Mag-log in
“Tuan Muda, kita sudah sampai di akademi.”
Sosok itu perlahan turun dari kereta kuda. Diedarkannya pandangan ke sekeliling, mengamati bangunan megah di hadapan. Lambang Kekaisaran terukir di atas ujung genteng, plakat mengukir sebuah nama “Nobilis Akademi” di atas aula utama pintu masuk akademi.
Pandangannya beralih ke arah orang-orang yang berlalu-lalang. Kereta mewah datang silih berganti, mengantarkan para tuan muda dari keluarga bangsawan untuk memulai ajaran baru.
“Ini barang bawaan Anda, Tuan Alden,” ucap si pelayan.
Sosok itu mengangguk. "Pergilah ke rumah yang sudah disiapkan. Aku akan segera mengirimkan surat."
"Baik.” Pelayan itu membungkuk. “Mohon jaga diri Anda, Tuan.”
Selepas pelayan itu pergi bersama kereta kuda, seorang pengurus akademi muncul.
“Tuan Alden Shankara?” tanyanya, dan sosok itu mengangguk. “Silakan bawa barang bawaan Anda dan ikut saya ke Paviliun Cakrawala.”
Sosok itu mengangkat barang bawaannya. Meski tubuhnya yang tampak kecil bila dibandingkan dengan laki-laki seusianya, ia tidak kewalahan membawa kopor yang besarnya setengah badan pria dewasa.
Sesampainya di ruangan yang akan menjadi kamarnya di akademi ini, ia mengucapkan terima kasih pada si pengurus akademi dan bergegas masuk.
Ruangannya kosong, teman sekamarnya belum kelihatan–mungkin masih sibuk jalan-jalan.
Di sini, sosok itu menghela napas lega.
“Aman … sejauh ini tidak ada yang curiga,” gumamnya. “Jika mereka tahu aku perempuan, tamat sudah.”
Sosok itu–Daisha–segera mengunci pintu kamar dan membuka atasannya untuk membetulkan kain korset yang membebat dadanya. Ia tidak mau tonjolan dadanya kelihatan dan membuat orang-orang curiga.
Ini memang tekad gilanya, menyusup ke dalam akademi elit khusus laki-laki untuk mencari informasi mengenai kakaknya. Belasan tahun yang lalu, setelah orang tua mereka meninggal, keduanya terpisah. Daisha kemudian diadopsi oleh seorang bangsawan dari utara.
Menggunakan semua informasi yang bisa ia peroleh, Daisha mendengar bahwa sang kakak terikat dengan akademi ini dengan identitas baru. Hanya sampai sana saja.
Daisha pun kesal karena–ia tahu di mana sang kakak tapi tidak tahu siapa kakaknya. Pun, bodohnya, ia tidak ingat wajah kakaknya.
“Mau bagaimana lagi,” gumam Daisha, memikirkan keputusannya. “Tapi sudah sejauh ini, jadi aku coba dulu.”
Ia kemudian memutuskan untuk berjalan melintasi koridor panjang, hingga tiba di sebuah taman yang terhubung dengan bangunan asrama, ditutupi dinding tinggi yang membentang luas.
Ketika ia memasuki halaman utama, Daisha mendengar suara tawa menggelitik bercampur dengan gemericik air.
Tiba-tiba suara tawa keras segera terdengar dari sisi kolam.
Tiga orang tuan muda berdiri di sana, sementara seorang pemuda lain berada di dalam air. Buku-buku dan tasnya mengapung di permukaan kolam. Ia berusaha memanjat keluar, namun salah satu dari mereka menekan bahunya dengan kaki.
“Berani sekali rakyat jelata sepertimu tinggal di paviliun ini,” ejeknya. “Sesuai namanya, akademi ini hanya untuk para bangsawan! Orang miskin sepertimu tidak layak berada di sini.”
Yang lain tertawa sambil melemparkan sebuah buku lagi ke dalam kolam.
Daisha berhenti beberapa langkah dari mereka. Dilihat dari seragam mereka, ia bisa tahu kalau ketiga perundung itu salah seniornya. Ia sebenarnya tidak ingin mencampuri urusan siapa pun di tempat ini. Terlalu banyak perhatian hanya akan mempersulit penyamarannya.
Namun, tubuhnya berkata lain. Kakinya tetap bergerak maju.
“Astaga, Senior. Kalian mengotori kolam.” Daisha berucap dengan nada ringan.
Ketiganya menoleh bersamaan.
