เข้าสู่ระบบKaelith membeku. Kemudian menoleh, menatap Daisha yang kini perlahan berdiri. Namun, tidak menghampirinya, hanya berdiri di depan sana.
Daisha tersenyum. Senyuman itu membuat Kaelith mematung untuk beberapa saat. Kaelith memutar tubuhnya.
"Tidur lebih awal. Besok kelas pertamamu."
"Senior juga. Selamat malam," kata Daisha.
Daisha mengayunkan kakinya, ke arah berlawanan dengan Kaelith. Ia kembali ke paviliun.
Setelah kembali ke kamar, Daisha masih tidak bisa tidur. Saat ini dia berada di tempat, dimana isinya pria semua. Daisha sangat berhati-hati, agar identitasnya tidak ketahuan.
***
Rasanya belum lama ia tertidur. Tapi hari sudah hampir pagi. Daisha buru-buru turun dari tempat tidur, mengamati empat teman sekamarnya yang masih terlelap.
Ini kesempatannya, agar bisa mandi dengan tenang.
Dengan langkah pelan, Daisha berjalan ke kamar mandi. Ia menarik tusuk rambut, sanggulan rambutnya jatuh menjuntai ke bawah.
Helai demi helai pakaian jatuh ke lantai. Setelah itu ia mandi dengan air hangat.
Setelah selesai, Daisha menyentuh seragam akademinya. Matanya berkabut, ia masih tidak menyangka ia bisa masuk akademi dengan mempertaruhkan nyawanya, demi menemukan sang kakak.
Ia tahu, langkah yang ia tempuh nantinya penuh rintangan dan tidak mudah. Namun, ia akan tetap bertahan. Sampai ia dan kakaknya bisa berkumpul kembali.
"Ibu, Ayah, jika kalian melihatku di Surga. Tolong lindungi putrimu ini."
Dengan bangga, Daisha memakai seragam akademinya dengan wajah tersenyum.
Saat teman-temannya mulai bangun. Daisha sudah duduk tenang menikmati secangkir teh sembari membaca buku.
Teman sekamarnya hanya berbisik-bisik, tidak ada satu pun dari mereka yang menyapanya.
Daisha meletakkan cangkir teh di meja dengan sangat keras. Teman sekamarnya langsung terkejut, seolah takut dihajar.
Daisha berdiri, membawa tasnya meninggalkan paviliun menuju Nobilis Akademi.
Daisha kelas lebih dulu, sebelum pelajar lain berdatangan. Ia memilih bangku di barisan tengah.
Satu persatu pelajar kelas menengah berdatangan.
Bisik-bisik langsung terdengar, begitu mata mereka mengarah pada Daisha.
Beberapa diantara mereka, menoleh hingga dua kali, beberapa diantaranya pura-pura tidak melihat. Daisha membuka bukunya, pura-pura tidak menyadari apapun.
Lalu seorang pelajar masuk, kedatangannya disapa oleh para siswa. Ia duduk di bangku paling depan. Pelajar itu bernama Shandi, salah satu murid unggul di kelasnya.
Daisha menatapnya sekilas dari balik buku. Pelajar itu, sama sekali tidak menoleh ke arah Daisha.
Guru masuk. Semua pelajar langsung duduk tegak.
"Kita mulai." Guru membuka gulungan kitab di atas meja, matanya menyapu seluruh ruangan. "Kalian sudah membaca bab 5? Hari ini kita akan membahas satu pertanyaan sederhana." Guru berhenti sejenak. "Apa yang lebih berbahaya. Musuh yang kuat, atau musuh yang tidak terlihat?" tanya Guru.
Shandi mengangkat tangannya tanpa ragu. "Musuh yang kuat, Guru. Ketika musuh berdiri di depan kita dengan pasukan besar dan juga senjata tajam, kita akan tahu apa yang harus dihadapi. Kita bisa menyadari kekuatannya, membaca gerakannya, dan menyusun rencana untuk mengalahkannya. Setelah itu musuh bisa dikalahkan. Justru di situlah letak keuntungan untuk menang."
Beberapa pelajar mengangguk. Jawaban Shandi, selalu memukau di mata teman sekelasnya.
Guru mengangguk pelan. "Ada yang berpendapat lain?"
Suasana di kelas mendadak hening. Lalu, Daisha mengangkat tangannya.
Guru menatap Daisha gesturnya mempersilahkan untuk Daisha menjawab
Para pelajar berbisik-bisik, Shandi menoleh untuk pertama kalinya sejak kelas dimulai, matanya benar-benar menatap Daisha. Menyadari kehadirannya.
