Share

Penyesalan Suami Posesif
Penyesalan Suami Posesif
Author: Atieckha

Bab 1

Author: Atieckha
last update publish date: 2026-04-10 16:48:06

"Hasil tes DNA sudah keluar," ucap William datar.

Pria itu sengaja datang ke rumah sakit sebelum berangkat ke kantor untuk mengambil sendiri amplop yang sudah ia tunggu sejak minggu lalu. Ia merobek segel kertas itu, lalu membaca isinya dengan saksama. Perlahan rahangnya mengeras dan tatapannya penuh kekecewaan. Tanpa  berkata sepatah kata pun, ia melemparkan lembaran itu ke arah Laura.

Dengan tangan gemetar, Laura mengambil kertas tersebut. Matanya bergerak cepat menelusuri deretan angka di sana hingga berhenti pada satu titik yang membuat dadanya seketika terasa sakit seperti diremas tangan tak kasat mata. Angka nol persen itu terpampang nyata, seolah tidak menyisakan ruang sedikit pun untuk dibantah.

Air mata Laura jatuh tanpa bisa ditahan lagi membasahi kertas itu. "Ini pasti ada yang salah, William. Aurora anakmu. Aku tidak pernah  menjalin hubungan dengan pria lain di belakangmu," ucap Laura dengan suara bergetar menahan sakit tepat di ulu hatinya melihat penolakan yang sama sejak Aurora terlahir satu Minggu yang lalu.

William mengangkat tangan, memberi isyarat agar istrinya berhenti bicara. Tatapannya sangat dingin, seolah-olah wanita di depannya adalah orang yang paling ia benci di dunia ini.

"Aku sudah melihat sendiri hasilnya, tidak perlu ada penjelasan apapun lagi darimu," sahut William.

"Tidak, William, tolong dengarkan aku dulu. Aku tidak pernah berbohong, aku dijebak oleh seseorang. Kumohon percayalah padaku, aku tidak pernah mengkhianatimu. Aurora adalah darah dagingmu sendiri, William," ujar Laura sambil mencoba meraih tangan suaminya berharap pria itu masih bisa diajak bicara dari hati ke hati. Tapi semuanya sia-sia.

"Cukup!" bentak William hingga membuat Laura seketika bungkam.

Pria itu langsung menghempas tangan Laura dengan kasar hingga Laura terduduk di kursi itu lagi. Ia tidak memberi kesempatan sedikit pun bagi Laura untuk membela diri.

"Aku tidak ingin mendengar apa pun lagi tentang anak itu!" Seru William sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi ke belakang.

Laura mematung di tempatnya, menatap punggung suaminya yang perlahan menjauh dan menghilang di balik tikungan lorong. Tubuhnya kehilangan seluruh tenaganya bahkan kesempatan untuk membela diri pun dia tak punya. Kertas di tangannya terasa sangat menyakitkan, seolah seluruh hidupnya hancur karena selembar hasil tes yang tidak ia mengerti dari mana asalnya.

Pandangan Laura bergeser ke arah pintu kaca ruang ICU yang tertutup rapat. Di dalam sana, bayi kecilnya masih berbaring dengan tubuh dipenuhi alat medis yang terlihat begitu mengerikan. Aurora tampak begitu mungil, begitu lemah, dan kini ayahnya sendiri enggan mengakuinya.

Orang-orang mungkin melihat Laura sebagai wanita paling beruntung karena berhasil menjadi istri William Harrington, pewaris tunggal kerajaan bisnis yang namanya disegani dalam dunia bisnis. Namun bagi Laura, semua kemewahan itu mendadak tak ada artinya, karena ia kini benar-benar sendirian di tengah badai yang menghantam rumah tangganya.

"Aku tidak pernah mengkhianatimu, William," bisik Laura sambil memeluk tubuhnya sendiri yang mulai menggigil.

Lalu ia meremas kertas di tangannya dengan kuat. Laura tahu ada yang tidak beres dengan semua ini, ia tahu pasti ada seseorang yang sengaja menghancurkan rumah tangganya. Namun tanpa bukti, semua keyakinannya hanya akan dianggap angin lalu oleh William.

"Aurora, bertahanlah, Nak. Mama akan melakukan apa pun untukmu," tutur Laura lirih sambil menahan perih yang terus menguliti perasaannya.

Pintu ruang ICU terbuka, sosok dokter Antonio keluar dengan wajah sendu. Laura berdiri dan bertanya, “bagaimana keadaan anak saya, dok?” Suaranya terdengar sangat lirih.

Dokter Antonio menghela napas panjang, “mari ikut ke ruangan saya sebentar, Bu,” sahutnya.

Laura mengangguk patuh. Dia berjalan di belakang sang dokter lalu masuk ke ruangan dokter itu dan duduk di depan meja kerjanya. Dokter Antonio melihat rekam medis Aurora. Dia menatap Laura, dan dengan berat hati dia harus menyampaikan kabar buruk ini.

