เข้าสู่ระบบ"Yang Mulia!"
Suara itu berasal dari tuan muda ketiga yang baru tiba, bersama pengawal akademi. Untuk dimintai pertolongan. Semua berlutut.
Tangan Aldwin perlahan turun. Daisha masih berlutut di tanah, menatap tangan Putra Mahkota yang kini sudah tidak lagi terulur.
Putra Mahkota tersenyum miring, lalu meraih belati yang tergeletak di atas tanah.
"Di akademi ini, selain pengawal kekaisaran, selain pengawal pribadi pangeran dan juga pengawal akademi … siswa tidak diperbolehkan membawa senjata." Tegur pengawal di sisi Putra Mahkota.
Kedua tuan muda itu masih bersujud, tidak berani membantah.
Aldwin menatap keduanya.
"Bawa mereka pergi."
Pengawal kekaisaran yang datang bersama Putra Mahkota langsung meraih tubuh kedua tuan muda. Dari apa yang dilihat pengawal kekaisaran, mereka dapat menyimpulkan kalau pelakunya adalah para tuan muda.
"Yang Mulia, saya tidak bersalah. Dia sendiri yang menodongkan pisa–"
"Enyah!" seru Putra Mahkota.
"Yang Mulia, tolong percaya pada saya!" pekik tuan muda ketiga.
Pengawal pribadi Putra Mahkota mengambil belati,dari tangan putra mahkota dan meminta kepada pengawal akademi untuk segera diamankan.
Daisha masih duduk di tanah, melihat para tuan muda dibawa paksa meninggalkan paviliun sambil berteriak.
Putra Mahkota memutar kepalanya, menatap tanpa ekspresi. Mata mereka bertemu. Saat yang sama pengawal akademi membantu Daisha berdiri.
Daisha menghampiri Putra Mahkota, ia membungkuk.
"Semoga Yang Mulia dapat memberikan keadilan untuk saya." Daisha mengangkat kembali wajahnya, menatap lembut Putra Mahkota.
Putra Mahkota tidak langsung menjawab. Ia mengeluarkan sapu tangan sutra dengan sulaman phoenix. Mengulurkannya ke Daisha.
Daisha menatap sapu tangan itu, lalu kembali menatap Aldwin. Lalu, menerima saputangan itu.
"Terima kasih atas perhatian Yang Mulia."
Aldwin menatap pengawal pribadinya.
"Antarkan obat untuknya."
Pengawal di sisi putra mahkota terkejut, tapi dengan cepat ia langsung membungkuk. "Baik Yang Mulia!"
Sebelum pergi, Aldwin sempat menoleh kembali pada Daisha.
"Siapa namamu?" tanyanya.
"Jawab Yang Mulia, Alden Shankara."
"Aku akan mengingatnya," ucapnya pelan. "Temui aku di aula dewan, setelah lukamu diobati."
Aldwin melangkah pergi, diikuti pengawal pribadi di sisinya dan juga pengawal kekaisaran.
Daisha meneguk salivanya, memandang punggung Aldwin yang kian menjauh. Tangannya masih mengenggam erat saputangan pemberiannya.
Goresan di lehernya membuat Daisha mendesis. Daisha menyentuh lehernya, dan menatap telapak tangannya yang berdarah. Di satu sisi, dia bertanya-tanya apa motif putra mahkota yang terlihat peduli pada orang baru sepertinya.
Tidak selang lama, para pelajar bermunculan. Daisha terkejut, rupanya bukan karena tidak ada orang. Sejak awal mereka bersembunyi di dalam paviliun dan tidak ingin terlibat masalah.
"Pengecut!" dengusnya kesal.
Daisha melihat pelajar yang ditolongnya berlarian ketakutan masuk ke dalam kamar.
Daisha kembali ke kamarnya, dan menemukan kamarnya kini sudah tidak lagi kosong. Beberapa teman sekamarnya kini tengah berbisik-bisak membicarakannya.
Daisha berusaha bersikap tenang menghampiri teman sekamarnya. Memperkenalkan diri.
"Aku Alden Shankara, mulai sekarang kita sekamar." Daisha tersenyum.
Namun, bisik-bisik malah terdengar.
"Jangan dekat-dekat dengan dia. Nanti kita terkena masalah juga."
Daisha terkejut. Saat yang sama, suara langkah kaki terdengar memasuki pintu kamar yang masih terbuka.
"Tuan Alden," ucap pengurus akademi mencari sosok Alden Shankara.
Daisha mendekat. "Ada apa?"
Pengurus akademi tersenyum.
"Saya mengantarkan seragam akademi dan beberapa obat-obatan yang bisa Anda gunakan," ucap pengurus akademi.
"Terima kasih," ucap Daisha.
Pengurus akademi menaruhnya di atas meja. Lalu pergi.
