Share

Bab 2

Author: Atieckha
last update publish date: 2026-04-10 16:49:03

"Operasi baru akan dilaksanakan jika administrasinya sudah dipenuhi." Kalimat itu terus terngiang dalam benak Laura. Di mana ia bisa mencari uang dengan nominal sebesar itu dalam waktu sekejap? Namun, ia tidak mungkin berpangku tangan melihat nyawa putrinya berada di ujung tanduk. Satu-satunya jalan yang tersisa adalah meminta bantuan kepada William.

Sambil terus mengusap air mata yang mengalir  membasahi wajahnya yang pucat, Laura masuk ke dalam taksi yang akan membawanya menuju kantor Harrington Group di pusat kota. Hanya butuh waktu sepuluh menit Laura sudah tiba di depan gedung pencakar langit tersebut. Penampilannya benar-benar kacau. Matanya sembab dengan wajah tanpa polesan kosmetik sedikit pun. Petugas keamanan di depan pintu bahkan hampir tidak mengenalinya.

Langkah Laura terhenti saat petugas resepsionis menyapanya dengan tatapan penuh rasa iba. "Ibu Laura, ada yang bisa kami bantu, Bu?" tanya wanita itu menyambut kedatangan Laura. 

"Aku ingin bertemu dengan suamiku," jawabnya.

"Tapi Pak William berpesan bahwa hari ini beliau tidak menerima tamu karena sedang memimpin rapat penting bersama para dewan direksi," balas resepsionis itu, menjalankan perintah yang sebelumnya dititipkan oleh sekretaris CEO.

"Tapi aku istrinya, bukan tamu," sahut Laura berusaha tegar meski hatinya mencelos mendengarnya.

Dengan berat hati, resepsionis itu kembali menyahut, "Pesan beliau berlaku untuk siapa pun, termasuk Ibu."

Jantung Laura berdegup kencang, rasa sesak seketika menghimpit dadanya karena harga dirinya hancur di hadapan karyawan Harrington Group. Namun, ini bukan waktunya untuk memikirkan gengsi. Tanpa memedulikan larangan itu, Laura langsung menerobos masuk ke dalam lift khusus yang biasa digunakan oleh William. Petugas keamanan mencoba mengejarnya, tetapi langkah Laura jauh lebih cepat dari mereka.

Begitu tiba di lantai paling atas, meja kerja Paula yang berada tepat di depan ruang kerja William tampak kosong. Laura segera masuk ke dalam ruangan suaminya, tetapi William tidak ada di sana. Sebagai mantan sekretaris William sebelum mereka menikah, Laura hafal betul setiap sudut di kantor ini. Ia segera memutar arah menuju ruang rapat yang berada satu lantai di bawah ruangan tersebut.

Braaak

Pintu ruang rapat terbuka dengan kasar setelah didorong paksa oleh Laura. Seluruh orang di dalam ruangan itu tersentak, menoleh ke arah sumber suara dengan wajah terkejut. Mata William seketika berkilat penuh amarah, sementara Paula langsung berdiri dan menarik tangan Laura untuk keluar dari sana.

"Kamu apa-apaan sih Laura, di dalam itu sedang ada rapat penting," tegur Paula kesal.

"Ada yang jauh lebih penting dari sekadar rapat, ini soal nyawa anakku dan aku harus bicara dengan William sekarang juga," sahut Laura sambil berusaha melepaskan cekalan tangan sahabatnya itu.

"Sebaiknya kamu tunggu dulu di depan ruang kerjaku karena rapatnya baru saja dimulai," ujar Paula lagi sembari terus berusaha menyeret Laura menjauh.

"Aku tidak peduli dengan rapat apa pun itu karena anakku sedang berjuang hidup dan mati, aku harus bicara dengan William sekarang juga," teriak Laura dengan isak tangis yang tak lagi terbendung.

Ia kembali menerobos masuk ke ruang rapat, membuat William terpaksa menghentikan pembicaraannya. William menatap para bawahannya sama il memberikan perintah tanpa bantahan. "Keluarlah, kita lanjutkan rapat ini nanti," ucap William.

Ia tidak ingin urusan pribadinya menjadi konsumsi publik di kantor. Semua orang segera berhamburan keluar, meninggalkan Laura, William, dan Paula di dalam ruangan itu.

William menatap Laura penuh amarah, "Apalagi yang kau cari di kantorku? Tidak bisakah kau membiarkan hidupku tenang?" Kalimat yang keluar dari mulut suaminya itu terasa seperti sembilu yang menyayat hati, tetapi Laura mengabaikan rasa sakit itu.

