로그인Langkah kaki Hailey terasa seberat timah saat menelusuri lorong panjang menuju altar gereja. Gaun pengantin cantik telah melekat di tubuh wanita itu, tapi sayangnya gaun itu terasa seperti kain yang mencekik.
Tak ada raut wajah kebahagiaan, bahkan senyum pun tak sama sekali tampak. Padahal orang bilang menikah harus dengan wajah yang bahagia. Namun, dia berada dikondisi seperti ini karena paksaan yang tak bisa dia lawan.
Kilat kamera menyorot ke arah Hailey, dan di samping wanita itu ada Preston yang terus menggenggam lengannya dengan kekuatan yang tak menyiratkan kasih sayang. Ya, jelas saja, genggaman Preston cukup kuat semua demi agar apa yang direncanakan tidak berantakan.
Hailey kini menjadi pusat perhatian dari tamu undangan yang hadir di gereja. Para tamu undangan tampak menunjukkan raut wajah terkejut. Wajar saja, karena tamu yang hadir tahu bahwa pengantin wanita yang harusnya Ava, putri sulung keluarga Brantley, bukan Hailey yang jelas saja tidak semua orang banyak tahu siapa Hailey.
Namun, meski terkejut akan perubahan pengantin wanita, tentu para tamu undangan tidak bisa bersuara apa pun. Mereka yang hadir adalah orang yang bisa dikatakan sudah menjadi orang pilihan. Sebab, tamu yang diundang benar-benar sedikit. Tidak seperti billionaire di luar sana yang mengadakan pernikahan dengan ribuan tamu undangan.
Oh, jelas ini berbeda jauh. Pernikahan saja diadakan hanya di gereja, tanpa melibatkan media. Tamu yang datang tidak sampai lima puluh orang. Jika ditanya, pasti akan menjawab demi ingin mendapatkan suasana tenang, sekaligus privasi.
“Hapus raut wajah pemakaman di wajahmu, Hailey,” desis Preston penuh peringatan. Suara pria paruh baya itu rendah, dan tajam di tengah denting piano yang mulai mengalun.
Hailey tak menjawab apa yang dikatakan sang ayah. Wanita cantik itu terus melangkah menatap altar kosong. Dia tak merespons apa pun, karena menurutnya semua percuma. Dia akan tetap diminta untuk menggantikan posisi kakaknya yang melarikan diri.
Saat Hailey sudah hampir tiba di altar, sosok Mathias Cameron masih belum muncul. Entah, apa sebenarnya terjadi. Sebab, seharusnya Mathias sudah wajib menunggu mempelai wanita di altar.
Pastor telah berdiri di tempatnya, seakan menunggu. Pikiran Hailey penuh dengan terkaan-terkaan. Ada secercah harapan di mana pernikahan ini batal. Ketidakhadiran mempelai pria akan menyelamatkan mimpi buruknya.
“Kau tunggu di sini,” ucap Preston dingin, dan tegas begitu dia mengantarkan Hailey ke altar. Pria paruh baya itu segera meninggalkan Hailey di altar seorang diri.
Hailey membeku diam di tempatnya seakan dirinya adalah orang bodoh. Hal tergila adalah harusnya mempelai pria yang berdiri di altar menunggu mempelai wanita, tapi fakta yang ada adalah Hailey diminta untuk menunggu. Benar-benar sudah tak waras.
Beberapa menit berlalu, Hailey terus memanjatkan doa dalam hati, berharap pernikahan ini batal. Selama ini, hidupnya, nyaris tak pernah mendapatkan keberuntungan. Dia berharap kali ini dia bisa mendapatkan keberuntungan yaitu selamat dari mimpi buruk yang menyiksa.
Hailey menatap ke arah pintu, berharap apa yang dia harapkan terjadi. Jantungnya berdebar lebih kencang dari biasanya. Sesaat dia memejamkan mata sebentar, dan begitu dia membuka mata—tampak sosok pria tampan dengan postur tinggi tegap melangkah masuk ke dalam.
Tubuh Hailey seketika membeku kaku seperti patung. Mata cokelat terang wanita itu jelas memancarkan jelas keterkejutannya. Pasokan oksigen membuatnya benar-benar terasa menyempit, menimbulkan dirinya seolah kesulitan bernapas.
