Share

Aturan Akademi

Author: Caramelly
last update publish date: 2026-04-28 14:04:37

Mendengar kata aula disiplin, kedua tuan muda langsung pucat. Berada di aula disiplin, artinya kasus tinggi.

"Yang Mulia, tolong pertimbangkan kembali—"

Aldwin mengangkat tangannya pelan. Kedua tuan muda itu langsung terdiam.

Aldwin menatap Daisha. "100 halaman dalam tujuh hari. Bagaimana menurutmu?"

Daisha berdiri tegak. "Saya menerima hukuman itu, Yang Mulia. Saya memang salah karena memukul senior, apapun alasannya."

Aldwin menatapnya beberapa saat. Tanpa banyak kata, ia mengangkat tangannya memberi isyarat kepada pengawal.

"Bawa mereka."

Kedua tuan muda itu diseret keluar. Suara protes dan teriakan mereka, perlahan menghilang di balik pintu aula yang kini telah tertutup.

Putra Mahkota menatap Daisha yang masih memasang tampang tenang.

"Salin kitab setelah selesai kelas." Lalu pandangannya bergeser pada Kaelith. "Aku menugaskan mu untuk mengawasinya."

"Baik Yang Mulia," jawab Kaelith.

Daisha membungkuk, lalu melangkah keluar dari aula dewan. Tidak selang lama, Kaelith juga pergi meninggalkan aula dewan.

"Yang Mulia, apa rencana Anda terhadap ketiga tuan muda itu? Menteri Ritus pasti tidak akan tinggal diam."

"Menendang mereka dari akademi!"

Tatapannya tajam, Aldwin berdiri dari duduknya, lalu meninggalkan aula dewan bersama pengawal pribadinya.

Saat di koridor, tiba-tiba langkah Aldwin terhenti. Matanya menangkap sosok Daisha yang sedang berdiri di bawah pohon crabapple.

Saat itu, bunga crabapple sedang mekar-mekarnya, warna merah muda yang indah. Bunga yang selalu dikaitkan dengan cinta dan kerinduan.

Angin berhembus pelan, beberapa kelopak bunga berjatuhan. Daisha mengangkat telapak tangannya. Kelopak-kelopak itu hinggap pelan, lalu ia mengepalnya erat. Sementara kepalanya masih mendongak ke atas.

"Ibu, bunga crabapple mekar dengan sangat indah."

Suaranya nyaris tidak terdengar, matanya berkabut.

Putra mahkota tidak berkedip, menatap Daisha hingga sosoknya menghilang di balik koridor.

Setelah kepergian Daisha, barulah Aldwin mengayunkan kakinya menuju pohon itu. Tangannya menyentuh batang pohon crabapple, yang berada di tepian kolam dangkal. Matanya terpejam sejenak.

"Setiap tahun, bunga ini selalu mekar sangat indah."

Pengawal pribadinya berjaga, mengawasi di seberang.

Setelah beberapa saat, Aldwin membuka mata dan menatap bunga itu.

"Yang Mulia, ini pertama kalinya saya melihat Anda peduli pada pelajar baru."

Aldwin menoleh, tapi ia tidak menjawab. Hanya ekspresi dingin di wajahnya yang membuat pengawal pribadinya diam.

Lalu, Aldwin melanjutkan langkah kakinya menuju paviliun matahari timur. Tempat tinggalnya selama di akademi.

Sementara itu, di tempat berbeda, kabar putra mahkota menginterogasi kedua tuan muda sudah terdengar ke telinga pangeran kedua. 

Saat itu, pangeran kedua baru selesai latihan pedang di halaman belakang paviliunnya.

Pengawal pribadinya menyerahkan sapu tangan. Pangeran Kedua menyeka keringatnya.

"Jadi, dia akan mengeluarkan si bodoh dari akademi?"

"Yang Mulia, apakah perlu kita membantu Menteri Ritus?" tanya pengawal Pangeran Kedua.

Pangeran Kedua menyeringai. "Tidak perlu. Justru, aku ingin melihat. Bagaimana adik ketiga menyelesaikan masalah ini."

Pangeran kedua masuk ke dalam paviliun.

***

Langit mulai menggelap. Daisha berjalan menyusuri koridor menuju kantin, melewati taman yang kini sudah sepi. 

Suasana kantin di malam hari dipenuhi oleh para senior yang sedang makan malam. Kedatangan Daisha menarik perhatian. Kabar putra mahkota membelanya rupanya sudah tersebar luas.