Daisha berjalan mendekat dengan senyum. Ia kemudian menunduk dan mulai memunguti buku-buku yang sudah basah, sebelum kemudian mengulurkan tangan pada pemuda yang masih berada di dalam kolam.
Pemuda itu ragu sejenak sebelum meraih tangannya. Daisha menariknya keluar dengan satu tarikan kuat.
“Apa kau baik-baik saja?” tanyanya.
Pemuda itu mengangguk cepat sambil memeluk tasnya yang basah.
“Terima kasih.”
Salah satu tuan muda mendengus. “Siapa kau?” tanyanya sinis. “Berani sekali ikut campur.”
Daisha menggeleng. “Senior, saya hanya membantu. Kalian akan mendapatkan masalah jika ketua siswa tahu kalian mengotori kolam,” ucapnya tenang dan ringan.
Namun, jelas saja itu dianggap pembangkangan oleh para tuan muda tersebut. Salah satu di antara mereka langsung mencengkeram bagian depan seragam Daisha dan menariknya kasar. Lalu tanpa diduga oleh semuanya–
Sreeekk!
Kain luar robek dengan suara pendek. Kerah yang menyilang terbuka, memperlihatkan lapisan pakaian putih di dalamnya.
Mata si tuan muda itu membeku. Begitu juga milik Daisha.
Sebelum ada yang bereaksi, sebuah tinju mendarat lebih dulu di wajah pemuda senior tersebut, membuatnya terhuyung beberapa langkah sebelum jatuh ke tanah dengan darah mengalir dari hidungnya.
“Sial,” batin Daisha panik sembari membetulkan pakaiannya. “Ia tidak lihat, kan!?”
Sementara itu, tampaknya dua kroco yang lain lebih marah karena Daisha berani memukul kawannya.
“Beraninya kau!”
Salah satu dari mereka mengeluarkan belati dari balik pakaiannya.
Daisha menatap awas, memperhatikan gerakan lawan dengan penuh perhitungan sementara otaknya langsung berpikir keras.
Bagaimana caranya keluar dari situasi ini?
Tiba-tiba telinganya menangkap suara langkah kaki dari arah koridor paviliun.
Seketika, Daisha mengambil satu langkah berani.
Gadis itu melangkah maju dengan cepat, mendekati pemuda dengan belati terhunus tersebut sampai-sampai mengejutkan si pembawa belati. Lalu–
–Daisha memukul wajahnya sendiri, mengakibatkan bibirnya robek dan berdarah.
“Tuan Muda!” seru Daisha dengan suara keras dan tidak terima. “Kenapa Anda memukul saya!?”
Pemuda yang memegang belati itu membeku. Matanya tidak seawas tadi.
Sebelum lawannya sempat memahami apa yang terjadi, Daisha langsung meraih pergelangan tangan pemuda itu dan menariknya ke depan.
Sekarang belati itu tepat berada di lehernya.
“T-Tuan Muda, apa salah saya?” ucap Daisha dengan suara bergetar, tapi cukup keras untuk menarik perhatian. Terbukti langkah-langkah kaki itu kini makin dekat. “Mohon ampuni saya, Tuan–”
“Apa yang terjadi di sini!?”
Suara itu bukan suara pengawal akademi.
Seorang pria muncul diikuti beberapa sosok yang tampaknya merupakan pengawal pribadi. Tatapannya dingin menyapu ke arah tuan muda yang masih menodongkan belati ke leher Daisha.
Tuan muda kedua langsung membeku. Belati jatuh ke tanah. Daisha ikut terjatuh, napasnya tersenggal dengan wajah menunduk. Goresan tipis dari belati meninggalkan jejak darah yang merembes pelan di lehernya.
"Yang Mulia Putra Mahkota!" Tuan muda langsung bersujud.
Daisha ikut bersujud, ia memejamkan matanya. Tidak bisa berpikir jernih.
Ia hanya ingin menemukan kakaknya. Kenapa ia harus ikut campur? Kenapa ia tidak bisa diam saja tadi dan memanggil pengawal, mungkin? Kenapa ia harus terjun langsung?
Sungguh tidak lucu kalau dirinya langsung dikeluarkan, di hari pertama ia masuk! Lagipula--
"Kau baik-baik saja?"
Daisha mendongak. Ia menatap sang putra mahkota yang sedang membungkuk di hadapannya sembari mengulurkan tangan ke arah Daisha.
"E-eh?"