"Musuh yang tidak terlihat jauh lebih berbahaya," kata Daisha dengan tenang. "Kekuatan yang besar mudah dilihat. Justru karena itu, kita tahu harus berhati-hati. Musuh yang tidak terlihat, tidak akan memberi kita kesempatan untuk bersiap. Kita tidak tahu dari mana mereka datang, tidak tahu kapan mereka akan menyerang, tidak tahu seberapa dalam rencana mereka. Dan ketika sadar, mereka sudah masuk ke dalam barisan kita."
"Tapi tetap saja," potong Shandi, "musuh yang tidak terlihat tidak bisa berbuat banyak tanpa kekuatan yang nyata di belakangnya. Pada akhirnya semua perang dimenangkan oleh kekuatan pedang, bukan strategi."
"Pedang akan berguna di tangan yang tepat. Tahu kapan harus mengayun, dan tidak." Daisha menatap Shandi tanpa berkedip. "Strategi yang menentukan kapan pedang itu terangkat, terayun kepada musuh. Tanpa itu, pedang setajam apapun hanya logam berat yang tidak dapat mengalahkan musuh. Karena tanpa strategi, kita akan kalah lebih dulu."
Ruangan di kelas mendadak hening. Shandi menatap Daisha tajam, tersenyum tipis. "Jadi menurutmu seorang jenderal harus bersembunyi di belakang dan berpikir dulu, sementara prajuritnya mati di medan perang?"
"Tidak." Daisha menggeleng pelan. "Seorang jenderal yang baik tidak akan membiarkan prajuritnya mati sia-sia. Justru karena ia berpikir lebih dalam dari musuhnya, sehingga prajuritnya pulang ke rumah dengan selamat. Berkumpul dengan keluarganya … bukankah itu tujuan perang yang sebenarnya, bukan sekadar menang, tapi menang dengan kerugian sekecil mungkin?"
Guru mengetuk meja pelan. Guru tersenyum tipis. "Dua sudut pandang yang menarik. Kalian berdua tidak salah, tapi kalian juga belum sepenuhnya benar." Ia menatap seluruh pelajar di kelas. "Perang bukan soal kekuatan atau strategi saja. Perang adalah, soal membaca situasi dan tahu mana yang dibutuhkan pada saat yang tepat. Kekompakan, kerjasama. Pelajari itu baik-baik."
Guru melanjutkan penjelasannya tentang pelajaran hari ini.
Setelah kelas selesai. Para siswamulai keluar. Daisha memasukkan bukunya ke dalam tas dengan tenang, setelah kelas hari ini, dia harus pergi ke ruang belajar untuk menyalin kitab.
"Alden Shankara."
Daisha menoleh, ketika nama samarannya dipanggil.
Shandi berdiri tidak jauh darinya, kedua tangannya terlipat di depan dada. Tiga orang pelajar berdiri di belakangnya, menatap tajam pada Daisha.
Para pelajar yang belum keluar melambatkan langkah mereka, penasaran.
"Aku dengar kamu yang membuat mereka bersaudara dikeluarkan dari akademi," kata Shandi. Suaranya membuat teman sekelas menoleh dan semakin penasaran.
"Aku tidak memiliki wewenang untuk mengeluarkan siapapun. Putra Mahkota yang memutuskan. Jika kamu keberatan dengan keputusan Putra Mahkota. Kamu bisa pergi menemuinya."
Shandi berusaha tenang, meskipun tangannya mengepal. “Tapi, sumber masalahnya berawal darimu.”
"Aku hanya menolong seorang siswa. Apa itu salah?"
Shandi mendekat pada Daisha, dia menekan kedua tangannya di meja.
"Kamu baru datang dari Utara, belum tahu cara kerja akademi ini. Jadi, sebaiknya kau diam saja dan jangan banyak bertingkah.”
Daisha menatapnya tanpa berkedip. Ekspresi di wajah Daisha, sama sekali tidak menunjukkan kemarahan. Tampak tenang. "Terima kasih atas sarannya, Senior. Aku akan mengingatnya."
Ia mengambil tasnya, membungkuk sopan pada Shandi, lalu berjalan keluar dari kelas. Shandi menatap punggungnya yang menjauh, senyumannya perlahan menghilang.
"Senior," bisik salah satu pelajar di sisinya. "Apakah kita perlu—"
"Tidak perlu." Shandi memotong. "Aku ingin melihat, apa dia bisa bertahan di akademi."
