Masuk“Rosemary!”Suara berat itu menggema di koridor rumah sakit. Rosemary, yang sejak tadi duduk di samping ranjang kakeknya, tersentak kaget. Matanya yang sembap langsung menoleh ke arah pintu—dan di sana berdiri Adrian, wajahnya pucat, tatapan matanya cemas, dengan napas yang tidak teratur.“Adrian…” bisik Rosemary parau. Namun sebelum ia sempat berkata lebih banyak, sebuah suara lain memotong dengan tajam.“Kamu masih punya muka untuk datang ke sini?!” Tatapan mata Bibi Clara setajam baja, wajahnya memerah karena amarah.Adrian terpaku sejenak, menelan ludah dengan susah payah. Ia melangkah masuk, mencoba mendekat. “Aku datang bukan untuk membuat keributan. Markus memberi tahuku… bahwa kondisi Kakek Rosemary memburuk. A—aku hanya ingin memastikan beliau baik-baik saja.”“Baik-baik saja?!” Daniel, sepupu Rosemary, menyela dengan nada mengejek. “Apa kamu pikir Ayah baik-baik saja setelah mendengar berita bahwa pernikahanmu dengan Rose hancur karena perselingkuhanmu? Apa kamu tidak sadar
“Tidak! Dokter! Bagaimana keadaan kakek saya?!” Rosemary berlari tergesa-gesa masuk ke ruang ICU, wajahnya pucat pasi, napasnya terengah-engah.Seorang perawat menahannya sebelum ia sempat menerobos masuk. “Tenang dulu, Nona Rosemary. Pasien saat ini sedang dalam kondisi kritis. Anda boleh menjenguknya, tetapi tolong jangan membuat keributan.”Rosemary mengangguk cepat, matanya sudah berkaca-kaca. Ia melangkah masuk ke dalam kamar, dan hatinya seketika hancur berkeping-keping begitu melihat sosok sang kakek.“Kakek…” suaranya bergetar lirih.Lelaki tua itu terbaring tak sadarkan diri, wajahnya pucat, selang oksigen terpasang di hidungnya, dan jalur infus tertancap di lengannya. Monitor jantung berbunyi lemah, seolah-olah bisa berhenti berdetak kapan saja.Rosemary menutupi mulut dengan tangannya; bahunya terguncang hebat. Air matanya mengalir deras tanpa bisa dibendung. “Bagaimana… bagaimana semua ini bisa terjadi?”Perawat yang sempat menahannya tadi menarik napas panjang dan melangk
Cahaya temaram di kamar rumah sakit itu hanya ditemani oleh bunyi berisik yang teratur dari monitor jantung. Kakek Rosemary terbaring lemah di atas ranjang, selang oksigen terpasang di hidungnya, matanya terbuka sejenak sebelum terpejam kembali. Keheningan menyelimuti ruangan itu sampai sebuah ketukan lembut terdengar di pintu.“Permisi… bolehkah aku masuk?” Suara Cassandra mengalun masuk, terdengar lembut namun sarat akan kepura-puraan.Perawat yang sedang bertugas menoleh. “Keluarga?”Cassandra menyunggingkan senyuman hangat. “Teman dekat keluarga. Aku datang karena sangat mencemaskan kondisinya.”Kakek Rosemary perlahan membuka matanya. Meskipun sangat lemah, ia mencoba untuk tersenyum. “Siapa… kamu?”Cassandra melangkah mendekat, lalu duduk di kursi di samping ranjang. Ia menundukkan kepalanya, suaranya melembut dalam nada yang paling manis. “Aku Cassandra, teman Adrian… dan juga Rosemary. Aku mendengar Kakek sedang kurang sehat, jadi aku ingin berkunjung.”Tatap mata lelaki tua i
“Rosemary, tunggu sebentar.”Adrian berhasil menyusulnya di ruang belakang panggung, tepat di saat suara tepuk tangan penonton akhirnya mulai mereda. Rosemary masih bersusah payah untuk mengatur napasnya, matanya memerah karena menahan tangis.“Aku tidak punya waktu untukmu, Adrian.” Ia meletakkan map desainnya di atas meja, suaranya terdengar dingin. “Malam ini bukan tentang kamu. Ini tentang aku—yang akhirnya bisa berdiri tegak kembali.”Adrian terdiam sejenak, lalu melangkah lebih dekat. “Aku tahu. Dan aku bangga padamu, Rose. Kamu… kamu lebih kuat dari yang pernah kubayangkan.”Rosemary berbalik dengan cepat, matanya berkilat tajam. “Jangan mencoba bersikap manis padaku sekarang. Setelah semua luka yang kamu tinggalkan, kata-kata itu tidak ada artinya lagi.”Lila bergegas masuk sambil membawa segelas air. “Kak, minum ini. Kakak harus tenang.” Ia melirik Adrian dengan penuh curiga. “Dan kamu… jangan berani-berani menambah beban pikirannya.”“Aku di sini bukan untuk memberb आम्हाला—
“Lila, cepat! Pastikan semua gaun sudah berada di tempatnya!” Suara Rosemary terdengar tegas, meskipun wajahnya memancarkan kelelahan yang amat mendalam.Suasana di belakang panggung dipenuhi kekacauan yang riuh. Para model berlarian, perias wajah sibuk dengan kuas dan palet kosmetik mereka, sementara panitia penyelenggara bergegas merapikan kursi penonton. Atmosfer yang tegang terasa menekan bagaikan beban yang berat.Lila berlari mendekat sambil membawa papan klip berisi daftar periksa. “Semuanya sudah siap, Kak! Tapi… aku masih merasa cemas. Koleksi ini diselesaikan dalam waktu yang sangat singkat. Bagaimana jika—”Rosemary memotong kalimatnya dengan tatapan mata yang berkobar. “Tidak ada kata bagaimana jika. Kita sudah diinjak-injak terlalu lama. Malam ini, aku harus berdiri tegak.”Di sisi lain aula, Cassandra duduk di area VIP. Sebuah senyuman licik melengkung di bibirnya saat kamera-kamera media menyorot ke arahnya.“Ini akan menjadi malam terakhir bagi Rosemary. Mari kita tont
“Pastikan semua gaun siap untuk pertunjukan minggu depan!” Suara Rosemary menggema di dalam butik kecilnya, yang kini dipadati oleh gulungan kain dan gaun-gaun yang setengah jadi.Lila mengangguk sambil memeriksa daftarnya. “Kak, tinggal tiga gaun lagi yang perlu disempurnakan. Semuanya berjalan lancar.”Rosemary menyunggingkan senyuman tipis, meskipun wajahnya tampak sangat lelah. “Bagus. Aku tidak boleh gagal kali ini. Aku akan menunjukkan kepada semua orang bahwa aku masih berdiri tegak.”Di seberang kota, Cassandra duduk di kantornya dengan ekspresi wajah yang menggelap. Asistennya baru saja memberi tahu bahwa undangan untuk pertunjukan Rosemary mulai menarik perhatian media.“Kamu pasti bercanda! Setelah semua yang kulakukan, dia masih berani menggelar pertunjukan?” Cassandra menghantam mejanya dengan penuh amarah.Asistennya menundukkan kepala. “Maaf, Nyonya. Tapi… tampaknya publik penasaran. Banyak yang ingin melihat apakah Rosemary benar-benar bisa bangkit kembali.”Cassandra







