LOGINPintu limusin tertutup dengan dentuman yang terdengar seperti palu hakim yang menjatuhkan vonis mati. Di dalam kabin yang kedap suara itu, keheningan terasa begitu berat, seolah oksigen telah diisap keluar, meninggalkan Hailey dalam ruang hampa yang menyesakkan.
Hailey tak bisa tenang setelah resmi menikah dengan pria yang sama sekali tak dia kenal. Dia duduk tegang di dalam mobil, seakan dirinya dibawa ke dalam ke jurang penderitaan. Tampak sesekali dia melirik Mathias yang duduk di sampingnya dengan aura wajah dingin, dan menyeramkan.
Pria yang resmi menikah dengannya memang memiliki paras yang tampan, tapi aura wajah dingin, sorot mata tajam, dan ketegasan yang mendominasi berhasil membuat Hailey cukup merinding ketakutan.
Jantung Hailey kini berdebar tak karuan, seakan dia benar-benar berada di ambang kematian. Napasnya tak beraturan, membuat kegugupan melanda dirinya. Hal tergila adalah sejak tadi pria di sampingnya ini hanya diam, dan memasang wajah dingin.
Janji pernikahan sudah terucap. Pria itu tahu bahwa dia menikahi Hailey, bukan Ava. Namun, entah Hailey tak mengerti kenapa pria itu hanya diam, tak bersuara apa pun. Padahal tadi dia berpikir, Mathias Cameron akan marah besar di kala tahu dirinya yang menggantikan Ava.
Sepanjang perjalanan, sopir melajukan mobil dengan kecepatan sedang penuh hati-hati. Akan tetapi, rasa takut membuat Hailey seolah merasa berada di dalam mobil yang memiliki tingkat kecepatan tinggi. Cemas dan takut yang melebur menjadi satu membuatnya bingung untuk bicara.
Kedua orang tua Hailey tak mengatakan apa pun. Mereka malah tersenyum puas di kala sang pastor mensahkannya telah resmi menjadi istri dari Mathias Cameron. Meski fisik yang digambarkan orang lain berbeda jauh dengan asli, tetap saja tidak mengubah fakta di mana hati Hailey berat menjalani pernikahan paksaan ini.
Tak selang lama, mobil limusin itu memasuki gerbang mewah sebuah mansion di Kawasan elit New York. Puluhan penjaga tampak membungkukkan badan di kala mobil sudah masuk.
Saat mobil terparkir, dua penjaga dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Hailey dan Mathias. Pun detik itu, Hailey turun dengan raut wajah yang menunjukkan ketegangan yang mati-matian dia tutupi.
“Selamat datang, Nyonya Cameron,” ucap para penjaga sambil menundukkan kepala ke hadapan Hailey.
Hailey terdiam mendengar apa yang diucapkan para penjaga. Lidahnya kelu, dan tubuh yang kaku. Panggilan ‘Nyonya Cameron’ membuat otaknya benar-benar mendadak seperti tak berfungsi. Seumur hidup, tak pernah dia sangka akan menikah dengan orang yang sama sekali tak dia kenali.
Hailey tak merespons dengan ucapan. Wanita itu hanya tersenyum penuh paksaan menanggapi ucapan hormat. Bisa saja dia tak menanggapi ucapan itu, tapi dia tetap menghargai pengawal yang berusaha menghormatinya.
“Ikut aku,” ucap Mathias dingin, dan tajam.
Hailey mengangguk, dan melangkah hati-hati mengikuti Mathias. Gaun pengantin masih melekat di tubuhnya, membuatnya agak kesulitan berjalan cepat. Tak ada yang bisa dia lakukan selain patuh.
Langkah kaki wanita itu begitu pelan memasuki mansion, dan di kala dia memasuki sebuah kamar, seketika jantungnya berdebar tak karuan. Pikirannya berpikir kemungkinan buruk terjadi. Apalagi statusnya sekarang adalah istri pria itu. Sama dengan pria itu memiliki hak atas tubuhnya.
Membayangkan itu, membuat bulu kuduk Hailey merinding tak karuan. Matanya memanas ingin menangis, tapi dia tak mau menangis. Berlari pun dia sadar tak akan pernah bisa. Hal yang bisa dia lakukan adalah terus melangkah, menghadapi apa pun yang ada di hadapannya.