Pria itu memiliki tinggi dan gagah. Aura wajahnya dingin, tegas disempurnakan dengan rahang seperti pahatan patung yang menyerupain Dewa Yunani. Oh, dan mata biru pria itu tajam terhunus seperti burung elang yang siap untuk melahap mangsa.
Otak Hailey mencoba mencerna dengan baik. Hal yang dia dengar adalah Mathias Cameron memiliki wajah seperti monster buruk rupa, dan tua. Namun, yang dia lihat tak sesuai dengan deskripsi desas desus yang tadi dia dengar.
Hailey membeku masih belum bergerak. Dia merasa mungkin penglihatannya mulai Kabur. Namun, di kala dia meyakinkan apa yang dia lihat ini salah, pria tampan yang baru muncul itu malah makin mendekat, dan sekarang bahkan berdiri di depannya.
Ya, bukan hanya Hailey yang terkejut akan sosok pria tampan yang baru saja muncul. Pun semua tamu undangan khususnya wanita sampai melebarkan mata dengan bibir yang menganga. Kilat kamera menyorot seakan bersamaan dengan tatapan banyak mata tamu undangan yang hadir.
Hailey masih belum berkata apa pun menatap pria di depannya itu. Mata cokelat terangnya sampai terpaku akan mata biru pria di depannya ini. Tatapan mata yang tajam dari pria itu harusnya membuatnya takut, tapi fakta yang ada adalah dia malah seakan terhipnotis.
“K-kau ….” Hailey hendak mengeluarkan suara, tetapi lidahnya terasa kelu, akibat begitu banyak pertanyaan di kepalanya.
Pria itu tersenyum tipis, menatap Hailey yang terkejut. Detik selanjutnya, dia menoleh—memberikan anggukkan ke sang pastor untuk memulai pernikahan.
“Apakah kau, Evangeline—”
“Hailey … namaku Hailey Brantley,” potong Hailey pelan, mengoreksi pada sang pastor.
Sang pastor mengangguk sopan. “Apakah kau Hailey Brantley bersedia menerima Mathias Cameron sebagai suamimu?”
Hailey terdiam sebentar, menatap mata biru sosok pria yang bernama Mathias Cameron yang menatapnya begitu dingin dan tajam. Sungguh, dia merasa benar-benar bingung pada semua yang terjadi.
Lidah Hailey mendadak kaku. Tak bisa langsung menjawab pertanyaan sang pastor. Detik selanjutnya, tatapannya mulai teralih menatap Preston dan Martha yang melayangkan tatapan tajam, dan menusuk padanya. Tatapan yang jelas terlihat mematikan, menunjukkan penuh paksaan.
Hailey merasa terjebak. Dia tak memiliki pilihan apa pun. Dia mencoba mengatur napasnya, dan dengan pasrah menjawab, “Ya, saya bersedia.”
Sang pastor tersenyum, dan kini menatap Mathias. “Mathias Cameron, apakah kau bersedia menerima Hailey Brantley sebagai istrimu?”
Mata biru Mathias menghunus ke arah Hailey dengan begitu tajam, seolah ingin mencabik seluruh tubuh wanita itu. Tentu hanya dengan tatapan saja, terbukti dia berhasil membuat pengantin wanitanya merinding ketakutan.
“Ya, saya besedia,” jawab Mathias dingin, dan tajam.
Sang pastor kembali tersenyum, lalu meminta pada Hailey dan Mathias mengucapkan janji suci pernikahan secara bergantian. Tepat di kala janji pernikahan sudah terucap sempurna, sang pastor mensahkan dua orang tak saling mengenal itu menjadi pasangan suami istri—bersamaan dengan meminta mereka berciuman.
Hailey terdiam seribu bahasa di kala sang pastor sudah mengizinkan berciuman. Tubuhnya terasa kaku. Dia sampai agak mundur bermaksud menjauh, tapi begitu dia hendak menjauh, tangan kokoh Mathias malah memeluk pinggangnya dengan erat—dan mencium bibir Hailey.
Aliran listrik terasa mengalir di tubuh Hailey begitu satu kecupan dari Mathais mendarat di bibir wanita itu. Ini sudah gila. Jelas sangat gila. Hailey adalah wanita kuno yang sama sekali belum pernah menjalin hubungan dengan pria mana pun. Sialnya, ciuman pertamanya dirampas oleh pria asing yang belum pernah dia temui.
Ciuman berlangsung singkat. Mathias masih belum menjauhkan wajahnya dari wajah Hailey. Mata birunya mengunci mata cokelat terang Hailey—seakan menelanjangi wanita itu dengan brutal dan keji.