“Kondisi anak Ibu semakin menurun, bahkan ini lebih cepat dari perkiraan kami sebelumnya. Alat medis di tubuhnya tak mampu lagi membantunya dengan maksimal, Bu. Agar kebocoran jantung tidak semakin melebar maka kita harus segera ambil tindakan untuk menyelamatkannya,” ucap dokter. 

Laura terdiam sepersekian detik. Lantas dia bertanya, “be–berapa lama anak saya punya waktu sebelum di operasi, dok?” tanya Laura dengan bibir bergetar.

“Hanya sampai jam delapan esok pagi, Bu. Jika tidak…” 

Ucapan dokter terjeda membuat jantung Laura berdetak semakin kencang. “Jika tidak, apa yang akan terjadi dengan anak saya, dok?” tanya Laura sambil menahan tangisnya.

“Nyawanya tidak akan bisa diselamatkan, Bu,” ujar dokter lagi.

Laura menutup wajahnya dengan kedua tangan. Dia tak sanggup lagi menahan tangisnya. Rasa sakit pasca melahirkan saja masih Laura rasakan, kini nyawa anaknya di ujung tanduk.

“Ya Tuhan, begitu dahsyatnya cobaan yang kembali Engkau berikan untukku setelah kepergian kedua orangtuaku. Kumohon jangan pernah ambil Aurora dariku,” bisiknya lirih sambil terus terisak, seolah dia sedang merayu Tuhan untuk berhenti membuatnya menangis.

“Suami ibu di mana? Saya harus meminta persetujuannya sebelum operasi dilakukan. Karena sangat berisik, Bu,” ujar dokter. Selama satu minggu menangani penyakit yang diderita bayi malang itu, dokter Antonio sama sekali tidak pernah melihat keberadaan William di rumah sakit ini. Hanya ada Laura yang menemani putri mereka.

“A–ada urusan yang tidak bisa ditinggalkan oleh suami saya, dok. Biar saya saja yang tanda tangani surat pernyataannya, dok,” ucapnya terbata. Tidak ada yang boleh tahu tentang prahara rumah tangganya.

Dokter pun mengangguk paham, dia lalu berkata, “Kalau begitu silahkan ke ruang administrasi untuk melunasi biaya operasinya, Bu.”

“Berapa biayanya, dok?” Tanyanya lirih. Setidaknya Laura masih punya perhiasan dan tas mahal yang akan dia jual demi kesembuhan putrinya.

“Dua miliar.” 

Mata Laura membulat penuh mendengar biaya fantastis yang harus disiapkan demi menyelamatkan nyawa Aurora.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Atieckha
Buku ini mengandung banyak ADEGAN DEWASA. Tidak disarankan untuk pembaca di bawah usia 18 tahun. Terima kasih.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 7

    Laura menatap nanar layar ponsel yang masih menyala di tangannya. Di sana, terpampang jelas foto kiriman Paula. Perempuan itu tampak sengaja memamerkan momen saat dirinya dan William sedang berpelukan di pinggir jalan. Dada Laura seketika terasa sakit seperti diremas tangan tak kasat mata, panas menjalar hingga ke ubun-ubun. Tanpa membalas sepatah kata pun, ia langsung memblokir nomor Paula. Ia tidak ingin memberikan kepuasan pada perempuan ular itu dengan melihatnya marah atau memohon.“Aku gak akan pernah membiarkanmu melukaiku dengan cara rendahan seperti ini, Paula. Tunggu sampai anakku pulih, akan kubuktikan kau dalang dari fitnah itu,” gumam Laura dalam hati. Ternyata orang yang dianggap sebagai sahabat terbaiknya, kini berubah menjadi virus mematikan dalam hidupnya.Jam sudah menunjukkan angka sebelas malam saat pintu kamar utama terbuka. William melangkah masuk dengan sisa wangi parfum yang wanita melekat di bajunya. Sebenarnya, William sempat cemas kalau-kalau Laura nekat k

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 6

    Tok, tok. "Permisi, Pak," ucap Paula sambil mengetuk pintu ruang kerja William. "Masuk," sahut William dari dalam. Paula segera melangkah masuk. Ia duduk di kursi depan meja kerja William dan mengeluarkan tumpukan berkas yang harus segera mereka selesaikan. Fokus William sempat teralihkan sejenak. "Sudah kau telepon pihak rumah sakit untuk menyediakan satu suster buat menjaga anaknya Laura selama Laura tidak ada di rumah sakit?" tanya William tanpa menatap wajah sekretarisnya itu. Sebelumnya, William memang sudah meminta Paula mencari perawat khusus buat Aurora agar ada yang menjaga bayi itu selama Laura tidak berada di rumah sakit. Tentu saja semua yang ia lakukan ini termasuk biaya pengobatan Aurora yang dialihkan ke rekening pribadinya tanpa sepengetahuan Laura. "Sudah, Pak. Tadi sebelum saya pulang, saya langsung hubungi pihak rumah sakit untuk urusan itu," jawab Paula tanpa keraguan sedikitpun karena dia sudah melaksanakan perintah atasannya. William tidak lagi bertanya so