“Baik Jenderal,” ucap orang kepercayaannya langsung pergi meninggalkan perbatasan.Pangeran pertama merupakan jenderal muda penuh dengan prestasi. Banyak rumor mengatakan guru pertamanya adalah mendiang jenderal agung yang dicap sebagai pengkhianat. Selain itu dia putra pertama kaisar, memiliki darah ahli perang. Salah satu pangeran yang disayangi kaisar dan digadang-gadang saingan terberat putra mahkota yang sebenarnya dari semua pangeran yang ada di istana.Pangeran pertama mengayunkan kakinya ke arah meja kerja, dia duduk di sana sembari membaca gulungan di tangannya.—Kamp militer basis wilayah barat.Sudah dua hari sejak Daisha sadar. Aldwin saat ini berada di ruangan jenderal muda bersama pengawal pribadinya.“Sebaiknya Putra Mahkota segera kembali ke akademi. Pangeran pertama sudah mengetahui Anda ada di sini. Hamba cemas, Pangeran Kedua akan segera menyadari kalau Anda di sini dan memanfaatkan situasi saat ini.”Aldwin masih duduk di kursinya sambil membaca laporan militer. S
Daisha membuka matanya, orang yang pertama kali ia lihat sejak membuka adalah Aldwin. Apakah ini sebuah mimpi, sosok Aldwin duduk di sisi ranjangnya menatapnya lembut.“Kamu sudah sadar. Bagaimana perasaanmu?”Daisha bangun dan duduk, tangannya perlahan menyentuh wajah Aldwin. Bukan lagi sebuah mimpi, tapi nyata. Aldwin merasakan sentuhan itu, matanya menatap Daisha lembut. Menatap ke arah tangan Daisha yang kini menyentuh wajahnya.“Putra Mahkota, kenapa Anda ada di sini?” tanya Daisha dengan suara yang terdengar rapuh. Tidak seperti biasanya.“Kamu tidak sadar selama tiga hari,” jawab Aldwin.Tiga hari yang lalu, saat tahu Daisha tidak sadarkan diri. Aldwin langsung bergegas meninggalkan akademi, menyerahkan segala urusannya kepada Kaelith. Ia pergi ke kamp militer secara diam-diam untuk bertemu Daisha.Tangan Daisha terjatuh, ia memiringkan kepalanya lemas. Air matanya menetes, lalu tertawa kecil.“Kupikir aku sudah mati.”“Kau—”Daisha menjatuhkan tubuhnya ke kasur. “Putra Mahkot
“Dia sudah dewasa Kaelith. Selain itu, ini bukan pertama kalinya Shankara sakit.”“Saya tahu. Saya kira Shankara memiliki posisi spesial dalam hidup Anda. Maaf hamba berkata seperti ini, mengingat Shankara sangat dekat dengan Putra Mahkota.”Aldwin berdiri, melangkah maju ke arah Kaelith.“Kaelith, sepertinya kamu sangat peduli pada Shankara?” Aldwin menekuk tubuhnya di depan Kaelith. “Setelah dia pulih, dia akan kembali ke akademi. Tidak perlu kamu cemaskan, karena aku sudah mengirim tabib untuk memeriksanya. Dan mengantarkan makanan bergizi untuk Shankara.”Tatapan Aldwin tidak lagi sama saat membicarakan Daisha. Seperti seorang pria yang sedang melindungi kekasihnya. Kaelith menatap Aldwin dalam diam selama beberapa saat.“Maafkan saya karena sudah berpikir berlebihan.”Setelah itu, Aldwin kembali ke kursinya. Ia menatap dokumen di depannya.“Sebaiknya kamu pertimbangkan tawaranku. Ikut ujian, setelah itu menjadi pejabat. Bukankah itu juga yang diinginkan oleh keluargamu.”Kaelith
Pembagian kelompok berlangsung di lapangan utama kamp militer. Para rekrutan baru berdiri berjejer dalam barisan.Seorang prajurit berbadan besar berjalan di depan mereka, membagi rekrutan ke dalam kelompok-kelompok kecil.Satu per satu rekrutan bergerak ke kelompok masing-masing. Daisha merasa aneh, kenapa dari sejak dia mendaftar, tidak ada pemeriksaan fisik. Tidak ada penyeleksian siapa yang lolos dan tidak.Daisha mendekatkan wajahnya pada Saga. “Tetap waspada.”Daisha dan Saga sudah mendapatkan seragam. Saga masuk kelompok tiga bersama Daisha. Daisha masuk ke dalam kamar mereka. Saat ini Daisha dan Saga sedang memilih posisi tempat tidur, mengingat dirinya akan tidur diantara para pria yang bisa saja membahayakan identitasnya itu.Para pria itu sudah menempati tempat tidur yang berjejer.Ada yang mendominasi, ada yang memamerkan kekuatan mereka. Daisha masih berdiri memilih, saat Saga hendak menaruh barangnya. Seseorang menyerobot tempat itu, Daisha tidak terpancing sementara Saga