Hailey tentu tak bisa berkutik apa pun. Lidahnya terasa kelu, tak bisa mengeluarkan suara lagi. Pria di depannya itu tak bersuara, tapu hanya menatapnya saja seakan pria itu ingin mencabik seluruh tubuhnya.
Wanita itu tegang luar biasa, dengan aura wajah panik bercampur ketakutan. Bahkan dia merasakan tubuhnya benar-benar merinding seolah dia sedang berada di ruangan berbahaya yang mengancam nyawanya.
Hailey memutuskan terus membersihkan tubuhnya, dan untungnya Mathias sudah keluar dari kamar mandi, jadi dia jauh lebih aman, dan paling tidak jantungnya jauh lebih bisa berdetak normal, tak seperti tadi—moment di mana dia berdua di kamar mandi dalam keadaan basah kuyup.Beberapa menit kemudian, Hailey keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi tebal berbulu halus yang disediakan, sementara rambut panjangnya dibalut handuk rapi.Dia mendapati Mathias sudah berdiri di dekat tempat tidur, telah mengganti kemejanya dengan kaus hitam polos dan celana santai, meski rambut hitam pria itu masih basah dan berantakan. Pria itu menoleh tajam begitu mendengar langkah kaki Hailey mendekat.Tanpa diduga, Mathias melangkah mendekat dalam diam, meraih handuk kering dari tangan Hailey, lalu dengan gerakan cepat yang mengejutkan, dia mulai mengeringkan rambut basah wanita itu dengan lembut. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap di antara mereka. Sentuhan tanga
“Uhuk! Uhuk!” Hailey terbatuk-batuk hebat begitu kepalanya menembus udara, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya sambil mencengkeram bahu Mathias sekuat tenaga bagai orang yang hampir mati. Tubuhnya menggigil hebat, basah kuyup, dengan helaian rambut hitam yang menempel di dahi dan pipinya yang pucat.Mathias membawa Hailey merapat ke tepian kolam. Napas pria itu sendiri memburu hebat, dadanya naik-turun karena panik luar biasa yang sempat mencengkeram jantung batunya. Tanpa menunggu waktu lama, Mathias mengangkat tubuh Hailey dengan mudah, mendudukkan wanita itu di tepi kolam, lalu menyusul naik dengan gerakan tangkas.Aura kemarahan yang pekat, gelap, dan mengintimidasi seketika menguar dari diri Mathias. Mata biru laut pria itu menatap tajam ke arah Hailey, menyala penuh amarah yang tertahan rapat di balik rahangnya yang mengeras.“Apa yang sebenarnya ada di dalam kepalamu, Hailey?!” bentak Mathias tertahan, suaranya menggelegar rendah
Waktu menunjukkan pukul tiga sore. Hailey tak menyangka saat diantar ke kamar, dia malah ketiduran tanpa membersihkan tubuhnya sama sekali. Padahal harusnya setelah perjalanan cukup melelahkan, dia membersihkan tubuh dulu, baru istirahat. Namun, rasa kantuk yang menyerang, membuatnya akhirnya tertidur cukup pulas.Hailey sekarang sudah bangun, membuka matanya, dan sedikit berdecak kesal. Dia kesal pada dirinya sendiri yang ketiduran. Detik itu, dia memutuskan membersihkan tubuhnya sebentar, dan mengganti pakaian yang nyaman untuk berada di dalam rumahSetelah membersihkan tubuh, dia merasakan tubuhnya butuh minuman hangat. Detik itu, otaknya memberikan ide agar dirinya membuat teh hangat. Dia segera keluar kamar, menuju salah satu dapur terbuka yang terhubung langsung dengan area kolam renang infinity pool di bagian belakang vila. Beruntung memang sebelum diantar ke kamar, Hailey sempat melihat-lihat sebentar, jadi menemukan dapur bukan hal yang sulit baginya.
