Share

Perasaan

Suatu hari, ada permintaan kunjungan untuknya. Setelah menelan banyak prasangka, dari lubuk hatinya ia berharap orang tuanyalah yang datang.

Namun ia salah.

Dalam ruangan ini, ia hanya melihat satu sosok. Wanita dengan setelan formal yang rapi dan itu jelas bukan mamanya. Cahaya yang sempat berkilau di matanya kembali redup, ekspresinya berubah semakin dingin.

Wanita ini, ia tahu. Seorang pengacara terkenal, Kamila Erdogan, ibunya Brian.

Tatapan mereka segera bertemu. Dari Ariel masuk ke ruangan sampai duduk di depannya, ia tidak melepaskan pandangannya. Pandangan dari dua manik tajam itu menguarkan tatapan mencemooh, benci, geram. Tapi jelas, dengan postur tubuh dan ekspresi wajah itu, ia masih menjaga ketenangan dan martabatnya dari menyerang orang di hadapannya.

"Kau tidak tampak terkejut? Kau pasti tahu siapa aku."

Ariel menjawab dengan kebisuannya. Ya, ia tahu. Ia pernah melihat foto wanita ini di ponsel Brian. Brian pernah membicarakan tentang ibunya yang seorang pengacara hebat, tentang ibunya yang sangat ketat dalam mendisiplinkannya, tentang ia yang ingin menjadi seperti ibunya. Ditambah, selama persidangan, Ariel juga melihatnya.

"Kau tampak baik-baik saja." Ada nada menyindir dalam perkataannya.

Ariel tidak terkejut akan hal itu. "Begitukah?" Hanya karena ia tampak baik-baik saja bukan berarti tidak ada apa-apa. Tahukah orang ini bahwa ia merasa sesak sampai mati?

"Jangan khawatir, aku tidak akan membiarkannya terlalu lama. Kehidupanmu yang membosankan dalam penjara akan segera berubah."

Berubah? Apa orang ini merencanakan sesuatu? Berusaha membuatnya menderita? Dengan cara apa? Menyewa beberapa orang untuk menyiksanya? Pemikiran ini terdengar lucu di benak Ariel, benar-benar hiburan di tengah padang gurun. Tanpa sadar ia tertawa miris.

Tapi di mata Kamila, tindakan Ariel barusan adalah penghinaan. "Kau bahkan berani tertawa. Tidak masalah, tertawalah selagi bisa. Nikmatilah sebelum kau kehilangan segalanya."

Sebelum ia kehilangan segalanya? Bagi Ariel, sudah tidak ada yang tersisa dalam hidupnya.

"Jangan kira kau bisa menjalani hidup yang mulus dalam penjara. Karena aku akan terus memburumu, kau tidak bisa lari. Aku akan mendatangkan semua rasa sakit dan penderitaan Brian kepadamu sampai kau berpikir untuk mati. Tapi bahkan jika kau meminta kematian, aku masih tidak akan memberikannya. Aku akan menyiksamu sampai akhir hidupku."

Kata-kata yang penuh amarah dan ambisi itu, Ariel tahu, itu adalah cinta ibu. Ibu mana yang rela kehilangan anak satu-satunya dengan begitu tiba-tiba? Ibu mana yang rela nyawa anaknya melayang di tangan orang? Tidak ada!

Ariel tahu alasan di balik kemarahan itu. Ariel tahu dasar dari kebencian mendalam itu. Tapi sayangnya, orang ini meluapkan emosi ke orang yang salah.

"Tante." Setelah diam cukup lama, untuk pertama kalinya setelah ia tiba di tempat ini, Ariel mengeluarkan suaranya. "Anda menyasar orang yang salah."

Perkataan Ariel bagaikan minyak yang disiram ke api, membuat hati Kamila semakin berkobar. "Kau masih menyangkalnya? Kau membunuh Brian! Kau membunuhnya!"

Raut ketenangan di wajah Kamila telah hilang sepenuhnya, digantikan oleh merah dan otot-otot yang tegang.

"Sebagai seorang pengacara yang mengerti hukum, saya yakin tante tahu kalau tidak ada bukti konkret yang menunjukkan akulah pelaku yang membunuh Brian. Saya juga yakin kalau tante tahu ada banyak lubang dan celah dalam proses penyelidikan, tapi tante memilih untuk menutup semua kemungkinan dan sebagai gantinya melemparkan semua tuduhan kepada saya."

"Diam!" Kamila menggebrak meja di depannya. "Jangan coba-coba memelintir fakta. Semua bukti sudah jelas. Kau pembunuh Brian. Apa ada alasan lain kenapa Brian mati di dalam kamar apartemenmu? Tidak peduli apakah kau sengaja melakukannya atau tidak, aku tidak akan pernah melepaskanmu."

"Saya tahu." Ariel masih mempertahankan ketenangannya. "Anda hanya membutuhkan orang untuk disalahkan."

"Kau-"

Ariel tidak memberikan kesempatan kepada Kamila untuk berbicara lagi. Ia segera berdiri, melemparkan kata-katanya lebih dulu.

"Tidak peduli apa yang Anda percayai, itu tidak akan mengubah fakta apapun." Ariel mendekatkan wajahnya, memberikan tatapan tegas. "Selagi Anda membuang seluruh tenaga untuk menargetkan saya, pembunuh yang sebenarnya masih berkeliaran bebas di luar sana."

