LOGIN"Operasi baru akan dilaksanakan jika administrasinya sudah dipenuhi." Kalimat itu terus terngiang dalam benak Laura. Di mana ia bisa mencari uang dengan nominal sebesar itu dalam waktu sekejap? Namun, ia tidak mungkin berpangku tangan melihat nyawa putrinya berada di ujung tanduk. Satu-satunya jalan yang tersisa adalah meminta bantuan kepada William.
Sambil terus mengusap air mata yang mengalir membasahi wajahnya yang pucat, Laura masuk ke dalam taksi yang akan membawanya menuju kantor Harrington Group di pusat kota. Hanya butuh waktu sepuluh menit Laura sudah tiba di depan gedung pencakar langit tersebut. Penampilannya benar-benar kacau. Matanya sembab dengan wajah tanpa polesan kosmetik sedikit pun. Petugas keamanan di depan pintu bahkan hampir tidak mengenalinya. Langkah Laura terhenti saat petugas resepsionis menyapanya dengan tatapan penuh rasa iba. "Ibu Laura, ada yang bisa kami bantu, Bu?" tanya wanita itu menyambut kedatangan Laura. "Aku ingin bertemu dengan suamiku," jawabnya. "Tapi Pak William berpesan bahwa hari ini beliau tidak menerima tamu karena sedang memimpin rapat penting bersama para dewan direksi," balas resepsionis itu, menjalankan perintah yang sebelumnya dititipkan oleh sekretaris CEO. "Tapi aku istrinya, bukan tamu," sahut Laura berusaha tegar meski hatinya mencelos mendengarnya. Dengan berat hati, resepsionis itu kembali menyahut, "Pesan beliau berlaku untuk siapa pun, termasuk Ibu." Jantung Laura berdegup kencang, rasa sesak seketika menghimpit dadanya karena harga dirinya hancur di hadapan karyawan Harrington Group. Namun, ini bukan waktunya untuk memikirkan gengsi. Tanpa memedulikan larangan itu, Laura langsung menerobos masuk ke dalam lift khusus yang biasa digunakan oleh William. Petugas keamanan mencoba mengejarnya, tetapi langkah Laura jauh lebih cepat dari mereka. Begitu tiba di lantai paling atas, meja kerja Paula yang berada tepat di depan ruang kerja William tampak kosong. Laura segera masuk ke dalam ruangan suaminya, tetapi William tidak ada di sana. Sebagai mantan sekretaris William sebelum mereka menikah, Laura hafal betul setiap sudut di kantor ini. Ia segera memutar arah menuju ruang rapat yang berada satu lantai di bawah ruangan tersebut. Braaak Pintu ruang rapat terbuka dengan kasar setelah didorong paksa oleh Laura. Seluruh orang di dalam ruangan itu tersentak, menoleh ke arah sumber suara dengan wajah terkejut. Mata William seketika berkilat penuh amarah, sementara Paula langsung berdiri dan menarik tangan Laura untuk keluar dari sana. "Kamu apa-apaan sih Laura, di dalam itu sedang ada rapat penting," tegur Paula kesal. "Ada yang jauh lebih penting dari sekadar rapat, ini soal nyawa anakku dan aku harus bicara dengan William sekarang juga," sahut Laura sambil berusaha melepaskan cekalan tangan sahabatnya itu. "Sebaiknya kamu tunggu dulu di depan ruang kerjaku karena rapatnya baru saja dimulai," ujar Paula lagi sembari terus berusaha menyeret Laura menjauh. "Aku tidak peduli dengan rapat apa pun itu karena anakku sedang berjuang hidup dan mati, aku harus bicara dengan William sekarang juga," teriak Laura dengan isak tangis yang tak lagi terbendung. Ia kembali menerobos masuk ke ruang rapat, membuat William terpaksa menghentikan pembicaraannya. William menatap para bawahannya sama il memberikan perintah tanpa bantahan. "Keluarlah, kita lanjutkan rapat ini nanti," ucap William. Ia tidak ingin urusan pribadinya menjadi konsumsi publik di kantor. Semua orang segera berhamburan keluar, meninggalkan Laura, William, dan Paula di dalam ruangan itu. William menatap Laura penuh amarah, "Apalagi yang kau cari di kantorku? Tidak bisakah kau membiarkan hidupku tenang?" Kalimat yang keluar dari mulut suaminya itu terasa seperti sembilu yang menyayat hati, tetapi Laura mengabaikan rasa sakit itu. "William, aku butuh bantuanmu karena Aurora harus segera dioperasi. Dokter hanya memberi waktu sampai jam delapan