Cahaya pagi menerobos masuk lewat celah tirai, jatuh tipis di lantai kayu.Aldwin berdiri di ambang pintu, menatap Daisha yang tertidur di kursi dengan kepala yang sedikit miring ke samping. Rambutnya yang biasanya rapi kini tergerai sebagian, dan ada bekas lelah yang tidak bisa disembunyikan bahkan dalam tidurnya.Pengawal pedangnya sudah dua kali mengingatkan. Aldwin tidak bergerak dari tempatnya. Ia hanya menatap Daisha dalam diam.Ada sesuatu yang aneh, berdiri di sini dan melihat sosok yang selama ini ia cari. Sosok yang ia kira sudah tidak ada lagi di dunia ini, kini tertidur di depannya dengan napas yang teratur dan damai.Aldwin melangkah masuk pelan. Ia berjongkok perlahan di depan kursi itu, hingga wajahnya sejajar dengan Daisha yang masih terpejam.Matanya menelusuri wajah itu, bekas lelah, sisa luka yang belum sepenuhnya hilang, pria itu menatapnya lembut dengan perasaan yang masih bercampur aduk.Aldwin mengulurkan tangannya, hampir menyentuh dahi Daisha — lalu menahannya
“Baik Jenderal,” ucap orang kepercayaannya langsung pergi meninggalkan perbatasan.Pangeran pertama merupakan jenderal muda penuh dengan prestasi. Banyak rumor mengatakan guru pertamanya adalah mendiang jenderal agung yang dicap sebagai pengkhianat. Selain itu dia putra pertama kaisar, memiliki darah ahli perang. Salah satu pangeran yang disayangi kaisar dan digadang-gadang saingan terberat putra mahkota yang sebenarnya dari semua pangeran yang ada di istana.Pangeran pertama mengayunkan kakinya ke arah meja kerja, dia duduk di sana sembari membaca gulungan di tangannya.—Kamp militer basis wilayah barat.Sudah dua hari sejak Daisha sadar. Aldwin saat ini berada di ruangan jenderal muda bersama pengawal pribadinya.“Sebaiknya Putra Mahkota segera kembali ke akademi. Pangeran pertama sudah mengetahui Anda ada di sini. Hamba cemas, Pangeran Kedua akan segera menyadari kalau Anda di sini dan memanfaatkan situasi saat ini.”Aldwin masih duduk di kursinya sambil membaca laporan militer. S
Daisha membuka matanya, orang yang pertama kali ia lihat sejak membuka adalah Aldwin. Apakah ini sebuah mimpi, sosok Aldwin duduk di sisi ranjangnya menatapnya lembut.“Kamu sudah sadar. Bagaimana perasaanmu?”Daisha bangun dan duduk, tangannya perlahan menyentuh wajah Aldwin. Bukan lagi sebuah mimpi, tapi nyata. Aldwin merasakan sentuhan itu, matanya menatap Daisha lembut. Menatap ke arah tangan Daisha yang kini menyentuh wajahnya.“Putra Mahkota, kenapa Anda ada di sini?” tanya Daisha dengan suara yang terdengar rapuh. Tidak seperti biasanya.“Kamu tidak sadar selama tiga hari,” jawab Aldwin.Tiga hari yang lalu, saat tahu Daisha tidak sadarkan diri. Aldwin langsung bergegas meninggalkan akademi, menyerahkan segala urusannya kepada Kaelith. Ia pergi ke kamp militer secara diam-diam untuk bertemu Daisha.Tangan Daisha terjatuh, ia memiringkan kepalanya lemas. Air matanya menetes, lalu tertawa kecil.“Kupikir aku sudah mati.”“Kau—”Daisha menjatuhkan tubuhnya ke kasur. “Putra Mahkot
“Dia sudah dewasa Kaelith. Selain itu, ini bukan pertama kalinya Shankara sakit.”“Saya tahu. Saya kira Shankara memiliki posisi spesial dalam hidup Anda. Maaf hamba berkata seperti ini, mengingat Shankara sangat dekat dengan Putra Mahkota.”Aldwin berdiri, melangkah maju ke arah Kaelith.“Kaelith, sepertinya kamu sangat peduli pada Shankara?” Aldwin menekuk tubuhnya di depan Kaelith. “Setelah dia pulih, dia akan kembali ke akademi. Tidak perlu kamu cemaskan, karena aku sudah mengirim tabib untuk memeriksanya. Dan mengantarkan makanan bergizi untuk Shankara.”Tatapan Aldwin tidak lagi sama saat membicarakan Daisha. Seperti seorang pria yang sedang melindungi kekasihnya. Kaelith menatap Aldwin dalam diam selama beberapa saat.“Maafkan saya karena sudah berpikir berlebihan.”Setelah itu, Aldwin kembali ke kursinya. Ia menatap dokumen di depannya.“Sebaiknya kamu pertimbangkan tawaranku. Ikut ujian, setelah itu menjadi pejabat. Bukankah itu juga yang diinginkan oleh keluargamu.”Kaelith
