Home / Romansa / Penjara Hasrat Cinta / Bab 5. Kurungan Dalam Pernikahan

Share

Bab 5. Kurungan Dalam Pernikahan

last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-09 01:08:00

Sinar matahari pagi menembus sela-sela jendela, kilauanya menyentuh wajah Hailey yang masih terlelap. Perlahan, sinar matahari makin tampak terang membuat mata wanita cantik yang tertidur pulas itu langsung mengerjap beberapa kali.

Hailey mulai membuka mata sambil menguap pelan. Suara erangan lolos di bibirnya akibat merasa tubuhnya terasa lelah. Dia bangun pagi tidak segar seperti biasanya. Dia merasa tubuhnya benar-benar pegal.  

“Pegal sekali,” gumam Hailey merintih.

Tangan wanita itu memijat tengkuk leher, bermaksud mengusir rasa pegal yang menyergap dalam diri. Detik itu, tepat di kala kesadaranya sudah sepenuhnya kembali, matanya langsung melebar penuh keterkejutan.

Ya, dia sampai menegang di kala dirinya sadar bahwa dia tidak ada di kamarnya sendiri. Aroma pengharum kamar jelas menyadarkannya dia berada di kamar yang berbeda. Namun, saat kepanikan mulai menggerogoti diri, raut wajahnya mulai berubah ketika mengingat kemarin adalah hal tergila yang pernah dia lakukan.

Kepingan puzzle telah tersusun. Hailey ingat betul kemarin dia menjadi pengantin pengganti kakaknya yang melarikan diri. Dia kini terbangun di mansion mewah milik pria asing yang telah resmi menjadi suaminya. Sungguh, fakta yang benar-benar di luar akal sehatnya.

Hailey menunduk, melihat tubuhnya masih terbalut gaun pengantin. Detik itu, dia mulai turun dari ranjang dengan pelan, dan menatap cermin—riasan di wajahnya sudah berantakan—dan matanya pun sembab akibat kemarin dia menangis dalam kesunyian.

Napas wanita cantik berusia 22 tahun itu mulai berembus pelan, dia memejamkan mata sebentar. Lelah yang dia dapatkan akibat beban pikiran serta lelah tubuhnya. Harusnya dia menjadi tamu di pesta pernikahan kakaknya, tapi dalam sekejap semua berubah. Dia malah menjadi pengantin wanita dari pria yang sama sekali tidak pernah dia kenal.

Saat Hailey sedang melamun di depan cermin, tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka. Refleks, dia menoleh—dan menatap seorang wanita paruh baya memakai pakaian pelayan masuk ke dalam.

“Selamat pagi, Nyonya Cameron,” sapa sang pelayan sopan, sambil menundukkan kepala.

Hailey terdiam, belum merespons apa pun. Sapaan ‘Nyonya Cameron’ yang lolos di bibir sang pelayan, membuat Hailey benar-benar sadar bahwa dia telah berganti status menjadi istri orang. Dadanya seakan sesak dengan fakta itu. Apalagi harusnya dia menikah dengan pria yang dia cintai, tapi sayang ‘balas budi’ diungkit, membuatnya terjebak di dalam lingkaran api.

“Pagi,” jawab Hailey dingin, dan tetap tenang.

“Nyonya, maaf mengganggu Anda. Saya hanya ingin memberi tahu sarapan sudah siap. Tuan Cameron sebentar lagi akan menyusul ke ruang makan. Mohon Anda segera bersiap, dan ke ruang makan,” ucap sang pelayan memberi tahu sopan.

“Aku tidak lapar,” kata Hailey menolak halus, dia memang tak lapar sama sekali. Kejadian yang menimpanya ini membuat lambungnya bahkan terasa penuh. Padahal tadi acara pesta kemarin, dia tak makan apa pun.

“Maaf, Nyonya, Anda harus makan. Tuan Cameron berpesan Anda harus ada di ruang makan,” ucap sang pelayan lagi tetap sopan, tapi tersirat agak mendesak.

Hailey mengembuskan napas panjang, merasa kesal karena dipaksa seperti ini. “Kalau aku tidak mau makan kenapa? Hanya tidak makan sebentar, tidak akan membuatku langsung mati.”

