Share

Bab 3

Author: Richy
Di depan orang sebanyak ini, aku tidak hanya harus melepas celana, tetapi juga harus memasukkan alat ini ke dalam.

Memikirkannya saja sudah mengerikan.

"Bos, yang ini benar-benar nggak bisa didemonstrasikan. Apa Anda bisa suruh orang lain saja?"

Sikap bos sangat keras. Dia bilang aku harus melakukannya, kalau tidak, gajiku akan dipotong.

Karena tidak bisa melawan, di hadapan semua orang, aku pun perlahan-lahan melepaskan celanaku.

Saat aku menunduk, aku baru menyadari bahwa celana dalamku sudah basah kuyup.

Para pria yang melihat pemandangan ini tampak terpana. Ternyata aku adalah tipe wanita yang sangat mudah terangsang.

Dalam pikiran mereka, mungkin aku sudah "digarap" puluhan kali.

Aku sedikit membuka kedua kakiku di hadapan semua orang.

Perlahan, aku mulai memasukkan alat pembersih itu ke dalamnya.

Tubuhku yang tadi sudah sangat gatal karena diraba, kini saat ada sesuatu yang masuk, seluruh sel di tubuhku seolah meledak dalam sensasi kenikmatan.

"Uh, e-enak sekali ...."

Namun, sensasi ini masih jauh dari cukup. Yang kuinginkan bukanlah plastik dingin, melainkan sentuhan manusia yang hangat.

Para pria yang menonton sampai meneteskan air liur. Mereka merasa hidup mereka kalah berharga dibandingkan alat pembersih itu.

Melihatku begitu totalitas mendemonstrasikan produk, para pelanggan pun beramai-ramai membeli. Bos sangat bahagia melihat hasil penjualan hari itu.

Aku menarik napas panjang, akhirnya semua berakhir. Tubuhku pun bersimbah keringat.

Namun di dalam hati, aku merasa ada kekosongan yang sangat ingin diisi.

Saat itulah, tiga orang pria menghampiriku.

Mereka memperkenalkan diri, "Kami sudah menikah, tapi istri kami nggak kunjung hamil. Apa kamu bisa mengajari kami posisi apa yang paling mudah untuk membuat istri kami hamil?"

Aku bahkan belum pernah menikah, mana paham soal itu. Aku segera menggelengkan kepala.

Namun, ketiga pria itu tetap bersikeras, "Tolong ajari kami sebentar saja, berapa pun biayanya nggak masalah."

Mendengar kata-kata itu, bos segera menghampiri dengan wajah penuh senyum.

"Di toko kami ada pengajaran khusus mengenai posisi untuk kehamilan. Tapi nggak bisa kalau dilakukan di aula. Mari ikut saya ke ruangan kecil."

Setelah bicara, dia menarikku dan menyeretku paksa masuk ke sebuah ruangan kecil yang biasa digunakan sebagai gudang.

Aku yang bekerja di sini tentu tahu bahwa tidak ada yang namanya pengajaran posisi kehamilan.

Bos hanya orang yang mata duitan dan ingin aku memuaskan hasrat para pelanggan.

Aku memberontak dengan keras, tetapi bos tetap mengunci aku di dalam ruangan bersama ketiga pria tersebut.

Ketiga pria ini tidak lagi berpura-pura. Mereka langsung menanggalkan celana dan berjalan ke arahku.

Astaga!

Ukuran mereka sangat besar, jauh lebih kokoh dibandingkan alat pembersih tadi.

Tidak terbayangkan betapa nyamannya jika digunakan.

Namun, aku masih seorang gadis perawan, aku tidak ingin tubuhku kotor begitu saja.

"Jangan mendekat! Aku nggak pernah setuju untuk ini!"

Aku mundur selangkah demi selangkah hingga punggungku membentur tembok. Tidak ada jalan keluar lagi.

Ketiga pria itu mengepungku!

Jantungku berdebar kencang, dan kakiku mulai lemas tak terkendali.

"Bosmu menyuruhmu mengajari kami posisi, begini caramu mengajar?"

Setelah berkata demikian, satu orang menahanku, sementara yang lain merenggut celanaku dengan kasar.

Jantungku serasa mau copot. Aku berdiri polos menghadapi kemaluan mereka yang menegang hebat.

Benda itu hanya berjarak satu sentimeter dariku, aku bahkan bisa merasakan hawa panas darinya.