Pembagian kelompok berlangsung di lapangan utama kamp militer. Para rekrutan baru berdiri berjejer dalam barisan.Seorang prajurit berbadan besar berjalan di depan mereka, membagi rekrutan ke dalam kelompok-kelompok kecil.Satu per satu rekrutan bergerak ke kelompok masing-masing. Daisha merasa aneh, kenapa dari sejak dia mendaftar, tidak ada pemeriksaan fisik. Tidak ada penyeleksian siapa yang lolos dan tidak.Daisha mendekatkan wajahnya pada Saga. “Tetap waspada.”Daisha dan Saga sudah mendapatkan seragam. Saga masuk kelompok tiga bersama Daisha. Daisha masuk ke dalam kamar mereka. Saat ini Daisha dan Saga sedang memilih posisi tempat tidur, mengingat dirinya akan tidur diantara para pria yang bisa saja membahayakan identitasnya itu.Para pria itu sudah menempati tempat tidur yang berjejer.Ada yang mendominasi, ada yang memamerkan kekuatan mereka. Daisha masih berdiri memilih, saat Saga hendak menaruh barangnya. Seseorang menyerobot tempat itu, Daisha tidak terpancing sementara Saga
Pengawal pedang Aldwin terkejut.“Putra Mahkota, dia nekat mencari—”Aldwin langsung berdiri. “Bawakan peta jalan selatan.”“Baik.”Aldwin melangkah ke arah meja kerjanya. Dia duduk di sana, mempertimbangkan pemikirannya. Jika Daisha tidak keluar rumah, apa mungkin dia keluar menggunakan jalan rahasia?Pengawal pedang Aldwin membawa gulungan peta, Aldwin langsung membacanya dan memperhatikan rute kediaman Shankara di Ibukota. Ada jalur air di sekitar keluarga Shankara ke arah pelabuhan. Namun, terlalu jauh. Jadi, kemungkinan Shankara berhenti di sebuah perumahan di pinggir ibukota.“Siapkan kuda,” kata Aldwin langsung berdiri.Pengawal pedangnya langsung membungkuk. “Putra Mahkota, hamba mohon jangan meninggalkan akademi. Serahkan pada pengawal bayangan. Shankara pasti baik-baik saja, jika Anda pergi sekarang akan menambah kecurigaan.”Aldwin mengerutkan dahi, duduk dengan kedua tangan yang meremas pakaiannya.“Hamba yakin, Tuan muda Shankara bisa menyusup ke dalam. Jenderal muda, saa
Suara Daisha tercekat. Tatapan Aldwin penuh rasa curiga, bisa saja dia menganggap Daisha sebagai mata-mata.Sebelum Daisha berbicara, suara Aldwin sudah kembali terdengar."Tempat ini sangat rahasia. Di akademi ini, tidak banyak orang tahu. Selain aku, hanya Kaelith yang tahu."Sorot matanya tajam.
Daisha menyadari tatapan orang-orang di sekitarnya. Lalu tatapannya kembali pada Kaelith.Bisik-bisik terdengar jelas."Dia anak ajaran baru, kan? Nyalinya sangat besar, apa dia tidak takut dimarahi.""Di akademi ini, tidak ada yang berani dekat-dekat dengan Kaelith. Apalagi dia orang terdekat Putra
Setelah kelas selesai, Daisha pergi menuju ruang baca yang berada di seberang aula dewan.Setelah melewati koridor, ia melihat lima orang pelajar sedang berkumpul di atas jembatan. Daisha melintasi jembatan itu, dan tidak sengaja mendengar percakapan mereka."Bisa-bisanya keluarga pengkhianat masuk
Mendengar kata aula disiplin, kedua tuan muda langsung pucat. Berada di aula disiplin, artinya kasus tinggi."Yang Mulia, tolong pertimbangkan kembali—"Aldwin mengangkat tangannya pelan. Kedua tuan muda itu langsung terdiam.Aldwin menatap Daisha. "100 halaman dalam tujuh hari. Bagaimana menurutmu?