“Nyonya, kalau Anda tetap bersikeras tidak mau makan, pasti Tuan Cameron akan langsung menjemput paksa Anda di kamar. Silakan pilih, Anda langsung datang ke ruang makan setelah selesai mandi, atau Anda ingin dijemput paksa oleh Tuan Cameron? Nyonya, bukan bermaksud saya lancang, tapi Tuan Cameron membenci orang yang tidak patuh padanya,” kata sang pelayan itu memberi tahu dengan nada agak tegas, karena Hailey bersikap keras kepala.

“Kau mengancamku?” Hailey kesal, dia sudah lelah dengan semua yang datang di hidupnya begitu tiba-tiba.

“Nyonya, saya tidak bermaksud mengancam Anda. Saya hanya memberi tahu dan mengingatkan Anda. Saya mohon patuhi permintaan Tuan Cameron. Jangan membuatnya marah. Saya permisi.” Pelayan itu menundukkan kepala, lalu pamit undur diri dari hadapan Hailey.

Hailey menatap punggung pelayan yang mulai lenyap dari pandangannya. Tampak sorot matanya dingin, dan agak menusuk. Napasnya berembus kasar, dan sesekali dia mengutuki nasibnya yang tak bagus.

Beberapa detik, Hailey masih bergeming di tempatnya belum bergerak sedikit pun. Kata-kata pelayan tadi berputar di kepalanya, seakan membuat dirinya benar-benar tak bisa membantah. Dia memejamkan mata lelah, dan dengan penuh paksaan wanita itu melangkah menuju kamar mandi.

***

Ruang makan megah harusnya diisi dengan banyak orang. Meja panjang dan kursi meja makan yang khas seperti bangsawan itu hanya terisikan oleh dua orang. Hailey dan Mathias. Tak ada pembicaraan apa pun. Keheningan membentang di antara mereka.

Pernikahan harusnya diwarnai dengan sapaan romantis atau pelukan hangat. Namun, tidak bagi Hailey. Dia bahkan diminta untuk sarapan bersama sang suami dengan cara paksaan yang tersirat adanya ancaman nyata.

Setelah membersihkan tubuh, dan mengganti pakaian dengan dress sederhana, wanita itu segera ke ruang makan mengikuti apa yang dikatakan oleh sang pelayan. Akan tetapi dia tak mendapatkan sapaan hangat sama sekali. Mathias hanya duduk di kursi meja makan, dengan wajah dingin seperti biasanya.

“Mau sampai kapan kau melamun? Makanan sudah di hadapanmu,” ucap Mathias dingin.

Hailey langsung tersadar di kala dirinya hanya duduk di kursi meja makan, tanpa ada reaksi apa pun. Padahal aroma makanan yang sudah disiapkan para pelayan begitu menyergap indra penciumannya. Namun, memang dia tak lapar. Apalagi dalam kodisi hanya sarapan berdua dengan pria yang baru dia kenal ini.

Tanpa mau bersuara, Hailey memilih untuk menggerakan pisau dan garpu, mulai sarapan dengan kunyahan pelan dan hati-hati. Sungguh, dia seperti sarapan di dalam sel penjara. Padahal faktanya dia tinggal di mansion mewah yang bahkan jauh lebih mewah dari mansion keluarganya sendiri.

“Setelah sarapan, kau ikut denganku,” ucap Mathias dengan nada rendah, berat, dan berhasil membuat Hailey merinding ketakutan.

Hailey mengalihkan pandangannya, memberanikan diri menatap Mathias. “K-kau mau mengajakku ke mana?” tanyanya pelan, tapi tetap tenang.

“Tidak perlu bertanya. Kau cukup ikuti dan turuti perintahku,” jawab Mathias tegas.

Hailey mengatur napasnya. “Aku ingin bertanya padamu.”

“Katakan.” Mata biru Mathias, menatap dingin dan tajam pada Hailey.

Hailey tampak memikirkan ulang apa yang ingin dia katakan. Otak dan hatinya seakan berperang. Lidahnya sudah tak tahan ingin merangkai kata. Jika dia hanya diam terus menerus, dia akan makin gila dan mungkin berujung bisa tinggal di rumah sakit jiwa.