"William, aku butuh bantuanmu karena Aurora harus segera dioperasi. Dokter hanya memberi waktu sampai jam delapan pagi besok dan biayanya harus dilunasi sekarang juga, aku mohon bantu aku William," pinta Laura dengan suara memelas, berharap ada sedikit belas kasih di hati pria itu.

"Kenapa tidak minta bantuan saja pada ayah biologis anak itu?" sahut William penuh penghinaan.

"Aku berani bersumpah bahwa dia itu anakmu, William. Aku tidak pernah tidur dengan pria mana pun selain kamu," balas Laura membela diri.

"Cukup Laura, aku sudah muak mendengar semua bualanmu itu. Aku tidak akan membantumu, jadi silakan keluar dari kantor ini sekarang juga!" usir William tanpa bisa dibantah lagi.

William yang berdiri di dekat meja rapat terperanjat saat Laura tiba-tiba berlutut memeluk kakinya. Sementara itu, seulas senyum kemenangan terukir di bibir Paula melihat pemandangan di depannya.

"Aku akan melakukan apa pun yang kamu mau, asalkan kamu bersedia membiayai operasi Aurora, William," pinta Laura sambil terus menangis tersedu-sedu.

William terdiam beberapa saat, ia menatap istrinya yang bersimpuh di bawah kakinya sebelum bertanya, "Apa pun?"

Dengan cepat Laura mengangguk karena baginya tidak ada yang lebih berharga daripada nyawa putrinya. "Benar William, aku akan melakukan apa pun asalkan kamu mau membiayai pengobatan anakku sampai dia benar-benar sembuh."

Sebuah rencana licik mulai tersusun di benak pria itu. "Aku akan membiayai pengobatan anak hasil perselingkuhanmu itu, tetapi ada syaratnya," ucap William ambigu.

"Katakan, apa syaratnya, William?" tanya Laura.

"Kau harus patuh hanya pada perintahku, apapun itu. Jika kau melanggar, maka kau harus mengembalikan uang itu dua kali lipat," tegas William tanpa belas kasihan sedikitpun.

Rasanya semua persyaratan itu tidak ada artinya jika dibandingkan dengan nyawa Aurora. Tanpa berpikir panjang, Laura langsung menganggukkan kepala menyetujui perjanjian pahit yang diajukan oleh suaminya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 8

    Laura berdiri dengan kaki yang masih lemas saat melihat sosok dokter Antonio keluar dari balik pintu ICU. Wajahnya pucat pasi, matanya sembab karena kurang tidur dan tekanan batin yang tiada habis-habisnya."Dokter, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Laura dengan suara lirih, seolah seluruh tenaganya sudah habis terkuras hanya karena mengkhawatirkan buah hatinya."Anak Ibu sudah kami pindahkan ke ruang perawatan. Sudah ada suster yang menjaganya di sana. Ibu tinggal jalan lurus saja, lalu belok kanan. Di sana ada ruangan bayi, Aurora dirawat di ruangan itu," ucap dokter dengan senyum tipis yang sedikit menenangkan hati Laura. Jujur Laura bahagia karena sang anak sudah keluar dari ruang ICU."Terima kasih, Dok. Tapi kondisinya baik-baik saja, kan, dok? Dia tidak mengalami komplikasi apapun pasca operasi, kan?" Laura kembali bertanya dengan penuh kekhawatiran. Dadanya sakit sekali seperti diremas tangan tak kasat mata dengan begitu keras, rasa berdosa karena telah membiarkan bayinya

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 7

    Laura menatap nanar layar ponsel yang masih menyala di tangannya. Di sana, terpampang jelas foto kiriman Paula. Perempuan itu tampak sengaja memamerkan momen saat dirinya dan William sedang berpelukan di pinggir jalan. Dada Laura seketika terasa sakit seperti diremas tangan tak kasat mata, panas menjalar hingga ke ubun-ubun. Tanpa membalas sepatah kata pun, ia langsung memblokir nomor Paula. Ia tidak ingin memberikan kepuasan pada perempuan ular itu dengan melihatnya marah atau memohon.“Aku gak akan pernah membiarkanmu melukaiku dengan cara rendahan seperti ini, Paula. Tunggu sampai anakku pulih, akan kubuktikan kau dalang dari fitnah itu,” gumam Laura dalam hati. Ternyata orang yang dianggap sebagai sahabat terbaiknya, kini berubah menjadi virus mematikan dalam hidupnya.Jam sudah menunjukkan angka sebelas malam saat pintu kamar utama terbuka. William melangkah masuk dengan sisa wangi parfum yang wanita melekat di bajunya. Sebenarnya, William sempat cemas kalau-kalau Laura nekat k

