Share

Bab 4

Author: Dew Miller
last update Last Updated: 2021-10-02 00:37:19

Aku menelusuri jalan kecil di samping perpustakaan menuju area pertokoan dan restaurant yang berada beberapa blok di belakangnya. Jalan Maple di belakang perpustakaan adalah kawasan yang terkenal dengan restaurant dan café berdesain interior unik dan makanannya yang enak. Karena Ren sedang pergi mengurus asuransinya, untuk siang ini aku harus mencari makan siang sendirian.

Ada sebuah café mungil bercat mint yang baru buka. Kubaca papan tulis berisi menu yang ada di luar café saat kulihat sosok yang aku kenal berjalan keluar dari dalam café.

“Noah.”

Noah mengangkat kepalanya dari handphone yang diutak atiknya sambil berjalan. 

“Axel. Sedang apa kamu disini? “

“Aku mencari makan siang. “

Noah menatap papan menu yang ada di hadapanku. 

Cream soup dan garlic bread-nya enak.”

“Burgernya? “

“Mau coba? “

“Bukannya kamu mau pulang? “

“Aku masih lapar. Ayo. “

Kami masuk ke café disambut seorang pramusaji yang sepertinya adalah mahasiswi pekerja paruh waktu. 

“Selamat datang kembali.” Senyumnya mengembang lebar ke arah Noah. Noah tersenyum lalu duduk di kursi dekat jendela. “Kami mau double cheeseburger. Yang satu tanpa tomat. Yang satu extra saus pedas. Lalu cream soup dan garlic bread.” Noah mengalihkan pandangannya dari menu. “Minum? “

Orange juice. “

“Dua orange juice. “ 

Gadis itu mengangguk dengan senyum lebar lalu pergi. Aku geleng-geleng melihat sikapnya. Meskipun aku sudah sering melihat sikap lawan jenis kami setiap kali mereka berhadapan dengan Noah, tapi tak urung aku masih merasa lucu melihat tingkah gadis tadi.

Noah memang tampan. Tidak hanya kaum wanita yang terang-terangan menunjukkan kekaguman mereka, kami kaum lelakipun mengakuinya. Noah memiliki tubuh tinggi dan langsing namun berotot dengan pembawaan yang sangat percaya diri. Menjurus angkuh. Ia juga memiliki lidah yang tajam yang semakin menambah kesan angkuh pada dirinya.

“Ah, sepertinya hari ini hujan lagi.”

Aku menghentikan lamunanku dan ikut menatap keluar jendela. Awan gelap menggantung di langit sebelah barat. Kualihkan pandanganku ke Noah. Wajahnya terlihat masam. Noah memang sangat tidak suka hujan.

“Apa sih yang membuatmu tidak suka hujan? “

“Siapa yang bilang aku tidak suka hujan?”

“Kamu selalu mengomel setiap kali musim hujan. “

“Apa itu artinya aku tidak suka hujan? “

“Kalau bukan lalu apa?”

“Aku hanya tidak suka basah. “

“Apa kamu kucing? “ 

Noah menyeringai sebagai jawabannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penjelajah Benak   Bab 102

    Aku mengulurkan tanganku berniat menyentuh ranting di dekatku ketika tiba-tiba angin kencang berhembus memutari pohon Pirua dari atas kebawah. Membawa serta seluruh dedaunan sehingga hanya menyisakan pohon dengan rantingnya.Saat dedaunan tersebut mencapai langit bebas, tiba-tiba angin yang membawanya berhenti berputar. Dedaunan yang sebelumnya membumbung tinggi berjatuhan bagai hujan. Dan suara itu kembali terdengar, menggema berulang-ulang tak hanya di telingaku tapi juga di kepalaku.“Dengarkan.”Aku menghela nafas dan membuka mata.Mimpi yang sama lagi. Mimpi yang kualami selalu memberiku kenyamanan namun saat terbangun aku selalu merasa ada sesuatu yang kurang.Kuletakkan punggung tanganku menutupi mata, menghalangi cahaya matahari yang menyinari wajahku melalui jendela yang terbuka. Sudah lima hari ini aku memimpikan mimpi yang sama tapi baru hari ini dedaunan pohon pirua berguguran seperti tadi.Dan suara itu, kali ini bahkan saat aku sudah bangun-pun masih bisa kudengar dengan

  • Penjelajah Benak   Bab 101

    “Apa maksudmu tadi? “ protesku pada Flaresh setelah hanya ada kami. Kami berkumpul di kamarku dan Esen.“Apa?” Tanyanya.“Aku tidak ingat Ratu Samirana mengatakan apa yang kau katakan.”“Benarkah? “ Flaresh mengangkat bahu acuh. “Hmm.. Mungkin ia mengatakannya hanya padaku.”“Flaresh. “ Aku berniat protes tapi nada suara yang keluar dari bibirku setengah merajuk. Ia telah meletakkan beban yang sangat berat di pundakku.“Kata-katamu bisa membuat Putri Kaya menaruh harapan padaku! Bagaimana kalau nanti aku tidak bisa mendengar apapun? Bagaimana jika aku tidak bisa membantu mereka? Aku tidak mau mereka terlalu berharap padaku dan berakhir mengecewakan mereka. “Flaresh menghela nafas tak sabar.“Apakah kau tidak cukup yakin dengan kemampuanmu? Apakah kau tidak yakin kau bisa mendengar Raja Vathu? Kukira kau sudah berlatih di Hutan Seda. Apa kau yakin kau berlatih dan bukannya bertamasya di sana? “Aku melongo mendengar rentetan kata-katanya yang tajam dan menyakitkan lalu teringat hari-h