“Ini kamarmu,” ucap Mathias tajam, begitu dia masuk ke dalam sebuah kamar luas dengan dekorasi warna cream.
Hailey terdiam, menatap Mathias dengan tatapan bingung. “K-kamarku? M-maksudmu, kita tidur di kamar terpisah?” tanyanya pelan, dan hati-hati.
“Sementara ini ya, tapi kau akan ke kamarku jika aku memanggilmu,” jawab Mathias dingin, dan tajam.
Hailey menelan salivanya susah payah. “A-aku ingin bertanya.”
Mata biru Mathias menatap dingin mata cokelat terang Hailey. “Katakan, apa yang ingin kau tanyakan?” balasnya menunjukkan aura wajah yang penuh arogansi.
Hailey berusaha mengatur napasnya, mencoba untuk tetap tenang. “K-kau kenapa tidak menghentikan pernikahan ini? M-maksudku, di awal kesepakatan kau menikahi Ava, kakakku, kan? Kenapa kau hanya diam ketika aku menggantikan kakakku? Aku Hailey, bukan Ava.”
Lidah Hailey sudah tak tahan lagi untuk mengeluarkan pertanyaan ini. Wanita cantik itu melawan rasa takutnya, dan memberanikan diri untuk bertanya. Sebab, jika dia hanya diam, dia akan makin terbelenggu dengan kebingungan yang tak pasti ini.
Mathias tak langsung merespons apa yang dikatakan oleh Hailey. Pria tampan itu melangkah mendekat, dan sontak di kala dia mendekat, Hailey segera mundur perlahan. Sialnya kaki Hailey tersangkut oleh gaun pengantinnya sendiri, membuat wanita itu nyaris terjatuh.
Namun, tangan kokoh Mathias begitu cepat menangkap tubuh Hailey, merapatkan tubuh wanita itu ke tubuhnya. Jika saja Mathias terlambat menangkap tubuh Hailey, sudah dipastikan wanita itu tersungkur ke bawah.
“Ada harga mahal dari pertukaran barang,” ucap Mathias dingin.
Hailey terdiam membeku terkejut bercampur bingung dengan ucapan Mathias. Dia berusaha untuk melepaskan diri, tapi sialnya tangan Mathias memeluk pinggangnya dengan erat.
“P-pertukaran barang? Apa maksudmu?” tanya Hailey menuntut jawaban.
Mathias membawa tangan kananya membelai pipi Hailey dengan kasar, dan tatapannya begitu tajam serta menusuk layaknya binatang buas yang ingin menguliti mangsanya.
“Aku memiliki kesepakatan dengan ayahmu. Dia setuju menikahkanku dengan putri sulungnya yang bernama Ava, tapi kenyataannya Ava melarikan diri, dan si putri bungsu bodoh mau menggantikan kakaknya. Aku anggap itu pertukaran barang. Dan ada harga mahal dari pertukaran barang,” ucap Mathias dengan seringai keji di wajahnya.
Mata Hailey melebar di kala mendengar ucapan keji Mathias. Tak pernah dia sangka pria itu benar-benar kejam. Wajah pria itu tampan bahkan sangat tampan, tapi lidahnya bagaikan ular beracun yang mematikan.
“Jaga bicaramu! Aku bukan barang!” suara Hailey cukup meninggi.
Alis Mathias terangkat sebelah, seakan meledek apa yang dikatakan oleh wanita itu. “Kau bukan barang? Really? Fakta yang ada adalah kau si bungsu bodoh yang mau menggantikan kakakmu. Jadi, kau itu sama seperti barang. Kita ambil contoh. Jika barang A tidak ada, pasti penjual akan mencoba menawarkan barang B, kan?”
Hailey menelan salivanya susah payah. Lidahnya kelu. Pun darah seakan benar-benar berhenti, membuat otaknya benar-benar memiliki kepusingan hebat. Sungguh, dia makin sadar bahwa dia menikahi pria berbahaya yang bisa menjadikan dirinya santapan.
“Kau tidak mengerti!” tegas Hailey cukup lantang.
