itu menundukkan kepala di hadapan Mathias. “Nyonya Hailey pingsan, Tuan. Pelayan sudah berusaha mencoba membuatnya sadar, tapi beliau masih belum membuka mata.”
Mathias terdiam, dengan raut wajah serius di kala mendapatkan laporan itu. Beberapa detik, dia masih bergeming di tempatnya, sampai akhirnya dia baru bangkit berdiri, dan tanpa berkata apa pun dia melangkah meningalkan ruang kerjanya. Sementara pelayan yang tadi melapor segera menyusul dengan langkah kaki agak cepat.
***
Hal yang pertama kali Mathias lakukan begitu tiba di kamar, dan mendapati Hailey pingsan di lantai adalah langsung menggendong wanita itu, memindahkan tubuh Hailey ke ranjang. Sementara dua pelayan yang ada di sana masih berdiri sambil menundukkan kepala mereka.
“Tuan, apa kami harus memanggilkan dokter?” tanya salah satu pelayan di sana.
Mathias belum merespons apa pun. Pria itu memeriksa denyut nadi Hailey, dan memeriksa embusan napas wanita itu. “Tidak usah panggil dokter, sebentar lagi pasti dia akan sadar. Bawakan kain kompres dan obat saja.”
“Baik, Tuan.” Dua pelayan itu menundukkan kepala, mengambilkan permintaan tuan mereka. Tepat di kala mereka sudah membawakan apa yang diminta tuan mereka, mereka segera pamit undur diri.
Keheningan membentang. Kamar yang sebenarnya memiliki dekorasi manis, tapi berubah mencekam. Lampu kamar sebagian dimatikan. Hanya tersisa lampu nakas. Tampak Mathias bersiri menatap dingin serta tajam pada Hailey yang masih memejamkan mata.
“Kau itu jadi wanita, lemah sekali,” gumam Mathias dengan nada yang tersulut emosi.
***
Pagi menyapa, cahaya matahari menusuk masuk melalui celah gorden. Hailey mengerjapkan matanya, merasakan kepalanya jauh lebih ringan meskipun masih sedikit lemas. Hal pertama yang dia sadari adalah sebuah kain kompres yang sudah mendingin di keningnya, dan sebuah nampan berisi obat serta segelas air di atas nakas.
Hailey terduduk dengan raut wajah bingung. Dia mencoba mengendarkan pandangannya sekitar tak ada siapa pun di kamarnya. Kepingan puzzle mulai tersusun. Dia mulai ingat tadi malam dia diantarkan teh oleh pelayan, lalu tiba-tiba pandangannya menjadi buram.
Hailey menoleh melihat matahari sudah terbit, menandakan dia sudah melewati malam. Namun, tunggu, ada air kompresan dan obat menandakan tadi malam dia sakit. Tidak ada siapa pun, hanya dirinya yang ada di kamar. Lantas, siapa yang menjaganya?
“Selamat pagi, Nyonya,” sapa seorang pelayan, melangkah masuk, mendekat pada Hailey.
Hailey mendongak, menatap pelayan yang membawakan nampar dan bubur hangat. “Apa tadi malam kau yang menjagaku?” tanyanya penasaran, sampai tak menjawab sapaan pelayan itu.
Pelayan itu meletakan nampan yang berisikan bubur, teh hangat, dan air putih ke atas meja. “Yang menjaga Anda tadi malam adalah Tuan Mathias, Nyonya. Tadi malam Anda pingsan. Tuan Mathias meminta saya membawakan kompresan dan obat untuk Anda.”
“Apa kau tidak salah? Mathias yang menjagaku?” ulang Hailey sambil mengerutkan keningnya, tampak tak percaya dengan apa yang dikatakan pelayan itu.
“Benar, Nyonya. Tuan Mathias yang menjaga Anda. Kalau tidak salah, Tuan Mathias sampai tertidur di samping Anda karena menjaga Anda. Tapi, tadi pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit, beliau sudah pergi ke kantor karena ada urusan. Tuan Mathias bilang nanti sore beliau akan ke sini, menjemput Anda untuk kembali ke mansion,” jawab sang pelayan memberi tahu.
