Share

Bab 6

Penulis: Lysa
Saat pandangannya jatuh pada Irene, Tristan sempat tertegun. Namun, ketika melihat pipi Cheria yang merah dan bengkak, amarah langsung berkobar hebat dalam dirinya.

Di depan banyak orang, dia cepat-cepat maju dan melindungi Cheria di belakangnya. Tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan, dia langsung membentak dengan marah, "Irene, kamu sudah gila ya?! Memangnya Cheria buat salah apa sampai kamu bertindak semaumu seperti ini?!"

Pria yang dulu pernah berkata dengan mata memerah bahwa dia akan mencintainya seumur hidup, kini justru berpihak dan percaya pada wanita lain.

Irene tersenyum tipis. "Dia pelakor yang nggak tahu malu. Apa alasan itu masih belum cukup?"

Dia mengangkat dagunya dan terus mendesak, "Tristan, Cheria sangat menyukaimu. Lalu gimana denganmu? Gimana sikapmu? Apa kamu juga mencintainya?"

"Kamu bicara apa sih?" Tatapan Tristan sempat goyah sesaat, sementara sikap agresifnya agak mereda. "Sudahlah, jangan bahas hal-hal seperti itu di sini."

"Kamu bisa bermesraan dengan Cheria di sini, tapi aku nggak boleh bilang yang sebenarnya?" Irene tiba-tiba tertawa pelan. Hanya dia sendiri yang tahu betapa getirnya tawa itu.

Mendengar itu, Tristan langsung terdiam. Dia tidak menyangka Irene ternyata melihat semuanya!

Kesadaran yang sempat kabur karena mabuk akhirnya pulih. Dia melangkah maju, hendak meraih Irene dan menjelaskan bahwa semuanya hanyalah dorongan sesaat, tetapi tatapan Cheria yang sepenuhnya bergantung padanya membuatnya ragu.

"Kita pulang dulu, lalu bicara baik-baik ya?" pinta Tristan.

"Nggak ada lagi yang perlu dibicarakan." Irene menepis tangan pria itu dengan keras. Tenaganya begitu besar hingga telapak tangannya sendiri ikut terasa perih.

Dia pergi dengan langkah lebar menuju pintu keluar. Di belakangnya terdengar suara langkah Tristan yang buru-buru mengejar, juga suara Cheria yang tercekat dan penuh keluhan.

"Pak Tristan ...."

Pada akhirnya, Irene keluar seorang diri. Sinar bulan mengulur bayangannya yang tampak kesepian.

....

Irene pulang ke rumah secepat mungkin. Koper-kopernya sudah lama dibereskan. Sekarang, dia ingin segera pindah.

Namun, Tristan juga melaju pulang dengan kecepatan tinggi. Dia masuk ke rumah hanya beberapa saat setelah Irene.

Napasnya masih sedikit terengah-engah saat dia mengeluarkan sebuah cincin berlian yang berkilauan dan berusaha memakaikannya ke jari Irene.

"Sayang, aku pernah janji. Setelah kamu pulang ke tanah air, kita akan nikah. Belakangan ini memang banyak hal yang terjadi ... tapi aku nggak pernah mengubah niatku itu. Mulai sekarang, kita jalani hidup dengan baik ya?"

Berlian itu memantulkan kilau bening yang memukau. Di bagian dalam cincin terukir inisial nama mereka berdua.

Ekspresi Tristan terlihat sangat serius. Untuk sesaat, Irene seperti kembali ke masa ketika mereka saling mengucapkan janji sehidup semati.

Namun, dinginnya cincin di jari manisnya menariknya kembali ke kenyataan. Dia mundur dua langkah, lalu melepas cincin itu dan melemparkannya jauh-jauh tanpa belas kasihan.

"Tristan, kamu masih belum jawab pertanyaanku. Bagimu, Cheria itu sebenarnya siapa?"

Cincin yang dirancang dengan penuh perhatian itu jatuh ke lantai, sampai memunculkan beberapa retakan di permukaannya.

Tristan terpaku sesaat, lalu amarahnya kembali berkobar tanpa bisa ditahan. "Irene, sebenarnya sampai kapan kamu mau terus buat masalah?!"

Dia menggertakkan giginya. Wajahnya begitu muram hingga terlihat menakutkan. "Kenapa kamu terus maksain diri memikirkan hal ini? Kenapa harus selalu mempermasalahkan Cheria?"

"Aku akan mengatakan yang sebenarnya kepadamu! Cheria bukan hanya dokter magang di rumah sakitku. Setelah masa magangnya selesai, aku juga akan menjadikannya pegawai tetap! Kalau kamu terus bertindak nggak masuk akal seperti ini, hasilnya nggak akan berubah."