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 5

    Laura berdiri di dekat meja makan sambil menatap deretan bungkusan yang dibawa Paula dengan hati yang kesal. Usahanya masak di dapur meski rasa sakit di perutnya belum pulih seolah tidak ada artinya sama sekali setelah kedatangan sahabatnya itu.Laura pun menatap ke arah Paula yang sudah berdiri di seberang meja, "Aku sudah masak sebanyak ini sekarang kau datang membawa makanan lagi, Paula? Kenapa tidak kau tanyakan dulu padaku apa aku sudah menyiapkan makan malam untuk suamiku atau belum, Paula?" tanya Laura sambil menahan kesal karena merasa Paula sengaja melakukan semua ini hanya untuk membuatnya marah agar terlihat buruk di mata William."Maafkan aku, Laura. Aku kira kamu masih di rumah sakit. Lagian selama kau di rumah sakit aku yang selalu datang menyiapkan makan malam untuk suamimu. Kalau aku tahu kamu sudah pulang gak mungkin aku beli makanan mahal ini," jawab Paula dengan suara selembut sutera sambil memasang wajah memelas seolah apa yang dia katakan benar adanya."Sudah. Git

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 4

    Laura hampir berlari saat menuju lobi begitu sambungan telepon itu diputus secara sepihak oleh suaminya. Di depan sana, mobil mewah suaminya sudah menunggu dengan mesin yang masih menderu, seolah ingin segera pergi dari tempat itu. Pintu depan terbuka tepat saat Laura berdiri di samping kendaraan itu, seakan menuntutnya untuk segera masuk tanpa bantahan. “William, aku…” Laura mencoba memulai bicara dengan suara lirih, dia sangat berharap ada sedikit celah untuk negosiasi demi Aurora. “Masuk!” seru William tanpa sudi melirik sedikit pun ke arah istrinya. “Tapi Aurora baru saja selesai dioperasi, William. Aku harus tetap di sana menjaganya karena kondisinya belum benar-benar stabil. Aku janji besok pagi-pagi buta aku sudah ada di rumah untuk menyiapkan sarapan dan semua keperluanmu. Tolong, William, aku mohon sekali ini saja mengertilah,” pinta Laura sambil merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada. Matanya sudah berkaca-kaca. Ia memohon pada suaminya yang kini terasa sepert

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 3

    "Harusnya Bapak tidak perlu membuang uang sebanyak itu untuk anak yang jelas-jelas hasil perselingkuhan, Bapak terlalu baik sampai mau menanggung biaya pengobatannya. Kalau saya jadi Bapak, sudah saya biarkan saja anak itu mati," ucap Paula sambil menata surat pernyataan yang baru saja ditandatangani oleh Laura. Ia terus berusaha meracuni pikiran William tepat setelah Laura meninggalkan ruangan suaminya dengan selembar cek bernilai dua miliar di tangannya.William tidak sedikit pun menoleh untuk menanggapi ocehan itu. Ia justru memberikan instruksi yang membuat rahang Paula mengeras. "Datang ke rumah sakit itu sekarang dan pindahkan seluruh tagihan anak itu ke rekening pribadiku," perintah William tak bisa dibantah.Demi apa pun, Paula merasa darahnya mendidih mendengar keputusan itu. Ia sangat tidak setuju William masih bersikap lunak pada Laura, namun membantah perintah bosnya hanya akan membuat posisinya terancam. Ia terpaksa menelan kekesalannya dalam hati."Baik Pak, kalau begit

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 2

    "Operasi baru akan dilaksanakan jika administrasinya sudah dipenuhi." Kalimat itu terus terngiang dalam benak Laura. Di mana ia bisa mencari uang dengan nominal sebesar itu dalam waktu sekejap? Namun, ia tidak mungkin berpangku tangan melihat nyawa putrinya berada di ujung tanduk. Satu-satunya jalan yang tersisa adalah meminta bantuan kepada William.Sambil terus mengusap air mata yang mengalir membasahi wajahnya yang pucat, Laura masuk ke dalam taksi yang akan membawanya menuju kantor Harrington Group di pusat kota. Hanya butuh waktu sepuluh menit Laura sudah tiba di depan gedung pencakar langit tersebut. Penampilannya benar-benar kacau. Matanya sembab dengan wajah tanpa polesan kosmetik sedikit pun. Petugas keamanan di depan pintu bahkan hampir tidak mengenalinya.Langkah Laura terhenti saat petugas resepsionis menyapanya dengan tatapan penuh rasa iba. "Ibu Laura, ada yang bisa kami bantu, Bu?" tanya wanita itu menyambut kedatangan Laura. "Aku ingin bertemu dengan suamiku," jawabn

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status