Daisha bersikap tenang. Saat sedang mengantri, tiga orang senior yang sedang mengantri di depannya tidak sengaja menyenggol punggungnya. Daisha menoleh, matanya menangkap tampang tidak bersalah di wajah seniornya.

Tidak ada kata maaf, mereka kembali mengobrol seolah Daisha tidak ada.

Daisha mengambil daging semur dan sayuran, semangkuk sup, sepotong roti pipih, nasi, dan segelas air. Ia duduk di bangku kosong seorang diri.

Meskipun tubuhnya tidak sebesar pria pada umumnya, nafsu makannya tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia menghabiskan semua makanan di piringnya dengan lahap.

"Lumayan juga," gumamnya.

Tiba-tiba terdengar suara kursi bergeser. Tiga senior yang tadi berdiri di belakangnya dalam antrian kini duduk di sampingnya, tanpa basa-basi. Mereka kembali mengobrol satu sama lain, seolah Daisha tidak ada.

"Kudengar pelajar baru itu dipanggil ke aula dewan hari ini." Suaranya sengaja dibuat meninggi.

"Hmm. Beruntung sekali ada yang membantunya."

"Beruntung memang. Jika tidak, pasti dia yang dikeluarkan."

Daisha meletakkan sumpit di atas meja. Ia menenggak segelas air, lalu berdiri tanpa ekspresi.

Saat hendak melangkah pergi, salah satu senior menggeser kakinya di bawah meja. Dengan harapan Daisha tersandung.

Namun, langkah Daisha justru berbelok ke arah lain, seolah ia sudah tahu sejak tadi.

Setelah makan malam, Daisha kembali ke asrama dan sempat membaca buku. Lalu memutuskan untuk tidur.

Daisha berbaring di kasurnya menatap langit-langit kamar yang kini telah gelap, tapi Daisha tidak bisa tidur. Suara dengkuran salah satu temannya memenuhi kamar.

Daisha membalik tubuhnya ke kanan, dan kekiri. Dengkuran itu tidak berhenti.

"Haruskah aku membuatnya pingsan," gumamnya nyaris tidak terdengar.

Daisha menghela napas panjang, lalu duduk. Ia menatap rekan sekamarnya tidur dengan begitu pulas. Seolah tidak terganggu dengan suara dengkuran salah satu temannya.

Daisha mengambil jubah bulunya, dan memakainya. Lalu keluar dari kamar dengan langkah pelan agar tidak membangunkan yang lain.

Di luar, udara malam terasa jauh lebih segar. Ia mengeratkan jubahnya, Daisha berjalan tanpa tujuan. Ia menyusuri koridor paviliun yang kini sepi. Lalu keluar dari paviliun cakrawala. Langkah kakinya membawanya ke sebuah taman.

Daisha duduk di tepi danau, menatap pantulan bulan di atas air. Bunga lotus bermekaran sangat indah, di bawah cahaya bulan.

Suara langkah kaki terdengar, Daisha menoleh.

Kaelith berhenti beberapa langkah tidak jauh darinya. Mata mereka bertemu. Kaelith langsung mengalihkan pandangannya.

Saat hendak melanjutkan langkahnya, Kaelith mendengar suara Daisha memanggilnya.

"Senior.”

Kaelith berhenti.

Daisha tidak berdiri, ia sudah kembali menatap kolam di depannya.

"Hukuman 100 halaman itu — apakah Senior yang menentukannya, karena memang aturannya begitu, atau karena alasan lain?" tanya Daisha.

Kaelith menatap Daisha, dalam keheningan untuk beberapa saat.

"Aturan akademi," jawab Kaelith singkat.

"Kalau begitu saya lega." Daisha akhirnya menoleh, menatap Kaelith dengan ekspresi tenang. Daisha tersenyum. "Saya kira, karena senior tidak menyukai saya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penyamaran sang Putri di Akademi Para Pangeran   Kembali ke Akademi

    Cahaya pagi menerobos masuk lewat celah tirai, jatuh tipis di lantai kayu.Aldwin berdiri di ambang pintu, menatap Daisha yang tertidur di kursi dengan kepala yang sedikit miring ke samping. Rambutnya yang biasanya rapi kini tergerai sebagian, dan ada bekas lelah yang tidak bisa disembunyikan bahkan dalam tidurnya.Pengawal pedangnya sudah dua kali mengingatkan. Aldwin tidak bergerak dari tempatnya. Ia hanya menatap Daisha dalam diam.Ada sesuatu yang aneh, berdiri di sini dan melihat sosok yang selama ini ia cari. Sosok yang ia kira sudah tidak ada lagi di dunia ini, kini tertidur di depannya dengan napas yang teratur dan damai.Aldwin melangkah masuk pelan. Ia berjongkok perlahan di depan kursi itu, hingga wajahnya sejajar dengan Daisha yang masih terpejam.Matanya menelusuri wajah itu, bekas lelah, sisa luka yang belum sepenuhnya hilang, pria itu menatapnya lembut dengan perasaan yang masih bercampur aduk.Aldwin mengulurkan tangannya, hampir menyentuh dahi Daisha — lalu menahannya