Tubuhku yang payah ini kembali mulai mengeluarkan cairan.

"Ja-jangan ... tiga orang itu terlalu banyak, aku takut nggak sanggup menahannya!" ucapku ketakutan sambil menatap mereka.

"Wanita binal sepertimu nggak mungkin nggak sanggup. Justru kami yang takut kalau kamu makan habis."

"Benar, tadi di aula saja kamu berani memasukkan alat itu. Melihat celana dalammu yang basah, kamu pasti sangat menginginkannya."

Kemudian, dua pria mengangkat kedua kakiku di kiri dan kanan, sementara pria lainnya memegang pinggangku.

Pinggulku seketika terangkat di udara, dan bagian bawahku terekspos tanpa perlindungan di hadapan mereka.

Ini pertama kalinya aku merasakan sensasi melayang karena diangkat, dan seketika aku merasa sangat mendamba.

Dengan ekspresi erotis aku berkata, "Kumohon jangan ... aku takut akan rusak karena kalian."

"Aku nggak peduli."

Detik berikutnya, dia menghunjamku dengan kuat!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penjualan Spesial Sang Wanita Muda   Bab 7

    Melihat wajahnya yang berubah mengerikan, aku justru tertawa. "Coba tebak, ada berapa salinan cadangan yang sudah kubuat?"Dia tertegun sejenak. Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk menghantam perutnya dengan lututku. Pria itu mengerang kesakitan dan melepaskan tangannya. Aku segera merangkak ke bawah rak untuk mengambil USB itu. Saat ujung jariku menyentuh plastiknya yang dingin, kaki bos langsung menginjak tanganku."Cari mati!" Dia menginjak USB itu dan menggilasnya dengan kuat.Aku menatapnya dengan pandangan penuh tekad, tanpa ada rasa takut sedikit pun. Aku menerjang kakinya hingga dia kehilangan keseimbangan dan jatuh menabrak rak. Kaleng susu bubuk dan tumpukan popok jatuh menimpanya. Aku pun memanfaatkan momen itu untuk mengambil USB dari bawah kakinya, lalu tanpa berpikir panjang, aku memasukkannya ke dalam mulut dan menelannya.Dia bangkit sambil memegangi pinggangnya, menatapku tidak percaya. "Kamu ... kamu sudah gila!""Memang aku sudah gila," sahutku sambil mengusap dara

  • Penjualan Spesial Sang Wanita Muda   Bab 6

    "Nggak ada apa-apa, datanya cuma belum tersimpan dengan benar," sahutku sambil berbalik. Wajahku memamerkan senyum profesional, tetapi suaraku sedingin es. Bos mengenakan kemeja dengan dua kancing atas terbuka, memperlihatkan perutnya yang buncit. Matanya menyisir seluruh tubuhku dan terpaku pada tanganku yang mencengkeram tas."Akhir-akhir ini kondisi toko sedang nggak tenang," katanya sambil mendekat dan meletakkan tangannya di sandaran kursiku. Jaraknya begitu dekat hingga aku bisa mencium bau rokok dari tubuhnya. "Ada yang menyebarkan rumor bahwa toko kita melakukan praktik asusila, menjual barang dewasa secara sembunyi-sembunyi."Jantungku berdegup kencang, cengkeramanku pada tas itu semakin kencang. Dia sudah menyadarinya secepat ini? Sebelumnya, aku tidak sengaja menemukan produk dewasa dengan kemasan tersamar di sudut gudang, lengkap dengan mainan sensual berlabel "interaksi orang tua-anak". Barang-barang itu jelas ilegal untuk toko perlengkapan bayi. Aku sudah mengambil fot

  • Penjualan Spesial Sang Wanita Muda   Bab 5

    Setelah kejadian itu berakhir, ketiga wanita tersebut membawa suami mereka masing-masing pulang. Pameran hari itu pun selesai. Bos menghitung hasil penjualan dan mendapati keuntungannya lebih besar daripada pendapatan selama setengah tahun. Dia pun tersenyum sangat lebar.Malam harinya, saat bos sedang duduk di meja kasir menghitung pembukuan, aku menghampirinya dengan tubuh yang sangat lelah. "Bos, aku mau undurkan diri. Aku nggak mau bekerja lagi di sini," ucapku pelan.Mendengar hal itu, dia mendongak menatapku. "Undurkan diri? Perusahaan sedang berada di masa puncak. Apa kamu tahu seberapa besar kerugian yang akan dialami perusahaan kalau kamu berhenti sekarang? Kalau kamu berani berhenti, jangan harap gaji tahun ini akan cair!"Aku terdiam. Bos ini sudah menahan gaji kami selama setengah tahun dengan alasan akan dibayarkan di akhir tahun. Saat ini, aku bahkan hampir tidak bisa membayar sewa kamar dan masih memiliki cicilan pinjaman online. Jika gaji tidak dibayarkan, aku ti

