Home / Romansa / Penjara Hasrat Cinta / Bab 3. Harga dari Seorang Pengantin Pengganti

Share

Bab 3. Harga dari Seorang Pengantin Pengganti

last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-15 03:47:56

Pintu limusin tertutup dengan dentuman yang terdengar seperti palu hakim yang menjatuhkan vonis mati. Di dalam kabin yang kedap suara itu, keheningan terasa begitu berat, seolah oksigen telah diisap keluar, meninggalkan Hailey dalam ruang hampa yang menyesakkan.

Hailey tak bisa tenang setelah resmi menikah dengan pria yang sama sekali tak dia kenal. Dia duduk tegang di dalam mobil, seakan dirinya dibawa ke dalam ke jurang penderitaan. Tampak sesekali dia melirik Mathias yang duduk di sampingnya dengan aura wajah dingin, dan menyeramkan.

Pria yang resmi menikah dengannya memang memiliki paras yang tampan, tapi aura wajah dingin, sorot mata tajam, dan ketegasan yang mendominasi berhasil membuat Hailey cukup merinding ketakutan.

Jantung Hailey kini berdebar tak karuan, seakan dia benar-benar berada di ambang kematian. Napasnya tak beraturan, membuat kegugupan melanda dirinya. Hal tergila adalah sejak tadi pria di sampingnya ini hanya diam, dan memasang wajah dingin.

Janji pernikahan sudah terucap. Pria itu tahu bahwa dia menikahi Hailey, bukan Ava. Namun, entah Hailey tak mengerti kenapa pria itu hanya diam, tak bersuara apa pun. Padahal tadi dia berpikir, Mathias Cameron akan marah besar di kala tahu dirinya yang menggantikan Ava.  

Sepanjang perjalanan, sopir melajukan mobil dengan kecepatan sedang penuh hati-hati. Akan tetapi, rasa takut membuat Hailey seolah merasa berada di dalam mobil yang memiliki tingkat kecepatan tinggi. Cemas dan takut yang melebur menjadi satu membuatnya bingung untuk bicara.

Kedua orang tua Hailey tak mengatakan apa pun. Mereka malah tersenyum puas di kala sang pastor mensahkannya telah resmi menjadi istri dari Mathias Cameron. Meski fisik yang digambarkan orang lain berbeda jauh dengan asli, tetap saja tidak mengubah fakta di mana hati Hailey berat menjalani pernikahan paksaan ini.

Tak selang lama, mobil limusin itu memasuki gerbang mewah sebuah mansion di Kawasan elit New York. Puluhan penjaga tampak membungkukkan badan di kala mobil sudah masuk.  

Saat mobil terparkir, dua penjaga dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Hailey dan Mathias. Pun detik itu, Hailey turun dengan raut wajah yang menunjukkan ketegangan yang mati-matian dia tutupi.

“Selamat datang, Nyonya Cameron,” ucap para penjaga sambil menundukkan kepala ke hadapan Hailey.

Hailey terdiam mendengar apa yang diucapkan para penjaga. Lidahnya kelu, dan tubuh yang kaku. Panggilan ‘Nyonya Cameron’ membuat otaknya benar-benar mendadak seperti tak berfungsi. Seumur hidup, tak pernah dia sangka akan menikah dengan orang yang sama sekali tak dia kenali.

Hailey tak merespons dengan ucapan. Wanita itu hanya tersenyum penuh paksaan menanggapi ucapan hormat. Bisa saja dia tak menanggapi ucapan itu, tapi dia tetap menghargai pengawal yang berusaha menghormatinya.

“Ikut aku,” ucap Mathias dingin, dan tajam.

Hailey mengangguk, dan melangkah hati-hati mengikuti Mathias. Gaun pengantin masih melekat di tubuhnya, membuatnya agak kesulitan berjalan cepat. Tak ada yang bisa dia lakukan selain patuh.

Langkah kaki wanita itu begitu pelan memasuki mansion, dan di kala dia memasuki sebuah kamar, seketika jantungnya berdebar tak karuan. Pikirannya berpikir kemungkinan buruk terjadi. Apalagi statusnya sekarang adalah istri pria itu. Sama dengan pria itu memiliki hak atas tubuhnya.

Membayangkan itu, membuat bulu kuduk Hailey merinding tak karuan. Matanya memanas ingin menangis, tapi dia tak mau menangis. Berlari pun dia sadar tak akan pernah bisa. Hal yang bisa dia lakukan adalah terus melangkah, menghadapi apa pun yang ada di hadapannya.

“Ini kamarmu,” ucap Mathias tajam, begitu dia masuk ke dalam sebuah kamar luas dengan dekorasi warna cream.

Hailey terdiam, menatap Mathias dengan tatapan bingung. “K-kamarku? M-maksudmu, kita tidur di kamar terpisah?” tanyanya pelan, dan hati-hati. 