“Apa selamanya aku hanya akan berada di mansion ini? Maksudku, apa kau tidak memberikanku kebebasan untuk bekerja sedikit pun?” tanya Hailey memberanikan diri.

Pertanyaan Hailey sukses membuat Mathias menghentikan makannya. Pria tampan itu menatap Hailey dengan tatapan yang makin dingin, dan menusuk. Ya, tatapan itu sampai membuat Hailey menelan saliva susah payah.

“Keluargamu saja sudah menjualmu padaku, lalu kau meminta kebebasan? Aku yakin kau tidak sebodoh itu sampai mengajukan pertanyaan yang tak seharusnya,” balas Mathias tajam.

“Tapi, sebelum menikah, aku bekerja di Brantley Group. Aku membantu perusahaan keluargaku walau aku bukan memegang jabatan penting. Maksudku jika aku hanya terus menerus di dalam rumah, aku pasti akan bosan,” ucap Hailey lagi memberanikan diri.

Mathias menyeringai kejam di kala kata ‘bosan’ lolos di bibir Hailey. Rupanya wanita itu kadang terlihat rapuh dan lemah, tapi kadang memiliki keberanian untuk menyuarakan isi hatinya. Detik itu, tanpa diduga, dia menarik kursi duduk Hailey, dan merapatkan ke arahnya. 

Tindakan Mathias sukses membuat Hailey memekik terkejut. Pria itu memang memiliki tinggi tubuh dan gagah, sedangkan tinggi Hailey hanya sebatas dada pria itu. Namun, tindakan Mathias sekarang membuat Hailey makin sadar bahwa memang tenaga Hailey jika dibandingkan dengan Mathias hanya sekadar kapas yang melayang di atas air.

“M-Mathias, apa yang—” Perkataan Hailey terhenti di kala wajah Matias mendekat ke wajahnya. Jantungnya kini berdebar tak karuan, seakan ingin melompat dari tempatnya.

“Berani-beraninya kau bilang takut bosan,” bisik Mathias di telinga Hailey, nadanya rendah tapi begitu mencekam. “Kau tahu? Berada di sini, tinggal denganku, akan aku pastikan kebosanan tidak pernah hadir dalam hidupmu. Kau mengerti?” lanjutnya lagi berbisik dengan nada ancaman.

Napas Hailey terecekat mendengar suara rendah Mathias yang begitu menusuk. Bulu kuduknya mulai merinding seakan ketakutan melihat hantu. Oh, tidak, mungkin ini lebih menyeramkan dari sekadar hantu.

“Tunggu aku di depan. Lima belas menit lagi kita berangkat.” Mathias menjauh, dia bangkit berdiri, dan melangkah pergi dari hadapan Hailey.

Hailey langsung menyentuh dadanya yang berdebar tak karuan di kala Mathias sudah pergi. Ada kelegaan dia bebas sebentar, demi menghirup pasokan oksigen. Sebab, sejak tadi oksigen seakan benar-benar tak bisa dia hirup. Apalagi berdekatan dengan Mathias membuatnya seakan berada di ambang kematian.

“Ya Tuhan, pria seperti apa yang sebenarnya aku nikahi?” gumam Hailey, sambil mendesah kasar, dan memejamkan mata singkat.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Penjara Hasrat Cinta    Bab 60. Di Bawah Kendalinya

    “Aku mengerti, thanks,” jawab Mathias singkat, mengabaikan tatapan Hailey yang menatapnya penuh tuntutan penjelasan. Pria itu tahu Hailey terus menatapnya dengan tatapan terkejut, tapi dia sengaja mengabaikan, membiarkan wanita itu bergelut dengan pikiran.“Baiklah, Tuan Mathias, ada beberapa obat tambahan yang saya berikan. Ada juga catatan untuk Nyonya Hailey agar perban tetap dalam keadaan bersih. Saya rasa pemeriksaan sudah cukup, apa ada lagi hal yang ingin Anda tanyakan, Tuan?” tanya sang dokter sopan.“Aku rasa sudah cukup. Thanks,” jawab Mathias lagi.“Dengan senang hati, Tuan. Anda bisa menghubungi saya kapan pun,” ucap sang dokter dengan senyuman sopan di wajahnya.Mathias mengangguk singkat, dan sang dokter segera pamit undur diri dari sana.“Mathias—”“Nash,” panggil Mathias pada sang asisten. Pria itu langsung memotong ucapan Hailey. Dia segera menatap