Tanpa menghabiskan waktu lagi, Ariel langsung berbalik meninggalkan ruangan dan memberikan kalimat singkat pada penjaga. "Kami sudah selesai bicara."

Ia berjalan dengan langkah cepat, mengepalkan tangan di kedua sisi tubuhnya, menahan emosi yang tiba-tiba meluap. Sial! Sial! Sial! Disalahpahami oleh semua orang benar-benar membuatnya merasa kecil dan tidak berdaya. Mengapa segalanya tidak adil untuknya?

Ariel pergi ke kamar mandi umum, mengguyur tubuhnya dengan air guna menjernihkan kembali pikirannya, tapi gagal. Perasaan ditinggalkan oleh dunia begitu mendominasi, membenamkan pikirannya ke dalam angan-angan tak masuk akal. Andai saja, jika saja, kalau saja, mungkin saja... Semuanya semakin membuat hatinya tertekan.

Malam itu ketika ia keluar dari sana, sekelompok orang yang terdiri dari lima tahanan wanita mencegat jalannya. Dari cara mereka mengejek dan memperlakukan, jelas jika mereka sengaja mencari masalah.

Tumpukan emosi yang Ariel pendam belakangan ini seakan-akan disulut, seolah-olah ia mendapatkan sarana untuk melampiaskan. Tanpa perlu menerima perundungan lebih lama lagi, Ariel langsung menarik kerah orang di depannya tanpa aba-aba. Ia seperti kerasukan, memukul mereka tanpa ampun. Beberapa yang cukup sadar situasi segera menyingkir ke sudut, sementara yang masih tinggi hati terus mencoba melawan, tapi sia-sia.

Kejadian itu segera menarik perhatian. Tahanan lain yang sedang mendapatkan waktu istirahat mereka untuk membersihkan diri tidak menyia-nyiakan drama di hadapan mereka. Kendati orang yang dipukul itu tampak mengenaskan, mereka tidak berani mendekat apalagi melerai. Melihat tatapan dingin dan aura membunuh yang terpancar dari si pelaku pemukulan, mereka lebih memilih untuk menjadi penonton pasif, tidak mau ikut campur.

Ariel kehilangan kendali emosinya. Ia membutuhkan samsak. Kemudian beberapa orang melemparkan diri mereka ke hadapannya dan Ariel menangkap kesempatan ini. Ia masih cukup sadar untuk tidak membuat tuduhan padanya menjadi kenyataan. Jadi ketika orang yang ia jepit di bawahnya sudah hampir pingsan, ia berhenti, membenamkan pukulan terakhir ke lantai di samping kepala orang itu.

Tak lama kemudian, penjaga lapas datang menariknya menjauh dari orang yang sudah babak belur itu kemudian membubarkan kerumunan.

Karena keributan yang ia ciptakan, Ariel dibawa ke ruang isolasi, ruangan yang lebih sempit, gelap, dan hanya ada satu sumber cahaya dari lampu lorong yang menyorot lewat jeruji kecil di bagian atas pintu.

Ariel duduk bersandar di dinding, memeluk lututnya. Perasaan yang sudah dipendamnya lama kini lepas, meluap. Ia membenamkan kepala di antara lutut, menangis, menumpahkan seluruh sesak dan kesalnya pada dunia.

Ia tidak baik-baik saja.

Ia dituduh atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan. Karenanya, ia harus mendekam di penjara untuk waktu yang sangat lama, waktu yang tidak terbayangkan bagaimana ia akan melaluinya. Karenanya, ia akan dicap sebagai pembunuh oleh semua orang. Karenanya, keluarganya pasti kesulitan. Bagaimana jika para tetangga menggunjing orang tuanya, bagaimana jika keluarganya didiskriminasi oleh masyarakat?

Karenanya, masa depan yang telah ia rencanakan runtuh dalam sekejap mata. Perjuangannya menempuh pendidikan bertahun-tahun akan sia-sia. Perjuangan orang tuanya membesarkannya juga sia-sia. Pengorbanan dan kasih sayang keluarganya juga menjadi sia-sia.

Hanya sedikit, sedikit lagi ia bisa menamatkan kuliahnya, ia bisa mendapatkan gelar sarjana yang menjadi dambaan keluarganya, kebanggaan orang tuanya. Hanya sedikit lagi sampai ia menyelesaikan studinya di program bahasa dan sastra. Tetapi itu pun akan sia-sia. Pihak kampus pasti sudah mengeluarkannya, tidak ada lagi kampus yang mau menerimanya.

Itu pun kalau ia bisa keluar dan punya kesempatan.

Tetapi kesempatan itu pun sudah tiada. Jadi, apa arti masa depan baginya. Ia hanya ingin lulus dan mendapatkan pekerjaan yang baik, membuat orang tuanya tidak perlu lagi bekerja keras mencari nafkah. Dan impian sederhana yang tampaknya mudah itu sekarang telah mustahil ia wujudkan.

Apa ini adil? Apakah Tuhan adil?

Melihat hanya ada kegelapan dan suram di depan, Ariel menghabiskan sepanjang malam itu dengan menangis, membiarkan semua kekhawatiran dan kekecewaannya meluap bersama air mata.

Dalam kekalutan itu, hanya ada satu kalimat yang membuat kewarasannya senantiasa terjaga. Semua kesulitan ini pasti akan berlalu.

Bersambung

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status