Suara Tristan sedingin es. Setiap katanya terdengar tegas dan keras. "Irene, kamu harus paham. Dalam hubungan ini, kamu yang nggak bisa hidup tanpa aku."

"Kamu yakin?" Irene memotong ucapannya dengan suara dingin.

Melihat alis Tristan yang semakin berkerut, sudut bibirnya perlahan terangkat. "Memang benar, selama sepuluh tahun ini kamu adalah orang yang paling penting dalam hidupku."

"Tapi pada saat yang sama, aku juga punya pendidikan dan karierku sendiri. Aku bukan tanaman parasit yang hidup dengan bergantung padamu! Tristan, kenapa aku nggak bisa hidup tanpamu?"

Napas Tristan tanpa sadar menjadi lebih berat. Bagaimana mungkin Irene meninggalkannya? Itu sama sekali tidak mungkin. Dia hanya sedang berpura-pura kuat.

Saat terus-menerus menyangkal kemungkinan itu dalam hati, layar ponsel Irene yang diletakkan di dekat pintu masuk tiba-tiba menyala. Itu adalah pengingat jadwal penerbangannya!

Tristan menyipitkan mata, lalu mengulurkan lengannya yang panjang untuk mengambil ponsel itu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Penyangkalan Menyakitkan yang Kudengar Dari Pacarku   Bab 21

    "Kamu pergi saja."Setelah waktu yang terasa sangat lama, Tristan menutup matanya dengan kuat dan berkata dengan suara tertahan kepada Irene, "Pergi sekarang juga."Irene tidak ragu sedikit pun. Dia segera bangkit dan merapikan pakaiannya, lalu berjalan menuju pintu. Atas perintah Tristan, pintu yang terkunci itu kembali dibuka. Sebelum Irene benar-benar menghilang dari pandangannya, pria itu akhirnya bertanya dengan suara lirih, "Benarkah ... kita sudah nggak punya kemungkinan lagi?"Suara seraknya yang terendam alkohol terdengar rendah dan berat, membuat dirinya tampak semakin kesepian dan menyedihkan.Irene tidak menjawab. Namun, Tristan sudah mendapatkan jawabannya. Entah itu tawa mengejek dirinya sendiri atau karena kesedihan yang telah mencapai puncaknya, dia tiba-tiba tertawa pelan.Lalu dia berteriak ke arah punggung Irene, "Irene, jangan lupakan aku ... dan jangan membenciku."Irene melangkah keluar dari hotel.Langit dipenuhi awan gelap yang pekat. Angin dingin bercampur kabu

  • Penyangkalan Menyakitkan yang Kudengar Dari Pacarku   Bab 20

    Malam pun segera tiba.Tempat yang telah disiapkan berada di dalam ruang VIP. Begitu melangkah masuk, Irene langsung terkejut melihat beberapa brankas yang terbuka di atas meja. Di dalamnya tersusun tumpukan demi tumpukan uang tunai.Jika dihitung secara kasar, jumlahnya memang mencapai 20 miliar. Namun, pemandangan itu sama sekali tidak membuat Irene senang. Sebaliknya, dia merasa semuanya sangat tidak normal. Langkahnya langsung terhenti dan secara naluriah dia berbalik hendak pergi.Akan tetapi, sudah terlambat.Pintu telah ditutup dari luar. Terdengar bunyi "klik" saat kunci diputar.Pupil mata Irene menyusut tajam. Dia segera berjalan cepat menuju pintu dan mencoba memutar gagangnya. Namun sekeras apa pun dia menekan, pintu itu tidak mau terbuka."Irene ...."Suara yang sangat familier milik Tristan terdengar dari belakangnya.Amarah Irene langsung berkobar. Dia sudah muak dengan sikap Tristan yang terus mengejarnya tanpa henti."Tristan, sebenarnya apa yang kamu inginkan?! Apa ka