Hailey tertegun mendengar penjelasan sang pelayan. Lidahnya masih kelu tak bisa merangkai kata apa pun. Dia masih mencoba menyangkal bahwsa rasanya tak mungkin Mathias menjaganya bahkan sampai membuat pria itu ketiduran di sisinya. Rasanya benar-benar mustahil.
Mathias Cameron adalah pria yang baru dikenal Hailey, tapi memiliki kekejian luar biasa. Dia tak akan mungkin lupa perjanjian gila yang dibuat pria itu, yang membuat hatinya benar-benar tercabik. Bahkan dia seolah tak lagi memiliki harga diri.
Langkah kaki Hailey memelan masuk ke dalam mansion. Dia mengikuti Mathias dengan hati-hati. Namu, tentu Mathias melangkahkan kaki tegas dengan aura wajah yang dingin, dan menunjukkan penuh amarah yang berusaha keras ditahan.Tak ada percakapan apa pun. Sepanjang jalan kembali ke mansion, mobil yang mengantar Hailey dan Mathias seperti ambulans yang membawa mayat. Bayangkan saja, Hailey diam membeku melihat Mathias yang tampak menyeramkan dengan aura wajah amarah yang ingin meledak.Hailey berpikir Mathias akan menginterogasinya, tapi ternyata apa yang dipikirkan wanita itu salah besar. Tak ada pertanyaan apa pun yang terlontar. Malah sepanjang perjalanan pulang, tatapan Hailey sesekali melirik Mathias seolah berharap diajak bicara tentang apa yang terjadi di restoran.Namun, fakta yang ada Mathias seolah menunjukkan masalah sudah selesai, tidak perlu ada bahasan apa pun. Padahal sebenarnya ada rasa take nak dalam hati Hailey. Apalagi wanita itu tak tahu sama sekali dia menabrak seoran
Aroma wine mahal cukup memberikan ketenangan sebentar. Mathias yang duduk di kursi meja makan, tepat di depan koleganya, dia mendengar ucapan David dengan saksama serta serius, dan dia sambil memyesap wine tua yang tersedia di kafe itu.Wine makin tua akan bernilai makin mahal. Aroma yang khas cukup menyeruak ke indra penciuman Mathias yang kala itu memang memesan wine paling mahal di kafe di mana dia bertemu dengan koleganya.Pembahasan bisnis cukup detail sejak tadi dibahas oleh David. Meski belum merespons apa pun, tapi telinga Mathias cukup tajam mendengar penjelasan tersebut. Setiap inti pembicaraan mampu disimak baik Mathias walau David menjelaskan panjang project pembangunan perumahan mewah di berbagai negara maju. “Jadi, Tuan Cameron, kau tertarik dengan project pembangunan perumahan yang rencananya akan membidik pasar Asia dan Eropa?” tanya David memastikan.Mathias menurunkan gelas wine yang di tangannya, dan meletakan ke atas meja. “Kau cukup ambisius dalam merancang bisn
Pantulan di cermin besar setinggi plafon itu seolah menampilkan sosok asing bagi Hailey. Gaun malam berbahan sutra charmeuse berwarna hitam pekat itu melekat sempurna di tubuhnya, kontras dengan kulitnya yang putih dan agak pucat. Potongan backless yang rendah mengekspos lekuk punggung serta leher dihiasi kalung berlian memberikan kesan elegan tapi memiliki makna misterius.Hailey memakai gaun pemberian dari Mathias. Wanita cantik itu berpikir, dia diberikan gaun sederhana tidak berlebihan, tapi ternyata dia salah besar. Dia diminta memakai gaun pesta—yang entah dia tak mengerti kenapa harus memakai gaun ini. Pun Mathias tidak bilang apa pun padanya.Embusan napas mulai terdengar pelan. Dia ingin sekali memakai piyama dan memilih membaringkan tubuhnya di ranjang. Namun, Hailey sadar betul bahwa tak mungkin melakukan itu. Dia masih belum bisa memprediksi bagaimana sifat Mathias jika pria itu marah besar.“Kau sudah selesai.” Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan dingin dari Mathia