Mathias melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Hailey. Tampak senyuman di wajahnya terlukis. Dia melangkah mundur, menjauh dari wanita itu. Ada kepuasan di wajahnya di kala melihat kemarahan di wajah Hailey.
“Aku tidak butuh untuk mengerti. Yang sekarang aku tahu adalah kau menggantikan kakakmu. Dan harus kau ingat, selalu ada harga mahal atas pertukaran barang ini,” ucap Mathias menusuk, dan pria itu segera berbalik meninggalkan Hailey yang bergeming di tempatnya.
“Kau tidak bisa menyamakan aku dengan barang!” seru Hailey tak kuasa menahan diri, tapi sayang Mathias hanya menhentikan langkah sebentar di kala mendengar suaranya meninggi, dan pria itu kembali melangkah dengan senyuman licik—yang seakan tak peduli dengan ucapan Hailey.
Air mata Hailey tak sanggup untuk tak berlinang, begitu Mathias lenyap dari pandangannya. Kata-kata pria itu tak banyak, tapi sangat menusuk bagaikan belati yang berhasil menancap jantungnya. Dia seakan sadar bahwa dia berada di keluarga Brantley bukan untuk dijadikan anak, tapi hanya dijadikan barang cadangan jika ada pemeran utama di keluarga itu mengalami kendala.
Langkah kaki Hailey memelan masuk ke dalam mansion. Dia mengikuti Mathias dengan hati-hati. Namu, tentu Mathias melangkahkan kaki tegas dengan aura wajah yang dingin, dan menunjukkan penuh amarah yang berusaha keras ditahan.Tak ada percakapan apa pun. Sepanjang jalan kembali ke mansion, mobil yang mengantar Hailey dan Mathias seperti ambulans yang membawa mayat. Bayangkan saja, Hailey diam membeku melihat Mathias yang tampak menyeramkan dengan aura wajah amarah yang ingin meledak.Hailey berpikir Mathias akan menginterogasinya, tapi ternyata apa yang dipikirkan wanita itu salah besar. Tak ada pertanyaan apa pun yang terlontar. Malah sepanjang perjalanan pulang, tatapan Hailey sesekali melirik Mathias seolah berharap diajak bicara tentang apa yang terjadi di restoran.Namun, fakta yang ada Mathias seolah menunjukkan masalah sudah selesai, tidak perlu ada bahasan apa pun. Padahal sebenarnya ada rasa take nak dalam hati Hailey. Apalagi wanita itu tak tahu sama sekali dia menabrak seoran
Aroma wine mahal cukup memberikan ketenangan sebentar. Mathias yang duduk di kursi meja makan, tepat di depan koleganya, dia mendengar ucapan David dengan saksama serta serius, dan dia sambil memyesap wine tua yang tersedia di kafe itu.Wine makin tua akan bernilai makin mahal. Aroma yang khas cukup menyeruak ke indra penciuman Mathias yang kala itu memang memesan wine paling mahal di kafe di mana dia bertemu dengan koleganya.Pembahasan bisnis cukup detail sejak tadi dibahas oleh David. Meski belum merespons apa pun, tapi telinga Mathias cukup tajam mendengar penjelasan tersebut. Setiap inti pembicaraan mampu disimak baik Mathias walau David menjelaskan panjang project pembangunan perumahan mewah di berbagai negara maju. “Jadi, Tuan Cameron, kau tertarik dengan project pembangunan perumahan yang rencananya akan membidik pasar Asia dan Eropa?” tanya David memastikan.Mathias menurunkan gelas wine yang di tangannya, dan meletakan ke atas meja. “Kau cukup ambisius dalam merancang bisn
