Share

bab 5

Penulis: Zeaauthor
last update Tanggal publikasi: 2026-07-05 20:18:36

Lampu-lampu kristal di ballroom megah hotel itu berkilauan, sementara alunan musik lembut dari band pengiring memenuhi ruangan. Malam itu seharusnya menjadi malam perayaan yang gemilang: peluncuran besar koleksi gaun terbaru Adrian Corp.

Para tamu datang dengan penuh antusias. Para investor utama memenuhi barisan depan dengan wajah-wajah yang dipenuhi harapan. Adrian berdiri di sisi panggung mengenakan setelan jas hitam yang sempurna. Senyum tipis menghiasi wajahnya, berusaha menyembunyikan badai kegelisahan yang berkecamuk di dalam dirinya.

Di sampingnya, Cassandra yang tampil anggun dalam gaun mewahnya mendekat lalu berbisik penuh keyakinan.

“Tenang saja, Adrian. Malam ini mereka akan melupakan Rosemary. Begitu melihat desainku, semua orang akan tahu siapa yang benar-benar pantas berada di sisimu.”

Adrian hanya mengangguk singkat, meski jantungnya berdetak begitu keras. Ia masih teringat peringatan dingin dari salah satu investor.

“Kalau kualitasnya tidak bisa menyamai karya Rosemary, kerja sama kita selesai.”

Sorot lampu panggung langsung menyala.

Suara pembawa acara menggema penuh semangat.

“Hadirin sekalian, inilah saat yang kita tunggu-tunggu! Peluncuran koleksi terbaru Adrian Corp! Mari kita sambut model pertama!”

Musik dramatis mengalun.

Tirai perlahan terbuka.

Model pertama melangkah anggun di atas catwalk mengenakan gaun rancangan Cassandra.

Dan seketika...

Suasana berubah.

Gaun itu...

Sangat buruk.

Kain satin mahal yang seharusnya jatuh dengan anggun justru tampak kaku dan tidak bernyawa. Perpaduan warnanya benar-benar bertabrakan—ungu mencolok dipadukan dengan hijau terang yang menyilaukan mata. Bordir emas di bagian pinggang terlihat kasar, dipaksakan, dan sama sekali tidak elegan.

Bisik-bisik mulai memenuhi ruangan.

“Apa-apaan itu?”

“Gaunnya jelek sekali.”

“Bukankah itu kain premium? Kenapa malah terlihat murahan?”

Keringat dingin mulai membasahi dahi Adrian.

Ia melirik Cassandra.

Senyum percaya diri wanita itu mulai retak meskipun ia masih berusaha mempertahankan ketenangannya.

Model kedua muncul mengenakan gaun malam.

Namun hasilnya jauh lebih buruk.

Potongan gaun itu justru merusak siluet tubuh sang model. Renda hitam dipadukan dengan payet merah darah secara berlebihan hingga menciptakan kesan norak, bukan elegan.

Suara bisik-bisik semakin keras.

Hingga akhirnya suara lantang seorang pria memecah keheningan.

“Adrian! Ini yang kamu sebut karya luar biasa?”

Investor William berdiri dari kursinya. Wajahnya memerah karena marah.

Adrian segera menghampirinya.

“Tuan William, ini baru permulaan—”

“Permulaan?” potong Investor Clara dengan nada tajam. “Lihat gaun itu! Bahannya rusak, jahitannya berantakan! Apa kamu pikir kami buta?”

Cassandra buru-buru maju sambil berusaha tetap tenang.

“Ini adalah konsep modern. Perpaduan warna yang berani. Sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya.”

“Omong kosong!”

William menggelegar.

“Itu bukan berani, tapi bencana! Kamu telah menyia-nyiakan kain bernilai miliaran rupiah dan mempermalukan kami di depan publik!”

Kilatan kamera langsung memenuhi ballroom, mengabadikan wajah Adrian yang semakin pucat.

Para tamu berbisik-bisik.

Sebagian bahkan mulai menertawakannya secara terang-terangan.

“Adrian,” suara Clara setajam pisau, “kamu menjanjikan koleksi yang setara dengan kehebatan Rosemary. Tapi yang kulihat hanyalah hasil kerja amatir yang memalukan. Apa kamu benar-benar berharap investor seperti kami mau menanamkan uang untuk... sampah seperti ini?”

Adrian mengangkat kedua tangannya dengan putus asa.

“Tolong... beri kami satu kesempatan lagi—”

“Tidak ada kesempatan lagi!”

William membentak keras.

“Aku menarik seluruh investasiku. Mulai malam ini, kerja sama kita berakhir!”

Satu per satu investor lainnya ikut berdiri.

“Kami juga menarik investasi kami.”

“Adrian Corp sudah tidak bisa dipercaya lagi.”

“Kegagalan ini ikut mencoreng nama baik kami.”

Kekacauan pun terjadi.

Para investor berjalan keluar dengan wajah penuh kemarahan tanpa memedulikan acara yang belum selesai.

“Tidak! Tolong! Tunggu! Kita masih bisa membicarakannya!”

