Home / Romansa / Penjara Hasrat Cinta / Bab 6. Perjanjian

Share

Bab 6. Perjanjian

last update publish date: 2026-06-09 01:08:31

Hailey duduk dalam mobil dengan kegelisahan yang membentang dalam diri. Napasnya agak berat, dan tangannya saling menaut seperti menunjukkan ada rasa cemas. Orang biasanya suka dan merasakan kenyamanan duduk di mobil mewah, tapi berbeda dengan Hailey. Mobil mewah apa pun, jika bersama Mathias seakan seperti dirinya berada di dalam mobil jenazah—begitu mencekam dan menyesakkan.  

Dia berada di dalam mobil Range Rover Sentinel warna hitam metalik bersama Mathias. Sopir melajukan mobil, dan Hailey bersama Mathias duduk di kursi penumpang. Sebenarnya. aroma interior kulit mewah dan pengharum maskulin khas Mathias melebur menjadi satu membuat indra penciuman sadar bahwa berada di kemewahan, tapi sayangnya aroma itu terasa seperti gas beracun yang mencekik paru-paru Hailey.

Hailey tak bisa tenang di kala selesai sarapan harus menuruti Mathias. Entah ke mana pria itu pergi membawanya. Ingin rasanya dia bertanya lagi, tapi dia tak berani. Mengingat tadi saat sarapan, pria itu menjawabnya dengan sangat dingin, seakan dirinya bukan orang yang layak untuk banyak mengajukan pertanyaan.

Sesekali, wanita itu melirik Mathias yang hanya menatap lurus ke depan tak melihat ke arahnya sama sekali. Dia duduk di samping pria itu tanpa ada pembicaraan sedikit pun. Bahkan sopir saja melajukan mobil dengan serius tanpa ada suara—seakan sang sopir sudah banyak paham tentang keinginan Mathias.

Hailey memilih untuk melihat ke luar jendela, akibat merasa bingung harus melakukan apa. Bertanya tak bisa, membuka ponsel saja dia tak berani. Raut wajah Mathias benar-benar serius, seolah sedang ingin membawanya ke suatu tempat yang mengancam nyawa.

Saat kegelisahan dan rasa cemas melebur, mobil yang membawa Hailey akhirnya memasuki gedung pencakar langit di kawasan Tribeca, New York Mobil itu itu terparkir di lobi, dan petugas valet sigap untuk membukakan pintu.

Hailey bergeming di kala pintu sudah terbuka. Dia masih bingung kenapa Mathias membawanya ke gedung apartemen? Entah, dia tak mengerti apa sebenarnya yang ada di pikiran pria itu. Ingin bertanya pun dia tak bisa.

“Pintu sudah dibukakan, dan kau masih duduk di situ?” Mathias memberikan teguran seraya melayangkan mata birunya yang tajam.

Hailey gelagapan panik mendapatkan teguran keras dari Mathias. Buru-buru, dia turun dari mobil, dan tak lupa dia berterima kasih pada petugas valet yang sigap membukakan pintu mobil untuknya.

Mathias melangkahkan kaki masuk ke lobi, menuju lift unjung. Pria tampan itu memiliki tubuh yang tinggi dan gagah, membuatnya hanya melangkah satu saja sudah seperti Hailey sedang berlari kecil. Lihat saja sekarang Hailey menyusul Mathias bukan hanya berjalan biasa, tapi wanita itu sampai agak berlari agar bisa menghampiri pria itu.

Lift sensor sidik jari terbuka. Mathias masuk ke dalam lift, bersamaan dengan Hailey yang juga masuk ke dalam. Lagi, keheningan membentang, dan tak ada suara apa pun. Mathias melihat lurus ke depan, dengan aura wajah dingin dan menyeramkan. Sementara Hailey berdiri sambil memainkan kukunya.

Denting lift terdengar begitu tiba di lantai paling atas. Mathias lebih dulu keluar dari lift, dan Hailey segera menyusul. Ya, detik di mana pintu lift terbuka, raut wajah Hailey langsung berubah di kala Mathias membawanya ke penthouse yang memiliki desain elegan dan maskulin.

