LOGIN
"Hasil tes DNA sudah keluar," ucap William datar.
Pria itu sengaja datang ke rumah sakit sebelum berangkat ke kantor untuk mengambil sendiri amplop yang sudah ia tunggu sejak minggu lalu. Ia merobek segel kertas itu, lalu membaca isinya dengan saksama. Perlahan rahangnya mengeras dan tatapannya penuh kekecewaan. Tanpa berkata sepatah kata pun, ia melemparkan lembaran itu ke arah Laura. Dengan tangan gemetar, Laura mengambil kertas tersebut. Matanya bergerak cepat menelusuri deretan angka di sana hingga berhenti pada satu titik yang membuat dadanya seketika terasa sakit seperti diremas tangan tak kasat mata. Angka nol persen itu terpampang nyata, seolah tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk dibantah. Air mata Laura jatuh tanpa bisa ditahan lagi membasahi kertas itu. "Ini pasti ada yang salah, William. Aurora anakmu. Aku tidak pernah menjalin hubungan dengan pria lain di belakangmu," ucap Laura dengan suara bergetar menahan sakit tepat di ulu hatinya melihat penolakan yang sama sejak Aurora terlahir satu Minggu yang lalu. William mengangkat tangan, memberi isyarat agar istrinya berhenti bicara. Tatapannya sangat dingin, seolah-olah wanita di depannya adalah orang yang paling ia benci di dunia ini. "Aku sudah melihat sendiri hasilnya, tidak perlu ada penjelasan apapun lagi darimu," sahut William. "Tidak, William, tolong dengarkan aku dulu. Aku tidak pernah berbohong, aku dijebak oleh seseorang. Kumohon percayalah padaku, aku tidak pernah mengkhianatimu. Aurora adalah darah dagingmu sendiri, William," ujar Laura sambil mencoba meraih tangan suaminya berharap pria itu masih bisa diajak bicara dari hati ke hati. Tapi semuanya sia-sia. "Cukup!" bentak William hingga membuat Laura seketika bungkam. Pria itu langsung menghempas tangan Laura dengan kasar hingga Laura terduduk di kursi itu lagi. Ia tidak memberi kesempatan sedikit pun bagi Laura untuk membela diri. "Aku tidak ingin mendengar apa pun lagi tentang anak itu!" Seru William sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi ke belakang. Laura mematung di tempatnya, menatap punggung suaminya yang perlahan menjauh dan menghilang di balik tikungan lorong. Tubuhnya kehilangan seluruh tenaganya bahkan kesempatan untuk membela diri pun dia tak punya. Kertas di tangannya terasa sangat menyakitkan, seolah seluruh hidupnya hancur karena selembar hasil tes yang tidak ia mengerti dari mana asalnya. Pandangan Laura bergeser ke arah pintu kaca ruang ICU yang tertutup rapat. Di dalam sana, bayi kecilnya masih berbaring dengan tubuh dipenuhi alat medis yang terlihat begitu mengerikan. Aurora tampak begitu mungil, begitu lemah, dan kini ayahnya sendiri enggan mengakuinya. Orang-orang mungkin melihat Laura sebagai wanita paling beruntung karena berhasil menjadi istri William Harrington, pewaris tunggal kerajaan bisnis yang namanya disegani dalam dunia bisnis. Namun bagi Laura, semua kemewahan itu mendadak tak ada artinya, karena ia kini benar-benar sendirian di tengah badai yang menghantam rumah tangganya. "Aku tidak pernah mengkhianatimu, William," bisik Laura sambil memeluk tubuhnya sendiri yang mulai menggigil. Lalu ia meremas kertas di tangannya dengan kuat. Laura tahu ada yang tidak beres dengan semua ini, ia tahu pasti ada seseorang yang sengaja menghancurkan rumah tangganya. Namun tanpa bukti, semua keyakinannya hanya akan dianggap angin lalu oleh William. "Aurora, bertahanlah, Nak. Mama akan melakukan apa pun untukmu," tutur Laura lirih sambil menahan perih yang terus menguliti perasaannya. Pintu ruang ICU terbuka, sosok dokter Antonio keluar dengan wajah sendu. Laura berdiri dan bertanya, “bagaimana keadaan anak saya, dok?” Suaranya terdengar sangat lirih. Dokter Antonio menghela napas panjang, “mari ikut ke ruangan saya sebentar, Bu,” sahutnya. Laura mengangguk patuh. Dia berjalan di belakang sang dokter lalu masuk ke ruangan dokter itu dan duduk di depan meja kerjanya. Dokter Antonio melihat rekam medis Aurora. Dia menatap Laura, dan dengan berat hati dia harus menyampaikan kabar buruk ini. “Kondisi anak Ibu