Kondisi Hailey sudah membaik. Makanan yang dihidangkan pelayan kali ini dia habiskan. Pun dia minum beberapa suplemen vitamin yang telah disediakan. Dia tak melakukan perlawanan apalagi membantah. Bukan tanpa sebab, perkataan pelayan yang mengatakan Mathias tadi malam menjaganya membuatnya memiliki jutaan pertanyaan.Hailey tak percaya seratus persen pada ucapan pelayan, tapi dia melihat wajah pelayan itu menunjukkan kejujuran. Pun apa manfaatnya pelayan harus berbohong? Mathias sepertinya tak membutuhkan validasi sebagai pria baik ataupun pria bertanggung jawab. Sosok Mathias yang dia kenal adalah pria dingin, seakan berkuasa, arogan, dan keji. Meski baru mengenal pria itu, tapi nyatanya gambaran sosok Mathias Cameron yang ada dibenak Hailey seperti itu.Embusan napas pelan terdengar. Hailey yang duduk di ranjang termenung dengan segala pikirannya. Sejak tadi dia tak melakukan kegiatan apa pun. Hanya makan dan beristirahat. Tak menampik rasa jenuh agak menyerang. Otaknya kini mulai m
Butiran pasal perjanjian yang membuat kesesakan luar biasa bagi Hailey. Otaknya seakan benar-benar buntu, dan merasa kehidupannya telah habis tak tersisa. Dia memang masih ada di dunia, tapi itu seolah jiwanya saja. Sementara raganya sudah mati tepat di kala dia mengenal sosok Mathias Cameron.Langit terang telah berganti. Matahari telah tenggelam, menampilkan awan gelap yang memenuhi kemegahan langit. Tidak ada bulan dan bintang yang biasanya menjadi penghias langit megah. Langit mendung, seakan menunjukkan rasa yang sama dengan Hailey.Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Hailey berdiri di jendela besar kamar yang ada di penthouse Mathias. Ya, dia masih belum kembali ke mansion. Mathias memutuskan mengajaknya bermalam di penthouse pria itu, dan akan kembali ke mansion pada esok pagi.Hailey tak hanyak bertanya. Wanita cantik itu memilih diam di kala Mathias memutuskan bermalam di penthouse. Dia diantar pelayan ke salah satu kamar tamu, sedangkan pria itu berada di kamarnya. Hal ya
Hailey duduk dalam mobil dengan kegelisahan yang membentang dalam diri. Napasnya agak berat, dan tangannya saling menaut seperti menunjukkan ada rasa cemas. Orang biasanya suka dan merasakan kenyamanan duduk di mobil mewah, tapi berbeda dengan Hailey. Mobil mewah apa pun, jika bersama Mathias seakan seperti dirinya berada di dalam mobil jenazah—begitu mencekam dan menyesakkan. Dia berada di dalam mobil Range Rover Sentinel warna hitam metalik bersama Mathias. Sopir melajukan mobil, dan Hailey bersama Mathias duduk di kursi penumpang. Sebenarnya. aroma interior kulit mewah dan pengharum maskulin khas Mathias melebur menjadi satu membuat indra penciuman sadar bahwa berada di kemewahan, tapi sayangnya aroma itu terasa seperti gas beracun yang mencekik paru-paru Hailey.Hailey tak bisa tenang di kala selesai sarapan harus menuruti Mathias. Entah ke mana pria itu pergi membawanya. Ingin rasanya dia bertanya lagi, tapi dia tak berani. Mengingat tadi saat sarapan, pria itu menjawabnya deng