“Sementara ini ya, tapi kau akan ke kamarku jika aku memanggilmu,” jawab Mathias dingin, dan tajam.

Hailey menelan salivanya susah payah. “A-aku ingin bertanya.”

Mata biru Mathias menatap dingin mata cokelat terang Hailey. “Katakan, apa yang ingin kau tanyakan?” balasnya menunjukkan aura wajah yang penuh arogansi.

Hailey berusaha mengatur napasnya, mencoba untuk tetap tenang. “K-kau kenapa tidak menghentikan pernikahan ini? M-maksudku, di awal kesepakatan kau menikahi Ava, kakakku, kan? Kenapa kau hanya diam ketika aku menggantikan kakakku? Aku Hailey, bukan Ava.”

Lidah Hailey sudah tak tahan lagi untuk mengeluarkan pertanyaan ini. Wanita cantik itu melawan rasa takutnya, dan memberanikan diri untuk bertanya. Sebab, jika dia hanya diam, dia akan makin terbelenggu dengan kebingungan yang tak pasti ini.

Mathias tak langsung merespons apa yang dikatakan oleh Hailey. Pria tampan itu melangkah mendekat, dan sontak di kala dia mendekat, Hailey segera mundur perlahan. Sialnya kaki Hailey tersangkut oleh gaun pengantinnya sendiri, membuat wanita itu nyaris terjatuh.

Namun, tangan kokoh Mathias begitu cepat menangkap tubuh Hailey, merapatkan tubuh wanita itu ke tubuhnya. Jika saja Mathias terlambat menangkap tubuh Hailey, sudah dipastikan wanita itu tersungkur ke bawah.

“Ada harga mahal dari pertukaran barang,” ucap Mathias dingin.

Hailey terdiam membeku terkejut bercampur bingung dengan ucapan Mathias. Dia berusaha untuk melepaskan diri, tapi sialnya tangan Mathias memeluk pinggangnya dengan erat.

“P-pertukaran barang? Apa maksudmu?” tanya Hailey menuntut jawaban.

Mathias membawa tangan kananya membelai pipi Hailey dengan kasar, dan tatapannya begitu tajam serta menusuk layaknya binatang buas yang ingin menguliti mangsanya.

“Aku memiliki kesepakatan dengan ayahmu. Dia setuju menikahkanku dengan putri sulungnya yang bernama Ava, tapi kenyataannya Ava melarikan diri, dan si putri bungsu bodoh mau menggantikan kakaknya. Aku anggap itu pertukaran barang. Dan ada harga mahal dari pertukaran barang,” ucap Mathias dengan seringai keji di wajahnya.

Mata Hailey melebar di kala mendengar ucapan keji Mathias. Tak pernah dia sangka pria itu benar-benar kejam. Wajah pria itu tampan bahkan sangat tampan, tapi lidahnya bagaikan ular beracun yang mematikan. 

“Jaga bicaramu! Aku bukan barang!” suara Hailey cukup meninggi.

Alis Mathias terangkat sebelah, seakan meledek apa yang dikatakan oleh wanita itu. “Kau bukan barang? Really? Fakta yang ada adalah kau si bungsu bodoh yang mau menggantikan kakakmu. Jadi, kau itu sama seperti barang. Kita ambil contoh. Jika barang A tidak ada, pasti penjual akan mencoba menawarkan barang B, kan?”

Hailey menelan salivanya susah payah. Lidahnya kelu. Pun darah seakan benar-benar berhenti, membuat otaknya benar-benar memiliki kepusingan hebat. Sungguh, dia makin sadar bahwa dia menikahi pria berbahaya yang bisa menjadikan dirinya santapan.

“Kau tidak mengerti!” tegas Hailey cukup lantang.

Mathias melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Hailey. Tampak senyuman di wajahnya terlukis. Dia melangkah mundur, menjauh dari wanita itu. Ada kepuasan di wajahnya di kala melihat kemarahan di wajah Hailey.

“Aku tidak butuh untuk mengerti. Yang sekarang aku tahu adalah kau menggantikan kakakmu. Dan harus kau ingat, selalu ada harga mahal atas pertukaran barang ini,” ucap Mathias menusuk, dan pria itu segera berbalik meninggalkan Hailey yang bergeming di tempatnya.

“Kau tidak bisa menyamakan aku dengan barang!” seru Hailey tak kuasa menahan diri, tapi sayang Mathias hanya menhentikan langkah sebentar di kala mendengar suaranya meninggi, dan pria itu kembali melangkah dengan senyuman licik—yang seakan tak peduli dengan ucapan Hailey.