Tanpa harus banyak bertanya, orang bisa tahu bahwa pemilik penthouse ini adalah orang yang perfectionist, tegas, dominan, dan penuh arogan. Desaan warna hitam dengan abu-abu tua bercampur dengan silver dan ada beberapa pajangan warna merah menyala, membuat penthouse ini memiliki nilai sempurna.

Bulu kuduk Hailey agak meremang di kala memasuki penthouse itu. Ada pelayan menyambut, membungkukkan kepala ke hadapannya dan Mathias, tapi sambutan itu tak ditanggapi ramah oleh Mathias. Pria itu malah menggerakkan tangannya mengusir para pelayan seakan tak ingin diganggu.

“Kau duduk di sana,” tegas Mathias seraya melirik kursi di meja kaca panjang yang ada di ruang tengah.

Hailey mengangguk patuh, tanpa membantah sedikit pun. Dia duduk dengan tenang serta hati-hati di kursi yang ditunjuk oleh Mathias. Sementara Mathias masuk ke dalam ruangan yang entah ke mana arah maksud pria itu sebenarnya.

Saat Mathias tidak ada, rasa penasaran Hailey membentang. Dia kini berdiri melihat lukisan terpasang di dinding. Namun, bukan lukisan pemandangan seperti banyak orang. Lukisan yang terpajang ada beberapa gambar pria menancapkan pisau ke dada wanita. Ada juga lukisan wanita yang telanjang dan bagian payudara ditutupi oleh kedua tangan.

Napas Hailey sampai memberat, lukisan Mathias benar-benar membuat bulu kuduknya merinding. Pria itu sangat aneh. Tepatnya, dia bahkan tak bisa menebak isi kepala pria itu.

“Aku memintamu untuk duduk, kenapa kau malah melihat-lihat lukisanku?” Suara berat Mathias menyentak Hailey, sontak membuat wanita itu menoleh sambil menyentuh dadanya.

“K-kau menyejutkanku, Mathias,” ucap Hailey panik.

Mathias melangkah mendekat, dengan sorot mata dingin dan tegas. “Jiwa penasaranmu terlalu tinggi, Hailey,” balasnya lagi tajam.

Hailey menelan salivanya susah payah. “A-aku hanya melihat-lihat saja. L-lukisanmu bagus. Jadi, a-aku tertarik untuk melihatnya.” 

Mathias tak menanggapi pujian Hailey terhadap lukisannya itu. “Duduk, dan baca ini,” ucapnya sambil menyerahkan dokumen berwarna cream.

Hailey mengerutkan kening, duduk perlahan seraya menatap sebuah dokumen yang tergeletak di atas meja. “I-ini apa?” tanyanya penasaran.

“Buka dan baca sendiri,” tegas Mathias sambil duduk di hadapan Hailey.

Perlahan Hailey mulai membuka dokumen itu dengan tangan agak gemetar. Bukan tanpa sebab, dia gemetar karena merasa ada sesuatu. Bayangkan saja jantungnya sekarang bahkan berdebar tak karuan.

Saat dokumen sudah dibuka, mata cokelat terang wanita cantik itu mulai terbelalak terkejut melihat selembar perjanjia. Dia sampai agak meremas kertas itu akibat keterkejutan nyata yang tak bisa dia bantah.

SURAT PERJANJIAN PERNIKAHAN

Pihak Pertama     : Mathias Cameron

Pihak Kedua       : Hailey Brantley

Pasal 1: Kepatuhan Mutlak

Pihak Kedua wajib mematuhi seluruh perintah, instruksi, dan keinginan Pihak Pertama tanpa bantahan, baik dalam urusan sosial, maupun pribadi. Segala bentuk pembangkangan akan dianggap sebagai pelanggaran kontrak yang akan berujung mendapatkan hukuman yang hanya bisa ditentukan Pihak Pertama.

Pasal 2: Hak Ceraikan

Pihak Kedua tidak memiliki hak untuk mengajukan gugatan cerai atau pemisahan ranjang dalam kondisi apa pun. Hak untuk mengakhiri pernikahan ini sepenuhnya dan secara eksklusif berada di tangan Pihak Pertama. Waktu pernikahan ini berada di dalam tangan Pihak Pertama. Pihak kedua tidak akan pernah bisa mengatur apa pun.