  • Penyamaran sang Putri di Akademi Para Pangeran   Sebentar lagi

    “Baik Jenderal,” ucap orang kepercayaannya langsung pergi meninggalkan perbatasan.Pangeran pertama merupakan jenderal muda penuh dengan prestasi. Banyak rumor mengatakan guru pertamanya adalah mendiang jenderal agung yang dicap sebagai pengkhianat. Selain itu dia putra pertama kaisar, memiliki darah ahli perang. Salah satu pangeran yang disayangi kaisar dan digadang-gadang saingan terberat putra mahkota yang sebenarnya dari semua pangeran yang ada di istana.Pangeran pertama mengayunkan kakinya ke arah meja kerja, dia duduk di sana sembari membaca gulungan di tangannya.—Kamp militer basis wilayah barat.Sudah dua hari sejak Daisha sadar. Aldwin saat ini berada di ruangan jenderal muda bersama pengawal pribadinya.“Sebaiknya Putra Mahkota segera kembali ke akademi. Pangeran pertama sudah mengetahui Anda ada di sini. Hamba cemas, Pangeran Kedua akan segera menyadari kalau Anda di sini dan memanfaatkan situasi saat ini.”Aldwin masih duduk di kursinya sambil membaca laporan militer. S

  • Penyamaran sang Putri di Akademi Para Pangeran   Mengawasinya

    Daisha membuka matanya, orang yang pertama kali ia lihat sejak membuka adalah Aldwin. Apakah ini sebuah mimpi, sosok Aldwin duduk di sisi ranjangnya menatapnya lembut.“Kamu sudah sadar. Bagaimana perasaanmu?”Daisha bangun dan duduk, tangannya perlahan menyentuh wajah Aldwin. Bukan lagi sebuah mimpi, tapi nyata. Aldwin merasakan sentuhan itu, matanya menatap Daisha lembut. Menatap ke arah tangan Daisha yang kini menyentuh wajahnya.“Putra Mahkota, kenapa Anda ada di sini?” tanya Daisha dengan suara yang terdengar rapuh. Tidak seperti biasanya.“Kamu tidak sadar selama tiga hari,” jawab Aldwin.Tiga hari yang lalu, saat tahu Daisha tidak sadarkan diri. Aldwin langsung bergegas meninggalkan akademi, menyerahkan segala urusannya kepada Kaelith. Ia pergi ke kamp militer secara diam-diam untuk bertemu Daisha.Tangan Daisha terjatuh, ia memiringkan kepalanya lemas. Air matanya menetes, lalu tertawa kecil.“Kupikir aku sudah mati.”“Kau—”Daisha menjatuhkan tubuhnya ke kasur. “Putra Mahkot

  • Penyamaran sang Putri di Akademi Para Pangeran   Kenyataan pahit

    “Dia sudah dewasa Kaelith. Selain itu, ini bukan pertama kalinya Shankara sakit.”“Saya tahu. Saya kira Shankara memiliki posisi spesial dalam hidup Anda. Maaf hamba berkata seperti ini, mengingat Shankara sangat dekat dengan Putra Mahkota.”Aldwin berdiri, melangkah maju ke arah Kaelith.“Kaelith, sepertinya kamu sangat peduli pada Shankara?” Aldwin menekuk tubuhnya di depan Kaelith. “Setelah dia pulih, dia akan kembali ke akademi. Tidak perlu kamu cemaskan, karena aku sudah mengirim tabib untuk memeriksanya. Dan mengantarkan makanan bergizi untuk Shankara.”Tatapan Aldwin tidak lagi sama saat membicarakan Daisha. Seperti seorang pria yang sedang melindungi kekasihnya. Kaelith menatap Aldwin dalam diam selama beberapa saat.“Maafkan saya karena sudah berpikir berlebihan.”Setelah itu, Aldwin kembali ke kursinya. Ia menatap dokumen di depannya.“Sebaiknya kamu pertimbangkan tawaranku. Ikut ujian, setelah itu menjadi pejabat. Bukankah itu juga yang diinginkan oleh keluargamu.”Kaelith