  • Penjara Hasrat Cinta    Bab 59. Tak Memberi Tahu Apa Pun

    “Tuan ….” Nash menghampiri Mathias yang hendak menuju ke ruang kerja. Dia tiba di mansion tuannya sambil membawakan dokumen, tujuan utamanya jelas membutuhkan tanda tangan tuannya itu. Hari ini, tuannya tak datang ke kantor, membuatnya mau tak mau harus menemui tuannya itu.Mathias menghentikan langkah. Tatapan mata pria itu yang tajam melirik Nash, melihat keberadaan dokumen di jemari sang asisten. Tanpa perlu banyak ucapan, dia mengulurkan tangan. Nash dengan cekatan menyerahkan berkas tersebut. Sementara Mathias membalik lembar demi lembar, membaca setiap klausul dengan kecermatan tingkat tinggi. Tepat setelah dia memastikan seluruh poin di dalamnya aman, jemarinya yang kokoh menggoreskan tanda tangan tegas di bagian bawah kertas.“Hari ini dokter akan memeriksa kondisi Hailey, kau jangan pergi dulu. Tunggu dokter selesai memeriksa kondisi Hailey,” titah Mathias dengan nada dingin, mengembalikan berkas itu ke dada Nash.

  • Penjara Hasrat Cinta    Bab 58. Rasa Penasaran Yang Harus Ditahan

    Suara berat yang tiba-tiba bergema membuat Hailey tersentak. Mathias sudah berdiri di ambang pintu, dan kini langkah kakinya yang tegap membawanya mendekati meja makan.Hailey membuyarkan lamunannya, menoleh menatap Mathias yang sudah duduk di kursi meja makan. “Kau makan di sini?” tanyanya, agak terkejut.“Ini rumahku. Aku bebas makan di mana pun yang aku mau,” jawab Mathias dingin, tanpa ekspresi berlebih di wajah tajamnya.Hailey menghela napas panjang, mencoba menoleransi nada bicara pria itu. “Aku tahu ini adalah rumahmu, maksudku, tadi aku pikir kau akan meminta pelayan mengantarkan makanan ke ruang kerjamu.”“Aku ingin makan di sini,” jawab Mathias singkat.Hailey memilih mengangguk perlahan, tak berniat memperpanjang perdebatan kecil itu. Dia kembali menikmati sarapannya. “Apa yang kau pikirkan tadi?” tanya Mathias lagi, tatapan matanya yang tajam seolah bisa menembus pikiran Hailey.“Tidak ada,” jawab Hailey pelan sambil mengunyah sarapannya.Mathias makin menatap wajah Hai

  • Penjara Hasrat Cinta    Bab 57. Apa Yang Kau Pikirkan?

    Pelupuk mata Hailey mulai bergerak perlahan, merespons rasa hangat yang menyapu wajahnya. Sinar matahari pagi yang menerobos celah gorden beludru tebal menjadi alasan utama kesadarannya perlahan terkumpul. Tepat saat kelopak matanya terbuka sepenuhnya, dia menggeliat pelan, menyerap sisa-sisa kantuk yang masih menggelayuti pikirannya. Denyut halus di lengan kirinya menyentakkan kesadarannya kembali ke realitas.Hailey terduduk perlahan di atas ranjang king-size yang terlalu empuk itu. Jemari wanita itu meraba perban tebal yang melilit lengan kirinya dengan amat hati-hati. Tatapan matanya yang sayu mulai mengedar ke sekeliling ruangan—kamar yang luas, mewah, tapi terasa begitu sunyi dan dingin. Seketika, detik itu dia menghela napas panjang.Kepingan memori semalam perlahan terkumpul. Dia ingat tadi malam, Mathias datang ke kamarnya, dan pria itu mendesaknya untuk segera tidur, padahal rasa kantuk sama sekali belum menyapa. Namun faktanya, dia tetap bisa tertidur lelap. Entah karena pe

