Share

Kedinginan

Author: Caramelly
last update publish date: 2026-05-14 23:49:44

Daisha menatap balik. Mata mereka bertemu, beberapa waktu berlalu berlalu tanpa suara.

Lalu Daisha tersenyum. "Senior benar. Mataku memang tidak bisa berbohong."

Kaelith tidak bereaksi, ia seperti sedang menunggu lanjutan ucapan Daisha. Lalu, Daisha melangkah mendekat. Kaelith yang masih berdiri di posisinya dengan tangan yang memegang busur, matanya menajam.

"Aku memang penasaran." Daisha mengangkat bahunya ringan. "Tapi bukan dengan urusan Yang Mulia. Aku penasaran dengan Senior."

Daisha menc
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Penyamaran sang Putri di Akademi Para Pangeran   Sebentar lagi

    “Baik Jenderal,” ucap orang kepercayaannya langsung pergi meninggalkan perbatasan.Pangeran pertama merupakan jenderal muda penuh dengan prestasi. Banyak rumor mengatakan guru pertamanya adalah mendiang jenderal agung yang dicap sebagai pengkhianat. Selain itu dia putra pertama kaisar, memiliki darah ahli perang. Salah satu pangeran yang disayangi kaisar dan digadang-gadang saingan terberat putra mahkota yang sebenarnya dari semua pangeran yang ada di istana.Pangeran pertama mengayunkan kakinya ke arah meja kerja, dia duduk di sana sembari membaca gulungan di tangannya.—Kamp militer basis wilayah barat.Sudah dua hari sejak Daisha sadar. Aldwin saat ini berada di ruangan jenderal muda bersama pengawal pribadinya.“Sebaiknya Putra Mahkota segera kembali ke akademi. Pangeran pertama sudah mengetahui Anda ada di sini. Hamba cemas, Pangeran Kedua akan segera menyadari kalau Anda di sini dan memanfaatkan situasi saat ini.”Aldwin masih duduk di kursinya sambil membaca laporan militer. S

  • Penyamaran sang Putri di Akademi Para Pangeran   Mengawasinya

    Daisha membuka matanya, orang yang pertama kali ia lihat sejak membuka adalah Aldwin. Apakah ini sebuah mimpi, sosok Aldwin duduk di sisi ranjangnya menatapnya lembut.“Kamu sudah sadar. Bagaimana perasaanmu?”Daisha bangun dan duduk, tangannya perlahan menyentuh wajah Aldwin. Bukan lagi sebuah mimpi, tapi nyata. Aldwin merasakan sentuhan itu, matanya menatap Daisha lembut. Menatap ke arah tangan Daisha yang kini menyentuh wajahnya.“Putra Mahkota, kenapa Anda ada di sini?” tanya Daisha dengan suara yang terdengar rapuh. Tidak seperti biasanya.“Kamu tidak sadar selama tiga hari,” jawab Aldwin.Tiga hari yang lalu, saat tahu Daisha tidak sadarkan diri. Aldwin langsung bergegas meninggalkan akademi, menyerahkan segala urusannya kepada Kaelith. Ia pergi ke kamp militer secara diam-diam untuk bertemu Daisha.Tangan Daisha terjatuh, ia memiringkan kepalanya lemas. Air matanya menetes, lalu tertawa kecil.“Kupikir aku sudah mati.”“Kau—”Daisha menjatuhkan tubuhnya ke kasur. “Putra Mahkot

  • Penyamaran sang Putri di Akademi Para Pangeran   Kenyataan pahit

    “Dia sudah dewasa Kaelith. Selain itu, ini bukan pertama kalinya Shankara sakit.”“Saya tahu. Saya kira Shankara memiliki posisi spesial dalam hidup Anda. Maaf hamba berkata seperti ini, mengingat Shankara sangat dekat dengan Putra Mahkota.”Aldwin berdiri, melangkah maju ke arah Kaelith.“Kaelith, sepertinya kamu sangat peduli pada Shankara?” Aldwin menekuk tubuhnya di depan Kaelith. “Setelah dia pulih, dia akan kembali ke akademi. Tidak perlu kamu cemaskan, karena aku sudah mengirim tabib untuk memeriksanya. Dan mengantarkan makanan bergizi untuk Shankara.”Tatapan Aldwin tidak lagi sama saat membicarakan Daisha. Seperti seorang pria yang sedang melindungi kekasihnya. Kaelith menatap Aldwin dalam diam selama beberapa saat.“Maafkan saya karena sudah berpikir berlebihan.”Setelah itu, Aldwin kembali ke kursinya. Ia menatap dokumen di depannya.“Sebaiknya kamu pertimbangkan tawaranku. Ikut ujian, setelah itu menjadi pejabat. Bukankah itu juga yang diinginkan oleh keluargamu.”Kaelith