  • Penyangkalan Menyakitkan yang Kudengar Dari Pacarku   Bab 19

    Dyson.Jika Tristan adalah tuan muda kalangan elite ibu kota yang membuat banyak orang iri, maka keberadaan Dyson adalah sosok bangsawan konglomerat yang sama sekali tak terjangkau.Sejak kecil dia tumbuh di luar negeri, tetapi di dalam negeri tidak pernah kekurangan cerita tentang dirinya. Atau lebih tepatnya, legenda tentang dirinya.Kecerdasan luar biasa hanyalah kelebihan paling sepele yang dimilikinya. Yang lebih mengerikan, dia sudah mendirikan perusahaannya sendiri pada usia 15 tahun dan hanya dalam waktu satu tahun berhasil menjadikannya perusahaan terkemuka di dalam maupun luar negeri.Saat ini dia masih berstatus mahasiswa, tetapi aset yang dimilikinya tak terhitung jumlahnya. Tidak diragukan lagi, dia adalah orang terkaya di dunia."Kamu pikir aku akan percaya?" balas Tristan langsung. Dia sama sekali tidak percaya Irene bisa memiliki hubungan dengan Dyson.Begitu membayangkan Irene menemukan seseorang yang seratus kali lebih unggul darinya, seseorang yang sama sekali tidak

  • Penyangkalan Menyakitkan yang Kudengar Dari Pacarku   Bab 18

    Album foto itu mendadak terasa dingin. Saat digenggam di telapak tangan, bahkan sudut-sudutnya terasa menusuk dan membuat sakit.Tristan menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah maju beberapa langkah dan menarik Irene ke sisinya. Dia tahu tenaganya agak terlalu besar, tetapi itu sudah hasil dari usahanya menahan diri.Hanya Tuhan yang tahu, rasa cemburu dan keinginan untuk memiliki langsung membanjiri tubuhnya saat melihat ada pria lain muncul di samping Irene."Irene, aku punya hadiah untukmu," katanya dengan suara tertahan.Awalnya, Tristan mengira Irene pasti akan menanyakan ke mana dia pergi setelah dirinya menghilang tanpa sepatah kata selama dua hari. Namun dia sama sekali tidak menyangka, kalimat pertama yang diucapkan Irene saat melihatnya justru adalah, "Bukannya kamu sudah pergi? Kenapa masih di sini?"Begitu kata-kata itu diucapkan, Tristan hampir tidak mampu mempertahankan senyum di wajahnya. Otot-otot wajahnya menegang saat dia memaksakan tawa kaku."Istriku, mana mungkin

  • Penyangkalan Menyakitkan yang Kudengar Dari Pacarku   Bab 17

    Tristan bahkan tidak ingat bagaimana dirinya diusir oleh petugas keamanan. Sepertinya dia tidak merasa malu. Tidak juga merasa marah. Yang ada hanyalah ketidakpercayaan yang memenuhi seluruh hatinya.Irene tidak pernah mengatakan kata-kata perpisahan seperti itu kepadanya. Di hadapannya, Irene selalu lembut. Selalu penuh pengertian. Selalu memaafkan. Tristan-lah yang telah kehilangan dirinya.Namun, dia tidak rela menyerah begitu saja. Irene adalah orang yang ingin dia genggam tangannya hingga akhir hayat. Dia bersedia melakukan apa saja, asalkan Irene mau memaafkannya.Karena itu, Tristan menunggu sangat lama. Dia menunggu hingga matahari perlahan tenggelam. Barulah Irene keluar dari aula konferensi.Di sekelilingnya ada beberapa teman kuliah yang tersenyum cerah.Mereka memuji Irene dalam bahasa asing, mengatakan bahwa dia begitu luar biasa dan jumlah dana investasi yang berhasil diperoleh jauh melampaui perkiraan mereka.Namun, Irene hanya menggeleng dengan rendah hati. "Ini adalah

  • Penyangkalan Menyakitkan yang Kudengar Dari Pacarku   Bab 16

    Mungkin karena langit masih berbelaskasihan padanya. Pada akhirnya, Tristan benar-benar berhasil bertemu dengan Irene. Dia berdiri di area penonton yang remang-remang, sementara Irene berada di tengah panggung dan bersinar terang.Sorotan lampu jatuh ke tubuhnya, membalutnya dengan lingkaran cahaya yang memukau.Irene mengenakan setelan blazer dan rok pendek yang rapi serta elegan. Rambut yang disanggul semakin menonjolkan kesan tegas dan bersih, sementara beberapa helai rambut tipis di dekat dahinya membuatnya tampak lebih anggun.Setiap senyuman, setiap gerakan, dan setiap ekspresinya memancarkan kepercayaan diri.Dengan bahasa asing yang fasih dan penuh pesona, dia menjelaskan proyek startup miliknya dengan tenang dan sistematis.Irene benar-benar telah berubah ....Tristan berdiri terpaku di bawah panggung, menatapnya dengan penuh keterpesonaan.Tidak. Lebih tepatnya, Irene seolah kembali menjadi sosok yang pertama kali dia temui dahulu.Tristan masih ingat dengan jelas. Saat dia m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status