semakin menurun, bahkan ini lebih cepat dari perkiraan kami sebelumnya. Alat medis di tubuhnya tak mampu lagi membantunya dengan maksimal, Bu. Agar kebocoran jantung tidak semakin melebar maka kita harus segera ambil tindakan untuk menyelamatkannya,” ucap dokter. Laura terdiam sepersekian detik. Lantas dia bertanya, “be–berapa lama anak saya punya waktu sebelum di operasi, dok?” tanya Laura dengan bibir bergetar. “Hanya sampai jam delapan esok pagi, Bu. Jika tidak…” Ucapan dokter terjeda membuat jantung Laura berdetak semakin kencang. “Jika tidak, apa yang akan terjadi dengan anak saya, dok?” tanya Laura sambil menahan tangisnya. “Nyawanya tidak akan bisa diselamatkan, Bu,” ujar dokter lagi. Laura menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia tak sanggup lagi menahan tangisnya. Rasa sakit pasca melahirkan saja masih Laura rasakan, kini nyawa anaknya di ujung tanduk. “Ya Tuhan, begitu dahsyatnya cobaan yang kembali Engkau berikan untukku setelah kepergian kedua orangtuaku. Kumohon jangan pernah ambil Aurora dariku,” bisiknya lirih sambil terus terisak, seolah dia sedang merayu Tuhan untuk berhenti membuatnya menangis. “Suami ibu di mana? Saya harus meminta persetujuannya sebelum operasi dilakukan. Karena sangat berisik, Bu,” ujar dokter. Selama satu minggu menangani penyakit yang diderita bayi malang itu, dokter Antonio sama sekali tidak pernah melihat keberadaan William di rumah sakit ini. Hanya ada Laura yang menemani putri mereka. “A–ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan oleh suami saya, dok. Biar saya saja yang tanda tangani surat pernyataannya, dok,” ucapnya terbata. Tidak ada yang boleh tahu tentang prahara rumah tangganya. Dokter pun mengangguk paham, dia lalu berkata, “Kalau begitu silahkan ke ruang administrasi untuk melunasi biaya operasinya, Bu.” “Berapa biayanya, dok?” Tanyanya lirih. Setidaknya Laura masih punya perhiasan dan tas mahal yang akan dia jual demi kesembuhan putrinya. “Dua miliar.” Mata Laura membulat penuh mendengar biaya fantastis yang harus disiapkan demi menyelamatkan nyawa Aurora. Note Author: Yang di bawah umur gak boleh baca!Sekitar jam sebelas siang dua stroller bayi yang seharga dengan mobil sudah berjajar di ruang keluarga. William dan keluarganya sudah berpenampilan rapi siap menyambut kedatangan Selena dan calon suaminya. Sebetulnya Soraya sudah tahu siapa yang akan melamar anak angkatnya, hanya saja ia enggan memberitahu William karena kata Selena ia akan memberi kejutan buat adiknya itu. “Selamat siang semua,” suara nyempreng Selena mulai terdengar dan masuk ke dalam rumah. Disusul oleh Aldo. William mengerti heran karena asisten kesayangannya ini tiba-tiba datang ke rumah padahal dirinya tidak ada memberi tugas apapun di saat weekend. “Duduk, Al,” ucap William. “Terima kasih, Tuan.”Selena mulai menyapa keluarganya dan mencium pipinya termasuk kedua keponakannya. Tapi saat ia akan mencium William, pria itu selalu menolaknya katanya merasa geli dicium oleh Kakak angkatnya itu. Karena tak berhasil menghargai William, Selena pun akhirnya duduk di samping Aldo dan menggenggam tangan Aldo membuat ma
William dan Laura duduk berdampingan di meja makan yang luas tanpa sekat pembatas, langsung menghadap ke arah taman dalam rumah mereka yang megah. Keduanya begitu lahap menikmati hidangan roti tangkup isi daging dan telur dadar gulung buatan Soraya. Masakan sang mama memang selalu menjadi hidangan kesukaan mereka berdua sejak dulu. Seketika itu juga, seluruh sudut rumah terasa begitu hangat, seolah dialiri oleh getaran kasih sayang yang teramat melimpah. Canda tawa yang renyah terus saja terlontar dari mulut keduanya, susul-menyusul tanpa henti. Mereka saling melemparkan pujian satu sama lain dengan pandangan mata yang berkaca-kaca karena bahagia, persis seperti sepasang kekasih yang baru saja melangsungkan pernikahan dan tengah hanyut menikmati masa-masa indah kebersamaan berdua. Di sela-sela obrolan yang kian mendalam, mereka saling menautkan jemari, mengikat janji suci di dalam hati masing-masing untuk tidak akan pernah lagi mengulang lembaran kelam yang penuh kesalahan di masa