Adrian hampir berlari mengejar mereka. Wajahnya pucat pasi.

“Aku bersumpah akan memperbaiki semuanya. Aku masih bisa—”

William berbalik.

Tatapannya dipenuhi rasa muak.

“Satu-satunya orang yang bisa menyelamatkan proyek ini adalah Rosemary. Tapi kamulah yang mengusirnya. Sekarang tanggung sendiri akibatnya.”

Kalimat itu menghantam Adrian seperti palu godam.

Ia membeku di tengah ballroom, dikelilingi tatapan sinis dari semua orang.

Cassandra mencengkeram lengannya sambil berbisik panik.

“Adrian, jangan dengarkan mereka. Mereka terlalu konservatif. Mereka tidak mengerti seni—”

“Diam, Cassandra!”

Adrian menepis tangan wanita itu dengan kasar.

Suaranya meledak bagai petir.

Cassandra tersentak. Wajahnya langsung memucat.

“Kamu bilang bisa menyaingi Rosemary! Kamu bersumpah akan membuat mereka melupakan namanya! Lihat sekarang apa yang sudah kamu lakukan! Kamu menghancurkan semuanya! Kamu mempermalukanku di depan semua orang!”

Bibir Cassandra bergetar.

Namun tak satu kata pun mampu keluar.

Seluruh rasa percaya dirinya runtuh seketika.

Pembawa acara buru-buru mencoba menutup acara.

Musik perlahan dihentikan dengan canggung.

Namun semuanya sudah terlambat.

Malam yang seharusnya menjadi kemenangan besar Adrian Corp justru berubah menjadi bencana yang disaksikan publik.

Adrian berdiri seorang diri di tengah ballroom.

Seluruh tubuhnya gemetar.

Kerajaannya mulai runtuh.

Bukan hanya bisnisnya...

Tetapi juga harga dirinya.

Nama besarnya.

Dan di tengah kehancuran yang ia ciptakan sendiri, perlahan ia membisikkan satu nama yang selama ini berusaha ia kubur dalam-dalam.

“Rosemary... apakah kamu masih mau kembali... dan membangun perusahaan ini bersamaku?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Penyesalan Setelah Bercerai Mantan Istri Balas Dendam    bab 49

    “Rosemary!”Suara berat itu menggema di koridor rumah sakit. Rosemary, yang sejak tadi duduk di samping ranjang kakeknya, tersentak kaget. Matanya yang sembap langsung menoleh ke arah pintu—dan di sana berdiri Adrian, wajahnya pucat, tatapan matanya cemas, dengan napas yang tidak teratur.“Adrian…” bisik Rosemary parau. Namun sebelum ia sempat berkata lebih banyak, sebuah suara lain memotong dengan tajam.“Kamu masih punya muka untuk datang ke sini?!” Tatapan mata Bibi Clara setajam baja, wajahnya memerah karena amarah.Adrian terpaku sejenak, menelan ludah dengan susah payah. Ia melangkah masuk, mencoba mendekat. “Aku datang bukan untuk membuat keributan. Markus memberi tahuku… bahwa kondisi Kakek Rosemary memburuk. A—aku hanya ingin memastikan beliau baik-baik saja.”“Baik-baik saja?!” Daniel, sepupu Rosemary, menyela dengan nada mengejek. “Apa kamu pikir Ayah baik-baik saja setelah mendengar berita bahwa pernikahanmu dengan Rose hancur karena perselingkuhanmu? Apa kamu tidak sadar

  • Penyesalan Setelah Bercerai Mantan Istri Balas Dendam    bab 48

    “Tidak! Dokter! Bagaimana keadaan kakek saya?!” Rosemary berlari tergesa-gesa masuk ke ruang ICU, wajahnya pucat pasi, napasnya terengah-engah.Seorang perawat menahannya sebelum ia sempat menerobos masuk. “Tenang dulu, Nona Rosemary. Pasien saat ini sedang dalam kondisi kritis. Anda boleh menjenguknya, tetapi tolong jangan membuat keributan.”Rosemary mengangguk cepat, matanya sudah berkaca-kaca. Ia melangkah masuk ke dalam kamar, dan hatinya seketika hancur berkeping-keping begitu melihat sosok sang kakek.“Kakek…” suaranya bergetar lirih.Lelaki tua itu terbaring tak sadarkan diri, wajahnya pucat, selang oksigen terpasang di hidungnya, dan jalur infus tertancap di lengannya. Monitor jantung berbunyi lemah, seolah-olah bisa berhenti berdetak kapan saja.Rosemary menutupi mulut dengan tangannya; bahunya terguncang hebat. Air matanya mengalir deras tanpa bisa dibendung. “Bagaimana… bagaimana semua ini bisa terjadi?”Perawat yang sempat menahannya tadi menarik napas panjang dan melangk