Pasal 3: Hak Asuh dan Reproduksi

Apabila Pihak Pertama suatu saat menuntut adanya ahli waris, Pihak Kedua wajib menjalani prosedur kehamilan tanpa keberatan. Pun jika di masa depan Pihak Pertama ingin mengakhiri pernikahan di momen di mana sudah memiliki keturunan, maka hak asuh anak sepenuhnya berada di tangan Pihak Pertama.

Pasal 4: Kompensasi

Jika Pihak Pertama memerintahkan Pihak Kedua untuk pergi, Pihak Kedua akan menerima uang kompensasi sebesar $50,000,000 (Lima Puluh Juta Dolar AS). Setelah dana diterima, Pihak Kedua wajib menghilang dari kehidupan Pihak Pertama selamanya, dan dilarang muncul kembali di hadapan Pihak Pertama atau keturunannya.

Pasokan oksigen di tubuh Hailey benar-benar seakan lenyap di kala membaca isi perjanjian pernikahan gila itu. Kepalanya mendadak pusing luar biasa. Dia merasa dunia seolah berputar hebat. Kertas di tangannya pun terasa sangat berat, seakan tiap kata di sana adalah rantai yang mengikat lehernya.

“A-apa maksud semua ini, Mathias?” tanya Hailey dengan nada agak tercekat.

“Aku yakin kau sudah membaca dengan baik perjanjian di tanganmu,” jawab Mathias dingin.

Mata Hailey memanas, nyaris mengeluarkan air mata. Namun, mati-matian wanita itu menahan air mata agar tak tumpah. Otaknya berusaha mencerna bahwa ada sisi positif dari surat perjanjian yang tertulis, tapi sayang makin dia mencoba mencari sisi positif, yang dia dapatkan adalah sisi negatif bahkan sisi di mana yang seolah ingin menghancurkannya.

“Sebenarnya kau anggap apa aku ini, Mathias?” tanya Hailey dengan nada bergetar.

“Kau istriku. Itu fakta yang tidak bisa dibantah,” jawab Mathias sambil mengetukkan jemari kokohnya ke meja.

Hailey mencoba tenang, menatap Mathias dengan tatapan agak tajam. “Kontrak ini tidak akan pernah aku tanda tangani. Aku bukan pelacur yang bisa dengan mudah kau perilakukan sesukamu!” jawabnya dengan nada lantang. Entah, dia tak mengerti keberanian dari mana dia bisa berkata seperti ini.

Mathias tersenyum tipis mendengar apa yang dikatakan Hailey. Pria tampan itu kini bangkit berdiri, melangkah mendekat, dan seketika bayangan tubuhnya yang tinggi besar menyelimuti tubuh langsing Hailey. Dia mencengkeram dagu Hailey, memaksa wanita itu menatap mata biru gelapnya yang tidak menunjukkan setitik pun empati.

“Ayahmu saja sudah menjualmu padaku, kenapa kau bisa-bisanya mengatakan tidak mau menandatangani surat perjanjian ini, hm?” desis Mathias tajam, dan menusuk.

Air mata mulai jatuh di pipi Hailey, kata-kata Mathias seperti belati yang menusuk jantungnya. Dia menatap mata biru pria itu dengan tatapan rapuh, dan tatapan yang menunjukkan dia berusaha tegar. Cengkeraman tangan Mathias di dagunya cukup kuat, tapi dia tak merasakan sakit di fisik. Hal yang membuatnya sakit adalah surat perjanjian yang diberikan pria itu.

“Bagaimana kalau aku tetap tidak mau?” balas Hailey menahan pedih di dada.

Mathias melepaskan cengkeraman itu, dan menatap sinis Hailey. “Kau tahu? Ayahmu memiliki banyak utang padaku. Jika kau tidak menuruti apa yang aku inginkan, aku dengan mudah membuat keluargamu mati kelaparan atau bahkan aku bisa membuat kedua orang tuamu membusuk di penjara. Hailey, kejahatan ayahmu untuk menambah kekayaannya ada di tanganku. Kartu ayahmu berada di genggamanku. Kau tinggal pilih, kau ingin patuh, atau kau melihat keluargamu berada di ambang kehancuran?”