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 6

    Tok, tok. "Permisi, Pak," ucap Paula sambil mengetuk pintu ruang kerja William. "Masuk," sahut William dari dalam. Paula segera melangkah masuk. Ia duduk di kursi depan meja kerja William dan mengeluarkan tumpukan berkas yang harus segera mereka selesaikan. Fokus William sempat teralihkan sejenak. "Sudah kau telepon pihak rumah sakit untuk menyediakan satu suster buat menjaga anaknya Laura selama Laura tidak ada di rumah sakit?" tanya William tanpa menatap wajah sekretarisnya itu. Sebelumnya, William memang sudah meminta Paula mencari perawat khusus buat Aurora agar ada yang menjaga bayi itu selama Laura tidak berada di rumah sakit. Tentu saja semua yang ia lakukan ini termasuk biaya pengobatan Aurora yang dialihkan ke rekening pribadinya tanpa sepengetahuan Laura. "Sudah, Pak. Tadi sebelum saya pulang, saya langsung hubungi pihak rumah sakit untuk urusan itu," jawab Paula tanpa keraguan sedikitpun karena dia sudah melaksanakan perintah atasannya. William tidak lagi bertanya so

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 5

    Laura berdiri di dekat meja makan sambil menatap deretan bungkusan yang dibawa Paula dengan hati yang kesal. Usahanya masak di dapur meski rasa sakit di perutnya belum pulih seolah tidak ada artinya sama sekali setelah kedatangan sahabatnya itu.Laura pun menatap ke arah Paula yang sudah berdiri di seberang meja, "Aku sudah masak sebanyak ini sekarang kau datang membawa makanan lagi, Paula? Kenapa tidak kau tanyakan dulu padaku apa aku sudah menyiapkan makan malam untuk suamiku atau belum, Paula?" tanya Laura sambil menahan kesal karena merasa Paula sengaja melakukan semua ini hanya untuk membuatnya marah agar terlihat buruk di mata William."Maafkan aku, Laura. Aku kira kamu masih di rumah sakit. Lagian selama kau di rumah sakit aku yang selalu datang menyiapkan makan malam untuk suamimu. Kalau aku tahu kamu sudah pulang gak mungkin aku beli makanan mahal ini," jawab Paula dengan suara selembut sutera sambil memasang wajah memelas seolah apa yang dia katakan benar adanya."Sudah. Git

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 4

    Laura hampir berlari saat menuju lobi begitu sambungan telepon itu diputus secara sepihak oleh suaminya. Di depan sana, mobil mewah suaminya sudah menunggu dengan mesin yang masih menderu, seolah ingin segera pergi dari tempat itu. Pintu depan terbuka tepat saat Laura berdiri di samping kendaraan itu, seakan menuntutnya untuk segera masuk tanpa bantahan. “William, aku…” Laura mencoba memulai bicara dengan suara lirih, dia sangat berharap ada sedikit celah untuk negosiasi demi Aurora. “Masuk!” seru William tanpa sudi melirik sedikit pun ke arah istrinya. “Tapi Aurora baru saja selesai dioperasi, William. Aku harus tetap di sana menjaganya karena kondisinya belum benar-benar stabil. Aku janji besok pagi-pagi buta aku sudah ada di rumah untuk menyiapkan sarapan dan semua keperluanmu. Tolong, William, aku mohon sekali ini saja mengertilah,” pinta Laura sambil merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada. Matanya sudah berkaca-kaca. Ia memohon pada suaminya yang kini terasa sepert

  • Penyesalan Suami Posesif   Bab 3

    "Harusnya Bapak tidak perlu membuang uang sebanyak itu untuk anak yang jelas-jelas hasil perselingkuhan, Bapak terlalu baik sampai mau menanggung biaya pengobatannya. Kalau saya jadi Bapak, sudah saya biarkan saja anak itu mati," ucap Paula sambil menata surat pernyataan yang baru saja ditandatangani oleh Laura. Ia terus berusaha meracuni pikiran William tepat setelah Laura meninggalkan ruangan suaminya dengan selembar cek bernilai dua miliar di tangannya.William tidak sedikit pun menoleh untuk menanggapi ocehan itu. Ia justru memberikan instruksi yang membuat rahang Paula mengeras. "Datang ke rumah sakit itu sekarang dan pindahkan seluruh tagihan anak itu ke rekening pribadiku," perintah William tak bisa dibantah.Demi apa pun, Paula merasa darahnya mendidih mendengar keputusan itu. Ia sangat tidak setuju William masih bersikap lunak pada Laura, namun membantah perintah bosnya hanya akan membuat posisinya terancam. Ia terpaksa menelan kekesalannya dalam hati."Baik Pak, kalau begit

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status