  • Penyesalan Setelah Bercerai Mantan Istri Balas Dendam    bab 47

    Cahaya temaram di kamar rumah sakit itu hanya ditemani oleh bunyi berisik yang teratur dari monitor jantung. Kakek Rosemary terbaring lemah di atas ranjang, selang oksigen terpasang di hidungnya, matanya terbuka sejenak sebelum terpejam kembali. Keheningan menyelimuti ruangan itu sampai sebuah ketukan lembut terdengar di pintu.“Permisi… bolehkah aku masuk?” Suara Cassandra mengalun masuk, terdengar lembut namun sarat akan kepura-puraan.Perawat yang sedang bertugas menoleh. “Keluarga?”Cassandra menyunggingkan senyuman hangat. “Teman dekat keluarga. Aku datang karena sangat mencemaskan kondisinya.”Kakek Rosemary perlahan membuka matanya. Meskipun sangat lemah, ia mencoba untuk tersenyum. “Siapa… kamu?”Cassandra melangkah mendekat, lalu duduk di kursi di samping ranjang. Ia menundukkan kepalanya, suaranya melembut dalam nada yang paling manis. “Aku Cassandra, teman Adrian… dan juga Rosemary. Aku mendengar Kakek sedang kurang sehat, jadi aku ingin berkunjung.”Tatap mata lelaki tua i

  • Penyesalan Setelah Bercerai Mantan Istri Balas Dendam    bab 46

    “Rosemary, tunggu sebentar.”Adrian berhasil menyusulnya di ruang belakang panggung, tepat di saat suara tepuk tangan penonton akhirnya mulai mereda. Rosemary masih bersusah payah untuk mengatur napasnya, matanya memerah karena menahan tangis.“Aku tidak punya waktu untukmu, Adrian.” Ia meletakkan map desainnya di atas meja, suaranya terdengar dingin. “Malam ini bukan tentang kamu. Ini tentang aku—yang akhirnya bisa berdiri tegak kembali.”Adrian terdiam sejenak, lalu melangkah lebih dekat. “Aku tahu. Dan aku bangga padamu, Rose. Kamu… kamu lebih kuat dari yang pernah kubayangkan.”Rosemary berbalik dengan cepat, matanya berkilat tajam. “Jangan mencoba bersikap manis padaku sekarang. Setelah semua luka yang kamu tinggalkan, kata-kata itu tidak ada artinya lagi.”Lila bergegas masuk sambil membawa segelas air. “Kak, minum ini. Kakak harus tenang.” Ia melirik Adrian dengan penuh curiga. “Dan kamu… jangan berani-berani menambah beban pikirannya.”“Aku di sini bukan untuk memberb आम्हाला—

  • Penyesalan Setelah Bercerai Mantan Istri Balas Dendam    bab 45

    “Lila, cepat! Pastikan semua gaun sudah berada di tempatnya!” Suara Rosemary terdengar tegas, meskipun wajahnya memancarkan kelelahan yang amat mendalam.Suasana di belakang panggung dipenuhi kekacauan yang riuh. Para model berlarian, perias wajah sibuk dengan kuas dan palet kosmetik mereka, sementara panitia penyelenggara bergegas merapikan kursi penonton. Atmosfer yang tegang terasa menekan bagaikan beban yang berat.Lila berlari mendekat sambil membawa papan klip berisi daftar periksa. “Semuanya sudah siap, Kak! Tapi… aku masih merasa cemas. Koleksi ini diselesaikan dalam waktu yang sangat singkat. Bagaimana jika—”Rosemary memotong kalimatnya dengan tatapan mata yang berkobar. “Tidak ada kata bagaimana jika. Kita sudah diinjak-injak terlalu lama. Malam ini, aku harus berdiri tegak.”Di sisi lain aula, Cassandra duduk di area VIP. Sebuah senyuman licik melengkung di bibirnya saat kamera-kamera media menyorot ke arahnya.“Ini akan menjadi malam terakhir bagi Rosemary. Mari kita tont

  • Penyesalan Setelah Bercerai Mantan Istri Balas Dendam    bab 44

    “Pastikan semua gaun siap untuk pertunjukan minggu depan!” Suara Rosemary menggema di dalam butik kecilnya, yang kini dipadati oleh gulungan kain dan gaun-gaun yang setengah jadi.Lila mengangguk sambil memeriksa daftarnya. “Kak, tinggal tiga gaun lagi yang perlu disempurnakan. Semuanya berjalan lancar.”Rosemary menyunggingkan senyuman tipis, meskipun wajahnya tampak sangat lelah. “Bagus. Aku tidak boleh gagal kali ini. Aku akan menunjukkan kepada semua orang bahwa aku masih berdiri tegak.”Di seberang kota, Cassandra duduk di kantornya dengan ekspresi wajah yang menggelap. Asistennya baru saja memberi tahu bahwa undangan untuk pertunjukan Rosemary mulai menarik perhatian media.“Kamu pasti bercanda! Setelah semua yang kulakukan, dia masih berani menggelar pertunjukan?” Cassandra menghantam mejanya dengan penuh amarah.Asistennya menundukkan kepala. “Maaf, Nyonya. Tapi… tampaknya publik penasaran. Banyak yang ingin melihat apakah Rosemary benar-benar bisa bangkit kembali.”Cassandra

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status