Laura terus mendesah saat sang suami melahap dadanya menghisap ASI milik si kembar. Untung saja ASInya melimpah sehingga sang anak masih punya banyak stok ASI sehingga iya tak perlu khawatir ketika sang suami terus menikmati ASI itu. Sejak kelahiran Aurora memang William sangat doyan sekali menghisap ASI istrinya. Demi apapun rasanya sangat nikmat membuat William ketagihan dan setiap kali melihat bayi-bayinya minum ASI dari sumbernya William seperti ingin berebut bareng 2 buah hatinya.“Sayaaaaaang, aku udah gak tahan,” desah Laura, saat tangan suaminya dengan liar masuk ke bagian intimnya. William langsung melepaskan semua pakaiannya dan segera melakukan penyatuan. Kegiatan panas itu benar-benar berlangsung sampai dua ronde. Dan tepat ronde kedua berakhir tangisan kedua bayinya mulai terdengar sangat merdu di telinga keduanya. William bangkit dari tubuh Laura dan berkata, “biar aku saja, sayang, yang ke kamar Baby Twin's. Kamu tidur aja,” William mengecup bibir sang istri, lalu mem
Kebahagiaan yang dinantikan Laura dan William akhirnya benar-benar nyata, bahkan jauh lebih indah dari yang pernah mereka bayangkan. Rumah besar yang dulunya terasa sepi, sekarang mendadak penuh dengan suara tangis berisik yang justru terdengar seperti melodi paling merdu di telinga mereka. Kini usia si kembar sudah menginjak bulan kedua. Pipi mereka mulai berisi membuat Grandma dan Grandpa-nya memilih menetap di New York karena tak bisa berjauhan dengan si kembar.Menjadi orang tua baru buat Leonardo dan Leonora ternyata membawa corak baru yang luar biasa dalam hidup pasangan ini. Mereka seperti tidak ingin kehilangan satu detik pun untuk melewatkan tumbuh kembang sepasang malaikat kecil yang menggemaskan itu.Walaupun William sudah menyiapkan dua orang pengasuh bayi yang siap sedia setiap saat, Laura sama sekali tidak mau menjadi ibu yang tinggal terima beres. Menurut Laura, pelukan dan aroma tubuh ibu kandung adalah hal yang paling berharga untuk anak-anaknya. Laura tetap memandika
“Aku minta maaf sama kamu, benar-benar minta maaf atas kesalahanku,” ucap Paula lagi dengan suara yang tersendek-sendek di antara napasnya yang terasa berat.Laura mengusap lelehan air mata yang terus-menerus membasahi wajah sahabatnya itu. Padahal, di saat yang bersamaan, air matanya sendiri seolah menolak untuk berhenti mengalir, mengucur deras melintasi pipinya dan membasahi wajah cantiknya yang kini kelihatan begitu pias. Kesedihan yang teramat mendalam begitu jelas tergambar dari sepasang matanya yang sembap.Paula lantas menolehkan kepalanya, mengarahkan pandangan matanya ke ambang pintu. Di sana, William masih berdiri, seolah tidak akan membiarkan istrinya sendirian di sana. Pria itu hanya terus menatap lurus ke arah dua wanita yang kini memilih jalan untuk saling menghapus dendam dan memaafkan satu sama lain.“Pak William, tolong maafkan saya. Saya minta ampun sudah lancang masuk ke dalam rumah tangga Anda dan nyaris menghancurkannya. Saya benar-benar salah,” ujar wanita itu d
“Sayang, aku mau minta izin buat ketemu sama Paula,” ucap Laura meminta izin pada sang suami.William mengurai pelukannya lantas bertanya, “Buat apa sih, sayang, ketemu sama dia lagi? Udah deh, anggap nggak kenal lagi sama dia.”William menatap lekat wajah istrinya, ada gurat kecemasan yang mendalam di matanya. Pria itu hanya takut istrinya kenapa-napa jika nekat untuk tetap bertemu dengan Paula—wanita yang nyaris menghancurkan kehidupan mereka, mengoyak kedamaian yang baru saja mereka bangun kembali, dan hampir merenggut segalanya dari hidup mereka. “Aku kan sahabatnya, sayang. Aku pengen ketemu aja sama dia, pengen ngobrol. Siapa tahu dia bisa bertobat,” ujar Laura dengan suara yang melembut, mencoba mengikis ketegangan yang mendadak menyeruak di antara mereka.Namun, William menggeleng. Amarah dan rasa trauma menguasai dirinya tentang Paula. “Tapi sayang, mungkin saja sekarang dia jauh lebih membenci kamu dari sebelumnya. Aku menjebloskannya ke penjara, sementara hubungan kita sud