  • Penjara Hasrat Cinta    Bab 56. Kau Adalah Tujuanku

    Tepat di kala lampu utama padam dan suasana kamar meredup drastis, kilatan cahaya putih samar menembus celah gorden tebal, disusul suara gelegar petir yang membahana dari luar jendela. Dentuman gemuruh itu bergema hebat, suaranya cukup keras hingga getarannya terasa seolah menembus dinding tebal mansion megah tersebut.Hailey tersentak kaget. Tubuhnya yang semula berbaring rileks mendadak tegang. Secara refleks karena terkejut dan ketakutan yang datang tiba-tiba, tangannya terulur di dalam kegelapan, meraba panik hingga jarinya menemui jemari lain dan meremas kuat tangan Mathias yang berada paling dekat dengannya. Cengkeraman jemari mungil itu begitu erat, memperlihatkan betapa tubuhnya bereaksi impulsif terhadap ancaman dari luar. Pencahayaan minim yang kini hanya bersumber dari lampu tidur temaram berwarna keemasan di atas nakas membuat penglihatan Hailey samar. Rasa terkejut bercampur pening akibat sisa obat pereda nyeri membuat Hailey tidak menyadari sepenuhnya bahwa jemari yang b

  • Penjara Hasrat Cinta    Bab 55. Kau Bisa Tidur Dengan Lampu Mati?

    Lampu kamar memantulkan bayangan samar di atas ranjang king-size berornamentasi mewah, tempat Hailey sedang duduk bersandar secara kaku. Wanita itu kini mengenakan gaun tidur sutra berwarna krem yang meluncur lembut di kulitnya, dipilihkan oleh pelayan agar tidak menekan luka di tubuhnya.Dia duduk di ranjang sembari membaca buku, tapi tanpa sengaja tatapannya kini menatap dua paper bag yang berisikan kalung berlian mahal yang dibelikan Mathias. Tadi, pelayan memang meletakan dua paper bag itu di atas meja, dan jujur Hailey bingung ingin dibuat apa kalung itu. Pun selama ini dia tak pernah memakai perhiasan berlebihan atau terlalu mahal. Namun, menolak juga tak bisa. Hal yang dilakukan Hailey adalah pasrah terserah pada apa pun yang dilakukan Mathias.Efek suntikan bius lokal pada lengan kiri Hailey telah sirna sepenuhnya sejak sepuluh menit yang lalu, digantikan oleh reaksi obat pereda nyeri dosis tinggi yang mulai bekerja menyelimuti sistem sarafnya. Kepala Hailey terasa agak bera

  • Penjara Hasrat Cinta    Chapter 1. The Replacement

    Harum yang berasal dari bunga lili putih mahal telah berhasil memenuhi udara salah satu gereja yang ada di kota New York. Namun, sayangnya bagi Hailey Brantley aroma itu mendadak tercium seperti bau pemakaman yang seolah membuat otaknya menyadarkan bahwa dia berada di dunia yang tak seharusnya.Wan

  • Penjara Hasrat Cinta    Chapter 7. The Fragile Shield

    Butiran pasal perjanjian yang membuat kesesakan luar biasa bagi Hailey. Otaknya seakan benar-benar buntu, dan merasa kehidupannya telah habis tak tersisa. Dia memang masih ada di dunia, tapi itu seolah jiwanya saja. Sementara raganya sudah mati tepat di kala dia mengenal sosok Mathias Cameron.Lang

  • Penjara Hasrat Cinta    Chapter 6. The Platinum Shackles

    Hailey duduk dalam mobil dengan kegelisahan yang membentang dalam diri. Napasnya agak berat, dan tangannya saling menaut seperti menunjukkan ada rasa cemas. Orang biasanya suka dan merasakan kenyamanan duduk di mobil mewah, tapi berbeda dengan Hailey. Mobil mewah apa pun, jika bersama Mathias seaka

  • Penjara Hasrat Cinta    Chapter 4. Strings of Control

    Udara terasa berat oleh aroma tembakau mahal dan alkohol yang kuat. Asap mengepul, lalu perlahan hilang. Kesunyian membentang di ruang kerja megah milik Mathias Cameron. Tampak pria tampan itu duduk di balik meja kerjanya, melepaskan dasi kupu-kupu yang diletakan secara sembarang di lengan kursi ku

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status