Pantulan di cermin besar setinggi plafon itu seolah menampilkan sosok asing bagi Hailey. Gaun malam berbahan sutra charmeuse berwarna hitam pekat itu melekat sempurna di tubuhnya, kontras dengan kulitnya yang putih dan agak pucat. Potongan backless yang rendah mengekspos lekuk punggung serta leher dihiasi kalung berlian memberikan kesan elegan tapi memiliki makna misterius.Hailey memakai gaun pemberian dari Mathias. Wanita cantik itu berpikir, dia diberikan gaun sederhana tidak berlebihan, tapi ternyata dia salah besar. Dia diminta memakai gaun pesta—yang entah dia tak mengerti kenapa harus memakai gaun ini. Pun Mathias tidak bilang apa pun padanya.Embusan napas mulai terdengar pelan. Dia ingin sekali memakai piyama dan memilih membaringkan tubuhnya di ranjang. Namun, Hailey sadar betul bahwa tak mungkin melakukan itu. Dia masih belum bisa memprediksi bagaimana sifat Mathias jika pria itu marah besar.“Kau sudah selesai.” Itu bukan pertanyaan, melainkan pernyataan dingin dari Mathia
Kondisi Hailey sudah membaik. Makanan yang dihidangkan pelayan kali ini dia habiskan. Pun dia minum beberapa suplemen vitamin yang telah disediakan. Dia tak melakukan perlawanan apalagi membantah. Bukan tanpa sebab, perkataan pelayan yang mengatakan Mathias tadi malam menjaganya membuatnya memiliki jutaan pertanyaan.Hailey tak percaya seratus persen pada ucapan pelayan, tapi dia melihat wajah pelayan itu menunjukkan kejujuran. Pun apa manfaatnya pelayan harus berbohong? Mathias sepertinya tak membutuhkan validasi sebagai pria baik ataupun pria bertanggung jawab. Sosok Mathias yang dia kenal adalah pria dingin, seakan berkuasa, arogan, dan keji. Meski baru mengenal pria itu, tapi nyatanya gambaran sosok Mathias Cameron yang ada dibenak Hailey seperti itu.Embusan napas pelan terdengar. Hailey yang duduk di ranjang termenung dengan segala pikirannya. Sejak tadi dia tak melakukan kegiatan apa pun. Hanya makan dan beristirahat. Tak menampik rasa jenuh agak menyerang. Otaknya kini mulai m
Butiran pasal perjanjian yang membuat kesesakan luar biasa bagi Hailey. Otaknya seakan benar-benar buntu, dan merasa kehidupannya telah habis tak tersisa. Dia memang masih ada di dunia, tapi itu seolah jiwanya saja. Sementara raganya sudah mati tepat di kala dia mengenal sosok Mathias Cameron.Langit terang telah berganti. Matahari telah tenggelam, menampilkan awan gelap yang memenuhi kemegahan langit. Tidak ada bulan dan bintang yang biasanya menjadi penghias langit megah. Langit mendung, seakan menunjukkan rasa yang sama dengan Hailey.Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Hailey berdiri di jendela besar kamar yang ada di penthouse Mathias. Ya, dia masih belum kembali ke mansion. Mathias memutuskan mengajaknya bermalam di penthouse pria itu, dan akan kembali ke mansion pada esok pagi.Hailey tak hanyak bertanya. Wanita cantik itu memilih diam di kala Mathias memutuskan bermalam di penthouse. Dia diantar pelayan ke salah satu kamar tamu, sedangkan pria itu berada di kamarnya. Hal ya
Hailey duduk dalam mobil dengan kegelisahan yang membentang dalam diri. Napasnya agak berat, dan tangannya saling menaut seperti menunjukkan ada rasa cemas. Orang biasanya suka dan merasakan kenyamanan duduk di mobil mewah, tapi berbeda dengan Hailey. Mobil mewah apa pun, jika bersama Mathias seakan seperti dirinya berada di dalam mobil jenazah—begitu mencekam dan menyesakkan. Dia berada di dalam mobil Range Rover Sentinel warna hitam metalik bersama Mathias. Sopir melajukan mobil, dan Hailey bersama Mathias duduk di kursi penumpang. Sebenarnya. aroma interior kulit mewah dan pengharum maskulin khas Mathias melebur menjadi satu membuat indra penciuman sadar bahwa berada di kemewahan, tapi sayangnya aroma itu terasa seperti gas beracun yang mencekik paru-paru Hailey.Hailey tak bisa tenang di kala selesai sarapan harus menuruti Mathias. Entah ke mana pria itu pergi membawanya. Ingin rasanya dia bertanya lagi, tapi dia tak berani. Mengingat tadi saat sarapan, pria itu menjawabnya deng