  • Penjelajah Benak   Bab 100

    Kuletakkan telapak tanganku di lengannya yang kemudian kugenggam erat. Kupusatkan seluruh perhatian dan pikiranku padanya. Berusaha mendengar apa yang ada di kepalanya, apa yang ingin dikatakannya. Tapi yang dapat kudengar hanya suara yang sangat samar dan terdengar jauh.Selama waktu yang cukup lama aku berusaha mendengarkannya tapi sia-sia. Aku tidak mendapat satu katapun yang bisa kupahami atau kumengerti.Kubuka matakuAku memandangi Raja Vathu lalu melihat tangannya yang memegang dada. Ah, mungkin dengan memegang tangannya, seperti yang biasa kulakukan saat mendengarkan pikiran orang lain, akan membuatku bisa mendengar lebih jelas. Aku segera merubah posisi badanku dan menyentuh tangan kiri Raja Vathu. Kututup mataku rapat-rapat. Kukosongkan pikiranku dan hanya terpusat padanya. Tapi sama saja. Yang kudengar hanya suara samar yang asing. Agak sedikit lebih jelas tapi tidak satu katapun yang kudengar atau kutangkap.Aku mengangkat kepalaku, memutar keras otakku. Berusaha mencari ca

  • Penjelajah Benak   Bab 99

    “Apakah Lord Enki sudah kembali?”Hari ini kami ditemui penjaga yang sama seperti di hari pertama kami tiba.“Ya. Tapi hari ini ia tidak bersedia menemui siapapun karena masih ada urusan yang belum terselesaikan dari perjalanan kemarin. Jadi kalian kembalilah besok.”Aku mendesah tak senang.“Tapi beliau tahu bahwa kami datang kan?”“Ya. Karena itu kalian besok akan kami beri kabar saat Lord Enki siap menerima kalian.”“Tapi benar-benar besok kan?” Aku mulai kehilangan kesabaranku. Selalu begini setiap kali kami ingin bertamu di Dharana. Padahal kali ini bukan kami yang ingin datang. Tapi masih saja kami dipersulit.Penjaga itu mengangguk.Mau tak mau kami pun beranjak pergi. Bagaimanapun kami tidak punya pilihan lain.Dan panggilan ke istana itu benar-benar datang keesokan harinya. Tepat disaat hidangan makan siang Pratvi baru saja disajikan di meja. Pikiran dan perutku berseteru. Kedongkolanku semakin memuncak jadinya.Tapi mau tak mau kami harus segera berangkat ke istana. Takut ji

  • Penjelajah Benak   Bab 98

    “Kapan sebaiknya kita ke istana?” Tanya Ashlyn setelah kami selesai makan.“Jika dilihat dari mendesaknya pesan yang diterima Raja Narawana harusnya kita sewaktu-waktu bisa langsung ke istana bukan?” Jawabku. “Bagaimana kalau nanti sore setelah kita isirahat?”“Apa kau pikir pesan itu masih bisa kita jadikan acuan jika kita datang hampir tujuh hari terlambat dari waktu yang seharusnya?” Kata-kata Lynx membuat kami semua langsung menyadari posisi tidak menguntungkan yang kami hadapi.“Lalu?”“Lebih baik kita kesana besok. Malam ini beristirahatlah sebaik mungkin. Hemat tenaga kalian. Kita tidak tahu apa yang menunggu kita di istana.”“Kita menginap disini saja kalau begitu.”“Ya. Itu pilihan terbaik yang kita punya.”Keesokan harinya kami berangkat ke istana setelah menghabiskan semua masakan Pratvi. Matahari bersinar hangat saat kami berhenti di pos penjagaan. Melaporkan maksud kedatangan kami.“Kami ingin bertemu Lord Enki.” Kataku. Penjaga di hadapanku melihatku dari atas ke bawah l

  • Penjelajah Benak   Bab 97

    Kami sedang bersiap saat Flaresh datang. Hanya beberapa menit setelah gerimis benar-benar berhenti. Hujan turun semalaman membuat kami tidur sangat nyenyak dan bangun lebih siang.“Ayo.”Aku memandangnya dengan kesal. Kemana saja dia. Kenapa datang-datang main perintah seenaknya.Tapi tak urung kami mempercepat pekerjaan kami dan dalam sesaat sudah berada di atas kuda, siap memulai kembali perjalanan. Dengan kecepatan penuh kami memacu kuda dan lewat tengah hari kami sudah memasuki Dharana.Pemandangan serba putih yang familiar menyambut kami.“Bagaimana kalau kita makan siang di tempat Pratvi? Kita bisa sekalian istirahat sebelum ke istana.” usul Ashlyn.“Ayo, ayo. Aku ingin menikmati kue berlapis madunya yang lezat.” Kata Firroke.“Hmmm.. Sepertinya menarik. Memang sudah waktunya kita makan siang.” Kata Esen. “Bagaimana, Lynx?”Lynx mengangguk.“Tentu saja.”“Tunjukkan jalannya Ash.”Ashlyn mengangguk lalu memacu Tashi sedikit lebih cepat, memimpin rombongan.“Kalian pasti akan suka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status