Air mata Hailey tak sanggup untuk tak berlinang, begitu Mathias lenyap dari pandangannya. Kata-kata pria itu tak banyak, tapi sangat menusuk bagaikan belati yang berhasil menancap jantungnya. Dia seakan sadar bahwa dia berada di keluarga Brantley bukan untuk dijadikan anak, tapi hanya dijadikan barang cadangan jika ada pemeran utama di keluarga itu mengalami kendala.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Penjara Hasrat Cinta    Bab 60. Di Bawah Kendalinya

    “Aku mengerti, thanks,” jawab Mathias singkat, mengabaikan tatapan Hailey yang menatapnya penuh tuntutan penjelasan. Pria itu tahu Hailey terus menatapnya dengan tatapan terkejut, tapi dia sengaja mengabaikan, membiarkan wanita itu bergelut dengan pikiran.“Baiklah, Tuan Mathias, ada beberapa obat tambahan yang saya berikan. Ada juga catatan untuk Nyonya Hailey agar perban tetap dalam keadaan bersih. Saya rasa pemeriksaan sudah cukup, apa ada lagi hal yang ingin Anda tanyakan, Tuan?” tanya sang dokter sopan.“Aku rasa sudah cukup. Thanks,” jawab Mathias lagi.“Dengan senang hati, Tuan. Anda bisa menghubungi saya kapan pun,” ucap sang dokter dengan senyuman sopan di wajahnya.Mathias mengangguk singkat, dan sang dokter segera pamit undur diri dari sana.“Mathias—”“Nash,” panggil Mathias pada sang asisten. Pria itu langsung memotong ucapan Hailey. Dia segera menatap

  • Penjara Hasrat Cinta    Bab 59. Tak Memberi Tahu Apa Pun

    “Tuan ….” Nash menghampiri Mathias yang hendak menuju ke ruang kerja. Dia tiba di mansion tuannya sambil membawakan dokumen, tujuan utamanya jelas membutuhkan tanda tangan tuannya itu. Hari ini, tuannya tak datang ke kantor, membuatnya mau tak mau harus menemui tuannya itu.Mathias menghentikan langkah. Tatapan mata pria itu yang tajam melirik Nash, melihat keberadaan dokumen di jemari sang asisten. Tanpa perlu banyak ucapan, dia mengulurkan tangan. Nash dengan cekatan menyerahkan berkas tersebut. Sementara Mathias membalik lembar demi lembar, membaca setiap klausul dengan kecermatan tingkat tinggi. Tepat setelah dia memastikan seluruh poin di dalamnya aman, jemarinya yang kokoh menggoreskan tanda tangan tegas di bagian bawah kertas.“Hari ini dokter akan memeriksa kondisi Hailey, kau jangan pergi dulu. Tunggu dokter selesai memeriksa kondisi Hailey,” titah Mathias dengan nada dingin, mengembalikan berkas itu ke dada Nash.

  • Penjara Hasrat Cinta    Bab 58. Rasa Penasaran Yang Harus Ditahan

    Suara berat yang tiba-tiba bergema membuat Hailey tersentak. Mathias sudah berdiri di ambang pintu, dan kini langkah kakinya yang tegap membawanya mendekati meja makan.Hailey membuyarkan lamunannya, menoleh menatap Mathias yang sudah duduk di kursi meja makan. “Kau makan di sini?” tanyanya, agak terkejut.“Ini rumahku. Aku bebas makan di mana pun yang aku mau,” jawab Mathias dingin, tanpa ekspresi berlebih di wajah tajamnya.Hailey menghela napas panjang, mencoba menoleransi nada bicara pria itu. “Aku tahu ini adalah rumahmu, maksudku, tadi aku pikir kau akan meminta pelayan mengantarkan makanan ke ruang kerjamu.”“Aku ingin makan di sini,” jawab Mathias singkat.Hailey memilih mengangguk perlahan, tak berniat memperpanjang perdebatan kecil itu. Dia kembali menikmati sarapannya. “Apa yang kau pikirkan tadi?” tanya Mathias lagi, tatapan matanya yang tajam seolah bisa menembus pikiran Hailey.“Tidak ada,” jawab Hailey pelan sambil mengunyah sarapannya.Mathias makin menatap wajah Hai

  • Penjara Hasrat Cinta    Bab 57. Apa Yang Kau Pikirkan?