  • Penyamaran sang Putri di Akademi Para Pangeran   Mencemaskan Shankara

    Pembagian kelompok berlangsung di lapangan utama kamp militer. Para rekrutan baru berdiri berjejer dalam barisan.Seorang prajurit berbadan besar berjalan di depan mereka, membagi rekrutan ke dalam kelompok-kelompok kecil.Satu per satu rekrutan bergerak ke kelompok masing-masing. Daisha merasa aneh, kenapa dari sejak dia mendaftar, tidak ada pemeriksaan fisik. Tidak ada penyeleksian siapa yang lolos dan tidak.Daisha mendekatkan wajahnya pada Saga. “Tetap waspada.”Daisha dan Saga sudah mendapatkan seragam. Saga masuk kelompok tiga bersama Daisha. Daisha masuk ke dalam kamar mereka. Saat ini Daisha dan Saga sedang memilih posisi tempat tidur, mengingat dirinya akan tidur diantara para pria yang bisa saja membahayakan identitasnya itu.Para pria itu sudah menempati tempat tidur yang berjejer.Ada yang mendominasi, ada yang memamerkan kekuatan mereka. Daisha masih berdiri memilih, saat Saga hendak menaruh barangnya. Seseorang menyerobot tempat itu, Daisha tidak terpancing sementara Saga

  • Penyamaran sang Putri di Akademi Para Pangeran   Langit

    Pengawal pedang Aldwin terkejut.“Putra Mahkota, dia nekat mencari—”Aldwin langsung berdiri. “Bawakan peta jalan selatan.”“Baik.”Aldwin melangkah ke arah meja kerjanya. Dia duduk di sana, mempertimbangkan pemikirannya. Jika Daisha tidak keluar rumah, apa mungkin dia keluar menggunakan jalan rahasia?Pengawal pedang Aldwin membawa gulungan peta, Aldwin langsung membacanya dan memperhatikan rute kediaman Shankara di Ibukota. Ada jalur air di sekitar keluarga Shankara ke arah pelabuhan. Namun, terlalu jauh. Jadi, kemungkinan Shankara berhenti di sebuah perumahan di pinggir ibukota.“Siapkan kuda,” kata Aldwin langsung berdiri.Pengawal pedangnya langsung membungkuk. “Putra Mahkota, hamba mohon jangan meninggalkan akademi. Serahkan pada pengawal bayangan. Shankara pasti baik-baik saja, jika Anda pergi sekarang akan menambah kecurigaan.”Aldwin mengerutkan dahi, duduk dengan kedua tangan yang meremas pakaiannya.“Hamba yakin, Tuan muda Shankara bisa menyusup ke dalam. Jenderal muda, saa

  • Penyamaran sang Putri di Akademi Para Pangeran   Lukisan

    Handi tercengang usai mendengar jawaban Daisha.“Aku tidak mengerti, kenapa Putra Mahkota membiarkan orang sepertimu berada di sisinya.”“Karena aku Alden Shankara.” Daisha menatap Handi tegas, lalu senyuman kecil mengembang di wajahnya.Handi menghela napas.“Baik. Aku akan memberikan sketsa orang itu,” kata Handi. Handi memanggil seorang pelayan yang sejak tadi berdiri di seberang sana. “Ambilkan lukisan di laci kamarku.”“Baik Tuan muda.”Setelah itu pelayan pergi ke kediaman untuk mengambil lukisan. Handi menatap Daisha.“Tadi, kamu bilang akan bertemu lagi dengan Nona Rantika. Lalu, bagaimana caramu keluar dari akademi.”Daisha tersenyum. “Aku sudah meminta izin untuk tidak pulang lebih cepat kepada kepala sekolah.”Handi tersenyum miring. “Menarik.” Ia meneguk tehnya. Sedangkan Daisha memakan kue bulan di depannya.“Kau tidak takut kue ini diracuni?”“Aku tidak takut pada kematian.” Daisha mengangkat kue itu kembali menggigitnya.Handi tercengang, lalu tidak lama pelayan itu kem

  • Penyamaran sang Putri di Akademi Para Pangeran   Aturan Akademi

    Mendengar kata aula disiplin, kedua tuan muda langsung pucat. Berada di aula disiplin, artinya kasus tinggi."Yang Mulia, tolong pertimbangkan kembali—"Aldwin mengangkat tangannya pelan. Kedua tuan muda itu langsung terdiam.Aldwin menatap Daisha. "100 halaman dalam tujuh hari. Bagaimana menurutmu?

  • Penyamaran sang Putri di Akademi Para Pangeran   Hukuman

    "Yang Mulia!"Suara itu berasal dari tuan muda ketiga yang baru tiba, bersama pengawal akademi. Untuk dimintai pertolongan. Semua berlutut.Tangan Aldwin perlahan turun. Daisha masih berlutut di tanah, menatap tangan Putra Mahkota yang kini sudah tidak lagi terulur.Putra Mahkota tersenyum miring, l

  • Penyamaran sang Putri di Akademi Para Pangeran   Akademi Elit

    “Tuan Muda, kita sudah sampai di akademi.”Sosok itu perlahan turun dari kereta kuda. Diedarkannya pandangan ke sekeliling, mengamati bangunan megah di hadapan. Lambang Kekaisaran terukir di atas ujung genteng, plakat mengukir sebuah nama “Nobilis Akademi” di atas aula utama pintu masuk akademi.Pa

  • Penyamaran sang Putri di Akademi Para Pangeran   Kau Orangku

    Suara Daisha tercekat. Tatapan Aldwin penuh rasa curiga, bisa saja dia menganggap Daisha sebagai mata-mata.Sebelum Daisha berbicara, suara Aldwin sudah kembali terdengar."Tempat ini sangat rahasia. Di akademi ini, tidak banyak orang tahu. Selain aku, hanya Kaelith yang tahu."Sorot matanya tajam.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status