Pengawal pedang Aldwin terkejut.“Putra Mahkota, dia nekat mencari—”Aldwin langsung berdiri. “Bawakan peta jalan selatan.”“Baik.”Aldwin melangkah ke arah meja kerjanya. Dia duduk di sana, mempertimbangkan pemikirannya. Jika Daisha tidak keluar rumah, apa mungkin dia keluar menggunakan jalan rahasia?Pengawal pedang Aldwin membawa gulungan peta, Aldwin langsung membacanya dan memperhatikan rute kediaman Shankara di Ibukota. Ada jalur air di sekitar keluarga Shankara ke arah pelabuhan. Namun, terlalu jauh. Jadi, kemungkinan Shankara berhenti di sebuah perumahan di pinggir ibukota.“Siapkan kuda,” kata Aldwin langsung berdiri.Pengawal pedangnya langsung membungkuk. “Putra Mahkota, hamba mohon jangan meninggalkan akademi. Serahkan pada pengawal bayangan. Shankara pasti baik-baik saja, jika Anda pergi sekarang akan menambah kecurigaan.”Aldwin mengerutkan dahi, duduk dengan kedua tangan yang meremas pakaiannya.“Hamba yakin, Tuan muda Shankara bisa menyusup ke dalam. Jenderal muda, saa
Handi tercengang usai mendengar jawaban Daisha.“Aku tidak mengerti, kenapa Putra Mahkota membiarkan orang sepertimu berada di sisinya.”“Karena aku Alden Shankara.” Daisha menatap Handi tegas, lalu senyuman kecil mengembang di wajahnya.Handi menghela napas.“Baik. Aku akan memberikan sketsa orang itu,” kata Handi. Handi memanggil seorang pelayan yang sejak tadi berdiri di seberang sana. “Ambilkan lukisan di laci kamarku.”“Baik Tuan muda.”Setelah itu pelayan pergi ke kediaman untuk mengambil lukisan. Handi menatap Daisha.“Tadi, kamu bilang akan bertemu lagi dengan Nona Rantika. Lalu, bagaimana caramu keluar dari akademi.”Daisha tersenyum. “Aku sudah meminta izin untuk tidak pulang lebih cepat kepada kepala sekolah.”Handi tersenyum miring. “Menarik.” Ia meneguk tehnya. Sedangkan Daisha memakan kue bulan di depannya.“Kau tidak takut kue ini diracuni?”“Aku tidak takut pada kematian.” Daisha mengangkat kue itu kembali menggigitnya.Handi tercengang, lalu tidak lama pelayan itu kem
Suara Daisha tercekat. Tatapan Aldwin penuh rasa curiga, bisa saja dia menganggap Daisha sebagai mata-mata.Sebelum Daisha berbicara, suara Aldwin sudah kembali terdengar."Tempat ini sangat rahasia. Di akademi ini, tidak banyak orang tahu. Selain aku, hanya Kaelith yang tahu."Sorot matanya tajam.
Daisha menyadari tatapan orang-orang di sekitarnya. Lalu tatapannya kembali pada Kaelith.Bisik-bisik terdengar jelas."Dia anak ajaran baru, kan? Nyalinya sangat besar, apa dia tidak takut dimarahi.""Di akademi ini, tidak ada yang berani dekat-dekat dengan Kaelith. Apalagi dia orang terdekat Putra
Mendengar kata aula disiplin, kedua tuan muda langsung pucat. Berada di aula disiplin, artinya kasus tinggi."Yang Mulia, tolong pertimbangkan kembali—"Aldwin mengangkat tangannya pelan. Kedua tuan muda itu langsung terdiam.Aldwin menatap Daisha. "100 halaman dalam tujuh hari. Bagaimana menurutmu?
"Yang Mulia!"Suara itu berasal dari tuan muda ketiga yang baru tiba, bersama pengawal akademi. Untuk dimintai pertolongan. Semua berlutut.Tangan Aldwin perlahan turun. Daisha masih berlutut di tanah, menatap tangan Putra Mahkota yang kini sudah tidak lagi terulur.Putra Mahkota tersenyum miring, l