Daisha mendekat dan perlahan menyentuh seragam akademinya. Ada rasa haru, akhirnya ... lalu pandangannya bergeser pada sebuah kotak kayu berwarna coklat tua dengan ukiran bunga begonia di atasnya.
Di dalam kotak itu terdapat dua botol obat. Daisha membuka botol obat itu, dan menghirup aromanya. Ia langsung sadar, kalau obat ini memiliki khasiat yang tinggi.
Daisha membuka wadah salep. Harum, Daisha menebak. Salep ini dibuat dengan bahan-bahan terbaik.
'Apakah ini pemberian dari Putra Mahkota?'
Daisha merasa heran. Karena Aldwin terlihat tidak seperti yang dirumorkan di luar akademi, putra mahkota tiran.
***
Satu jam berlalu. Daisha tiba di depan pintu besar aula dewan.
Napasnya terasa berat. Pengawal kekaisaran membukakan pintu.Dengan tubuh tegak, Daisha melangkah masuk ke dalam aula dewan.
Di dalam sana sudah ada kedua tuan muda yang menatapnya kesal.
Ia melihat putra mahkota duduk di seberang sana, sembari memainkan bidak di atas papan catur.
Di depannya terlihat sosok asing, teman catur putra mahkota. Daisha baru pertama kali melihatnya. Sementara pengawal pribadinya berdiri tidak jauh dari sisinya.
Daisha membungkuk kepada putra mahkota.
"Saya Alden Shankara, menghadap Yang Mulia Putra Mahkota."
Mendengar namanya, Aldwin akhirnya mengalihkan pandangannya dan tidak lagi bermain catur. Lalu sosok asing di sisinya perlahan menatap tajam ke arah Daisha — Kaelith.
"Duduk," titah Putra Mahkota.
Daisha duduk di kursinya. Putra Mahkota menatap kain putih yang melilit leher Daisha. Serta lebam di wajah dan bibirnya.
"Aku sudah mendengar keluh kesah dari mereka. Sekarang aku ingin meminta penjelasanmu, mengenai masalah ini."
Sebelum Daisha berucap, kedua tuan muda sudah berbicara kembali.
"Yang Mulia, tolong tegakkan keadilan untuk kami."
"Benar Yang Mulia," ucap tuan muda satunya.
Aldwin tidak menjawab. Jarinya kembali memainkan bidak catur di atas papan, seolah tidak menghiraukan kedua tuan muda.
Kaelith yang berdiri di sisi kanan menatap keduanya dengan tatapan datar. "Cukup."
Kedua tuan muda itu langsung terdiam.
Aldwin meletakkan bidak caturnya, lalu bersandar pelan di kursinya. Pandangannya beralih ke Daisha.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Daisha mengangkat wajahnya, menatap putra mahkota dengan tenang. "Saya baru tiba di paviliun dan menemukan seorang pelajar tengah diinjak di dalam kolam ... Saya menariknya keluar karena kasihan.”
Tuan muda kedua mendengus. "Bohong, dia—"
"Aku belum selesai berbicara dengannya." Suara Aldwin terdengar rendah. Tapi, membuat kedua tuan muda tidak berkutik.
Aldwin menatap Daisha lagi. "Kenapa kamu ikut campur? Itu bukan urusanmu."
"Benar, bukan urusan saya," jawab Daisha. "Tapi saya tidak bisa berpura-pura tidak melihat itu semua."
"Kenapa kamu memukul duluan?"
"Karena dia menyentuh saya terlebih dahulu, Yang Mulia." Daisha menjawab tanpa ragu. "Pakaian saya ditarik dengan kasar. Saya hanya membalas dengan sepantasnya."
"Sepantasnya," ulang Aldwin pelan, seolah menimbang ucapannya.
Kedua tuan muda tidak bisa menahan diri. "Yang Mulia, dia berbohong! Dia sendiri yang memukul wajahnya, kami melihatnya sendiri!"
Aldwin menatap mereka sebentar, lalu kembali ke Daisha. "Tanggapanmu?"
Daisha menyentuh pipinya yang masih sedikit membengkak, lalu menatap Aldwin. "Hanya orang bodoh yang mau melukai wajahnya sendiri, Yang Mulia.”
Aldwin menopang dagunya, menatap Daisha. "Kau tidak takut berurusan dengan keluarga mereka?"
"Saya datang dari Utara untuk belajar, Yang Mulia.Bukan untuk mencari musuh."
Aldwin mengalihkan pandangannya ke Kaelith. Tidak berkata apa-apa, hanya menatap Kaelith.
Kaelith melangkah maju. "Yang Mulia, berdasarkan peraturan akademi, membawa senjata tajam ke dalam asrama adalah pelanggaran berat. Pembullyan termasuk pelanggaran tingkah menengah." Kaelith menatap kedua tuan muda sesaat, lalu kembali ke Aldwin. "Namun, memukul senior juga tetap merupakan pelanggaran, meskipun dalam bentuk pembelaan diri."