pagi besok dan biayanya harus dilunasi sekarang juga, aku mohon bantu aku William," pinta Laura dengan suara memelas, berharap ada sedikit belas kasih di hati pria itu. "Kenapa tidak minta bantuan saja pada ayah biologis anak itu?" sahut William penuh penghinaan. "Aku berani bersumpah bahwa dia itu anakmu, William. Aku tidak pernah tidur dengan pria mana pun selain kamu," balas Laura membela diri. "Cukup Laura, aku sudah muak mendengar semua bualanmu itu. Aku tidak akan membantumu, jadi silakan keluar dari kantor ini sekarang juga!" usir William tanpa bisa dibantah lagi. William yang berdiri di dekat meja rapat terperanjat saat Laura tiba-tiba berlutut memeluk kakinya. Sementara itu, seulas senyum kemenangan terukir di bibir Paula melihat pemandangan di depannya. "Aku akan melakukan apa pun yang kamu mau, asalkan kamu bersedia membiayai operasi Aurora, William," pinta Laura sambil terus menangis tersedu-sedu. William terdiam beberapa saat, ia menatap istrinya yang bersimpuh di bawah kakinya sebelum bertanya, "Apa pun?" Dengan cepat Laura mengangguk karena baginya tidak ada yang lebih berharga daripada nyawa putrinya. "Benar William, aku akan melakukan apa pun asalkan kamu mau membiayai pengobatan anakku sampai dia benar-benar sembuh." Sebuah rencana licik mulai tersusun di benak pria itu. "Aku akan membiayai pengobatan anak hasil perselingkuhanmu itu, tetapi ada syaratnya," ucap William ambigu. "Katakan, apa syaratnya, William?" tanya Laura. "Kau harus patuh hanya pada perintahku, apapun itu. Jika kau melanggar, maka kau harus mengembalikan uang itu dua kali lipat," tegas William tanpa belas kasihan sedikitpun. Rasanya semua persyaratan itu tidak ada artinya jika dibandingkan dengan nyawa Aurora. Tanpa berpikir panjang, Laura langsung menganggukkan kepala menyetujui perjanjian pahit yang diajukan oleh suaminya.Sekitar jam sebelas siang dua stroller bayi yang seharga dengan mobil sudah berjajar di ruang keluarga. William dan keluarganya sudah berpenampilan rapi siap menyambut kedatangan Selena dan calon suaminya. Sebetulnya Soraya sudah tahu siapa yang akan melamar anak angkatnya, hanya saja ia enggan memberitahu William karena kata Selena ia akan memberi kejutan buat adiknya itu. “Selamat siang semua,” suara nyempreng Selena mulai terdengar dan masuk ke dalam rumah. Disusul oleh Aldo. William mengerti heran karena asisten kesayangannya ini tiba-tiba datang ke rumah padahal dirinya tidak ada memberi tugas apapun di saat weekend. “Duduk, Al,” ucap William. “Terima kasih, Tuan.”Selena mulai menyapa keluarganya dan mencium pipinya termasuk kedua keponakannya. Tapi saat ia akan mencium William, pria itu selalu menolaknya katanya merasa geli dicium oleh Kakak angkatnya itu. Karena tak berhasil menghargai William, Selena pun akhirnya duduk di samping Aldo dan menggenggam tangan Aldo membuat ma
William dan Laura duduk berdampingan di meja makan yang luas tanpa sekat pembatas, langsung menghadap ke arah taman dalam rumah mereka yang megah. Keduanya begitu lahap menikmati hidangan roti tangkup isi daging dan telur dadar gulung buatan Soraya. Masakan sang mama memang selalu menjadi hidangan kesukaan mereka berdua sejak dulu. Seketika itu juga, seluruh sudut rumah terasa begitu hangat, seolah dialiri oleh getaran kasih sayang yang teramat melimpah. Canda tawa yang renyah terus saja terlontar dari mulut keduanya, susul-menyusul tanpa henti. Mereka saling melemparkan pujian satu sama lain dengan pandangan mata yang berkaca-kaca karena bahagia, persis seperti sepasang kekasih yang baru saja melangsungkan pernikahan dan tengah hanyut menikmati masa-masa indah kebersamaan berdua. Di sela-sela obrolan yang kian mendalam, mereka saling menautkan jemari, mengikat janji suci di dalam hati masing-masing untuk tidak akan pernah lagi mengulang lembaran kelam yang penuh kesalahan di masa