Roda pesawat jet pribadi berdecit pelan saat menyentuh landasan pacu di Los Cabos International Airport. Begitu pintu kabin dibuka, embusan udara hangat khas Baja California Sur langsung menyergap kulit Hailey, membawa aroma laut yang samar dan hawa kering dari daratan. Pesawat mereka berhenti di area private aviation, jauh dari keramaian terminal utama.Tampak di luar landasan, sebuah mobil SUV mewah berpenjagaan ketat telah siaga menanti dan di sana beberapa pengawal berjas rapi yang bergerak cepat mengamankan area. Hailey yang turun dari pesawat bersama dengan Mathias agak canggung di kala melihat mobil sudah menjemput, ditambah pengawalan yang cukup ketat seolah dia macam ibu negara yang sedang dikawal. Meski tumbuh di keluarga angkat yang memberikannya kehidupan layak, tapi dia belum pernah dimoment seperti ini.Menuju mobil, Mathias merengkuh pinggang Hailey posesif. Keintiman dan kedekatan itu membuat Hailey jelas agak salah tingkah. Namun, wanita itu tak bisa berontak ataupun
Penerbangan menuju Meksiko baru berjalan sekitar satu jam. Suasana di dalam kabin yang awalnya tenang, damai, dan dipenuhi alunan dengung mesin yang konstan, mendadak berubah tegang ketika suara kapten pilot mengumumkan lewat interkom bahwa pesawat akan segera memasuki area kantong udara dengan cuaca buruk dan potensi turbulensi kuat.Benar saja, hanya berselang beberapa menit dari pengumuman tersebut, badan pesawat berguncang hebat secara tiba-tiba. Suara deru mesin beradu dengan derit dinding kabin yang bergetar keras. Cangkir-cangkir keramik kecil di atas meja bergeser dan hampir jatuh.Raut wajah Hailey memucat di kala merasakan turbulence yang cukup kuat. Jantungnya mendadak seakan berhenti berdetak, dan aliran darahnya mendingin seketika. Ketika sebuah hantaman turbulensi vertikal yang kuat membuat pesawat seolah terjun bebas selama beberapa detik, pertahanan mental Hailey runtuh berkeping-keping.“Aaaaaa!”Teriakan histeris lolos begitu
Mereka berdua masuk ke dalam jok belakang mobil yang luas. Begitu pintu tertutup, suasana langsung berubah menjadi sangat canggung. Mathias segera mengambil iPad dari tasnya, mulai menyentuh layar dan mengabaikan keberadaan Hailey sepenuhnya.Hailey sendiri duduk merapat ke arah jendela, menatap lurus ke depan dengan jemari yang saling meremas di atas pangkuan. Setiap kali bahu mereka tanpa sengaja bersentuhan karena laju mobil yang melewati jalanan kota New York yang padat, Hailey sontak menegang. Dia bisa mencium aroma parfum maskulin pria di sampingnya, yang seketika mengingatkan pada ciuman semalam. Pikiran itu membuatnya makin salah tingkah. Ingin rasanya dia menghilang dari sana, tapi jelas tak mungkin.Sesekali, Hailey mencuri pandang ke arah Mathias lewat pantulan kaca jendela. Pria itu tampak begitu tenang, seolah ketegangan di antara mereka hanya dirasakan oleh Hailey seorang diri. Sikap acuh tak acuh itu membuat Hailey merasa kesal sekaligus jengkel, tetapi dia tidak punya
Hailey duduk dalam mobil dengan kegelisahan yang membentang dalam diri. Napasnya agak berat, dan tangannya saling menaut seperti menunjukkan ada rasa cemas. Orang biasanya suka dan merasakan kenyamanan duduk di mobil mewah, tapi berbeda dengan Hailey. Mobil mewah apa pun, jika bersama Mathias seaka
Sinar matahari pagi menembus sela-sela jendela, kilauanya menyentuh wajah Hailey yang masih terlelap. Perlahan, sinar matahari makin tampak terang membuat mata wanita cantik yang tertidur pulas itu langsung mengerjap beberapa kali.Hailey mulai membuka mata sambil menguap pelan. Suara erangan lolos
Udara terasa berat oleh aroma tembakau mahal dan alkohol yang kuat. Asap mengepul, lalu perlahan hilang. Kesunyian membentang di ruang kerja megah milik Mathias Cameron. Tampak pria tampan itu duduk di balik meja kerjanya, melepaskan dasi kupu-kupu yang diletakan secara sembarang di lengan kursi ku
Pintu limusin tertutup dengan dentuman yang terdengar seperti palu hakim yang menjatuhkan vonis mati. Di dalam kabin yang kedap suara itu, keheningan terasa begitu berat, seolah oksigen telah diisap keluar, meninggalkan Hailey dalam ruang hampa yang menyesakkan.Hailey tak bisa tenang setelah resmi