"Rekomendasimu?" tanya Aldwin.
"Untuk kedua tuan muda, perlu dilanjutkan ke aula disiplin." Kaelith menatap Daisha. "Untuk Alden Shankara, menyalin kitab Analek Konfusius, bab kesopanan dan pengendalian diri, sebanyak 100 halaman dalam tujuh hari."
Cahaya pagi menerobos masuk lewat celah tirai, jatuh tipis di lantai kayu.Aldwin berdiri di ambang pintu, menatap Daisha yang tertidur di kursi dengan kepala yang sedikit miring ke samping. Rambutnya yang biasanya rapi kini tergerai sebagian, dan ada bekas lelah yang tidak bisa disembunyikan bahkan dalam tidurnya.Pengawal pedangnya sudah dua kali mengingatkan. Aldwin tidak bergerak dari tempatnya. Ia hanya menatap Daisha dalam diam.Ada sesuatu yang aneh, berdiri di sini dan melihat sosok yang selama ini ia cari. Sosok yang ia kira sudah tidak ada lagi di dunia ini, kini tertidur di depannya dengan napas yang teratur dan damai.Aldwin melangkah masuk pelan. Ia berjongkok perlahan di depan kursi itu, hingga wajahnya sejajar dengan Daisha yang masih terpejam.Matanya menelusuri wajah itu, bekas lelah, sisa luka yang belum sepenuhnya hilang, pria itu menatapnya lembut dengan perasaan yang masih bercampur aduk.Aldwin mengulurkan tangannya, hampir menyentuh dahi Daisha — lalu menahannya
“Baik Jenderal,” ucap orang kepercayaannya langsung pergi meninggalkan perbatasan.Pangeran pertama merupakan jenderal muda penuh dengan prestasi. Banyak rumor mengatakan guru pertamanya adalah mendiang jenderal agung yang dicap sebagai pengkhianat. Selain itu dia putra pertama kaisar, memiliki darah ahli perang. Salah satu pangeran yang disayangi kaisar dan digadang-gadang saingan terberat putra mahkota yang sebenarnya dari semua pangeran yang ada di istana.Pangeran pertama mengayunkan kakinya ke arah meja kerja, dia duduk di sana sembari membaca gulungan di tangannya.—Kamp militer basis wilayah barat.Sudah dua hari sejak Daisha sadar. Aldwin saat ini berada di ruangan jenderal muda bersama pengawal pribadinya.“Sebaiknya Putra Mahkota segera kembali ke akademi. Pangeran pertama sudah mengetahui Anda ada di sini. Hamba cemas, Pangeran Kedua akan segera menyadari kalau Anda di sini dan memanfaatkan situasi saat ini.”Aldwin masih duduk di kursinya sambil membaca laporan militer. S
Daisha membuka matanya, orang yang pertama kali ia lihat sejak membuka adalah Aldwin. Apakah ini sebuah mimpi, sosok Aldwin duduk di sisi ranjangnya menatapnya lembut.“Kamu sudah sadar. Bagaimana perasaanmu?”Daisha bangun dan duduk, tangannya perlahan menyentuh wajah Aldwin. Bukan lagi sebuah mimpi, tapi nyata. Aldwin merasakan sentuhan itu, matanya menatap Daisha lembut. Menatap ke arah tangan Daisha yang kini menyentuh wajahnya.“Putra Mahkota, kenapa Anda ada di sini?” tanya Daisha dengan suara yang terdengar rapuh. Tidak seperti biasanya.“Kamu tidak sadar selama tiga hari,” jawab Aldwin.Tiga hari yang lalu, saat tahu Daisha tidak sadarkan diri. Aldwin langsung bergegas meninggalkan akademi, menyerahkan segala urusannya kepada Kaelith. Ia pergi ke kamp militer secara diam-diam untuk bertemu Daisha.Tangan Daisha terjatuh, ia memiringkan kepalanya lemas. Air matanya menetes, lalu tertawa kecil.“Kupikir aku sudah mati.”“Kau—”Daisha menjatuhkan tubuhnya ke kasur. “Putra Mahkot