    Pelupuk mata Hailey mulai bergerak perlahan, merespons rasa hangat yang menyapu wajahnya. Sinar matahari pagi yang menerobos celah gorden beludru tebal menjadi alasan utama kesadarannya perlahan terkumpul. Tepat saat kelopak matanya terbuka sepenuhnya, dia menggeliat pelan, menyerap sisa-sisa kantuk yang masih menggelayuti pikirannya. Denyut halus di lengan kirinya menyentakkan kesadarannya kembali ke realitas.Hailey terduduk perlahan di atas ranjang king-size yang terlalu empuk itu. Jemari wanita itu meraba perban tebal yang melilit lengan kirinya dengan amat hati-hati. Tatapan matanya yang sayu mulai mengedar ke sekeliling ruangan—kamar yang luas, mewah, tapi terasa begitu sunyi dan dingin. Seketika, detik itu dia menghela napas panjang.Kepingan memori semalam perlahan terkumpul. Dia ingat tadi malam, Mathias datang ke kamarnya, dan pria itu mendesaknya untuk segera tidur, padahal rasa kantuk sama sekali belum menyapa. Namun faktanya, dia tetap bisa tertidur lelap. Entah karena pe

  • Penjara Hasrat Cinta    Bab 56. Kau Adalah Tujuanku

    Tepat di kala lampu utama padam dan suasana kamar meredup drastis, kilatan cahaya putih samar menembus celah gorden tebal, disusul suara gelegar petir yang membahana dari luar jendela. Dentuman gemuruh itu bergema hebat, suaranya cukup keras hingga getarannya terasa seolah menembus dinding tebal mansion megah tersebut.Hailey tersentak kaget. Tubuhnya yang semula berbaring rileks mendadak tegang. Secara refleks karena terkejut dan ketakutan yang datang tiba-tiba, tangannya terulur di dalam kegelapan, meraba panik hingga jarinya menemui jemari lain dan meremas kuat tangan Mathias yang berada paling dekat dengannya. Cengkeraman jemari mungil itu begitu erat, memperlihatkan betapa tubuhnya bereaksi impulsif terhadap ancaman dari luar. Pencahayaan minim yang kini hanya bersumber dari lampu tidur temaram berwarna keemasan di atas nakas membuat penglihatan Hailey samar. Rasa terkejut bercampur pening akibat sisa obat pereda nyeri membuat Hailey tidak menyadari sepenuhnya bahwa jemari yang b

  • Penjara Hasrat Cinta    Bab 55. Kau Bisa Tidur Dengan Lampu Mati?

    Lampu kamar memantulkan bayangan samar di atas ranjang king-size berornamentasi mewah, tempat Hailey sedang duduk bersandar secara kaku. Wanita itu kini mengenakan gaun tidur sutra berwarna krem yang meluncur lembut di kulitnya, dipilihkan oleh pelayan agar tidak menekan luka di tubuhnya.Dia duduk di ranjang sembari membaca buku, tapi tanpa sengaja tatapannya kini menatap dua paper bag yang berisikan kalung berlian mahal yang dibelikan Mathias. Tadi, pelayan memang meletakan dua paper bag itu di atas meja, dan jujur Hailey bingung ingin dibuat apa kalung itu. Pun selama ini dia tak pernah memakai perhiasan berlebihan atau terlalu mahal. Namun, menolak juga tak bisa. Hal yang dilakukan Hailey adalah pasrah terserah pada apa pun yang dilakukan Mathias.Efek suntikan bius lokal pada lengan kiri Hailey telah sirna sepenuhnya sejak sepuluh menit yang lalu, digantikan oleh reaksi obat pereda nyeri dosis tinggi yang mulai bekerja menyelimuti sistem sarafnya. Kepala Hailey terasa agak bera

  • Penjara Hasrat Cinta    Chapter 4. Strings of Control

    Udara terasa berat oleh aroma tembakau mahal dan alkohol yang kuat. Asap mengepul, lalu perlahan hilang. Kesunyian membentang di ruang kerja megah milik Mathias Cameron. Tampak pria tampan itu duduk di balik meja kerjanya, melepaskan dasi kupu-kupu yang diletakan secara sembarang di lengan kursi ku

  • Penjara Hasrat Cinta    Chapter 2. The Golden Cage at the Altar

    Langkah kaki Hailey terasa seberat timah saat menelusuri lorong panjang menuju altar gereja. Gaun pengantin cantik telah melekat di tubuh wanita itu, tapi sayangnya gaun itu terasa seperti kain yang mencekik. Tak ada raut wajah kebahagiaan, bahkan senyum pun tak sama sekali tampak. Padahal orang b

  • Penjara Hasrat Cinta    Chapter 1. The Replacement

    Harum yang berasal dari bunga lili putih mahal telah berhasil memenuhi udara salah satu gereja yang ada di kota New York. Namun, sayangnya bagi Hailey Brantley aroma itu mendadak tercium seperti bau pemakaman yang seolah membuat otaknya menyadarkan bahwa dia berada di dunia yang tak seharusnya.Wan

  • Penjara Hasrat Cinta    Chapter 7. The Fragile Shield

    Butiran pasal perjanjian yang membuat kesesakan luar biasa bagi Hailey. Otaknya seakan benar-benar buntu, dan merasa kehidupannya telah habis tak tersisa. Dia memang masih ada di dunia, tapi itu seolah jiwanya saja. Sementara raganya sudah mati tepat di kala dia mengenal sosok Mathias Cameron.Lang

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status