  • Penjualan Spesial Sang Wanita Muda   Bab 4

    Tepat di saat aku menahan napas, menantikan sensasi seperti apa yang akan kurasakan, tiba-tiba terdengar teriakan nyaring dari balik pintu."Cepat buka pintunya! Di mana suamiku? Cepat serahkan suamiku!"Disusul kemudian oleh suara dentuman botol kaca yang pecah berserakan. Mendengar hal itu, ketiga pria tadi seketika pucat pasi karena ketakutan. Mereka bergegas mengenakan pakaian dan celana masing-masing, lalu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.Aku masih merasa bingung saat melihat mereka membuka pintu dan berjalan keluar sambil tersenyum lebar."Sayang, aku di sini."Ternyata, tiga orang wanita yang telah datang ke toko itu adalah istri dari ketiga pria tadi. Kedatangan mereka yang tiba-tiba di saat krusial ini, jujur saja membuatku merasa sedikit kecewa. Ketiga wanita ini bisa menikmati tubuh kekar itu setiap hari, alangkah bahagianya mereka.Di luar ruangan, mereka mulai bertengkar hebat. "Apa yang kalian lakukan di dalam sana? Jiwa suamiku sampai terpikat olehmu, kamu har

  • Penjualan Spesial Sang Wanita Muda   Bab 3

    Di depan orang sebanyak ini, aku tidak hanya harus melepas celana, tetapi juga harus memasukkan alat ini ke dalam. Memikirkannya saja sudah mengerikan."Bos, yang ini benar-benar nggak bisa didemonstrasikan. Apa Anda bisa suruh orang lain saja?"Sikap bos sangat keras. Dia bilang aku harus melakukannya, kalau tidak, gajiku akan dipotong. Karena tidak bisa melawan, di hadapan semua orang, aku pun perlahan-lahan melepaskan celanaku. Saat aku menunduk, aku baru menyadari bahwa celana dalamku sudah basah kuyup.Para pria yang melihat pemandangan ini tampak terpana. Ternyata aku adalah tipe wanita yang sangat mudah terangsang. Dalam pikiran mereka, mungkin aku sudah "digarap" puluhan kali.Aku sedikit membuka kedua kakiku di hadapan semua orang. Perlahan, aku mulai memasukkan alat pembersih itu ke dalamnya.Tubuhku yang tadi sudah sangat gatal karena diraba, kini saat ada sesuatu yang masuk, seluruh sel di tubuhku seolah meledak dalam sensasi kenikmatan."Uh, e-enak sekali ...."Namun,

  • Penjualan Spesial Sang Wanita Muda   Bab 2

    Sekujur tubuhku terasa gatal luar biasa, dan ada hawa panas yang membara di dalam diriku. Para pria di depanku menatap dengan pandangan kosong, berkali-kali menelan ludah mereka sendiri. Bos di sampingku terus mendesak."Cepat jelaskan fiturnya! Ayo bicara!"Aku sudah hampir meleleh karena rangsangan ini, mana mungkin aku punya energi untuk melakukan presentasi produk. Aku hanya bisa mengencangkan seluruh tubuh, menahan rasa geli yang merasuk hingga ke sumsum tulang sambil menjelaskan produk kepada pelanggan."Produk ini ... lembut dan tidak melukai kulit, sangat ramah bagi para ibu ...."Karena tubuhku terus bergejolak, kata-kataku mulai melantur. "Uh ... ah ... produk ini rasanya seperti suami Anda yang sedang mengisap, gatal sekali. Aku mau banget!"Begitu kata-kata itu keluar, aku segera sadar bahwa aku salah bicara. Namun, kulihat ekspresi para pelanggan justru penuh dengan rasa penasaran dan hasrat. Bos yang melihat hal itu, juga menyadari bahwa para pelanggan sangat tertar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status