Laura terus mendesah saat sang suami melahap dadanya menghisap ASI milik si kembar. Untung saja ASInya melimpah sehingga sang anak masih punya banyak stok ASI sehingga iya tak perlu khawatir ketika sang suami terus menikmati ASI itu. Sejak kelahiran Aurora memang William sangat doyan sekali menghisap ASI istrinya. Demi apapun rasanya sangat nikmat membuat William ketagihan dan setiap kali melihat bayi-bayinya minum ASI dari sumbernya William seperti ingin berebut bareng 2 buah hatinya.“Sayaaaaaang, aku udah gak tahan,” desah Laura, saat tangan suaminya dengan liar masuk ke bagian intimnya. William langsung melepaskan semua pakaiannya dan segera melakukan penyatuan. Kegiatan panas itu benar-benar berlangsung sampai dua ronde. Dan tepat ronde kedua berakhir tangisan kedua bayinya mulai terdengar sangat merdu di telinga keduanya. William bangkit dari tubuh Laura dan berkata, “biar aku saja, sayang, yang ke kamar Baby Twin's. Kamu tidur aja,” William mengecup bibir sang istri, lalu mem
Kebahagiaan yang dinantikan Laura dan William akhirnya benar-benar nyata, bahkan jauh lebih indah dari yang pernah mereka bayangkan. Rumah besar yang dulunya terasa sepi, sekarang mendadak penuh dengan suara tangis berisik yang justru terdengar seperti melodi paling merdu di telinga mereka. Kini usia si kembar sudah menginjak bulan kedua. Pipi mereka mulai berisi membuat Grandma dan Grandpa-nya memilih menetap di New York karena tak bisa berjauhan dengan si kembar.Menjadi orang tua baru buat Leonardo dan Leonora ternyata membawa corak baru yang luar biasa dalam hidup pasangan ini. Mereka seperti tidak ingin kehilangan satu detik pun untuk melewatkan tumbuh kembang sepasang malaikat kecil yang menggemaskan itu.Walaupun William sudah menyiapkan dua orang pengasuh bayi yang siap sedia setiap saat, Laura sama sekali tidak mau menjadi ibu yang tinggal terima beres. Menurut Laura, pelukan dan aroma tubuh ibu kandung adalah hal yang paling berharga untuk anak-anaknya. Laura tetap memandika
“Aku minta maaf sama kamu, benar-benar minta maaf atas kesalahanku,” ucap Paula lagi dengan suara yang tersendek-sendek di antara napasnya yang terasa berat.Laura mengusap lelehan air mata yang terus-menerus membasahi wajah sahabatnya itu. Padahal, di saat yang bersamaan, air matanya sendiri seolah menolak untuk berhenti mengalir, mengucur deras melintasi pipinya dan membasahi wajah cantiknya yang kini kelihatan begitu pias. Kesedihan yang teramat mendalam begitu jelas tergambar dari sepasang matanya yang sembap.Paula lantas menolehkan kepalanya, mengarahkan pandangan matanya ke ambang pintu. Di sana, William masih berdiri, seolah tidak akan membiarkan istrinya sendirian di sana. Pria itu hanya terus menatap lurus ke arah dua wanita yang kini memilih jalan untuk saling menghapus dendam dan memaafkan satu sama lain.“Pak William, tolong maafkan saya. Saya minta ampun sudah lancang masuk ke dalam rumah tangga Anda dan nyaris menghancurkannya. Saya benar-benar salah,” ujar wanita itu d
“Sayang, aku mau minta izin buat ketemu sama Paula,” ucap Laura meminta izin pada sang suami.William mengurai pelukannya lantas bertanya, “Buat apa sih, sayang, ketemu sama dia lagi? Udah deh, anggap nggak kenal lagi sama dia.”William menatap lekat wajah istrinya, ada gurat kecemasan yang mendalam di matanya. Pria itu hanya takut istrinya kenapa-napa jika nekat untuk tetap bertemu dengan Paula—wanita yang nyaris menghancurkan kehidupan mereka, mengoyak kedamaian yang baru saja mereka bangun kembali, dan hampir merenggut segalanya dari hidup mereka. “Aku kan sahabatnya, sayang. Aku pengen ketemu aja sama dia, pengen ngobrol. Siapa tahu dia bisa bertobat,” ujar Laura dengan suara yang melembut, mencoba mengikis ketegangan yang mendadak menyeruak di antara mereka.Namun, William menggeleng. Amarah dan rasa trauma menguasai dirinya tentang Paula. “Tapi sayang, mungkin saja sekarang dia jauh lebih membenci kamu dari sebelumnya. Aku menjebloskannya ke penjara, sementara hubungan kita sud