Air mata terus berlinang membasahi pipi Hailey. Perkataan Mathias seperti api yang berhasil membelenggunya. Andai saja dia bisa, dia ingin lari sekencang mungkin, tapi dia sadar bahwa dia tak bisa berlari. Dia sudah berada di sangkar emas yang menjeratnya.

“Kau benar-benar monster,” ucap Hailey lirih sambil menyeka air matanya susah payah. 

Mathias menyeringai puas, sambil mengangguk tanpa ragu. “You’re right. Even though I’m a monster, one thing remains true—you are mine. You can’t escape. And if you try to run, I will find you… and make sure you never run again.”

Hailey tertunduk dengan kerapuhan di wajahnya. Pertama kali dalam hidup dia bertemu dengan monster seperti Mathias Cameron. Orang bilang fisik Mathis buruk rupa, tapi fakta yang ada pria itu memiliki paras ketampanan seperti Dewa Yunani, dan hati yang sama dengan iblis.

Dalam keadaan hati yang hancur berkeping-keping, Hailey melihat pena tergeletak di atas meja. Dia tidak punya pilihan. Perlahan dia mulai mengambil pena itu, dan mulai membubuhkan tanda tangan di surat perjanjian.

“Kau puas, Tuan Cameron? Kemauanmu sudah aku turuti. Dan, ya, kau benar, kau memilikiku. Aku seperti barang atau bahkan peliharan yang mungkin berharga sekarang, dan tidak bernilai di masa depan,” ucap Hailey dengan mata yang kembali berkaca-kaca, menatap Mathias. “Satu hal yang harus kau tahu, jika ada kehidupan lagi di dunia ini, aku dengan sujud memohon pada semesta untuk tidak mempertemukanku dengan pria sekejam dirimu. Kau lebih dari monster. Kau bahkan melebihi iblis.”

Perjanjian itu diletakan kembali di atas meja bersamaan dengan pena. Tanda tangan telah dibubuhkan menandakan bahwa Hailey telah setuju. Air mata terus berlinang, tapi Hailey terus menyeka air matanya.

Mathias mengambil perjanjian itu, menatap jelas Hailey telah membubuhkan tanda tangan. Seringai di wajahnya terlukis, menunjukkan betapa puas dirinya mendapatkan apa pun yang dia inginkan.

“Harus kau tahu, jika ada kehidupan lagi di dunia ini, aku bahkan tidak tertarik bergabung. Cukup satu kali, dan aku pastikan semua yang aku mau aku dapatkan,” jawab Mathias sambil bangkit berdiri, dan melangkah pergi meninggalkan Hailey yang masih bergeming di tempatnya.

Mata Hailey terus menatap punggung Mathias yang mulai lenyap dari pandangannya. Tatapannya tersirat kosong, bayanganya penuh dengan terkaan. Faktanya Hailey masih bisa bernapas, tapi sebenarnya jiwanya benar-benar seakan mati. Menikah dengan pria seperti Mathias, tak pernah ada di daftar impiannya. Ini adalah mimpi buruk, yang ingin sekali Hailey akhiri. Sayangnya, dia telah terjerat ke dalam mimpi buruk itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penjara Hasrat Cinta    Bab 60. Di Bawah Kendalinya

    “Aku mengerti, thanks,” jawab Mathias singkat, mengabaikan tatapan Hailey yang menatapnya penuh tuntutan penjelasan. Pria itu tahu Hailey terus menatapnya dengan tatapan terkejut, tapi dia sengaja mengabaikan, membiarkan wanita itu bergelut dengan pikiran.“Baiklah, Tuan Mathias, ada beberapa obat tambahan yang saya berikan. Ada juga catatan untuk Nyonya Hailey agar perban tetap dalam keadaan bersih. Saya rasa pemeriksaan sudah cukup, apa ada lagi hal yang ingin Anda tanyakan, Tuan?” tanya sang dokter sopan.“Aku rasa sudah cukup. Thanks,” jawab Mathias lagi.“Dengan senang hati, Tuan. Anda bisa menghubungi saya kapan pun,” ucap sang dokter dengan senyuman sopan di wajahnya.Mathias mengangguk singkat, dan sang dokter segera pamit undur diri dari sana.“Mathias—”“Nash,” panggil Mathias pada sang asisten. Pria itu langsung memotong ucapan Hailey. Dia segera menatap