“Dia sudah dewasa Kaelith. Selain itu, ini bukan pertama kalinya Shankara sakit.”“Saya tahu. Saya kira Shankara memiliki posisi spesial dalam hidup Anda. Maaf hamba berkata seperti ini, mengingat Shankara sangat dekat dengan Putra Mahkota.”Aldwin berdiri, melangkah maju ke arah Kaelith.“Kaelith, sepertinya kamu sangat peduli pada Shankara?” Aldwin menekuk tubuhnya di depan Kaelith. “Setelah dia pulih, dia akan kembali ke akademi. Tidak perlu kamu cemaskan, karena aku sudah mengirim tabib untuk memeriksanya. Dan mengantarkan makanan bergizi untuk Shankara.”Tatapan Aldwin tidak lagi sama saat membicarakan Daisha. Seperti seorang pria yang sedang melindungi kekasihnya. Kaelith menatap Aldwin dalam diam selama beberapa saat.“Maafkan saya karena sudah berpikir berlebihan.”Setelah itu, Aldwin kembali ke kursinya. Ia menatap dokumen di depannya.“Sebaiknya kamu pertimbangkan tawaranku. Ikut ujian, setelah itu menjadi pejabat. Bukankah itu juga yang diinginkan oleh keluargamu.”Kaelith
Pembagian kelompok berlangsung di lapangan utama kamp militer. Para rekrutan baru berdiri berjejer dalam barisan.Seorang prajurit berbadan besar berjalan di depan mereka, membagi rekrutan ke dalam kelompok-kelompok kecil.Satu per satu rekrutan bergerak ke kelompok masing-masing. Daisha merasa aneh, kenapa dari sejak dia mendaftar, tidak ada pemeriksaan fisik. Tidak ada penyeleksian siapa yang lolos dan tidak.Daisha mendekatkan wajahnya pada Saga. “Tetap waspada.”Daisha dan Saga sudah mendapatkan seragam. Saga masuk kelompok tiga bersama Daisha. Daisha masuk ke dalam kamar mereka. Saat ini Daisha dan Saga sedang memilih posisi tempat tidur, mengingat dirinya akan tidur diantara para pria yang bisa saja membahayakan identitasnya itu.Para pria itu sudah menempati tempat tidur yang berjejer.Ada yang mendominasi, ada yang memamerkan kekuatan mereka. Daisha masih berdiri memilih, saat Saga hendak menaruh barangnya. Seseorang menyerobot tempat itu, Daisha tidak terpancing sementara Saga
Pengawal pedang Aldwin terkejut.“Putra Mahkota, dia nekat mencari—”Aldwin langsung berdiri. “Bawakan peta jalan selatan.”“Baik.”Aldwin melangkah ke arah meja kerjanya. Dia duduk di sana, mempertimbangkan pemikirannya. Jika Daisha tidak keluar rumah, apa mungkin dia keluar menggunakan jalan rahasia?Pengawal pedang Aldwin membawa gulungan peta, Aldwin langsung membacanya dan memperhatikan rute kediaman Shankara di Ibukota. Ada jalur air di sekitar keluarga Shankara ke arah pelabuhan. Namun, terlalu jauh. Jadi, kemungkinan Shankara berhenti di sebuah perumahan di pinggir ibukota.“Siapkan kuda,” kata Aldwin langsung berdiri.Pengawal pedangnya langsung membungkuk. “Putra Mahkota, hamba mohon jangan meninggalkan akademi. Serahkan pada pengawal bayangan. Shankara pasti baik-baik saja, jika Anda pergi sekarang akan menambah kecurigaan.”Aldwin mengerutkan dahi, duduk dengan kedua tangan yang meremas pakaiannya.“Hamba yakin, Tuan muda Shankara bisa menyusup ke dalam. Jenderal muda, saa
Suara Daisha tercekat. Tatapan Aldwin penuh rasa curiga, bisa saja dia menganggap Daisha sebagai mata-mata.Sebelum Daisha berbicara, suara Aldwin sudah kembali terdengar."Tempat ini sangat rahasia. Di akademi ini, tidak banyak orang tahu. Selain aku, hanya Kaelith yang tahu."Sorot matanya tajam.
Daisha menyadari tatapan orang-orang di sekitarnya. Lalu tatapannya kembali pada Kaelith.Bisik-bisik terdengar jelas."Dia anak ajaran baru, kan? Nyalinya sangat besar, apa dia tidak takut dimarahi.""Di akademi ini, tidak ada yang berani dekat-dekat dengan Kaelith. Apalagi dia orang terdekat Putra
Setelah kelas selesai, Daisha pergi menuju ruang baca yang berada di seberang aula dewan.Setelah melewati koridor, ia melihat lima orang pelajar sedang berkumpul di atas jembatan. Daisha melintasi jembatan itu, dan tidak sengaja mendengar percakapan mereka."Bisa-bisanya keluarga pengkhianat masuk
Kaelith membeku. Kemudian menoleh, menatap Daisha yang kini perlahan berdiri. Namun, tidak menghampirinya, hanya berdiri di depan sana.Daisha tersenyum. Senyuman itu membuat Kaelith mematung untuk beberapa saat. Kaelith memutar tubuhnya."Tidur lebih awal. Besok kelas pertamamu.""Senior juga. Sela