  • Penyamaran sang Putri di Akademi Para Pangeran   Mencemaskan Shankara

    Pembagian kelompok berlangsung di lapangan utama kamp militer. Para rekrutan baru berdiri berjejer dalam barisan.Seorang prajurit berbadan besar berjalan di depan mereka, membagi rekrutan ke dalam kelompok-kelompok kecil.Satu per satu rekrutan bergerak ke kelompok masing-masing. Daisha merasa aneh, kenapa dari sejak dia mendaftar, tidak ada pemeriksaan fisik. Tidak ada penyeleksian siapa yang lolos dan tidak.Daisha mendekatkan wajahnya pada Saga. “Tetap waspada.”Daisha dan Saga sudah mendapatkan seragam. Saga masuk kelompok tiga bersama Daisha. Daisha masuk ke dalam kamar mereka. Saat ini Daisha dan Saga sedang memilih posisi tempat tidur, mengingat dirinya akan tidur diantara para pria yang bisa saja membahayakan identitasnya itu.Para pria itu sudah menempati tempat tidur yang berjejer.Ada yang mendominasi, ada yang memamerkan kekuatan mereka. Daisha masih berdiri memilih, saat Saga hendak menaruh barangnya. Seseorang menyerobot tempat itu, Daisha tidak terpancing sementara Saga

  • Penyamaran sang Putri di Akademi Para Pangeran   Langit

    Pengawal pedang Aldwin terkejut.“Putra Mahkota, dia nekat mencari—”Aldwin langsung berdiri. “Bawakan peta jalan selatan.”“Baik.”Aldwin melangkah ke arah meja kerjanya. Dia duduk di sana, mempertimbangkan pemikirannya. Jika Daisha tidak keluar rumah, apa mungkin dia keluar menggunakan jalan rahasia?Pengawal pedang Aldwin membawa gulungan peta, Aldwin langsung membacanya dan memperhatikan rute kediaman Shankara di Ibukota. Ada jalur air di sekitar keluarga Shankara ke arah pelabuhan. Namun, terlalu jauh. Jadi, kemungkinan Shankara berhenti di sebuah perumahan di pinggir ibukota.“Siapkan kuda,” kata Aldwin langsung berdiri.Pengawal pedangnya langsung membungkuk. “Putra Mahkota, hamba mohon jangan meninggalkan akademi. Serahkan pada pengawal bayangan. Shankara pasti baik-baik saja, jika Anda pergi sekarang akan menambah kecurigaan.”Aldwin mengerutkan dahi, duduk dengan kedua tangan yang meremas pakaiannya.“Hamba yakin, Tuan muda Shankara bisa menyusup ke dalam. Jenderal muda, saa

  • Penyamaran sang Putri di Akademi Para Pangeran    Menjalani Hukuman

    Setelah kelas selesai, Daisha pergi menuju ruang baca yang berada di seberang aula dewan.Setelah melewati koridor, ia melihat lima orang pelajar sedang berkumpul di atas jembatan. Daisha melintasi jembatan itu, dan tidak sengaja mendengar percakapan mereka."Bisa-bisanya keluarga pengkhianat masuk

  • Penyamaran sang Putri di Akademi Para Pangeran   Kelas Pertama

    Kaelith membeku. Kemudian menoleh, menatap Daisha yang kini perlahan berdiri. Namun, tidak menghampirinya, hanya berdiri di depan sana.Daisha tersenyum. Senyuman itu membuat Kaelith mematung untuk beberapa saat. Kaelith memutar tubuhnya."Tidur lebih awal. Besok kelas pertamamu.""Senior juga. Sela

  • Penyamaran sang Putri di Akademi Para Pangeran   Hukuman

    "Yang Mulia!"Suara itu berasal dari tuan muda ketiga yang baru tiba, bersama pengawal akademi. Untuk dimintai pertolongan. Semua berlutut.Tangan Aldwin perlahan turun. Daisha masih berlutut di tanah, menatap tangan Putra Mahkota yang kini sudah tidak lagi terulur.Putra Mahkota tersenyum miring, l

  • Penyamaran sang Putri di Akademi Para Pangeran   Akademi Elit

    “Tuan Muda, kita sudah sampai di akademi.”Sosok itu perlahan turun dari kereta kuda. Diedarkannya pandangan ke sekeliling, mengamati bangunan megah di hadapan. Lambang Kekaisaran terukir di atas ujung genteng, plakat mengukir sebuah nama “Nobilis Akademi” di atas aula utama pintu masuk akademi.Pa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status