  • Penjara Hasrat Cinta    Bab 59. Tak Memberi Tahu Apa Pun

    “Tuan ….” Nash menghampiri Mathias yang hendak menuju ke ruang kerja. Dia tiba di mansion tuannya sambil membawakan dokumen, tujuan utamanya jelas membutuhkan tanda tangan tuannya itu. Hari ini, tuannya tak datang ke kantor, membuatnya mau tak mau harus menemui tuannya itu.Mathias menghentikan langkah. Tatapan mata pria itu yang tajam melirik Nash, melihat keberadaan dokumen di jemari sang asisten. Tanpa perlu banyak ucapan, dia mengulurkan tangan. Nash dengan cekatan menyerahkan berkas tersebut. Sementara Mathias membalik lembar demi lembar, membaca setiap klausul dengan kecermatan tingkat tinggi. Tepat setelah dia memastikan seluruh poin di dalamnya aman, jemarinya yang kokoh menggoreskan tanda tangan tegas di bagian bawah kertas.“Hari ini dokter akan memeriksa kondisi Hailey, kau jangan pergi dulu. Tunggu dokter selesai memeriksa kondisi Hailey,” titah Mathias dengan nada dingin, mengembalikan berkas itu ke dada Nash.

  • Penjara Hasrat Cinta    Bab 58. Rasa Penasaran Yang Harus Ditahan

    Suara berat yang tiba-tiba bergema membuat Hailey tersentak. Mathias sudah berdiri di ambang pintu, dan kini langkah kakinya yang tegap membawanya mendekati meja makan.Hailey membuyarkan lamunannya, menoleh menatap Mathias yang sudah duduk di kursi meja makan. “Kau makan di sini?” tanyanya, agak terkejut.“Ini rumahku. Aku bebas makan di mana pun yang aku mau,” jawab Mathias dingin, tanpa ekspresi berlebih di wajah tajamnya.Hailey menghela napas panjang, mencoba menoleransi nada bicara pria itu. “Aku tahu ini adalah rumahmu, maksudku, tadi aku pikir kau akan meminta pelayan mengantarkan makanan ke ruang kerjamu.”“Aku ingin makan di sini,” jawab Mathias singkat.Hailey memilih mengangguk perlahan, tak berniat memperpanjang perdebatan kecil itu. Dia kembali menikmati sarapannya. “Apa yang kau pikirkan tadi?” tanya Mathias lagi, tatapan matanya yang tajam seolah bisa menembus pikiran Hailey.“Tidak ada,” jawab Hailey pelan sambil mengunyah sarapannya.Mathias makin menatap wajah Hai

  • Penjara Hasrat Cinta    Bab 57. Apa Yang Kau Pikirkan?

    Pelupuk mata Hailey mulai bergerak perlahan, merespons rasa hangat yang menyapu wajahnya. Sinar matahari pagi yang menerobos celah gorden beludru tebal menjadi alasan utama kesadarannya perlahan terkumpul. Tepat saat kelopak matanya terbuka sepenuhnya, dia menggeliat pelan, menyerap sisa-sisa kantuk yang masih menggelayuti pikirannya. Denyut halus di lengan kirinya menyentakkan kesadarannya kembali ke realitas.Hailey terduduk perlahan di atas ranjang king-size yang terlalu empuk itu. Jemari wanita itu meraba perban tebal yang melilit lengan kirinya dengan amat hati-hati. Tatapan matanya yang sayu mulai mengedar ke sekeliling ruangan—kamar yang luas, mewah, tapi terasa begitu sunyi dan dingin. Seketika, detik itu dia menghela napas panjang.Kepingan memori semalam perlahan terkumpul. Dia ingat tadi malam, Mathias datang ke kamarnya, dan pria itu mendesaknya untuk segera tidur, padahal rasa kantuk sama sekali belum menyapa. Namun faktanya, dia tetap bisa tertidur lelap. Entah karena pe

  • Penjara Hasrat Cinta    Bab 56. Kau Adalah Tujuanku

    Tepat di kala lampu utama padam dan suasana kamar meredup drastis, kilatan cahaya putih samar menembus celah gorden tebal, disusul suara gelegar petir yang membahana dari luar jendela. Dentuman gemuruh itu bergema hebat, suaranya cukup keras hingga getarannya terasa seolah menembus dinding tebal mansion megah tersebut.Hailey tersentak kaget. Tubuhnya yang semula berbaring rileks mendadak tegang. Secara refleks karena terkejut dan ketakutan yang datang tiba-tiba, tangannya terulur di dalam kegelapan, meraba panik hingga jarinya menemui jemari lain dan meremas kuat tangan Mathias yang berada paling dekat dengannya. Cengkeraman jemari mungil itu begitu erat, memperlihatkan betapa tubuhnya bereaksi impulsif terhadap ancaman dari luar. Pencahayaan minim yang kini hanya bersumber dari lampu tidur temaram berwarna keemasan di atas nakas membuat penglihatan Hailey samar. Rasa terkejut bercampur pening akibat sisa obat pereda nyeri membuat Hailey tidak menyadari sepenuhnya bahwa jemari yang b

  • Penjara Hasrat Cinta    Bab 55. Kau Bisa Tidur Dengan Lampu Mati?

    Lampu kamar memantulkan bayangan samar di atas ranjang king-size berornamentasi mewah, tempat Hailey sedang duduk bersandar secara kaku. Wanita itu kini mengenakan gaun tidur sutra berwarna krem yang meluncur lembut di kulitnya, dipilihkan oleh pelayan agar tidak menekan luka di tubuhnya.Dia duduk di ranjang sembari membaca buku, tapi tanpa sengaja tatapannya kini menatap dua paper bag yang berisikan kalung berlian mahal yang dibelikan Mathias. Tadi, pelayan memang meletakan dua paper bag itu di atas meja, dan jujur Hailey bingung ingin dibuat apa kalung itu. Pun selama ini dia tak pernah memakai perhiasan berlebihan atau terlalu mahal. Namun, menolak juga tak bisa. Hal yang dilakukan Hailey adalah pasrah terserah pada apa pun yang dilakukan Mathias.Efek suntikan bius lokal pada lengan kiri Hailey telah sirna sepenuhnya sejak sepuluh menit yang lalu, digantikan oleh reaksi obat pereda nyeri dosis tinggi yang mulai bekerja menyelimuti sistem sarafnya. Kepala Hailey terasa agak bera

  • Penjara Hasrat Cinta    Chapter 4. Strings of Control

    Udara terasa berat oleh aroma tembakau mahal dan alkohol yang kuat. Asap mengepul, lalu perlahan hilang. Kesunyian membentang di ruang kerja megah milik Mathias Cameron. Tampak pria tampan itu duduk di balik meja kerjanya, melepaskan dasi kupu-kupu yang diletakan secara sembarang di lengan kursi ku

  • Penjara Hasrat Cinta    Chapter 3. The Cost of Replacement

    Pintu limusin tertutup dengan dentuman yang terdengar seperti palu hakim yang menjatuhkan vonis mati. Di dalam kabin yang kedap suara itu, keheningan terasa begitu berat, seolah oksigen telah diisap keluar, meninggalkan Hailey dalam ruang hampa yang menyesakkan.Hailey tak bisa tenang setelah resmi

  • Penjara Hasrat Cinta    Chapter 2. The Golden Cage at the Altar

    Langkah kaki Hailey terasa seberat timah saat menelusuri lorong panjang menuju altar gereja. Gaun pengantin cantik telah melekat di tubuh wanita itu, tapi sayangnya gaun itu terasa seperti kain yang mencekik. Tak ada raut wajah kebahagiaan, bahkan senyum pun tak sama sekali tampak. Padahal orang b

  • Penjara Hasrat Cinta    Chapter 1. The Replacement

    Harum yang berasal dari bunga lili putih mahal telah berhasil memenuhi udara salah satu gereja yang ada di kota New York. Namun, sayangnya bagi Hailey Brantley aroma itu mendadak tercium seperti bau pemakaman yang seolah membuat otaknya menyadarkan bahwa dia berada di dunia yang tak seharusnya.Wan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status